Tergetar oleh Nasirun

Sanie B. Kuncoro

 

Saya merasa mencintai buku. Dengan apa yang telah saya lakukan sejauh ini, -yaitu dengan menempatkannya pada rak bata merah yang homy, menyampul dan membersihkannya secara berkala, saat membaca juga memperlakukannya dengan baik, tidak melipatnya sembarangan, menghindarkannya dari noda ini itu apalagi remah-remah makanan- maka dengan segala penjagaan itu saya menganggap diri layak disebut sebagai pencinta buku sejati.

Saya bahkan pernah sangat marah karena buku saya diperlakukan sembarangan. Pada masa kuliah saat pertamakali buku Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie terbit, saya adalah orang pertama yang memilikinya di kampus dan teman-teman antri ingin meminjamnya. Pada peminjam yang ketiga, buku itu dikembalikan dalam keadaan dedel duwel. Saya marah sekali dan mendiamkan peminjamnya berhari-hari. Hingga kini saya mengingat namanya, Maruli Tobing. Entah di mana dia berada kini, namun hingga hari ini saya masih mengingat apa yang dilakukannya pada buku saya. Beruntung saya menemukan seorang tukang yang berhasil menjilid buku itu dengan utuh seperti semula.

Lalu saat menemukan buku yang mengesankan, saya tidak akan sekedar meminta orang lain untuk ikut membacanya hanya supaya berberbagi cerita, melainkan juga sekaligus memberikan buku bagus itu. Semisal buku kisah perjalanan Sekali Merengkuh Dayung karya Diah Marsidi dan Les Miserables dari Victor Hugo. Entah berapa buku tersebut yang telah saya bagikan pada teman-teman. Saya juga kerap melakukan penelusuran jejak demi menemukan kembali buku-buku lama yang dulu hanya sempat membacanya di perpustakaan, tanpa mampu memilikinya karena keterbatasan dana. Takjub dan bahagia hati saya menemukan kembali Count of Monte Cristo (Alexander Dumas), Gerhana Tengah Hari (Arthur Koestler ), Magdalena (Madjdulin) “kembaran” dari Tenggelamnya Kapal Van Derwyck (Hamka). Demikianlah, hal-hal semacam itu seolah cukup menjadi pembuktian cinta sejati saya kepada dunia buku.

Namun, saat mendengar kisah Nasirun pada acara diskusi “Aku dan Buku” yang diadakan komunitas sastra Pawon di Balai Soedjatmoko tanggal 23 April 2012, membawa saya pada satu kesadaran, betapa tipis sebenarnya cinta saya. Bahwa kisah buku yang saya punya seolah hanya semacam roman picisan, bahkan barangkali cinta abal-abal. Sangat tak setanding dengan cinta dan perjuangan Nasirun. Bukan perbandingan sebenarnya, namun persepsi semacam itu akan selalu tak terhindarkan meski kita tak menghendaki bahkan mungkin tak menyadarinya.

Dengarlah kisah ini.

Nasirun belia saat SD setiap hari memilih bangun pagi lebih awal untuk menyapu ruang kelas dan halaman sekolahnya, demi mendapatkan kesempatan untuk membaca buku koleksi Kepala Sekolah selama satu jam sebelum murid-murid lain berdatangan.

Lalu Nasirun remaja harus berjalan kaki menempuh perjalanan sekian kilometer pergi pulang ke sekolah demi menghemat biaya transportasi, yang dialokasikannya untuk membeli buku. Ditempuhnya perjalanan itu dengan telapak kaki telanjang supaya sepatunya awet sehingga tidak berkurang dana buku untuk membeli sepatu yang akan cepat aus oleh karena perjalanan. Bertahun-tahun dilakoninya perjalanan itu. Entah berapa ribu kilometer tertempuh oleh langkah kaki telanjangnya. Entah berliter tetesan keringat mengalir demi penghematan untuk memiliki buku-bukunya.

Juga airmata.

Salah satu buku yang dimilikinya adalah Mangan Ora Mangan Kumpul karya Umar Kayam. Dibelinya buku itu seharga Rp.10.000,-. Saat yang sama ketika itu harga beras satu kilo Rp 400,-. Artinya buku itu setara dengan 25 kg beras. Ayahnya terkejut mendapati kenyataan itu dan melemparkan buku tersebut dengan amarah. Barangkali lebih karena shock justru karena kesederhanaan nalarnya memperbandingkan harga beras dan buku.

Pada bagian ini cerita Nasirun terhenti sesaat. Dia tercekat. Ruangan hening. Kami terdiam dan terpana pada saat yang sama.

“Sudah, jangan menangis,” kata Nasirun kemudian, lebih kepada dirinya sendiri. Suaranya bergetar. Betapa banyak hal tersimpan di dalam dirinya ketika itu, hal-hal tak ternarasikan yang hanya bisa dijangkau dengan kenangan.

Saya bersandar pada dinding di mana saya duduk. Mata saya menghangat. Perlahan bayang Umar Kayam datang dalam pengandaian angan saya. Pada angan itu saya melihat beliau menghampiri Nasirun, mengusap bahunya dan berterimakasih. Bukan karena Nasirun membeli bukunya, melainkan lebih karena Nasirun memberinya satu tambahan keyakinan bahwa keteguhannya untuk menulis sungguh tidak keliru. Bahwa buku-buku karyanya tidak sekedar menjadi pengisi rak buku perpustakaan dan menjadi penunggu yang kesepian menanti kedatangan pembacanya. Sungguh tidak. Perjuangan Nasirun menambahkan keyakinan, betapa karya-karya itu berharga dan talenta yang memampukannya untuk menuliskannya adalah berkah yang tak tertandingi.

Nasirun, marilah terus membaca dan menulis. Marilah bersama meyakini bahwa kau bukanlah satu-satunya pejuang sejati, melainkan akan terus kita temukan pembaca-pembaca sepertimu.

 

9 Comments to "Tergetar oleh Nasirun"

  1. Bagong Julianto  17 June, 2012 at 20:06

    Sanie BK>>>

    Wah, malu saya jadinya….
    Sekian tahun berlalu sudah, entah kapan saya membaca terakhir kali yang bisa tamat dari halaman 1 s/d akhir….
    Beberapa buku Kahlil Gibran, bahkan dipinjam (dan nggak dikembalikan) sebelum pernah tamat saya baca….

    Suwunnnn…

  2. Sanie B Kuncoro  17 June, 2012 at 18:40

    Terimakasih juga Dewi, telah membagikan tulisan ini. Komen teman-teman sangat melegakan, karena ternyata di dunia yg lebih berorientasi visual ini, ternyata pencinta buku masih bertahan.
    Hai Handoko, wah senang menemukan teman sekota sepertimu. Tapi dulu aku lebih sering ke TB Sekawan.
    JC : tepat sekali kau ajak keluargamu berpetualang mencari buku bekas. Itu dalah pengalaman yg sangat berharga.

  3. Sumonggo  16 June, 2012 at 15:36

    Jikalau anak-anak sekolah sekarang membaca “Ma Yan”, bisakah mereka tergetar hatinya dengan perjuangan seorang anak perempuan menahan lapar sekedar agar bisa membeli sebatang pensil untuk menulis?

  4. Handoko Widagdo  16 June, 2012 at 13:59

    Maksud saya toko buku Sendang Mulia.

  5. Silvia  16 June, 2012 at 13:53

    Sepertinya teman2 di Baltyra semuanya kutu buku deh.

  6. AH  16 June, 2012 at 10:59

    setelah membeli n membaca buku, biasanya saa hibahkan buku ke perpustakaan daerah terpencil agar orang di sana punya akses membaca buku juga. hanya buku yg bisa jadi referensi misal buku nusa jawa dannys lombard yg saya simpan. ilmu kalo ditularkan kan lebih berguna. lagian kalo bisa jangan menciptakan banyak nasirun atau mereka yg suka membaca tapi terhalang dana

    salam,

  7. Dewi Aichi  16 June, 2012 at 10:15

    mba Sanie, terima kasih tulisannya, kebetulan kemarin aku beli 3 buah buku, baru aja kemarin sore ….2 buku pilihan anakku yaitu Tintin dan Paulo Coelho yang tulisannya untuk anak2

  8. J C  16 June, 2012 at 09:24

    Godaan terbesar untuk kami sekeluarga adalah TOKO BUKU, bukan kata S-A-L-E di mall-mall atau Orchard Road…

    Sekarang kadang saya mengajak dua bocah kami ke tempat-tempat buku bekas, berburu buku-buku menarik yang tidak bakalan kita dapat lagi di toko buku…

  9. Handoko Widagdo  16 June, 2012 at 09:12

    Waktu kuliah di Solo saya tak mampu membeli buku. Saya membaca buku di Toko Buku ‘almarhum’ Gunung Mulia hampir setiap hari. Sampai-sampai penjaganya hafal dengan saya.

    Saat pertama dapat honor sebagai asisten dosen, saya membelanjakan semua honor tersebut di toko yang sama. Penjaganya kaget karena biasanya saya tidak membeli buku.

    Thanks Sanie.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.