Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Teruntuk Wanita-wanita Hebat 7.1

Friday, 15 June 2012

Viewed 852 times, 1 times today | 5 Comments |

Yang Mulia Enief Adhara

 

Aku memberi usulan untuk menikmati gudeg di kawasan Jl Prof Dr Yohannes daerah Sagan. Gudeg Sagan berada di kawasan kost-an dan losmen berharga terjangkau. Aku menyukai gudeg Sagan karena rasanya yang pas, sambel krecek, telur dan tempe yang pedas nikmat, juga gudeg dipadu ayam yang benar-benar membuatku lupa diri. Tentu saja Alvino dan Entin begitu semangat, maka meluncurlah kami menuju kawasan Sagan.

Benar dugaanku, Alvino dan Entin bagai memiliki perut yang bertingkat-tingkat. Alvin menyuap nasi dengan krecek pedas bercampur gudeg dengan sangat penuh perasaan. Butiran keringat membasahi kening, itu hasil perpaduan rasa pedas dan nikmat. Entin tak mau kalah, gudeg di piringnya sudah memasuki tahap ronde ke dua. Aku sebenarnya berniat beli sebatas dibawa pulang, makan ayam sepotong dan kentang membuatku tak lagi bernafsu makan. Namun wajah Alvin dan Entin berhasil membuatku tak sanggup menghindar, aku pesan juga satu porsi. Saat kusuap nasi dengan sambel  krecek, rasanya memang tak terlupakan. Lembut sekali rasa kreceknya juga ada sensasi sedikit kenyal, ditambah rasa pedas membuatku melayang …… Melayang hingga lupa timbangan.

*****

Saat Alvin, Entin dan Aku tenggelam dalam samudra Sagan, Dek Andi dan yang lainnya masih sibuk dengan beberapa belanjaan yang tadi dibelikan Alvin, bagi anak-anak aneka belanjaan lebih menarik dari pada gudeg. Rasanya tak sadar saat waktu sudah menunjukan pukul 22.10. Kami akhirnya menyadari saat si kecil Deni mulai layu karena mengantuk.

Dalam perjalanan pulang, aku mengusulkan acara besok agar dimulai pagi sepulangku dari makam Ibu, ku sarankan Pasar Kota Gede menjadi salah satu tujuan utama demi mencicipi Gerontol. Aku juga hendak mampir ke Kios Snack dan Kue Supriyati yang dulu sering aku kunjungi demi menikmati Kipo yang terbuat dari ketan dan diisi parutan kelapa dengan gula merah dan besarnya tak lebih dari ibu jari. Lalu Warung Makan Bu Yanti di kawasan terminal makam Raja Imogiri yang sotonya bikin merem melek, lalu Gubug Makan Mang Engking di Sleman yang juara akan menu udang galahnya, lalu Angkringan Pak Man dekat stasiun Tugu dengan nasi kucing dan kopi joss yang memang joss, lalu Warung Ijo Brongkos Bu Padmo di kawasan Pasar Tempel dibawah jembatan Kresak.

Aku juga mengusulkan mencoba Warung Sop Serenek Pak Parto di kawasan Rejo Mulyo, Magelang. Lalu RM Es Murni, Kupat Tahu Pak Slamet, ohh aku asyik mengingat dan menyebut tempat tempat makan yang menurutku bercita rasa istimewa, dan tiba-tiba aku terkejut karena Alvin melemparku dengan buntalan kertas, “Uci ! Diam ! Kamu mau bikin aku ngiler sepanjang malam ya, harus ya dibahas detail malam-malam”, Ujar Alvin dengan wajah kocak. Kami semua tertawa terpingkal-pingkal, dasar perut karet.

****

Jam 5.30 aku sudah rapih, memakai celana panjang hitam dengan baju tunik hitam lengkap dengan kerudung putih, aku akan ke makam Ibu. Entin masih nyenyak di atas ranjang. Alvin juga masih asyik meringkuk di kasur di depan TV. Aku pamit kepada Nenek, dan mulai menelusuri jalanan yang masih sepi dan menebar aroma pagi yang sejuk.

Aku berlutut di tepi makam Ibu, kubersihkan dari rumput liar yang tumbuh di sekitarnya. Airmata-ku membanjir, aku sangat merindukan Ibu. Ku usap batu nisan berharap Ibu merasakan belaianku. Ku taburi bunga mawar sambil tak henti bibirku mengucap doa. Aku bersimpuh, aku bercerita bahwa aku baik-baik saja, betapa aku merindukan Ibu dan betapa sangat beruntung aku memiliki keluarga baru dan semua itu berkat segala doa restu Ibuku.

Aku menyandarkan kepalaku di makam Ibu, sambil berbicara, aku membayangkan tengah menyandarkan kepalaku di atas pangkuan Ibu, seperti dulu sering kami lakukan sambil menonton TV.Biar saja orang mengatakan aku tidak waras, mereka mungkin tidak pernah berada di posisi aku yang seumur hidup hanya memiliki Ibu sebagai pelita kehidupanku.

Entah berapa lama aku duduk bersimpuh, tiba-tiba kusadari ada orang lain berlutut tak jauh dariku, ku lihat Alvin dan Entin ditemani Dek Andi. Mereka mengucap doa dengan tulus walau tak pernah mengenal Ibu.Suasana sunyi, hanya sesekali isak tangisku terdengar.

Kami akhirnya meninggalkan makan Ibu, sambil mengusap wajahku yang kacau oleh airmata, aku berterima kasih pada Alvin dan Entin yang berkenan datang walau tak pernah jumpa apalagi mengenal Ibuku. Alvino menjawab dengan senyum, dan Entin berbicara, “Teh, siapa bilang kami tidak kenal almarhum Ibu ? Teteh adalah jelmaan Ibu, kebaikan, ketulusan dan kepandaian dan juga segala yang ada pada Teteh, kami yakin seperti itulah almarhum Ibu, semuanya berkat didikan Ibu, memang benar kalo beliau termasuk wanita terhebat”, Ujar Entin. Aku terisak mendengar hal itu, ku tengok sekali lagi makam Ibu yang berada sekitar 10 meter di belakangku, ‘Terima kasih Ibu, Engkaulah guru terbaikku, engkau yang membuatku seperti sekarang’ bisikku di dalam hati.

*****

Kunjunganku kali ini bertepatan dengan masa liburan anak sekolah. Tahun ini Dek Andi tinggal menunggu hasil pengumuman kelulusan SMU. Sedangkan Amel dan yang lainnya liburan kenaikan kelas. Aku yakin Dek Andi akan lolos menuju jenjang pendidikan berikut, ia anak yang cerdas.

Aku dalam sekejap sudah berganti pakaian. Celana panjang coklat tua dengan atasan batik katun nan sejuk. Entin juga sudah rapih dengan atasan batik hasil belanja semalam di Malioboro. Alvin tampil cuek dengan celana katun selutut dipadu kaos singlet dengan tas ransel hitam andalannya.

Tak lama muncul Dek Andi, seorang diri. Aku bertanya kemana Amel dan Agus. Dek Andi menjelaskan bahwa Ibunya tidak mengijinkan adik-adiknya ikut, “Amel nangis dan Andi merajuk ndak mau sarapan Mbak”, Jawab Dek Andi pelan, “Kata Ibu kami merepotkan Mbak juga Ko Alvin., kata Ibu kami ini malah ndak tau diri”.

Aku menahan nafas, buru-buru aku menuju rumah Ibu Lily, dan kulihat beliau sedang sibuk merawat tanaman. Aku pun langsung menyapa, “Bu, maaf aku pagi-pagi sudah ganggu, ini lho kata Dek Andi, Ibu ndak kasih ijin Amel dan Agus ikut jalan-jalan ya ? Apa aku ada salah Bu ?”.

Bu Lily menatapku dengan wajah sendu, lalu ia bicara, “Nak kamu sama sekali ndak buat salah, Ibu cuma malu saja Nak. Lha kemarin aja anak anak pulang bawa banyak belanjaan, katanya dibelikan Nak Alvin. Ibu malu Nak ! Kan Nak Alvin baru juga kenal kami, lha kok sudah direpotkan seperti itu. Udah Nak Uci saja yang jalan, nikmati liburan di Jogja”.

Aku bingung harus menjawab apa, ku raih tangan Bu Lily dan kucium, “Bu, kami bahagia bisa mengajak Dek Andi, Amel juga Agus. Siapa bilang kami repot, kebetulan saja ada rejeki lebih mangkanya anak anak bisa dibelikan ini itu. Ayolah Bu, aku kan pengen rame-rame sama adik adikku selama di Jogja”.

Bu Lily terdiam, wajahnya ragu, maklumlah orang Jawa, rasa takut merepotkan selalu dinomer satukan. Tiba-tiba Alvin muncul. Diciumnya tangan Bu Lily, “Bu maaf ya andai aku lancang membeli aneka benda untuk adik-adik, maaf kalau semua itu menyinggung perasaan Ibu”, Ujarnya lirih.

“Demi Tuhan Nak Alvin, ibu ndak mikir gitu, Ibu cuma ndak mau anak-anak merepotkan kalian, Ibu ndak bisa kasih hal hal istimewa buat kamu Nak, lha Nak Uci aja selalu Ibu repotin kok dan Ibu belom balas apapun, kok sekarang malah nambah kamu ikut Ibu buat repot”, Jawab Bu Lily dengan suara tertahan.

Alvin panjang akal, tiba-tiba dia berkata, “kalau gitu aku mau minta balasan satu hal sama Ibu, aku yakin Ibu bisa memenuhinya, tapi artinya adek-adek boleh bersama kami selama liburan ya”.

Bu Lily nampak ragu, “Aduh Nak balasan seperti apa ? Ibu mana bisa membalas segala hal yang telah kamu beri pada anak anak Ibu ?!”.

“Aku ingin, Ibu mengizinkan aku ikut sarapan di rumah Ibu dengan hidangan khas. Aku akan ke sini tiap pagi, gimana Bu ? Boleh ?”, Ujar Alvin dengan wajah sok serius.

Ibu Lily tersenyum, “Lho kalau kamu mau kesini menikmati masakan Ibu, tentu Ibu malah senang Nak, tapi jujur ya, Ibu hanya bisa menghidangkan makanan kampung yang sederhana”.

“Nah justru itu yang aku suka, aku suka makanan yang sederhana namun dimasak dengan penuh cinta, Uci kan sering cerita tentang Ibu. Nah jadi udah lunas yaa, Ibu udah balas semua pemberian aku, jadi adek-adek boleh ikut”, Jawab Alvin, dan berikutnya dia masuk ke dalam rumah memanggil Amel dan Agus agar bersiap-siap. Tentu saja kedua anak itu menyambut dengan pekik gembira.

*****

Ibu Lily menatapku, dipegangnya wajahku dengan kedua tangannya. “Nak mungkin kata-kata Ibu kedengeran klise, tapi Ibu ndak bisa balas semua kebaikanmu, hanya doa yang bisa Ibu beri, sungguh Ibu-mu meninggalkan harta yang tak ternilai, yaitu hatimu yang tulus, terima kasih ya Nak, berkat dirimu kini hadir Alvino yang murah hati yang seolah mewujudkan hal-hal yang selama ini hanya angan di hidup anak-anak Ibu. Demikian juga dirimu Nak yang selalu datang saat Ibu tak mampu lagi mencari pertolongan”.

Mata kami basah oleh airmata haru, dan suasana itu tak berlangsung lama, Alvino menggantikannya dengan suara gaduh diikuti oleh Amel dan Agus yang wajahnya berseri-seri. Alvin pamit pada Bu Lily, dipeluknya Bu Lily sambil berbisik, “Bu lihat wajah adek-adek, begitu ceria, penuh kebahagiaan, bukankah itu hal paling mewah ???”.

Bu Lily tersenyum penuh haru. Diciumnya kening Alvino juga kedua pipinya, Ditatapnya wajah oriental di hadapannya dan Bu Lily berkata, “Mungkin saja kamu malaikat dalam penyamaran yang dikirim Allah kepada keluarga Ibu, dari dulupun Ibu yakin Uci itu malaikat”.

*****

Tak lupa aku menjemput Dinda dan Deni. Mbak Win pun sempat merasa tidak enak, namun ku tiru kata-kata Alvin, “Lihat Mbak Wajah anak anak, begitu berseri dan bahagia, bukankah itu hal yang paling mewah ?”, hasilnya Mbak Win langsung memberi izin.

Kami langsung menuju Magelang, menikmati keindahan candi Borobudur, lalu berwisata kuliner. Saat tiba di RM Es Murni, Alvin kalap menyantap 2 porsi nasi bakmoy ayam dengan seporsi es teler duren. Lalu saat tiba di kupat tahu Pak Slamet ku lihat Alvin makan lagi, Entin sama saja, heran kuat sekali anak dua itu dalam hal makan. Aku malah mempunyai kiat, aku makan selalu berbagi dengan Amel dan Dinda. Agus berbagi dengan Andi. Deni si kecil lebih ke icip-icip saja, namun susu menjadi sumber energi baginya.

Menikmati nuansa kota kecil yang menawan, kami benar benar sibuk berfoto, membeli oleh-oleh dan bertekad perjalanan esok hari akan menjelajah Kota Gede. Acara di Magelang kami tutup dengan mampir ke toko camilan sekedar membeli aneka keripik, lagi-lagi kami berurusan dengan kuliner.

Mendekati sore kami sudah kembali berada di Jogja, dan semangat kami seolah tak padam. Rasanya asyik sekali saat kami nongkrong di Angkringan Pak Man, menikmati kopi yang dimasukan gumpalan arang panas sambil bermain kartu UNO yang dibawa Alvin. Mungkin karena kami hampir tidak pernah menikmati suasana seperti ini, otomatis bagi kami semua ini hal yang unik.

Makan malam kami laksanakan di Saung Udang Mang Engking, yang rasanya mantab. Sungguh rasanya mata kami sudah berat, lelah berpetualang dengan perut yang penuh. Itu pun Alvin sudah mengingatkan berkali-kali agar besok kembali berwisata kuliner. Tapi Alvin walau makan bagai kesurupan dia tetap konsekwen, jam 5 sehabis subuh dia sudah lari pagi. Pulang dengan badan mandi keringat masih dia lanjut dengan push up dan sit-up di teras rumah. Lalu dia mandi dan sarapan di rumah Bu Lily sesuai janjinya., “Gila ! Bu Lily bikin pecel mantab banged, aku nganti nambah”, Ujarnya heboh dan mulai sok berbahasa Jawa walau kaku. Aku hanya mencibir sambil menahan tawa mendengarnya sok berbahasa Jawa.

*****

Tak terasa 5 hari sudah kami lewati bersama. Berat hati kami untuk mengakhiri semua ini. Besok hari terakhir dan lusa kami harus kembali ke Bandung. A Nana habis dibuat iri oleh Entin juga Alvino, MMS aneka foto jajanan, foto saat kami di obyek wisata rutin dikirim. Tidak hanya A Nana, bahkan Bapak dan Emak juga dihadiahi aneka gambar melalui MMS, mereka hanya bisa memelas ingin ikut merasakan petualangan kami di Jogja.

Aku berkemas sambil mengobrol berdua Entin di kamar. Alvino entah kemana berdua Dek Andi. Nenek sepertinya sudah terlelap di kamarnya. Hari ini kami tiba di rumah lebih cepat, jam 18an. Beres juga akhirnya, jam dinding menunjukan pukul 20.30. Aku duduk berdua Entin di teras., tiba-tiba kami merasa lapar. Mau memasak tapi segan, di benakku menari nari gudeg ceker. “Duh kok baru kepikir yaa gudeg ceker”, Ujarku pada Entin.

Entin yang sibuk mengemil bapia langsung bersemangat, “wah ide bagus Teh, kita makan sambil nongkrong, aduuh Aa Alvin kemana sih ?”.

“Biar Teteh telpon, kayanya tadi pergi sama Dek Andi deh, kayanya boncengan naik motor, soalnya mobil masih ada di halaman rumah Mbak Win”, Aku bergumam sambil mencoba menghubungi Alvin, yang ternyata berada di rumah Dek Andi, sibuk mengajari Andi, Amel dan Agus aneka fitur dari hand phone masing-masing. Bu Lily pun tak hentinya memanjakan Alvin dengan masakannya yang lezat. Anehnya begitu dengar gudeg ceker, dia tetap saja menyanggupi, namun menurutnya nanti saja saat hampir tengah malam, lebih seru.

Aku dan Entin memutuskan untuk tidur sejenak, kami pun terlelap di kasur yang berada di depan TV. Aku pun larut dalam mimpi seram, aku berada diatas kapal yang dihantam ombak, semua penumpang panik, aku berusaha menaiki sekoci namun tiba-tiba tubuhku terseret ombak yang menghantam lambung kapal., aku berusaha meraih pagar besi. dan tiba-tiba ku sadari tubuhku benar-benar terguncang guncang, ternyata di sebelahku Alvino tengah berjongkok sambil mengguncang tubuhku agar aku bangun. “Dasar malas, ayoo katanya mau makan gudeg ceker”, Ujar Alvino sambil mengejekku.

*****

Bermodal baju tidur kami berangkat menuju lokasi gudeg ceker Sedep Raos namun sialnya kita kemalaman alias sudah habis, namun niat makan tak boleh batal maka kami menuju jalan Gejayan, Gudeg Bromo atau Gudeg Ngantuk ini sangat terkenal. Di sana sudah banyak pengunjung yang santai duduk lesehan. Rasanya air liurku hampir menetes, segala hidangan nan lezat begitu menggoda selera. Jogja surga makanan murah dan lezat, Alvin dan Entin yang dulu bilang tidak suka makanan manis kini ku lihat justru makan lebih banyak dari aku. Malam ini kami hanya bertiga menikmati malam, walau hati tak rela namun kami harus akhiri liburan ini, pandanganku menerawang menatap jalanan yang sepi.

 

Share This Post

Posted by Friday, 15 June 2012 on 10:51.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

5 Responses to “Teruntuk Wanita-wanita Hebat 7.1”

  1. 5
    Linda Cheang Says:

    makan lagi, makan lagi

  2. 4
    J C Says:

    Akhir ceritanya susah ditebak…

  3. 3
    Dj. Says:

    Wadooooh…
    BuGuCan Loro meneh….!!!
    Gerah nopo malih tho bu…???
    Semoga cepat sembuh ya ….

    Untung Dj. baru selesai makan malam, kalau tidiak, lihat begitu banyaknya makanan, pasti bikin laper…
    Danke…!!

  4. 2
    probo Says:

    loro….

  5. 1
    James Says:

    SATOE …tahu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)