Seorang Kawan Selepas dari Penjara

Odi Shalahuddin

 

Seorang kawan, pagi tadi mendatangi saya sambil membawa satu bendel tipis. Saya mengira ia membawa titipan proposal entah darimana. “Tidak Pak, ini tulisan yang saya ikutkan lomba,” katanya.

“Oh, sudah ada pengumumannya?

“Masuk 20 besar, Pak,”

“Wah, selamat ya. Terus saja menulis. Bagus-bagus loh, tulisannya,” aku memprovokasi.

”Semoga saja, Pak. Makasih, ya Pak,” ia pamit lalu keluar dari ruang kerjaku.

Aku membuka dan membaca cepat. Tulisan yang diberikan, sebenarnya sudah pernah aku baca, ketika ia mengirimkan lewat email minta aku memberi masukan. Tapi sekali lagi aku membacanya.

Pikiranku bukan fokus pada apa yang aku baca, justru melayang, mengingat latar belakang dirinya. ”Ah, bila saja banyak yang seperti dirinya,” harapku.

Sebaiknya aku tidak perlu menyebutkan namanya. Walau bila aku meminta ijin, ia pasti akan dengan cepat menyatakan kesediannya. Tapi, ya tidak usahlah.

Pertama kali aku mengenalnya, sekitar lima atau enam tahunan. Sebelumnya, aku sering mendengar kisah tentang dirinya. Seorang anak yang tekun, berani, dan mau belajar, sekitar itulah yang kudengar. Benar, kesan itu pula yang kudapat ketika perjumpaan pertama. Pada sebuah ruang kegiatan yang untuk mencapainya harus melewati tiga gerbang. Lantaran telah lama berkegiatan bersama, seringkali kami luput dari pemeriksaan, termasuk membawa tas. ”Wah, bisa bahaya juga nih bila terlintas pikiran jahat,” kata hatiku.

Ruangan besar, sebut sajalah aula. Melalui kaca jendelanya, akan terlihat kamar-kamar dengan dinding yang sangat tebal dan terlihat kokoh. Bangunan peninggalan Belanda. Sebuah penjara.

Kawanku ini senang musik. Ia juga mengaku telah banyak menciptakan lagu selama berada di penjara. Statusnya adalah anak negara. Berarti ia akan keluar dari LP ini setelah berumur 18 tahun. Setelah statusnya secara legal bukan lagi anak-anak. ”Saya bisa masuk ke sini karena merampok Pak,” katanya memberi keterangan kepadaku.

Ia berada di penjara saat berumur 14 tahun. Maka ia harus menjalani masa pemenjaraan selama empat tahun. Wah, menjadi anak Negara, yang dalam konsep Negara mengambil alih pengasuhan dan perawatan anak, yang sayangnya di negeri ini ditempatkannya di LP dengan perlakuan yang sama, maka itu bisa pula merupakan hukuman yang lebih berat dibandingkan perbuatannya. Misalnya saja ada seseorang berumur 12 tahun melakukan pencurian bersama Bapaknya. Bapaknya bisa kena tiga-enam bulan, tapi karena dinaggap tidak akan mampu menjaga dan merawat anaknya, maka anak ditetapkan sebagai anak negara, maka anaknya akan mendekam dalam penjara selama enam tahun. (tapi dengar-dengar sih istilah ini akan dihapus).

Pada September 2007 ia dibebaskan. Seorang petugas menghubungi saya menyampaikan sudah berada di jalan dan menanyakan alamat yang pasti. Terus terang saya terkejut dan merasa di faith-a comply. Tidak bisa menolak, pada akhirnya kawan itu dititipkan kepada kami. Saya menandatangani surat penyerahannya.

Awalnya kami agak bingung lantaran tidak memiliki tempat penampungan khusus. Maka dengan kekhawatiran pula, ia kami tempatkan di kantor. Secara perlahan, kepercayaan kami mulai tumbuh, dan tidak ada yang merasa perlu dikhawatirkan lagi.

Ketika ada lomba penulisan Novel, ia mnyampaikan kepada saya untuk mengikutinya. ”Saya akan menulis novel pengalaman hidup saya sebelum dan selama berada di penjara,” katanya.

Hampir setiap hari ia menulis dan menulis. Beberapa bagian saya sempat membaca dan berdiskusi dengannya. Tapi kemudian saya meminta kalau sudah selesai baru diserahkan kepada saya.

Ceritanya menarik. Isinya sangat mendalam, emosinya terlihat lekat. Walaupun fiksi, kawan ini menceritakan tentang kehidupannya sendiri. Sebuah cerita yang menurut saya bisa menjadi luar biasa. Setelah selesai, ia langsung mengirimkan novelnya itu ke panitia di Jakarta. Saya tahu kemudian. Saya meminta agar ia bisa memberikan saya salinannya, tapi tidak pernah diberi. Mungkin terlupa.

Saya dan kawan-kawan merasa tidak terbebani dengan kehadirannya. Untuk biaya hidup, kebetulan kami ada beberapa kegiatan yang bisa melibatkannya. Ia bisa bekerja dengan baik. Sampai suatu saat ia menyatakan sudah mendapatkan pekerjaan. Ia pergi ke Jawa Timur. Beberapa bulan kemudian kembali lagi ke Yogya. ”Tidak betah di sana. Dieksploitasi,” katanya yang bekerja di sebuah toko swalayan.

Tidak lama kemudian ia sudah mendapat pekerjaan lain di Yogya. Cukup lama pekerjaan ini dijalaninya. Ia juga berkenalan dengan banyak mahasiswa-mahasiswi yang sering main di tempat kerjanya, ia bahkan bisa mendorong sebagian untuk membentuk kelompok musik, yang aktif latihan dan beberapa kali melakukan pementasan. Sayang, pekerjaan yang juga ia sukai, terpaksa ia tinggalkan lantaran ada masalah di luar pekerjaan. Ia pun kemudian berpamitan, bilang akan bekerja di Bogor. Beberapa bulan saja ia di sana, telah kembali di Yogya. ”Tidak betah juga di sana,”

Ya, kini ia kembali di Yogya. Sekarang masih mencari-cari kerja. Setiap hari ia cermati iklan-iklan di koran lokal. Mendatangi tempat-tempat yang membutuhkan jasanya. Sambil sesekali ia menulis.

Wah, kembali saya melihat isi tulisannya. Sebuah cerpen yang mengisahkan tentang tokoh aku yang sudah meninggal, dan menceritakan tentang seorang perempuan yang gelisah, yang ia tahu kemudian adalah pacarnya karena ikut melayat pada saat kematiannya. Suatu cerita yang sebenarnya sudah banyak diangkat oleh para penulis fiksi. Tapi ia menampilkan dengan tulisan gaya anak muda yang bila dibesut sedikit saja bisa lebih berkualitas.

Di sisi lain, saya berpikir, ah, seandainya anak atau orang-orang yang keluar dari penjara seperti dirinya, memiliki semangat untuk menjalani berbagai tantangan kehidupan dan berkreasi dengan hal apapun, tentulah akan lebih indah hidup ini. Untuk dirinya, diri mereka, dan kita semua.

Yogyakarta, 28 Juli 2011

 

Bisa juga dibaca di: http://odishalahuddin.wordpress.com/2012/01/18/seorang-kawan-selepas-dari-penjara/

 

7 Comments to "Seorang Kawan Selepas dari Penjara"

  1. Odi Shalahuddin  1 July, 2012 at 18:00

    Terima kasih Pak JC…
    Juga terima kasih atas ruang yang diberikan di Baltyra ini.
    salam hangat selalu..

  2. J C  19 June, 2012 at 10:44

    Mas Odi, LUAR BIASA!! Sungguh merupakan contoh nyata…

  3. Odi Shalahuddin  18 June, 2012 at 20:11

    Terima kasih Pak Handoko , Pak Bagong Julianto, Pak Bamby, dan Mbak Dewi Achi…
    Mohon maaf belum banyak merespon komentarnya.. lagi terbatas akses email.. He.h.eh.e.h.ehe

    Salam hangat selalu, juga kepada para sahabat semua di Baltyra….

  4. Dewi Aichi  17 June, 2012 at 21:55

    Salut untuk mas Odi, sartu lagi yang bisa dicontoh…tidak seperti di Brasil, mantan napi, atau pembunuh, pemerkosa, akan lebih aman jika berada di penjara, kalau berada di luar, biasanya akan dihakimi oleh masyarakat…!

  5. Bagong Julianto  17 June, 2012 at 20:52

    Odi S>>>

    Selamat berkarya…..
    Bukan atas nama masa lalu, tepi demi masa depan….

    Suwunnn

  6. Bamby Cahyadi  17 June, 2012 at 19:40

    Setiap manusia pasti ingin berubah ke arah yang lebih baik. Catatan yang inspiratif…

  7. Handoko Widagdo  17 June, 2012 at 08:38

    Terima kasih Kang Odi yang sudah bersedia menjadi pembimbing seorang penulis potensial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.