Nonton Suminten Edan Bersama Jeng Probo

Nunuk Pulandari & Probo Harjanti

 

Teman-teman di Baltyra, melanjutkan cerita liburan di Solo dan Yogya tentunya tidak terlewatkan acara pertemuan dengan diajeng Probo sang guru yang ayu (dari dalam) dan manis (dari luar). Dari Solo, setelah hampir seharian bersama dimas Handoko dengan acara mengunjungi  dua museum si Solo, di hari kedua kami pergi ke Keraton dan ke Pasar Klewer naik becak dan delman. Dua kunjungan dengan kesan dan pengalaman yang berbeda. Mungkin suatu hari akan saya ceritakan tentang terutama Keratonnya.

Dari Pasar Klewer kami langsung kembali ke Hotel karena sudah tidak bisa menahan lagi rasa haus dan bertetesannya sang keringat yang membasahi seluruh badan kami. Rupanya tubuh kami sudah tidak terbiasa lagi dengan cuaca yang begitu lembab dan tidak ada angin yang berhembus sama sekali.

Setelah beristirahat dan menyegarkan diri, kami masih sempat mengobrol agak lama dengan dimas Herman sang manager Hotel Best Western di lobbynya. Dan tanpa terasa jarum jam telah menunjukkan  ke angka 14. 45… Saat dimana kami harus kembali ke Yogyakarta semakin menjelang. Dengan diantar pak supir kami naik mobil dimas Herman menuju ke stasiun Solo. Setelah mengantri untuk sesaat, ketika sampai pada giliran di depan loket, kami segera memesan 4 karcis kereta Prameks ber-AC. Syangnya ternyata Kereta Prameks ber-AC dijadwalkan  dalam kesehariannya hanya ada 2 kali p.p.. Sedikit kecewa… Tetapi kami toch naik Prameks juga.. Hanya kali ini naik Prameks TIDAK ber-AC.

Foto 1. Menunggu datangnya kereta Prameks

Untuk sedikit memberi gambaran bedanya Prameks ber-AC dan tanpa AC, saya tayangkan beberapa foto dan sedikit cerita tentang keduanya.

Bersama dengan calon penumpang lainnya kami juga ikut berdesakan menunggu masuk dan terbukanya pintu  kereta yang dinantikan.

Foto 2. Para penumpang duduk berjajar memanjang di sepanjang dinding wagon.

Duduk di antara para penumpang, terasa keringat bertetesan di dahi dan punggung. Hari itu memang panas sekali dan kelembabannya juga tinggi, menurut berita di koran yang sempat terintip. Di antara keramaian yang ada segera tertangkap oleh mata saya  keadaan dan fasilitas yang berbeda dengan kereta Prameks ber-AC yang pernah saya tumpangi sebelumnya. Namun meskipun kereta Prameks ini tampak lebih sederhana, tetapi dalam hal kebersihannya tetap dijaga dengan baik. Teman-teman bisa melihatnya dari serangkaian foto dalam kereta yang sempat saya tangkap dengan lensa camera. Kereta di sore itu cukup dipadati oleh banyak penumpangnya. Menurut saya sebagian besar penumpangnya adalah para karyawan dan mahasiswa dan juga para orang tua yang berlibur bersama keluarganya.

Yang sangat menarik perhatian saya adalah semacam suasana yang penuh “ketenangan” dan saling “pengertian” di antara para penumpangnya. Terutama ketika kereta semakin penuh dengan penumpang yang berdiri bergelantungan di depan para penumpang yang duduk . Atau ketika para penumpang mulai menggelar koran dan duduk di lantai kereta. Tidak nampak seorangpun yang menunjukkan rasa ketidak nyamanannya  atau merasa terganggu dengan kesibukan di sekitarnya.

Di antara kesibukan yang ada terdengar “gonggongan anjing” yang berasal dari pesawat mobiele / Hp saya. Setelah sedikit bersapa ria, jeng Probo menanyakan: ”Mbak Nuk, sore ini jadi khan ketemuannya. Saya tunggu di Societat Taman Budaya Yogyakarta”. Lalu saya mengiyakan dan berjanji akan menelefoon kembali setelah sampai di Yogya.

Foto 3. Para penumpang dengan berbagai gayanya duduk “ menikmati” perjalanan yang ada

Teman-teman kereta Prameks tidak ber-AC adalah kereta stoptrein, dengan demikian di hampir semua stasiun antara Solo-Yogya kereta berhenti untuk menaik dan turunkan penumpangnya. Di salah satu stasiun yang diliwati, setelah kereta berhenti, tampak beberapa pria dengan mengepit koran di ketiaknya menaiki wagon kami. Pada awalnya saya hanya mengamati dan bertanya-tanya pada diri sendiri: ”Memangnya di wagon yang penuh begini masih bisa dan ada kesempatan untuk membaca?”.  Setelah itu saya melihat kearah pak Kondektur yang nampak sedang mendatangi  ke arah kami. Ketika kondektur sudah melewati kami dan saya menengok kembali ke arah para bapak dengan korannya, segera pertanyaan di atas terjawabkan.

Foto 4. Para bapak duduk di lantai wagon beralaskan koran

Para bapak pembawa koran rupanya mempunyai runtutan tahapan tersendiri dengan koran-korannya, sebelum lembaran itu dijadikan landasan untuk mendudukkan sang billenya. Jadi sebelum duduk, mereka membaca  satu atau dua halaman dari korannya. Setelah itu lembaran ini mereka lipat kembali dan dengan membungkuk mereka meletakkan lipatan ini di lantai wagon. Lalu hampir secara bersamaan mereka mendudukkan sang “Billen”nya di atas koran. Daaannn, mereka segera duduk bersila untuk melanjutkan acara baca membaca sisa halaman koran yang masih terlipat rapih di genggamannya… Mereka melakukannya sampai kereta membawa mereka ke tempat tujuannya..

Ketika mereka mulai turun satu persatu, saya hanya membatin: ”Duuuhhh.. Betapa berbedanya dengan keadaan di Belanda. Keadaan yang jauh lebih baik inipun masih sering diikuti dengan omelan ketidak puasan”..Achhh.. Betapa tidak adilnya kehidupan yang sedang kita hadapi bersama. Tetapi teman-teman tentunya jauh lebih tahu tentang hal ini dari pada saya. Dan  saya tidak akan membicarakan tentang hal ini…..

Foto 5. Penjaja makanan kecil dengan keretanya di tengah padatnya wagon

Seperti yang nampak di foto 6, di tengah kepadatan penumpangnya, terdengar suara seperti lonceng berbunyi. Dan tidak lama kemudian tampak dua petugas restorasi dengan berbagai jenis makanan kecil  dan minuman ringan yang ditata dalam sebuah kereta “trolley”,  muncul dari kerumunan sambil mencoba menawarkan jajanannya. Terlihat betapa cukup cekatannya mereka berdua  melayani para pembelinya selama menjalankan tugasnya.  Menurut saya, kedua petugas penjaja itu cukup sering berhenti di antara para penumpang untuk meladeni keperluan pembelinya. “Mudah-mudahan hari ini membawa banyak keberuntungan bagi mereka” Batin saya berbisik.

Itu sedikit gambaran yang bisa tertangkap oleh kaca mata yang saya kenakan untuk jarak dari Yogya ke Solo. Terutama mengingat lama perjalanan yang hanya plus minus satu jam saja. Dan ketika kami turun dari kereta, sekali lagi terdengar suara “anjing menggonggong” dari pesawat mobiele / HP saya. Segera terdengar suara diajeng Probro dari seberang sana dengan suaranya yang khas menanyakan: ”.. Mbak Nuk sudah sampai Yogya. Jam berapa akan bertemu”. Hebat memang diajeng yang satu ini. Dengan tepat bisa menduga kapan saya akan sampai di Yogya…

Sebuah janji yang juga sudah jauh-jauh hari dirancang. Setelah mengalami penundaan akhirnya  pada jam yang telah ditentukan kami jadi bertemu dengan diajeng Probo yang diam-diam “banyak” digandrungi oleh poro “jejoko” van Baltyran,  di Societat Taman Budaya Yogyakarta.

Foto 6. Saya dan diajeng Probo nan ayu.

Teman-teman, dari rumah makan kami segera menuju ke alamat yang diterima dimas Hilman dari jeng Probo, ketika mereka saling telefoon. Setelah selesai berbicara di telefoon, untuk dimas Hilman dalam menemukan alamat yang dimaksudkan bukanlah menjadi masalah. Hanya satu kali terjadi tukar sapa untuk meyakinkan tujuannya. Daaaannnn, ketika mobil yang kami tumpangi memasuki halaman parkir Societe Taman Budaya, dari kejauhan sudah nampak diajeng Probo yang terlihat tidak tenang dan nampak sedang menunggu di teras gedung. Ketika mobil sudah berhenti, tentu saja kami berdua saling bergegas untuk berpeluk ria sambil bersapa ria dan bertatap muka… Achhh, rasanya kok seperti sudah kenal dan lama tidak bertemu.

Segera setelah pertemuan di depan Gedung, kami menuju ke teras dalam. Disana kami membuat “beberapa” jepretan foto yang bisa menggambarkan pertemuan kami. Dan saya dengan bangga bisa menayangkan seluruh anggota keluarga diajeng Probo van Baltyra..

Foto 7.  Mas Effy, mbak Ancis dan mbak Ama, dan siapa lagi kalau bukan diajeng Probo; juga  kedua anak saya Lei dan Birrutte.

Teman-teman sekarang bisa melihat, betapa ayu dan manisnya kedua putri diajeng Probo dan mas Effy. Kalau tentang mbak Probo sendiri saya kira semua teman di Baltyra sudah mengenalnya melalui fotonya. Menunggu karcis yang sedang diurus oleh mbak Ancis, kami berceloteh tentang berbagai hal. Ketika mbak Ancis kembali untuk menyerahkan karcisnya, kami segera memasuki gedung pertunjukan. Duduk di barisan terdepan, rupanya sang nyamuk tidak bisa menjauh untuk tidak mencicipi darah-darah manis dengan rasa coklat dan keju dari Belanda…Dan kami berempat (dua anak duduk di bagian lain) bersama-sama, membalur diri dengan Autan dan mengusirnya dengan truitjes yang dibawa diajeng Probo.. Suatu kerja sama yang berhasil dalam hal mengusir sang agresor nyamuk. Matur nuwun sanget sampun saget mborehi ngagem Autan panjenengan.

Berbicara tentang kolaborasi, kami berdua (saya dan diajeng Probo) mencoba untuk menuliskan artikel ini secara bersama. Walaupun semuanya tidak terrencanakan. Dan bukankah artikel terbaik itu kalau dituliskan oleh ahlinya. Nah salah satu penghuni Baltyra yang ahli tarian Jawa ya siapa lagi kalau bukan diajeng Probo. Jadi cerita ringkasannya diajeng Probo yang mengiringinya.

Foto 8. Jeng Probo, mbak Ama dan kami berdua.

Teman-teman di Baltyra, malam itu kami menonton pagelaran yang merupakan bagian dari uji kompetensi tarian yang menjadi salah satu syarat kelulusan dari para siswanya. Maaf saya lupa nama sekolah dan tingkatan para siswanya. Jeng Probo, monggo toh dhipun lengkapi… Dan juga dengan alasan bahwa acara nonton pagelaran ini sudah agak lama berlalu dengan sendirinya cerita yang masih tersimpan dalam benakpun mulai meluntur. Untuk menjaga keutuhan ceritera yang ada, saya telah mintakan pada jeng Probo untuk mengkoreksi dan meluruskannya. Jadi sesungguhnya cerita ini adalah hasil kolaborasi antara kami berdua…Berikut ini tulisan jeng Probo tentang latar belakang pagelaran malam itu

Sebagai siswa sekolah seni pertunjukan SMKI-Sekolah Menegah Karawitan Indonesia, mereka dituntut untuk siap menampilkan pertunjukan sesuai kompetensinya. Pagelaran ini merupakan yang paling akhir, setelah 3 kompetensi lain, yakni Karawitan, Pedalangan, dan Teater. Selain menari, mereka juga berperan sebagai pemusik saat kelas lain tampil. Menurut rencana, tahun depan uji kopetensi ini bakal diadakan di TMII, jadi Baltyran yang ada di Jakarta dan sekitarnya bila  berminat bisa nonton.  Selain sebagai hiburan, idhep-idhep eh…itung-itung  mengenalkan seni tradisi pada anak-anak, agar mereka tahu betapa kayanya negeri ini dengan buadaya tradisional, meskipun sekarang yang terjadi banyak manusia buaya ketimbang yang berbudaya, sekaligus membuka pintu apresiasi selebar-lebarnya buat putra-putri tercinta.

Malam itu kami menonton salah satu bagian dari pagelaran yang digelar selama tiga hari berturut-turut di Taman Budaya Yogyakarta. Pagelaran yang digelar Rabu-Jum’at (14-16/3) menampilkan tiga judul koreografi yang dimainkan oleh siswa-siswi kelas XII sebagai tugas untuk memenuhi syarat kelulusan. Menarik adalah bahwa semua busana dan keperluan pagelaran merupakan rancangan para siswa sendiri. Jadi kita bisa melihat kreatifitas para anak muda dalam bidangnya masing-masing.

Pada malam itu yang paling menarik untuk saya adalah pagelaran yang menampilkan lakon “Minten Edhan” Sebuah cerita yang menurut jeng Probo, begitu populer dalam masyarakat Jawa Timuran. Ponorogo asalnya. Jadi tidaklah mengherankan bila malam itu para pendukung ceritanya menyesuaikan  busananya dengan busana dan cara berpakaian dari daerah asal ceritanya. Berikut cerita ringkasan tentang lakon yang dibawakan pada malam itu. Suminten Edan.

Suminten Edan

Cerita ini berasal dari Ponorogo, amat terkenal, meski paling sering untuk drama tradisional Kethoprak. Adalah dua warok bersaudara, Warok Suro Menggolo dan Warok SuroBangsat. Masing-masing memiliki anak perempuan, Cempluk Warsiah dan Suminten. Keduanya mencintai pria yang sama, Den Mas Subroto, bangsawan Ponorogo. Sang bangsawan hanya mencintai Cempluk, dan mereka menikah. Suminten tak bisa menerima kenyataan, dia depresi dan menjadi gila karenanya. Tentu saja ayahnya tidak terima, dan akhirnya dua warok bersaudara ini pun berperang tanding. Ayah Suminten kalah, tapi akhirnya dia bisa menerima kenyataan, bahwa cinta tak dapat dipaksakan. Ayah Cempluk yang meras prihatin  ikut mengupayakan kesembuhan Suminten.

Dikemas dalam bentuk sendra tari, cerita ini juga tetap menarik. Sendra tari adalah gabungan dari seni drama dan tari, jadi ada drama dan ada tari, bahkan kadang ada pula tembang.

Kemampuan tari mereka yang tak diragukan lagi membuat pertunjukan tidak membosankan. Sampai akhir pertunjukan, penonton tak beranjak dari tempat duduk. Apalgi tokoh Suminten memang bagus membawakannya. Meski banyak tokoh pria dibawakan penari perempuan (siswa kebanyakan putri), tetapi tetap memikat.

Teman-teman pada awalnya memang untuk orang seperti saya yang tidak banyak mengenal lakon dan cerita dari babat Jawa, agak sukar untuk menerka arah ceritanya. Baru setelah pagelaran berlangsung agak lama, alur cerita mulai tertangkap jelas. Sebuah Pagelaran dengan  tema utamanya lakon percintaan yang hanya bertepuk sebelah tangan. Hal ini menjadi sangat nyata terutama pada akhir cerita. Sang pemeran utama karena cintanya yang tidak tersalurkan menjadi “edhan”. Pewujudannya dalam pagelaran malam itu yang menurut saya sangat hebat. Seperti yang tampak dalam tayangan banyak dari para pemeran prianya dimainkan oleh para wanita dengan baik. Satu hal yang mungkin tidak terlalu lumrah untuk kesenian yang berasal dari Ponorogo yang biasanya justru banyak mengetengahkan kaum prianya.

Dengan gerak yang penuh dramatis  dan suara yang menirukan orang gila, pemeran utama mulai melepasi beberapa hiasan pakaiannya dan mengubrak abrik rambutnya yang tersunggar rapih..Ketika mengetahui bahwa cintanya hanya bertepuk sebelah tangan..Dengan gerakan yang seperti orang gila, pada akhirnya Suminten berlari meninggalkan panggung dan turun menghamburkan diri di antara para nayogonya.. Kalau nggak salah lihat sambil memeluki dan menciumi (betul ya diajeng; saya sibuk dengan cameranya) guling sebagai ganti figuur dari orang yang dicintainya….

Dengan iringan tepuk tangan yang gegap gempita dalam durasi yang cukup lama, para pendukung pagelaran mengundurkan diri ke belakang panggung.. Dan bagaikan terkomadoi, para penonton segera bergerak menuju ke balik panggung untuk menyalami para pemainnya….

Foto 9. MC muda yang gagah dan ayu membawakan acara yang akan dipersembahkan.

Foto 10. Salah satu tarian  persembahan kawula muda yang nampak sangat kompak dalam gerakan dan gayanya.

Foto 11. Sepasang kekasih yang sedang memadu janji

Foto 12. Adegan pernikahan Den Mas Subroto dengan Cempluk Warsiah

Foto 13. Sang Warok Suro Menggolo ayahanda Cempluk

Foto 14. Para penari rampakmeramaikan pernikahan Cempluk dengan Subroto

Foto 15. Warok-warok beraksi

Foto 16. Kemesraan yang sangat diimpikan oleh Suminten

Foto 17. Minten menyajikan sesaji agar bisa memikat pujaan hatinya

Foto 18. Minten menari untuk memikat pujaan hatinya, atau sudah mulai edan?

Foto 19. Masa indah pengantin baru digambarkan dalam tari, istilah kami orang tari adalah lovedance

Foto 20. Bermesraan dalam khayal

Foto 21.  Denmas Subroto, yang amat digandrungi Suminten, pemerannya perempuan lo….

Foto 22. Suminten dengan ‘Den Mas Subroto’

Foto 23. Usai pentas, ‘Suminten’ berada di antara pengrawit

Foto 24. Grand final seluruh pengisi acara

Foto 25. Para tokoh utama, dari kiri Cempluk Warsiah, Den Mas Subroto, Suminten, Suro Bangsat (mungkin..agak lupa) dan salah satu penari rampak

Pertemuan kami berdua sesungguhnya masih disambung dengan kunjungan jeng Probo ke tempat menginap kami di rumahnya dimas Hilman. Menurut cerita jeng Probo, tempat tinggal dimas Hilman  ternyata terletak tidak jauh dari ndalemnya jeng Probo… Jadi walaupun sudah agak malam, diajeng masih berani naik motor bersama dengan mbak Ama diboncengannya. Toch, ketika melepas diajeng Probo rasa was-was tetap menyelubungi diri saya. Mengingat mbak Ama dalam keadaan tidur-tidur  tidak tidur dan harus duduk di boncengan mamahnya.

Mengobrol ngalor ngidhul membuat kita syiiikkk dan lupa waktu. Dan juga agak lupa bahwa obrolan kami sesungguhnya tidak menarik untuk mbak Ama. Hal ini secara tidak langsung disiratkan dengan tertidurnya mbak Ama di kursi bersandarkan bantalan empuk… Sayang tidak saya buatkan fotonya…Menjelang tengah malam kami baru saling berpisah tentu untuk sementara waktu..

Prettig lezen en geniet er wat van. Groetjes van Nu2k en Jeng Probo.

 

133 Comments to "Nonton Suminten Edan Bersama Jeng Probo"

  1. nu2k  21 June, 2012 at 03:25

    Jeng Lani, sudah saya kirimkan berita balasan… Dimas JC juga boleh baca… ha, ha, haaaaa… Bisa-bisanya dapat itu lhoooo…Gr.en welterusten untuk yang sedang nyenyak tidurnya dan werkt ze untuk jeng Lani… Dhi waos ya jeng… Seakarang mau ke P.Kapuk dulu… doe doei, nu2k

  2. nu2k  21 June, 2012 at 02:47

    Jeng Niniek, aduuuuhhhh senangnya panjenengan mau mampir membaca tayangan kolaborasi.. Saya kadang membaca nama panjenengan via korespondensi lainnya. Ayoooolah, kapan kangenan nulis bareng lagi… Panjenengan nulis dari Au saya nulis dari BLd…Bisa enggak ya dijodohkan di baltyra? Ha, ha, haaaa

    Yang jelas kita bisa tertawa dan cipika cipiki lagi.. Jeng masih ingat mbakyu Nyai Clara von kidhul Perancis.. Sekarang sedang ada rombongan sirkus dari jakarta.. Sak abreg-abreg… Jadi sedang sibuk…. Kita sering sms-an/ bertelefoon ria… Wis nggak mandheg-mandheg nek wis ngobrol… Nganthek jebol…. Ha, ha, haaaa

    Selamat beraktivitas dan cipika cipiki untuk kedua penari ayu nan cantik… Nu2k

  3. Lani  20 June, 2012 at 23:52

    130 DA : bukan salah mbak Probo……la mmg bener to klu dirimu itu mmg edan……jgn bilang di edan2ke hahahah…….wis edan dewe…….hahahah waras??????? taon piro?????? kram wetengku…….dasar kenthir…….tp bagaimanapun kondisinya……..aku tetep tresno marang sampeyan………kamu hrs tau itu……..nek ora tak jewer mengko looooooooo

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *