Indonesian Idol 2012

Atite

 

Indonesian Idol 2012: Talenta-Talenta di Tengah Putaran Arus Suju dan Lady Gaga?

Pernahkah anda menonton sebuah ajang kompetisi menyanyi manapun sebelumnya, dimana penyanyi berkarakter rock, swing, Brit Pop, soul, dan R&B dipertemukan dalam satu panggung? Atau pernahkan dalam satu kompetisi anda bisa menjagokan semua kontestannya? Hmm, anda boleh mencoba Indonesian Idol 2012…

Banyak orang berpendapat, Indonesian Idol tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan ada yang mengatakan ini yang terbaik. Benarkah? Sebetulnya tidak ada yang kurang dengan bakat-bakat yang ada di tahun-tahun yang lalu, macam Joy, Delon, Mike Mohede, Judika, Aris, Citra, dll. Namun kali ini seperti ada perbedaan nuansa, kreativitas & pemilihan arah yang ingin dituju oleh para tim kreatif, atau siapapun perencana di belakang layar sana.

Atau malah hal ini dipicu atau bersinergi dari sikap dan visi dari para juri kali ini yang komposisinya diisi oleh ’The Triple A’, yaitu Anang Hermansyah, Agnes Monica , dan Ahmad Dhani. Nama yang terakhir disebut ini kelihatannya yang paling berpengaruh dalam memberi warna berbeda  dari penjurian kali ini, yang sepertinya lebih mengandalkan otak dan intuisi bisnis dalam memilih kontestan ketimbang perasaan atau rasa simpati. Hingga akhirnya terpilihlah 12 pribadi berkarakter, yang melangkah mengandalkan bakat dan keunikannya tanpa perlu banyak menjual kehidupan pribadi. Dan sepertinya penyelengara Indo Idol tahun ini juga lebih ‘pede’ pada kualitas-kualitas para kontestannya akan cukup menjual tanpa harus dibubuhi drama mendayu-dayu berlinangan air mata atau mengemis-ngemis sms, sebagai sebuah tayangan yang mengambil waktu premiere dari sebuah televisi yang menjadi rajanya hiburan model sinetron itu!

Hal ini sekaligus mematahkan stigma, bahwa suatu tontonan yang baik sulit untuk dijual, atau bila ingin mendapat rating tertinggi sebuah tayangan harus direndahkan seleranya!  Menurut saya, Indonesian Idol 2012 telah memberikan contoh etos yang baik kepada semua pelaku industri pertelevisian, bahwa pada saat bersamaan sebuah tontonan bisa saja cukup bermutu sekaligus  mendapat rating nomor satu.

Apa yang membuat tontonan ini begitu menarik? Sehingga seseorang seperti saya yang notabene bukan penonton tv, harus terjerumus untuk duduk manis di depan TV setiap hari Jumat malam dari jam 20.00 hingga 00.30 pagi! Dan kalau jadwal saya tidak memungkinkan, besok-besoknya saya sampai mengejar video-video acara itu di youtube? Siapakah nama-nama Yoda, Regina, Dion, Febri dan Sean, 5 kontestan Indonesian Idol yang tersisa saat ini yang barangkali belakangan sering  anda dengar namanya?

Beruntung sekali tanggal 1 Juni kemarin saat suami saya berulang tahun, pas kami mendapat tiket gratis nonton Indo Idol secara live dari seorang teman yang bekerja di RCTI. Dan setelah beberapa hari sehabis menonton acara tersebut, saya memutuskan untuk menulis tentang anak-anak muda calon idola ini. Tulisan ini merupakan apresiasi saya terhadap mereka, dan harapan besar saya sebagai penikmat musik sejati (maksudnya tukang dengerin doang…) terhadap perkembangan musik Indonesia. Maka ijinkan saya memperkenalkan satu-satu pelakon Indonesian Idol yang tersisa ini, yang seperti tokoh-tokoh di dalam film Avenger,  membawa kekuatan serta isu-nya masing-masing yang menurut saya menarik, yang barangkali memberi alternatif lain bagi bangsa yang tengah dilanda virus Super Junior dan Lady Gaga ini…

 

Regina Ivanova,   “Regina The Real Diva”

(indonesianidol.com)

Peserta yang tidak pernah mental dari trending topic world wide twitter tiap hari Jumat malam ini  memang pantas untuk menyandang gelar ‘diva’ yang sebenarnya , dan bukan diva yang ‘di-orbitkan’ (meminjam istilah Ahmad Dhani saat menyindir rekannya Anang Hermansyah mantan suami ‘Diva Indonesia’, Krisdayanti). Indonesian Idol memang seperti mendapat kehormatan dengan kehadiran seorang kontestan berkualitas macam Regina, 26 tahun, asal Jakarta. Sejak kehadirannya, Regina seperti menancapkan sebuah standar atau gengsi akan kualitas yang patut untuk memasuki ajang semacam Indonesian Idol ini. “You make Indonesian Idol sounds like American Idol (walau saya merasa American Idol tidak harus jadi panutan atau selalu harus  lebih baik)…,” tandas juri Ahmad Dhani.

Kepiawaian Regina memilih lagu yang tengah digandrungi masyarakat saat ini, dan menyanyikannya kembali dengan kualitas vocal dan teknik yang baik, membuat ia mudah dibicarakan di khalayak ramai. Dan dengan kemampuannya yang tinggi itu, Regina tidak perlu khawatir apabila ia harus diperbandingkan dengan para penyanyi lagu aslinya, karena bisa jadi ia lebih baik! Dengan cara ini mudah sekali mengukur kemampuan seorang Regina dalam sebuah ajang kompetisi, karena alat ukur yang jelas. Di luar masalah vocal, teknik bernyanyi dan penghayatan lagu, mental dan kematangan seorang Regina juga sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Bagaimana tidak, ia telah 6x mengikuti audisi Indonesian Idol dan baru kali inilah ia berhasil lolos! Betul-betul pertanyaan yang bagus buat penyelenggara Indo Idol sebelumnya…

Walau tiap minggu bermandikan pujian, bahkan standing applaus dari juri Ahmad Dhani dan Anang Hermansyah, Regina, yang dahulu  berprofesi sebagai penyanyi kafe itu, sempat mengakui bahwa dirinya sering dirundung krisis kepercayaan diri. Hal itu dikarenakan ukuran tubuhnya  yang ‘tidak sempurna’, ‘Saya kontestan yang paling tidak menjual’, akunya. Walau hal itu diungkapnya lebih sebagai curhat ketimbang mengemis simpati. Apalagi wajahnya yang sempat disebut  ‘terlalu tua’ oleh Ahmad Dhani, membuatnya mendapat sebutan ‘mami’ dari sesama kontestan. Untungnya dalam kesempatan lain, Ahmad Dhani pun menanggapi dengan bijak, “… apa yang dianggap benar hari ini, belum tentu besok itu benar…”, ungkap juri yang mengaku pernah menitikkan air mata saat mendengar Regina menyanyikan lagu Someone Like You dari Adele. Di ajang ini pula Regina menampilkan etos hidupnya yang baik untuk menjadi panutan, seperti kebiasaannya bangun pagi hingga ia mendapat tugas untuk membangunkan kontestan-kontestan lain tiap pagi.

Sebenarnya, apa arti ‘menjual’ di dalam dunia bisnis hiburan saat ini? Saya melihat hampir tidak ada clue, saat ini apa saja bisa menjadi benar, atau apa saja bisa salah. Apa saja bisa menjual, atau apa saja malah tidak menjual. Apa saja bisa tampil, apa saja bisa tenggelam. Carut marut, hingar-bingar, narsistik, namun justru memberikan peluang besar bagi mereka yang tau memanfaatkannya untuk menjadi apapun. Mereka yang tak berbakat pun asal punya konsep dan mau kerja keras dapat saja berkiprah dalam dunia music, macam boyband atau girlband, memiliki hak yang sama dengan mereka yang berbakat, kian menyesakkan industry yang sudah penuh persaingan itu pula.

Seakan sangat naïf bila sebuah bakat saja dilempar ke industry tanpa kemasan apapun di jaman ini. Namun keberhasilan penyanyi perempuan bertubuh besar, Adele, menembus blantika music pop di Amerika & dunia, agaknya telah menjadi pahlawan yang menyematkan semangat di diri Regina. Sosok Adele, selain karena keunikan vokal dan kekuatan lagu-lagunya yang bertemakan patah hati itu, mungkin juga mengobati rasa jenuh masyarakat akan banyaknya pencitraan-pencitraan tanpa kualitas pada bintang pop-nya yang bertaburan sekarang.

Akhirnya ‘message’ di balik hadirnya para penampil itulah yang kini mulai mengambil peran penting, melebihi konsep-konsep sebaik apapun. Bahkan seseorang yang ‘born to be a monster’ semacam yang didengungkan Lady Gaga yang merasa tidak terlahir dengan paras cantik, memuat pesan besar di balik konsep kreatifnya yang tak terbatas itu mampu menjadikannya magnet dunia yang paling dahsyat seantero planet saat ini, bahwa setiap orang berhak untuk menjadi pesohor! Memang masih jauh untuk membicarakan masa depan Regina di luar panggung Indonesian Idol ini. Namun tak ada salahnya buat Regina untuk mempersiapkan ‘statement’ apa yang ingin ia sampaikan ke masyarakat.

Tapi di luar hal-hal ribet di atas itu, saat menonton penampilan Regina secara live di studio 8 RCTI, sekalipun pada dasarnya saya bukan penggemar musik pop ala diva semacam yang sering dibawakan Regina, pada akhirnya ia-lah satu-satunya kontestan yang mampu memberikan efek ‘merinding’ pada saya saat membawakan lagu Andaikan Kau Datang dari Ruth Shanaya. Tidak hanya saya, suami saya juga, & Agnes Monica pun mengungkapkan, “…bahkan sebelum kamu bernyanyi pun saya sudah merinding…”. Maka Regina telah mengaburkan arti kata ‘sempurna’ di otak saya. Karena saat ini di Indonesian Idol 2012, buat saya, kata ‘Regina’ is for ‘perfection’!

 

Febri Yoga Sapta Raharjo,   “Febri The Voice from Heaven”

(indonesianidol.com)

Hahaha, saya mau tertawa dulu sebelum saya bakal dituduh lebay oleh semua orang. Tapi memang ini ungkapan yang tepat untuk menjelaskan keterpukauan saya akan suara merdu yang dimiliki Febri, kontestan asal Tegal berumur 23 tahun ini. Meminjam istilah Melly Goeslaw saat menjadi juri tamu, ‘’Tuhan telah meneteskan keindahan pada suara kamu…”. Tapi dari semua kontestan dan semua lagu yang pernah dibawakan dalam ajang Indo Idol 2012 ini, memang hanya suara Febri yang mampu memberikan ‘eargasm’ di telinga saya. Kalau ada yang pernah membaca tulisan saya yang terdahulu mengenai The Temper Trap, betapa saya menggilai suara falsetto Dougy Mandagi, sekarang saya menemukan hal yang sama di diri Febri. Saya suka sekali semua suara yang ia produksi sedemikian rupa, dari mulai falsettonya, desahannya, lenguhan, lolongan…, terutama di lagu The Time is Running Out milik Muse. Febri mengendalikan suaranya seperti seorang surfer meluncur di dalam naungan ombak, dimana ada depth & speed di dalamnya (hanya karena saya bukan orang musik jadi tidak tau bagaimana menjelaskannya, hehe..)!

Mungkin ini kisah klasik, sebagai pemuda yang tengah diuji ketangguhan mentalnya, pilihan Febri untuk menjadikan musik sebagai jalan hidup tidak serta merta berjalan mulus. Lulus SMA ia sempat terkatung-katung ditinggalkan band-nya, Febri memutuskan untuk membuat demo single-nya yang ia kirimkan ke produser-produser rekaman namun ditolak semua, termasuk saat ia mengirimkannya ke orang-orang yang kini menjadi jurinya di ajang Indo Idol 2012, Anang Hermansyah dan Ahmad Dhani.

Bahkan dari nama yang terakhir itu ia sempat diusir pula oleh satpam rumahnya sebelum  sempat ia menitipkan demo tersebut. Karena putus asa, Febri  pulang ke Tegal & melanjutkan sekolah. Dan kini ia berdiri di panggung 5 besar, mengalahkan ratusan ribu peserta Indo Idol 2012,  mendapat pujian dari para juri dan julukan sebagai ‘kuda hitam’ yang melekat dengan namanya oleh Anang Hermansyah. Dan Ahmad Dhani pun harus mengambil teori evolusi Darwin, ‘Survival of the fittest’, untuk menjelaskan keberadaan Febri yang awalnya dipandang sebelah mata namun kini diam-diam masuk ke dalam kelompok yang dijagokan.

Uniknya dalam sebuah sesi latihan di studio rumah  milik Ahmad Dhani itu, Febri sempat bertemu kembali dengan satpam yang dulu pernah mengusirnya, kini dengan posisi 180 derajat terbalik. Walau dengan semua perubahan yang terjadi dalam hidupnya, Febri, yang disebut-sebut sebagai kontestan yang paling baik dan religius oleh para kontestan lainnya itu, di tengah persaingan yang sengit ini masih bisa menangis begitu saja ketika seorang teman sekamarnya tereliminasi.

Terus terang, saat Febri mendapat dispensasi dari para juri untuk masuk ke panggung Spektakuler (sebutan untuk acara konser di Indo Idol),  saya pun sungguh meragukannya. Apalagi vokalnya yang nyerempet-nyerempet Brit Pop kerap disebut-sebut mirip Matthew Bellamy dari Muse, seolah memperkecil karakter asli dari Febri sendiri. Di babak-babak awal Spektakuler Show pun ia termasuk kontestan lemah karena sedikitnya perolehan sms yang menyebabkan ia bolak-balik masuk ke ‘zona tidak aman’.

Namun seberjalannya  waktu, kita para penonton Indo Idol 2012 dapat melihat betapa Febri adalah kontestan yang paling banyak belajar dan paling banyak menunjukkan kemajuan. Karakternya semakin kuat & seakan telah teruji dengan keberhasilannya membawakan lagu dari berbagai macam genre dan gender, bahkan lagu dari penyanyi perempuan macam Vina Panduwinata atau Agnes Monica sekalipun, ia seret untuk takluk ke dalam karakter suaranya dan menjadikan lagu-lagu tersebut miliknya.

Karakter Febri tidak pernah berubah bahkan semakin kental & kuat, sehingga sekarang nonsense-lah jika orang masih menyebutnya tiruan dari penyanyi lain, karena seperti itulah suara dari Febri bahkan saat berbicara biasa pun. Febri bukannya tidak sadar, secara penampilan fisik apa yang dimiliki kontestan-kontestan lain mungkin dapat membuat dirinya kurang terekspos. Namun belajar dari hal tersebut, Febri pun tak hanya memoles urusan vocal saja, ia juga belajar untuk menciptakan image yang kuat untuk membedakan dirinya dengan yang lain. Ia tak pernah melepaskan topi dari penampilan panggungnya yang akhirnya diambil dan disahkan oleh para fans-nya sebagai ciri khas milik Febri. Juga kalung berinisyal ‘Y’dari Yoga (nama tengahnya), serta dengan caranya sendiri Febri menciptakan aksi panggung yaitu gaya ‘seperti mengendap-endap’-nya yang khas, hingga semua menjadi identik dengan dirinya. Walau apapun akhirnya, suara falsetto itulah yang melekat membuat Febri sedemikian unik dan banyak orang pun beralih mendukungnya.

Dari video-video di youtube yang saya kunjungi (saya telah jadi ‘ilmuwan youtube’ seharian!), saya melihat betapa Febri mendapat lonjakan viewer yang makin besar belakangan. Sehingga saat ini Febri, yang sewaktu kecil bercita-cita menjadi dai namun ditolak masuk pesantren karena nilainya yang kurang itu,  sudah tidak lagi terdengar menyebutkan semboyan yang didengung-dengungkannya dulu saat pertama kali lolos audisi, ‘Mari kita ‘Tegal’kan Indonesia’, untuk menarik sms simpati baginya.

Mungkin seberjalannya waktu, kompetisi ini semakin mematangkan mereka, semakin melunturkan pula semangat kedaerahan dari diri para kontestan. Para kontestan semakin focus dan percaya diri, kalau apa yang ia miliki sekarang telah mampu membuatnya bersaing secara sehat dan setara dengan siapapun yang  dihadapi. Saya bersyukur acara ini cukup steril dari segmen ucap mengucap terima kasih kepada bupati anu, walikota anu, lurah, camat atau simbol-simbol yang ingin mempolitisasi acara ini. Sehingga urusan ‘marketing’ sms dukungan itu mereka tinggalkan untuk dikerjakan oleh MC Daniel Mananta sendirian dan tim sukses di luar sana. Seperti halnya Febri, barangkali ia juga semakin sadar bahwa dirinya sudah bukan lagi hanya milik masyarakat Tegal, namun juga milik seluruh masyarakat Indonesia di manapun, dari golongan manapun.

 

Kamasean Y. Matthews, “Sean The Wonder Girl”

(indonesianidol.com)

Apa kata yang tepat untuk menjelaskan kemampuan multitalenta gadis belia berumur 16 thn ini? Sean, asal Bekasi, tidak hanya memiliki kelebihan pada warna vocal saja, tapi juga kecerdasan berimprovisasi, penghayatan lagu yang dalam, kemampuan melafalkan lagu berbahasa Inggris dengan sempurna, juga mental untuk tidak cepat berpuas diri dengan semua pencapaiannya… Wow! (Sedang ngapain saya saat umur 16 tahun itu??).

Karena itu sangatlah mudah bagi saya sejak awal masuk babak Spektakuler Show ini untuk menjagokan Sean menjadi juara. Bukan sekedar karena saya juga punya anak perempuan (yang walau baru berumur 4,5 tahun), saya berharap harusnya seperti inilah yang menjadi panutan bagi anak-anak generasi sekarang  (walau saya waktu kecil fans berat Red Hot Chili Pepers dan Nirvana, tapi untuk anak saya, saya mau idolanya yang baik-baik seperti Sean, hehehe…). Sean, yang tidak pernah lupa memuji Tuhan saat mendapat pujian itu, tampak seperti tidak punya kekurangan sebagai seorang calon idola.

Walau gadis yang hobby menggambar, menguasai 4 bahasa, dan mahir memainkan piano dan gitar itu, hanyalah remaja biasa yang saat diwawancara MC Daniel Mananta mengaku masih labil dalam masalah cinta-cinta-an. Hampir tiap minggu ia kebanjiran pujian. Sama seperti Febri, setiap lagu yang disodorkan kepadanya ia babat habis dengan caranya sendiri, dan selalu berhasil membuat interpretasi yang berbeda dari sebuah lagu dari penyanyi aslinya. Ia juga kreatif menyelip-nyelipkan lirik atau melodi lagu lain ke dalam lagu yang tengah dibawakan. Sampai Ahmad Dhani pun pernah memintanya untuk menggubah salah satu lagu ciptaannya, Keabadian (yang dipopulerkan Reza Artamevia), ke dalam versi bahasa Inggris. Bahkan pernah, saat Sean menyanyikan sebait lagu ciptaannya sendiri di atas panggung, Anang & Dhani seperti berebut ingin memproduseri lagu tersebut.

Hal yang paling spektakuler ia lakukan, menurut saya, pada lagu Don’t Stop Me Now dari Freddy Mercury, “Sean mau lagu ini dibawakan dengan cara Sean…”, ujar Ahmad Dhani sebagai orang yang memilihkan lagu tersebut untuknya. Maka tak berlebihan pula kalau Anang Hermansyah meramalkan kalau gadis ini akan memiliki karir di musik yang panjang hingga ke luar negeri, “Kamu bakal go internasional… Jangan lupakan saya pernah jadi juri kamu di Indonesian Idol…”

Kata ‘go internasional’, barangkali menjadi kata yang sedang ngetrend untuk disebut-sebut belakangan ini. Kata itu mendesirkan impian dan melambungkan semangat bagi siapapun yang ingin ‘menaklukan dunia’, walau hal tersebut sama sekali tidak mudah. Adalah seorang Agnes Monica yang barangkali telah membuka gembok ‘mental block’ yang selama ini meliputi penyanyi-penyanyi di tanah air kita. Kenapa saya katakan Agnes, bukan  Anggun C. Sasmi atau Dougy Mandagi atau Sandy Sandhoro?

Karena ia-lah yang berani menyatakan mimpi besarnya itu ke khalayak ramai dan membiarkan semua orang mengamati sepak terjang yang dirintisnya sejak awal, hingga proses itu pun bisa dipelajari dan menginspirasi siapapun untuk memiliki impian yang sama. Dengan sorotan ini Agnes berani mengambil resiko untuk dilecehkan semua orang seandainya ia gagal. Padahal baru satu atau dua tahun yang lalu saya dibuat terkaget-kaget membaca komentar sirik nan jahil orang-orang ‘pembunuh mimpi’ (istilah para motivator untuk menyebut mereka yang senang melecehkan mimpi orang lain), yang membuat saya ingin memusnahkan kolom komentar pada sebuah artikel tentang Agnes Monica di Yahoo!

Namun bukan Agnes namanya kalau tidak memanfaatkan semua itu untuk kepentingannya, untuk menjadi cambuk terbaik bagi kerja kerasnya, “Dream, make believe, and go for it…”, kini semua dukungan, pujian dan harapan pun kembali ditumpukan kepadanya. Hingga saat ini jalan yang dulu gelap itu pun jadi nampak terang dan memungkinkan untuk dilewati. Sean! Entah mengapa bukan nama yang lain yang terpikirkan untuk melewati jalur yang sama ini. Hanya kepada Sean, orang banyak seperti bisa meramal,  bahwa suatu hari anak ini akan sampai ke kancah industri musik dunia dan membawa nama Indonesia. Apalagi dengan kekuatan social media yang kini semakin gencar dikuasai berita-berita dari Indonesia (seperti Indonesian Idol di twitter… walau saya tidak tahu apa hubungan langsung ‘menaklukan dunia’ dengan menjadi trending topic nomor satu itu?). Dan saya rasa anak ini dengan umurnya yang belia, sanggup menanggung beban ramalan itu dan mewujudkannya.

Hmm, sulit menemukan kekurangan Sean sebetulnya, kalaupun mungkin saya hanya dapat satu: kegagalan. Walau hanya menebak-nebak saja, saya pikir anak se-cemerlang dan se-belia Sean rasanya hampir belum pernah merasakan kegagalan (kecuali kegagalan cinta monyet barangkali, hehehe.). Tapi apa yang saya saksikan di malam top 5 Indonesian Idol kemarin itu… Sean gagal melaju ke babak 4 besar??

Kegalauan pun merebak di seluruh area studio 8, orang-orang seakan tidak percaya dengan kalimat yang barusan keluar dari mulut Daniel Mananta, “Sean kamu harus pulang malam ini!” Dan juri pun dipaksa bekerja ekstra hari itu. Mereka harus memutuskan apakah hak veto satu-satunya yang dimiliki juri itu harus mereka gunakan untuk Sean? Karena tanpa itu, juri seakan tidak ada gunanya lagi di sebuah kompetisi dimana polling sms menjadi hakim tertinggi. Penampilan Sean malam itu sejujurnya memang tidak se-optimal biasanya, namun bukan berarti ia tidak layak berada di final. Walau seperti yang kita ketahui selanjutnya, juri menyelamatkan Sean dengan hak vetonya (entah apakah ini yang sebenarnya terjadi ataukah hanya cara-cara RCTI sebagai sebuah televisi yang ingin menghadirkan tontonan penuh drama sekaligus selanjutnya mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari polling sms dari tim sukses yang panik karena idolanya nyaris di pulangkan…

Dari awal sistem ini memang tidak transparan. Karena itu kalau anda cukup pintar, tidak perlu banyak-banyak kirim sms lah, menurut saya loh…). Namun di malam itu, kalau cukup jeli mengamati perubahan wajah Sean yang lemas karena harus pulang, walau hanya untuk beberapa saat saja, lengkaplah sudah pengalaman yang harus dilaluinya sebagai anak muda yang tengah mengejar mimpinya, Sean mengalami kegagalan… Dan mari kita tunggu buah manis dari pelajaran berharga ini bagi Sean selanjutnya.

 

Dionysius Agung Subagyo,  “Dion The Superstar”

(indonesianidol.com)

Waah… Bicara tentang Dion, pemuda asal Purwokerto, 26 tahun, saya bisa panjang lebar terutama karena nuansa yang ia bawa adalah genre favorit saya, jazz, dimana di dalamnya ada swing jazz yang jadi pilihan Dion dalam mengintrepetasikan lagu-lagu yang ia bawakan (ini alasan pertama saya mengikuti Indonesian Idol 2012). Tapi sebelum bicara ke situ saya harus katakan dulu bahwa, Dion, dialah sang empunya panggung, orchestra, dan seluruh kemegahannya!

Para juri & penonton seolah sedang berada di rumahnya yang hangat bernama panggung Spektakuler. Seperti kata juri tamu Melly Goeslaw, “..mood kamu tidak seperti sedang berkompetisi, tapi seperti sedang show…”. Karena hanya Dion yang bisa dengan santainya menyelipkan nama juri atau gimmick dalam lagunya, melompat kesana kemari,  membuka jas, melempar dompet, menari dengan para musisi, melangkah gontai, duduk termangu, mengangkat  stand mikrofon dengan kaki lalu (hap!) menangkapnya dengan sempurna (barangkali hanya salto dan kayang saja yang belum ia lakukan…)!

Dion betul-betul menyanyi dengan seluruh jiwa & tubuhnya. Tak heran kalau video-video Dion di youtube sering mendapat jumlah viewer yang banyak, seperti saat ia bawakan lagu Sik Asik dari Ayu Tingting mencapai 500ribu lebih viewer. Ada sejuta gaya dan attitude di dalam dirinya yang tidak bisa diulang oleh orang lain bahkan penyanyi professional pun. Dan mungkin hanya seorang Dion yang mampu berdiri dengan dagu tegak menunjuk diri di atas panggung menyanyikan sebuah lagu karya Ahmad Dhani yang ia ganti liriknya : “…Akulah mahkluk Tuhan yang tercipta yang paling sexy…!”  Hal itu pun diamini Agnes Monica, “…self confidence kamu membuat kamu pantas dan bisa untuk menyanyikan lirik bahwa kamu ini seksi…”.

Tak bisa dipungkiri, kontestan yang paling ‘nakal’ dan ‘berbulu’ ini (ehm..) memang paling digandrungi wanita. “Flirtatious…” ungkapan yang tepat dari juri tamu Jaclyn Victor, jawara Malaysian Idol season pertama. ‘Paket’ yang ia bawa, apalagi dengan balutan music swing, memang sangat menggoda. Kehadirannya seakan  membawa ‘cinta’ atau rasa ingin jatuh cinta (entah kepada siapapun itu) ke atas panggung. Sebuah rasa yang dibutuhkan semua orang dan menyehatkan, bukan?  Namun ‘menggoda’nya Dion, menurut saya, tak hanya dirasakan oleh para wanita, para laki-laki normal pun saya yakin tidak haram untuk ‘jatuh cinta’ kepadanya.

Bukan rahasia lagi kalau Ahmad Dhani tergila-gila kepadanya, saat Dion membawakan lagu Aku Cinta Kau & Dia, sang pencipta dan penyanyi lagu aslinya tersebut mengungkapkan,  “Dion, lagu ini cocok banget buat cowok keren kayak kamu…”. Atau pengakuan juri tamu Dimas Djayadiningrat, sutradara iklan, “Dion, saya paling penasaran sama kamu… Kamu memang dianugerahi yang namanya charm…”. Bahkan Anang Hermansyah pun tersipu-sipu malu ketika Dion ditodong MC Daniel untuk menyanyikan lagu. L.O.V.E dari Nat King Cole sebagai hadiah pernikahan Anang dengan artis Ashanty. Maka ini adalah ‘sexy yang universal’ menurut saya (huahaha… apa pula??).

Mari kita bicara mengenai music swing yang berbulan-bulan menjadi bahan perdebatan antara Anang Hermansyah & Ahmad Dhani. Anang beberapa kali menantang Dion untuk membawakan jenis music lain, “…kalau kamu begini terus saya mulai bosan..” Sementara Dhani dengan segala cara meyakinkan Dion agar terus konsisten di jalur swing jazz, bahkan menawarkan diri untuk menjadi executive produser bila Dion berminat membuat rekaman dengan genre music ini.

Saya rasa tidak ada yang salah dengan pilihan genre-nya, karena justru setiap kali Dion membawakan lagu dengan karakter swing jazz kental justru menuai pujian dari Anang. Masalahnya hanya, menurut saya, Dion adalah kontestan yang paling sering salah mendapat lagu (yang barangkali ditentukan oleh produser Indo Idol), seolah karena bakat entertaining-nya  ia harus bisa menyulap semua lagu, yang kurang tantangan dalam hal vocal sekalipun, untuk jadi menarik di atas panggung. Dan di tengah kompetisi ini ia sempat juga seperti mis-leading, oleh ungkapan Agnes Monica yang memintanya untuk mempertahankan karakter ‘Broadway’, sehingga Dion terjebak lebih sibuk mengekplorasi atraksi panggung & gimmick ketimbang teknik vocalnya sendiri. Walau pemuda yang pernah menjadi petenis cilik juara se-provinsi ini memang tipe pekerja keras & perencana yang perfeksionis buat penampilannya, namun cara seperti ini kalau terus-terusan tiap minggu, menurut saya, sangat melelahkan baik buat Dion maupun buat yang nonton. Dan akhirnya malah menimbulkan pertanyaan, apakah Dion betul-betul bisa bernyanyi dengan baik, tanpa kemegahan orchestra Oni & Friends? Lebih parahnya lagi, music swing-lah yang dijadikan kambing hitamnya!

Banyak komentar mengenai cara bernyanyi Dion yang disebut ‘begitu-begitu saja’, ‘membosankan’, dll. Tapi menurut saya, walau saya bukan orang musik, tidak semudah itu  bernyanyi dengan cara ‘sederhana’ ini. Sama halnya bangunan ‘minimalis’ (berhubung  saya arsitek), yang murni bukan yang tempelan macam yang banyak di mana-mana sekarang ini, itu jauh lebih sulit ketimbang bikin bangunan ‘maksimalis’ akrobatik. Membuat sesuatu yang minimalis itu membutuhkan rasa atau taste yang baik sejak dari awal, butuh perencanaan yang matang & sekali tembak harus langsung jitu karena tidak ada ruang untuk menyembunyikan kesalahan.

Sama halnya dengan cara bernyanyi model ini, tapi disini bukan rencana yang jadi modalnya, tapi kepribadian kuat saja dari diri seseorang. Idola saya saja, Antonio Carlos Jobim, barangkali juga hampir bisa dibilang tidak bernyanyi (juga karena beliau musisi), he just say it… Namun penyanyi-penyanyi semacam inilah, bersama dengan musiknya, yang kadang mampu mentransfer ‘secercah pengertian’ tentang misteri kehidupan hanya lewat lirik sederhana dan nada yang ia bagi, dan di satu titik momen saja entah di not yang ke berapa… the audience just got it!

Dan Dion yang saya lihat punya potensi ke arah itu, saat ia menyanyikan ‘Tanjung Perak’  dengan balutan music swing di babak eliminasi. Dion, yang pernah bekerja sebagai stage crew dan supir rental di Purwokerto itu, nampak begitu santai, spontan, effortless, namun berkelas. “Kamu nyanyi seperti ngobrol, itu yang susah…”, ungkap Agnes Monica. Dan sejujurnya, hal itu pulalah yang saya merasa kehilangan di penampilan Dion berikut-berikutnya. Entahlah, apakah kompetisi ini, atau terlalu banyak mentoring, malah telah menggeser pesona awal tersebut.

Padahal mengenai warna suara, barangkali orang harus mencoba mendengarkan suara para kontestan tanpa harus melihat penampilannya seperti yang saya lakukan saat membuat tulisan ini, dan saya sangat terkejut ketika giliran suara Dion, saya pikir ini suara yang bakal saya beli CD-nya tanpa perlu tau wajahnya seperti apa. Suara itu memang sederhana, namun nyaman sekali dan easy listening. Dan senang sekali saya menemukan video Dion menyanyikan Bengawan Solo dengan iringan minim, sepertinya ini yang saya butuhkan untuk hiburan di Indonesia, seperti ada idealisme yang ingin disampaikan anak muda yang bersahaja ini, yang pernah mengatakan dirinya bersyukur memiliki keluarga yang demokratis. Dion yang sangat bangga menjadi dirinya sendiri, dan tidak malu mengaku kalau ia tidak mengerti saat juri tamu Jaclyn Victor mengomentari dirinya dalam bahasa Inggris.

Hingga akhirnya saya menyimpulkan, penampilan ala ‘Broadway’ dll, hanyalah ekstrakurikuler saja, yang kadang (maaf-maaf) kalau tidak hati-hati bisa membuat penampilannya terkesan ‘dangkal’. Karena jiwa dari penampilan Dion selama ini adalah tetap kharisma dalam suaranya. Untunglah di malam itu, setelah saya terpaksa harus menyaksikan Dion yang terjebak jadi penghibur ala Ricky Martin di lagu Alamat Palsu-nya Ayu Tingting (mungkin memang harus seperti itu untuk menghangatkan panggung sebesar ini), di penampilan kedua dengan lagu Sio Mama (walau saya tidak mengerti bahasa Ambon, menurut saya ini salah satu penampilan terkuat Dion), ia telah membayar lunas kerinduan saya…

 

Prattyoda Bhayangkara, “Yoda The Magneto”

(indonesianidol.com)

Ada pengalaman unik tanggal 1 Juni kemarin, saat kami menonton live di Studio 8 RCTI. Saya datang tanpa ekspektasi apapun kepada kontestan manapun, hanya ingin menonton sebuah konser musik yang bagus saja. Bicara mengenai kontestan bernama Yoda, 25 tahun, asal Kebumen, ialah penyanyi yang mewakili genre classic rock dalam kompetisi ini. Penonton yang mengikuti Indonesian Idol sejak awal mungkin tidak akan pernah lupa akan penampilan Yoda di audisi pertama, saat ia menyanyikan lagu When I See You Smile dari Bad English, saat itu kebanyakan orang seperti memprediksi bahwa Yoda-lah bakal jadi the next Indonesian Idol.

Sayang beberapa minggu berikutnya Yoda tampak kurang fit, sejak saat itu penampilannya seperti kurang maksimal. Agnes Monica terus-terusan menyoal soal kebiasaannya yang suka lupa lirik & Anang Hermansyah menilai Yoda kurang keras berusaha. Namun malam itu, ada hal yang tak terduga-duga baru saya ketahui saat menjadi penonton live, bahwa dari semua kontestan yang ada di malam itu, Yoda adalah kontestan yang memiliki magnet begitu besar! Auranya seperti bersinar mengitari rambut kribonya yang khas itu. Bahkan saat bayang-bayangnya memasuki panggung, saat lampu juga belum dinyalakan dan kamera pun belum merekam gambarnya, penonton sudah mau histeris duluan (walau saya merasa Yoda tampak sedikit kurang percaya diri saat itu).

Wow! Malam itu, dengan energy semacam ini, saya pikir Yoda berpotensi menjadi penyanyi yang mampu membuat penggemarnya fanatic, histeris, terpingsan-pingsan saat menyaksikan konsernya, suatu saat nanti.  Saya saja yang awalnya tidak berharap banyak, ikut berdebar-debar duluan melihat penampakannya itu, seolah saya sedang menanti-nanti kehadiran seorang legenda  macam Freddie Mercury atau siapapun! Apalagi tersiar kabar kalau malam itu Yoda akan menyanyikan lagu Black Dog dari Led Zepelin (saya saja baru dengar malam itu lagunya), dalam hati saya berharap-harap cemas, “pasti bakal keren banget..pasti keren banget…”

Dan akhirnya ketika saatnya Yoda membuka mulut, wooaaah…! Energi yang besar sekali, menggetarkan ruangan studio 8 RCTI. Suara itu memang betul-betul powerful dan menyematkan energy… Namun sayang, entah kenapa saat di tengah lagu saya melihat Yoda tiba-tiba blank, seperti tidak tahu harus melakukan apa, seperti kehilangan focus (barangkali ‘lupa lirik’ telah menjadi momok baginya), lalu selanjutnya, menurut saya, Yoda kurang berhasil menyelesaikan lagu itu dengan baik. Namun karena aura rockstar-nya yang begitu besar, seolah para penonton tidak peduli lagi. Bahkan seorang bintang tamu, magician dari Jepang, yang ikut menggilai Yoda, saat diwawancarai MC Daniel, “Whatever they say, Yoda… you rocks!” ungkapnya menanggapi komentar para juri yang kelihatan menjatuhkannya. Atau para personel band pengisi acara malam itu, J-Rocks, apapun yang terjadi tetap menjadi pendukung Yoda.

Saya rasa ini adalah sebuah penantian yang begitu panjang dari masyarakat pecinta rock, ekspektasi yang begitu besar dari para penonton Indonesian Idol 2012 yang sedari awal telah mengikuti perjalanan Yoda, terutama mereka yang dibuat terpukau dengan  first impression Yoda yang begitu kuat di saat audisi, dan impresi itu seolah tidak tergantikan oleh apapun bahkan dengan penampilan2 berikutnya yang tidak sebaik di awal. Para fans fanatiknya ini seakan selalu setia menunggu kembalinya seorang Yoda yang dulu mereka lihat itu, yang pernah membuat seorang Ahmad Dhani dalam hitungan detik langsung menyatakan ‘Yes!’ untuk golden tiket baginya.

Tapi justru itu saya kasihan dengan kontestan yang satu ini. Ia memasuki ajang Indonesian Idol ini dengan ekspektasi yang sedemikian melangit dari siapapun. Termasuk dari para juri. Bahkan saat Yoda berpenampilan sangat baik pun di awal-awal panggung Spektakuler, bahkan telah membuat Agnes Monica standing applaus untuknya, dan seorang Anang Hermansyah jadi kepingin gondrong lagi (!), juri  Ahmad Dhani masih kecewa juga karena ia menyimpan ‘ekspekatasi yang lebih tinggi lagi’ kepada sosok Yoda yang ia anggap masih bisa memberikan lebih dari itu.

Dari situ saya seperti mendapat pelajaran, (dalam hal parenting, hehe..) minggu ke minggu, too much expectation will kill you! Agnes Monica sendiri menyadari, dengan mengatakan “Kalau kita kritik keras ke kamu karena kita punya ekspektasi yang tinggi terhadap kamu, dan kamu seharusnya bangga, karena itu artinya kita ingin kamu menang. Sekedar bagus saja tidak cukup buat kamu…” (hmm, ini kata-kata yang tidak akan pernah saya katakan ke anak saya nanti…) Dan karena penampilannya yang terus merosot, Anang Hermansyah pun seperti sudah tidak tahan ingin memulangkan anak ini, bahkan meremehkannya dengan mengatakan bahwa ia harus sekolah lagi di School of Rock milik Ahmad Dhani untuk menjadi seorang rocker? But he is a rocker already!

Sekali lagi saya ingin memberikan kritik pada para pengkritik, mungkin Anang merasa bertanggung jawab untuk men-deliver seorang idola yang sebenarnya ke masyarakat Indonesia, tapi biar bagaimana pun kritik yang menjatuhkan tidak akan pernah memotivasi seseorang untuk menjadi lebih baik. Kalaupun orang itu mampu bangkit dan menjadi sukses, saya rasa bukan karena jasa kritik itu, tapi lebih karena kekuatan yang ada di diri orang itu sendiri, suatu proses panjang jauh sebelum kritik itu muncul, jauh saat orang itu masih kanak-kanak dan dalam asuhan orang tuanya. Saya pikir, para juri harus lebih bijaksana, ini bukan panggung politik dimana kesalahan dibuat dengan sengaja dan merugikan orang banyak (oleh karena itu bolehlah beramai-ramai kita bantai, hehehe…). Jadi berhati-hatilah mengucapkan kata-kata ke seseorang, karena kata-kata itu kadang sama kejamnya dengan santet ‘voodoo’! (Semoga Yoda cukup kuat untuk mencabut jarum yang ditancapkan ke dirinya itu…)

Sekarang timbul pertanyaan di benak saya, benarkah bahwa seorang rocker sejati bisa dilahirkan lewat sebuah ajang kompetisi popular? Benarkah seorang notabene rocker membutuhkan sekolah untuk mendisiplinkan jiwanya yang bebas itu? Benarkah seseorang dengan jiwa seperti itu harus mendengarkan orang lain, seolah lebih tau dari dirinya?? Saya betul-betul bertanya karena saya memang tidak tahu jawabannya. Dan begitu pun mungkin Yoda. Di dalam masa karantina, seorang kontestan pastinya disuguhkan jadwal latihan yang ketat dan acara-acara promosi sponsor yang melelahkan, sampai sempat membawa Yoda terbaring di rumah sakit.  Belum tekanan untuk tidak mengecewakan fans-nya. Yah semua memang untuk alasan menguji mental.

Saya rasa Yoda telah kehabisan energy, telah kehilangan dirinya di tengah hingar-bingar kompetisi ini. Bagaimana mungkin seseorang yang memiliki suara sedemikan bagusnya (bahkan bicara-nya saja sudah keren!) tiba-tiba seperti kehilangan kendali akan suaranya sendiri di atas panggung, seolah melayang-layang sendiri terpisah dari tubuhnya? Bahkan di sebuah sesi latihan, saat Yoda bernyanyi lagu Kangen dari Dewa 19, Ahmad Dhani mengatakan bahwa suara Yoda lebih bagus dari Ari Lasso maupun Once, namun panggung Spektakuler seolah telah memberinya mental block yang entah dengan apa ia dapat menaklukkannya kembali.

Yah untuk Yoda, anak muda yang mengaku pernah mengalami masalah dengan ayahnya karena berhenti kuliah untuk mengejar cita-citanya di musik itu, saya hanya bisa bilang begini : persetan dengan kompetisi ini, persetan dengan para juri, persetan dengan penonton, para fans dan para haters-mu (persetan juga kata-kata saya ini..). Jangan pernah pedulikan mereka, dan kembali menjadi dirimu sendiri. Karena menurut saya, Yoda lebih besar dari kompetisi ini! Yoda masuk ke dalam ajang ini pun sebenarnya dengan tujuan mulia : ingin membuat bangga ibu, dan ayahnya yang konon menjadi idolanya itu. Namun ia sendiri yang  memulainya, maka ia sendiri pula yang harus bisa mencari cara untuk memperoleh keuntungan dari kompetisi ini, jangan malah menjadi korban. Moga-moga cercaan-cercaan yang ia terima semakin memperbesar energy potensialnya, yang bila mana waktunya nanti ‘meledak’ semua orang baru akan menyadari, kalau Yoda memang sudah terlahir sebagai rockstar!

 

The Next Indonesian Idol

Lalu, siapakah akhirnya yang berhak menyandang gelar Indonesian Idol 2012? Kalau saya diberi kesempatan untuk memilih atau mengeliminasi, maka saya akan melakukannya dengan urutan seperti di atas. Bukan karena urutan yang di bawah tak pantas menjadi yang teratas, atau pun yang teratas sudah memiliki point tertinggi, namun karena factor alat ukur tadi. Dan sebetulnya dari kelima kontestan ini saya ingin bagi jadi dua bagian, dimana dalam grup tersebut bisa diputar-putar urutannya, dan dua grup ini pun bisa ditukar posisinya. Grup pertama, Regina – Febri – Sean. Karena ketiga kontestan ini memiliki kesamaan dalam hal mental, kecerdasan dalam banyaknya hal yang mampu mereka pelajari dalam waktu singkat secara maksimal untuk membuat dirinya berkembang semakin baik dibanding awal-awal kemunculan mereka.

(indonesianidol.com)

Kelompok berikutnya, grup Dion – Yoda. Mereka berdua memiliki kemiripan karena mereka anak-anak yang terlahir dengan keunikan yang tidak bisa dibeli atau dipelajari dimana pun. Mereka punya kharisma dan style yang mungkin dalam satu decade pun belum tentu bisa muncul penyanyi serupa. Hanya mereka barangkali tipe yang memiliki jiwa bebas, sehingga lebih maksimal kalau belajar sendiri, arahan-arahan dalam kompetisi belum tentu membuat mereka lebih baik dari sebelumnya, malah salah-salah akan membuat karakter kuat mereka jadi memudar. Tapi dari semua hal itu, mudah-mudahan Indonesian Idol ini benar-benar bisa menyumbangkan talenta-talenta terbaiknya untuk perkembangan musik Indonesia. Karena seperti yang dikatakan Agnes Monica, “Indonesian Idol ini cuma miniature kecil dari industry musik yang sebenarnya…” Semoga anak-anak muda ini tak sekedar menjadi artis instan yang muncul dan hilang dalam waktu sekejap, lebih dari itu mampu menyaingi Suju dan Lady Gaga di negerinya sendiri ini.

Salam.

Theresia Astrid Wulaningsari

 

120 Comments to "Indonesian Idol 2012"

  1. atite  11 July, 2012 at 12:36

    hi F.R…
    thanks sdh mampir…
    that’s a good idea.. bilang Febri kl penulisnya jg fans beliau
    salam…

  2. FR  9 July, 2012 at 05:23

    maa mbak atite baru bales, saya sebenernya dengan senang hati mempromosikan artikel ini lewat twitter ke mereka, tapi saking banyaknya mention2 yang mereka dapet dari fans2 kemungkinannya artikel ini sampe ke mereka kecil sekali.

    jadi saya berniat ngeprintkan artikel ini dan nunjukkin pas meet and greet febri di jogja, (niat banget ya) peduli amat karena saya berharap artikel ini bisa memotivasi mereka utk bertahan di industri musik indo. sayang kan kalo talenta2 sehebat mereka berlima ini ilang begitu aja?

  3. atite  6 July, 2012 at 06:18

    halo Mike… baru diomongin udh muncul (Mike Mohede ??? wkwkwkwk…
    iya nih ternyata animo masyarakat besar bgt yah sama Indonesian Idol… saya pikir dulu abis nulis artikel selesai sudah tugas, gak taunya masih panjang, hahaha…

    setuju Mike! walopun bukan penggemar tapi yg namanya kualitas yg baik semua org pasti merasakan. misal saya sendiri bukan penggemar diva2 macam Whitney Houston atau lainnya, tp begitu mendengar berita dia meninggal saya tetep aja nangis, krn saya merasa makin berkuranglah sudah penyanyi berkualitas…

    jadi kl di Indonesia memang ada bibit2 yg baik sedari sekarang, diberi saja jalan & apresiasi yg baik… seperti Regina atau Sean atau Rosa, Dera, Belinda atau siapapun yg lainnya… bisa jadi motivasi jg buat penyanyi2 yg sudah lbh dulu di industri supaya gak berenti belajar… kayak Agnes, atau Krisdayanti (terakhir saya liat dia nyanyi suaranya udh jauuh lbh bagus dari sblm cerai…

    lain kali kl mampir bawa cemilan atau apa, hahaha… thx Mike!

  4. mike  5 July, 2012 at 23:16

    Hai mba atite,ijin mampir lagi dimari ya mba
    Wah bener2 Idol kali ini rame diperbincangkan ya,ga dimana-mana bahkan di tulisan yg notabene hanya ulasan pribadi mba atite malah jadi kayak forum diskusi
    Ya emang wajar aja sih idol taun ini jadi perhatian banget,secara masing2 kontestannya punya karakter sendiri2,berbeda satu sama lain,jadi unik gitu deh, ga seperti industri musik saat ini yg cenderung seragam, monoton dan itu2 aja,,ups hehehe
    Tentang Regina,walaupun saya bukan fansnya , saya sih setuju dengan statement doi dijuluki sbagai real diva, maksudnya bukan untuk dibandingin sama diva senior yg sudah2 ada lho,tp lebih mengarah kpada penyanyi wanita indonesia kategori pendatang baru saat ini, widih resmi amat bahasaku,kek baca nominasi award aja,hehehe *abaikan….coba perhatiin saat ini ada berapa penyanyi wanita pendatang baru yang beken tp kualitas nyanyinya sekeren regina? yah kalopun ada,jumlahnya ga sebanding ma penyanyi2 wanita yg cuma sekedar aji mumpung atau jual tampang atau sensasi doang,tul gak . Jadi untuk itu emang seharusnya regina diapresiasi sperti itu,bukan lebay,bukan jg untuk ngeremehin diva2 yg sudah ada,tp biar bisa ngebuka mata produser2 musik kita atau siapapun, bahwa penyanyi berkualitas (mau penampilan fisiknya biasa2 kek ato ga menjual ato ga ada drama,blablabla) toh bisa diterima,digandrungi dan menarik perhatian masyarakat luas .

  5. atite  5 July, 2012 at 08:16

    heloo again, Jojo..

    haha, oke saya akui mungkin ada kesalahan saya dlm memilih kata untuk menyampaikan suatu maksud… the real diva yg saya maksud adalah ‘kualitas diva’ yg dimiliki seorang kontestan… maaf lagi buat Bravo
    btw, Ayu Ting2 itu jg bagus2 aja suaranya & lagu2 jg sangat menghibur.. tp pilihan dia aja utk jd penghibur yg lebih komersil jd kesannya krg berkualitas..

    wah saya lupa Mike Mohede bilang seperti itu? tp menurut saya memang dia itu gak hanya baguus bgt nyanyinya tp jg mataang sekali sbg entertainer yg selalu siap diwawancara dg kata2 yg penuh pertimbangan & wise… tp kl ngomongin beliau, nti saya jd pengen nulis ttg Idol2 sblmnya… walah blm ada waktu… hehehe..

    salam…

  6. atite  5 July, 2012 at 08:06

    Hi Guardian… thx sdh mampir ;-D

    seperti yg saya tulis, saya bilang jg tdk ada yg kurang dengan bakat2 Indo Idol sblmnya, yg berbeda itu RCTI-nya, yg akhirnya jd memberi nuansa berbeda & sebagai ‘acara tv’ menurut saya lebih nyaman utk ditonton…

    Lha, ada apa dg lagu2 Indonesia?? sebetulnya yg blm sempat saya bahas di sini adalah komposisi antara lagu Indonesia & baratnya yg menurut saya kurang pas. biar bgmn pun seharusnya lagu Indonesia jd tuan rumah di acaranya sendiri. apalagi pas final kmrn, saya sgt terkejut Sean membawakan Bad Romance?? & komposisi lagu barat dg Indonesianya 2 : 1 ?? kl sy punya waktu saya mau menulis lg tentang ini saja, ahaha…

    kl anda mau klik video2 yg saya pilih buat top 5 di atas, yg pertama saya taro adalah lagu2 Indonesia, yg awal saya taro adalah yg menurut saya yg paling bagus buat mereka… kmdn di tengahnya baru video2 lain. supaya pembaca di sini jg melihat, kl lagu Indonesia setara dg lagu barat… tanpa rasa antipati thp lagu barat, atau nasionalisme sempit, atau dsb…

    salam…

  7. atite  5 July, 2012 at 07:47

    Hi Bravo… makasih ya sudah berbagi opini… hehehe

    Wah, saya minta maaf kl memang ada konten dari tulisan saya yg menjatuhkan penyanyi lain, apalagi Krisdayanti. Tp menurut saya tidak ada tulisan di sini yg mengatakan beliau penyanyi sembarangan.

    Mengenai kalimat ‘diva yg diorbitkan’, kl menurut saya tdk ada yg hina pula dengan hal tersebut. Memang menurut anda siapa Madona, Britney Spears, atau Agnes Monica, juga Krisdayanti? Bukankah mereka adalah orang2 yg mungkin hanya punya sepersekian bakat menyanyi namun bekerja keras sedemikian gigihnya utuk ‘mengorbitkan diri’ mereka sendiri (dengan cara & kemajuannya masing2) utk menjadi apapun yg mereka mau, hingga menjadi penghibur nomor satu di masanya & bahkan jadi legenda!? Cara2 yg sama dg Marlyn Monroe… Mereka memang orang2 yg patut dihargai krn kegeniusannya / timnya membuat KONSEP yg membuat diri mereka sedemikian meledak. Bakat superstar itu jg gak bisa dibeli dg cara apapun oleh mereka yg bahkan punya 99% bakat menyanyi…
    Kl dulu Krisdayanti ikut ajang Indo Idol ini, saya mungkin akan menempatkannya di tempat Dion, mereka tipe yg sama menurut saya. Sepersekian persen bakat nyanyi, sisanya konsep, kerja keras & kharismanya yg membuat mereka akhirnya jadi setara dg bakat2 lain bahkan lebih menonjol…

    tp kl ttg Regina… hahaha… maaf kl saya menggunakan ‘the real diva’, krn memang semua sebutan2 di atas itu saya buat utk menunjukkan ‘karakter’ atau kekuatan yg membedakan masing2 peserta, seperti The Avenger, yah itu memang gaya tulisan ini krn tulisan ini mmg pd dasarnya saya buat utk memberi dukungan buat para peserta utk terus eksis di industri musik selanjutnya. Saya hanya mencoba memberi gambaran, membagi pengalaman, krn saya org yg sebetulnya malah awalnya tdk pernah tertarik dengan Regina, krn memang saya tdk suka tipe ‘diva2-an’, hingga akhirnya saya nonton live dan dibuat merinding olehnya! HIngga akhirnya saya bs mengerti kenapa orang atau juri memuji2 dia, ternyata mungkin kualitas semacam itu yg disebut ‘kualitas diva’… Justru itu yg pingin saya dukung. Krn di Indonesia ini, banyaaaak sekali penyanyi di kafe2 atau pengamen2 yg punya suara baguus bahkan jauh lebih baguuuus dari penyanyi2 yg skrg muncul di industri musik. Salah satunya bakat seperti Regina ini sudah muncul, jangan sampe tenggelam lagi seperti JOy atau yg lain2nya, kecuali mmg ingin industri musik ini disesaki ‘girl band’, dll… & saya rasa gak dosa utk memberi penghargaan tinggi ke seseorang yg jg berjuang cukup lama utk menembus tembok industri yg seringkali hanya mencari modal2 sperti tampang atau tubuh, dll… Memang mungkin tdk ada pintu lain yg lebih baik dilewati oleh Regina selain lewat Indonesian Idol ini, krn jurinya adalah masyarakat yg mungkin jauuuuh lebih obyektif ketimbang prodeser2 rekaman.

    Sayangnya anda tidak baca sampai selesai tulisan saya, krn kl iya anda pasti tau kl saya tidak selalu setuju dg juri. Anda benar kl jadi penonton hrs SMART, tp jg harus JUJUR mengakui kl memang benar ya benar sekalipun dikatakan oleh juri yg lebay misalnya… utk buat penilaian mmg harus jujur & seobyektif mungkin, tdk terintimidasi isu apapun, baik dg suka atau tidak sukanya kita ke penyanyi itu ataupun dg jurinya ataupun genre, dst…

    peace…

  8. Jojo  5 July, 2012 at 04:19

    @ bravo:

    Sepakat sih kalo belum saatnya Regina disebut sebagai diva. Walaupun dia punya potensi ke arah sana. Apalagi Real Diva. Masih terlalu jauh ya. Tapi kalau dibanding Ayu Ting Ting, ya bolehlah……

    @ Guardian:
    Disebut lebih bagus daripada season2 sebelumnya, mungkin dalam pengertian genre musiknya yang lebih bervariasi. Apalagi ada surprise2 semacam sosok Dion yang swing banget. Atau Hendriyanto,(walaupun mengundurkan diri) seorang tukang buah yang ternyata jago ngejazz.
    Atau seorang Febri yang membawa genre BritPop. Ada juga Dera dengan falsetto-nya yang khas banget.
    Jadi bukan cuma genre tradisional semacam pop atau rock saja.

    Ditambah komposisi dewan jurinya yang tidak lagi membuka ruang adanya acara mewek2 segala.
    Terutama juri Ahmad Dhani yang membawa suasana segar dengan komentar2 yang terkadang memancing tawa.

    Benar kata Mike Mohede minggu lalu. Idol 2012 ini mengangkat lagi Indonesian Idol sebagai acara yang bermutu dan bergengsi. Sama seperti Idol season 1 dan 2.

  9. Guardian  4 July, 2012 at 13:00

    Indonesian Idol 2012 supeeeerr lebaaay. Terlalu bnayk promosi yang mengembar gemborkan kualitas pesertanya lebih bagus daripada season sebelumnya. Kenyataannya gaaaak banget. Tetap gw prefer peserta Indonesian Idol 1 dan TOP 3 Indonesian Idol 2. Sayang aja waktu zaman Indonesian Idol terdahulu kualitas pesertanya kurang dieksplor sama lagu lagu bahasa Inggris dikarenakan aturan dari pihak RCTI. Akirnya mereka jadi terkurung dalam lagu lagu komersil Indonesia yang tingkat kesulitannya medium. Coba aja peserta Idol yang sekarang disandingkan dengan peserta Idol Season 1 pasti gak ada apa apanya.

  10. bravo  4 July, 2012 at 12:48

    Gw gak setuju ya kalo dibilang Krisdayanti dapet julukan Diva yang diorbitkan, karena kenyataannya dia memang penyanyi yang lagunya pernah merajai dan menjadi favorite tangga lagu di Indonesia & Malaysia karena teknik vokal dan penjiwaan yang bagus. Dan kenyataannya Krisdayanti itu bukan penyanyi sembarangan. Dia memulai karirnya dari penyanyi yg ditemukan oleh Chris Pattikawa dalam sebuah kontes ASIA BAGUS! kompetisi tarik suara yang pesertanya dari Indonesia,Malaysia, Singapore, Jepang,dan Brunei dan memenangkan kontes Weekly, Monthly dan Annual ASIA BAGUS! Masih dibilang penyanyi orbitan????
    Bahkan The Best of The Best ASIA BAGUS! yang mengadu para pemenang tahunan Krisdayanti didaulat sebagai juaranya.
    Gw juga gak setuju Regina dikatakan The Real Diva. Terlalu konyol memberikan gelar kepada penyanyi baru yg belum teruji di industri musik. Banyak penyanyi Indonesia yang lebih layak diberikan gelar DIVA. Menurut gw, seseorang bisa dikatakan Diva jika sudah terbukti bisa bertahan,berkarya secara konsisten memiliki lagu yg masterpiece sehingga mendapatkan pengakuan dari masyarakat.
    Kadang kita sering terbawa omongan juri yang lebay dan berlebihan. Maka dari itu jadilah penonton yang SMART. Jangan asal ngikut aja.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.