[Serial Masa Terus Berganti] Wudel

Dian Nugraheni

 

Sudah beberapa hari aku merasa agak gusar, karena merasa “kehilangan” kantong kecilku. Namun begitu, aku masih berkeyakinan, sebenarnya, kantong kecilku itu tidak hilang, mungkin hanya ketlingsut di suatu tempat, masih di dalam kamar. Kantong kecil itu berisi wudel, pusar, atau belly button kedua anakku.

Tidak ada yang benar-benar mengajariku, harus apa dan bagaimana dengan tali pusar anak-anakku ini. Tapi memang aku menyimpannya. Katanya sih, Wudel ini bisa berguna kalau anak-anak sedang sakit. Sejauh manakah dia berguna, aku juga nggak tau pasti.

Begitulah, ketika kedua anakku masih bayi, kalau mereka sakit panas, maka kantong kecil berisi Wudel akan aku selipkan di bawah bantal tidurnya. Ya kalau si Kakak yang sakit, ya Wudel si Kakak yang aku selipkan di bawah bantal tidurnya, demikian juga dengan si Adek. Sedangkan aku sendiri, akan selalu berada di samping anakku, untuk mengompres, atau sesekali memberikan minuman hangat dengan menggunakan sendok, agar panas tubuhnya lekas reda. Hanya itu yang sering aku lakukan. Dan memang, meski pun sedang sakit, panas, atau demam, bayi-bayiku akan sangat tenang, tidak rewel, tidak perlu digendong-gendong.

Tapi memang pada dasarnya, bayi-bayiku dulu, adalah bayi-bayi yang “sangat memanjakan” Ibunya, alias jarang sekali merengek-rengek, baik dalam keadaan sakit, atau pun di kala mereka sedang baik-baik saja. Mungkin, ini berkaitan dengan “metode” yang aku terapkan pada mereka juga sih. Sejak mereka sangat bayi, bahkan sejak mereka masih di dalam kandunganku, selalu aku ajak bicara secara “logis”, dan aku bicara seolah-olah mereka mengerti bahasaku, bahasa orang dewasa.

Nampaknya itu cukup berhasil, ketika mereka sudah bisa bicara sepatah dua patah kata, dan mulai akan merengek, maka selalu aku bilang, “Jangan nangis dulu, coba dengar Mamah bilang…, kalau kamu bicara sambil merengek, jadi nggak jelas kedengerannya, maka, kalau kamu pengen sesuatu, bicaralah baik-baik.., bicaralah yang jelas…Mengerti, atau tidak mengerti..?” Dan seolah-olah sudah “terbiasa” mendengar kalimat-kalimatku, maka akhirnya mereka akan “mengerti” dan berusaha mengutarakan keinginannya tanpa merengek, meski kosa katanya belumlah seberapa, dan sebaliknya, aku mencoba memahami apa yang mereka maksudkan.

Demikian juga ketika kami pindah ke Amerika, kami hanya membawa 2 buah kopor besar, dua-duanya berisi barang-barang yang “tidak berarti”, seperti mainan lawas, buku-buku kesayangan, baju-baju lawas yang beberapa sudah lusuh dan robek, tapi sangat disayangi oleh anak-anak, itulah yang kami bawa. Dan aku, membawa beberapa barang pribadi, dan tak lupa, aku bawa juga kedua Wudel anak-anakku.

Setelah anak-anak bertumbuh, maksudnya, ketika mereka sudah bukan bayi lagi, Wudel-wudel ini beberapa kali aku keluarkan, dan aku “kenalkan” kepada mereka. Juga sampai saat ini, ketika usia si Kakak hampir 14 tahun, dan si Adek hampir 11 tahun, menjelang tidur malam, biasanya aku akan mendongeng untuk mereka, biasanya dongeng-dongeng untuk menyampaikan “pesan”.

Dalam posisi berbaring di tempat tidur, si Kakak menggandeng lenganku kiriku, sedangkan si Adek berbaring miring di sebelah kananku sambil memperhatikan aku bicara. Malam itu, aku keluarkan wudel-wudel mereka dari kantong, aku minta mereka memegang wudelnya masing-masing, dan seperti biasa, meski timbul ekspresi “geli”, nampaknya mereka sangat senang.

“Dulunya, Wudel, tali pusar kalian ini mestinya cukup panjang. Mamah bilang mestinya, karena ketika Mamah melahirkan kalian, Mamah nggak sempat liat tali pusar kalian, tau-tau, kalian sudah dibersihkan oleh suster, dan dimasukkan ke dalam kotak penghangat di rumah sakit. Fungsi tali pusar ini adalah menghubungkan plasenta, atau ari-ari, dengan kalian ketika masih di perut Mamah.

Plasenta adalah sebuah organ, yang salah satu fungsinya adalah mengirimkan gizi dan oksigen dari darah Mamah kepada kalian di dalam perut Mamah. Makanan yang Mamah makan, nanti akan menjadi sumber makanan pula buat bayinya, melalui Plasenta, makanya Ibu hamil harus makan makanan yang sehat…

Jadi, kalian ketika masih janin, masih dalam perut Mamah, kalian berada dalam kantong berisi cairan yang bernama rahim, bersama Plasenta, dan dihubungkan oleh tali pusar… “

“Nahh, ketika lahir, tali pusar bayi dipotong, ditinggal sedikit saja, mungkin kurang dari 3 senti, kemudian dijepit dengan penjepit steril, agar tidak infeksi, sampai kemudian, sisa tapi pusar yang dijepit ini akan lepas dengan sendirinya. Tali pusar Kakak, lepas, puput, dalam 7 hari, sedangkan tali pusar Adek, lepas dalam waktu 35 hari. Katanya, semakin lama waktu lepasnya, semakin si anak itu sayang sama Mamahnya…”

Mendengar ini, Si Adek tersenyum senang, sedangkan Si Kakak langsung protes, “Aku juga sangat sayang kok sama Mamah…”

Aku memeluk si Kakak, menciumnya, “tentu saja Mamah tau kalau Kakak sangat sayang sama Mamah…ini kan cuma kata orang jaman dahulu…”

“Sudah malam.., ayo tidur, matikan lampunya, jangan lupa berdoa sebelum tidur yaa…Mamah juga sudah ngantuk…” Habis itu, aku kemasi kedua Wudel anak-anakku, menyimpannya di tempat tersembunyi.

Beberapa hari kemudian, ketika tiba-tiba teringat akan kantong Wudel kedua anakku, aku baru sadar bahwa aku telah lupa, di mana meletakkan kantong tersebut. Untuk menemukannya, tentu saja aku harus menelusuri semua laci pakaian, dan tempat-tempat “tersembunyi” lainnya, karena selama ini memang aku menyimpannya di tempat yang tersembunyi, seperti layaknya menyimpan barang yang sangat berharga dan takut dicuri orang.

Setelah seharian mencari di setiap sudut kamar, akhirnya, aku temukan kantong kecil berisi Wudel kedua anakku itu. Ternyata, dia berada bersama buku-buku kesayanganku di sebuah laci…

 

Salam Wudel-Wudel Kesayangan…

Virginia,

Dian Nugraheni

Kamis, 19 April 2012, jam 9.34 malam

(Spring semakin menghangat….)

 

Kantong Para (kantong) Wudel…

 

Kantong Wudel Kakak dan Adek…

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

10 Comments to "[Serial Masa Terus Berganti] Wudel"

  1. Bagong Julianto  16 June, 2012 at 07:01

    Dian N>>>

    Suwun, tulisannya anyes tenan!
    Saya ingin tambahkan:
    Di Riau th 1990-1992, Manager kebon perusahaan tempat kami kerja namanya Pak MB, istrinya asli Semarang. Anaknya lima:cowok-cowok-cowok-cowok-cewek. Kompaknya, sungguh kompak tenanan. Runtang-runtung empat saudara cowok. Selalu main bersama: bal-balan, udan-udanan dan grejegan antar sesamanya. Satu untuk empat, empat untuk satu, seperti galibnya semboyan Musketters… Singkat cerita, sekolah di seputar kebon saat itu mutunya relatif lebih buruk dibanding kota, diungsikanlah keempat cowok belia ini untuk melanjutkan pendidikan di Pekanbaru. Mengontrak satu unit rumah, ditemani seorang pembantu/keluarga. Papa-Mamanya di Kandis, 70’an km dari PKU. Satu-dua bulan ngontrak, saat berkunjung ke PKU, Pak dan Bu MB didatangi Pak RT setempat……”Pak, tolong kami kewalahan….. Anak-anak Bapak dan Ibu sungguh jagoan. Hampir tiap hari ribut. Lawannya: mahasiswa, anak SMA dan anak-anak SMP tetangga sekitar. Mereka pasang paku di jalan masuk ini. Sepeda motor sering jadi korban. Kalau diingatkan, mereka nglawan. Selalu kompak ngroyok…..” Padahal, anak-anak Pak MB masih usia SD dan memang anak-anak SD……. Rahasia kompaknya, lain kali kami dibagi cerita: wudel mereka diikatbelitkan. Sang kakak, wudelnya dibelit wudel adiknya tak berapa lama setelah kelahirannya. Terus begitu sampai wudel terakhir………

    Susah dilogikakan.
    Mestikah melogikakan hal seperti ini?
    Salam Wudel!!

  2. Lani  15 June, 2012 at 07:35

    MBK NUK : ora percoyo ta nek wudelku ora bodong???? ya, nanti klu kita ketemuan, aku mau kasih liat wudelku wis…….hehehe……..dipersani dewe mbak

  3. J C  15 June, 2012 at 05:38

    Dian, aku juga masih menyimpan wudel yang sudah puput itu. Pertama aku masih simpan terpisah, eh, waktu pindahan (beberapa kali pindahan), tercampur…ya sudah biar saja tercampur…

    PamPam, gak bau kok. Kalau sudah kering ya kering gitu saja. Dan memang seperti yang dibilang bu Nunuk, Dian dan mas Joko Prayitno, percaya tidak percaya, menurut cerita orangtua memang benar…

  4. nu2k  15 June, 2012 at 04:27

    Jeng Laniii, tenan toch nggak bodhong wudelnya.. Ayooo dipersani sekali lagi…Ha, ha, haaaa, selamat mengamati sang wudel tercinta, nu2k

  5. Lani  15 June, 2012 at 04:08

    aku ndak tau, ditanam, dilarung kemaan wudelku………….heheheh sing jelas bukan wudel bodong lo ya………..

  6. AH  15 June, 2012 at 03:29

    lha.. punyaku dihanyutkan ke kali.. biar suka keluyuran :p

  7. probo  14 June, 2012 at 20:17

    salam wudel
    Pam…wudele bodong nggak?

  8. nu2k  14 June, 2012 at 15:23

    Mbak Dian, dulu saya juga menyimpannya. Kadang dikeluarkan untuk di tempelkan ke pening si anak kalau dia sedang sumeng (panas badannya). Hanya setelah kami berkali-kali pindah dan meninggalkan Indonesia, kedua tali wudhel itu akhirnya dimasukkan ke dalam kendhil di berikan semacam kembang setaman dengan perlengkapan lainnya lalu ditanam di bawah jendela kamar si anak… Saya kira sampai sekarang ya masih ada.. Kecuali kalau kendhilnya sudah hancur luluh termakan air dll, dll…
    Juga masih ingat bagaimana harus mencuci “si kembaran” anak dengan garam, kembang setaman, terus dibungkus kain putih, terus…. Wahhhhh macam, macam…. Entah apakah nanti anak-anak masih akan menanyakan proses itu dan melakukannya atau tidak….
    Selamat memasuki musim semi…. Belanda meskipun sudah memasuki musim semi tetapi cuaca tetap gonjang ganjing….Gr en doe doei, nu2k

  9. Linda Cheang  14 June, 2012 at 11:05

    wah, wudelku sudah di dalam kendil tanah liat dan sudah di kubur entah ke mana…

  10. [email protected]  14 June, 2012 at 10:40

    ASTAGA naga… disimpen gituh? nggak bau? (maaf nggak tau soalnya)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *