Renungan Ahad Pagi

Istiqomah Almaky

 

Seperti adatnya, tiap hari Minggu, aku memberi jatah libur bagi pembantuku. Meski sejatinya, seharusnya, hari Minggu adalah saat bagiku dan suamiku untuk istirahat, refreshing dari beban kerja sehari-hari. Namun, pembantuku juga kan punya keluarga, suami dan anak cucu. Tentu ia pun ingin berkumpul dengan mereka pada hari libur.

Bila biasanya, aku hanya masak ala kadarnya seusai shalat subuh, untuk sarapan pagi, dan hanya sempat menyapu rumah, dan mencuci piring dan gelas bekas sarapan pagi; ketika hari Minggu, semua pekerjaan yang biasanya dikerjakan pembantuku, kulakukan sendiri, terkadang dibantu suami. Mulai dari berbelanja, memasak, mencuci, bersih-bersih, dan lain-lainnya. Kesibukan ini kujalani dengan ringan hati, sembari bersyukur masih punya kesempatan menikmati rutinitas sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anakku sepenuhnya meski hanya seminggu sekali.

Berbeda dengan minggu-minggu sebelumnya, hari ini, seperti kurencanakan sebelumnya, aku menambah jadual pekerjaanku dengan membersihkan 3 KM, 2 WC, dan 1 bathup. Olalala… rasanya remuk redam. Untunglah, bath up air hangat mampu mengurangi sedikit kepenatanku. Tentu saja dengan segala tetek dan bengeknya seperti masker, luluran, dan creambath yang kulakukan sendirian. Jadi, seusai berkeringat, tubuh bisa balik harum dan fresh lagi.

Namun, seusai memberi hak tubuh untuk istirahat, aku kembali tertegun. Cucian piring dan gelas di dapur sudah numpuk. Maklum, keempat anakku sama-sama libur. Jadi seusai si sulung futsal, yang kedua sepak bola, mereka langsung makan dan lupa mencuci piring. Dengan niatan mengajarkan tanggung jawab dan berbagi tugas, kuminta mereka mencuci piring dan gelas yang dipakainya.

Saat itulah, kesadaran diam-diam merambat di hatiku.

“Alangkah beratnya beban Bu Dhe setiap hari mengerjakan semua ini tanpa pernah berani minta bantuan pada anak-anakku, apalagi padaku. Iya, kalau aku, sebagai PNS kelak ketika tua akan mendapat pensiun dan hidupku secara material Insya Allah terjamin. Lha Bu Dhe? Bagaimana dengan nasibnya di masa tua? Sekarang aku memanfaatkan tenaganya supaya aku dan suamiku  bisa mendapat penghasilan, terjamin kehidupan duniawi kami sampai pensiun nanti. ya Allah…. alangkah tidak adilnya.”

Aku gemetar. Air mataku hampir saja menetes. Segera kuambil wudlu dan salat dhuhur. Seusai dhuhur kembali kulanjutkan merenung. Saat itulah aku kembali terkenang pada alm. Mbah lah, pembantu eyangku, yang dulu mengasuh ayahku sejak kecil. Kini ayahku sudah berusia 74 tahun. Kuingat ketika kecil, Mbah Lah tidak hanya membantu eyangku di sawah atau kebun. ia juga membantu eyang di dapur, terutama memasak untuk pekerja eyang di sawah. Tak hanya itu, ia masih juga menyempatkan membantu ibuku menumbuk kopi (buat bubuk) atau mencarikan kayu bakar.

Seperti umumnya perempuan desa pekerja lainnya, tenaganya begitu kuat. Terkadang aku heran melihatnya tanpa henti mengerjakan ini itu, seakan tak punya rasa lelah. Kalau boleh kugambarkan dengan sedikit bombastis, tenaganya dalam mengerjakan pekerjaan kasar itu jauh lebih besar dari tenaga yang mampu dikeluarkan suamiku untuk menyelesaikan pekerjaan yang sama. Subhanallah. (Terlupa tadi, al Fatihah untuk alm. Mbah Tukilah tersayang, ampuni dosa-dosanya ya Allah, lapangkan kuburnya dan terimalah amalannya, Amiin).

Mbah Lah sangat sayang pada bapak, juga ibu, bahkan padaku dan saudara-saudaraku. Ketika ia tak lagi sanggup bekerja, sudah pikun dan renta, ibuku sering menjenguknya, memberikan sedikit bantuan yang mampu ia berikan. Ibu juga selalu memintaku dan saudara-saudaraku untuk menjenguknya bila kami mudik ke rumah bapak. Saat itu, aku tidak berpikir jauh. Kupikir, apa yang dianjurkan ibu adalah perluasan dari amanah beliau agar kami menjadi orang yang suka menolong.

Tapi hari ini… Ya Allah, aku gemetar. Aku melihat pelajaran lain yang belum sempat kupahami saat ibu mengajarkan kami untuk terus menyayangi Mbah Lah dan keluarganya, bahkan kami juga dinasihati ibu untuk menyayangi dan menyantuni salah seorang cucun Mbah Lah yang yatim.

Hari ini, ketika tubuhku terasa penat seusai mengerjakan pekerjaan rumah tanpa bantuan pembantu, aku sadar bahwa Bu Dhe, pembantuku, memiliki jasa yang besar yang tak seharusnya hanya terbayar ketika ia masih bersama kami. kelak, ketika usianya semakin tua dan tubuhnya mulai renta, selayaknyalah kami harus memikirkannya. Bukankah kini, ketika ia masih bertenaga dan kuasa bekerja, kami telah memanfaatkan tenaganya?

Ya Allah… semoga renungan Ahad pagi ini akan tetap kuingat dan kujalankan ketika Bu Dhe tua nanti. Ampuni aku atas segala kelalaian dan kelemahanku. Dengan kuasa-Mu, dengan petunjuk-Mu, dan bimbingan-Mu, kumohon, bimbinglah aku menjadi hamba-Mu yang selalu berjalan pada syariat-Mu. Amiin ya Robbal Alamin.

 

4 Comments to "Renungan Ahad Pagi"

  1. ugie  17 June, 2012 at 22:57

    saya ada kenal seseorang yang dulu jadi pembantu ( sampai usia tua) setelah tua dan berhenti , tinggal di kampung mendapat “pensiun” dari anak2 ‘tuan”nya yg dulu diasuhnya sebagai tanda kasih .

    renungan yg menggetarkan .
    suwun mbak .

  2. Dewi Aichi  17 June, 2012 at 21:52

    Mba Fara, di Brasil, meski pekerjaan sebagai pembantu, jika si pekerja/pembantu ingin dicatatkan sebagai pekerja, maka pemakai tenaga kerja atau tuannya harus mendaftarkan ke Depnaker, karena setiap tenaga kerja di Brasil mempunyai semacam paspor kerja, dimana setiap tenaga kerja pada saat bekerja di suatu tempat, bisa dicatatkan, masa kerja , tempat kerja, dan besarnya gaji. Jika dicatatkan, setiap gajian, akan dipotong untuk INNS, yaitu semacam asuransi kerja, atau dana pensiun.

    Meski pembantu, nanti diusia pensiun, tenaga kerja ini akan mendapatkan uang pensiun setiap bulan.

  3. Bagong Julianto  17 June, 2012 at 21:06

    Faradina I>>>

    Budhe bakalan dapat THT, bonus dan sebagainya….
    Nyaman pokoknya….

    Suwunn…

  4. Handoko Widagdo  17 June, 2012 at 08:35

    Renungan yang bagus.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *