Gorengan

Bagong Julianto, Sekayu – Muba, Sumsel

 

Ayo Makan Tempe, Jangan Basing Santap Gorengan!

Bersitegang dengan Gigi: Kripik Papan Tempe

 

PENDAHULUAN

Beberapa saat yang lalu, kita pernah ribut soal bakso dan tahu formalin. Juga tempe plastik yang pernah disajikan di layar kaca. Adakah kita semakin peduli soal mutu makanan? Atau masihkah kita punya rasa peduli itu?

Gbr. 1 s/d 5. Aneka Jenis Gerobak Gorengan…

Gbr. 6. Plastik PVC Pembungkus dan Gbr.7. Disajikan, (sebagian) dikeringanginkan….

 

GORENGAN

Di Sekayu, yang namanya gorengan dijual dari pagi hingga tengah malam. Tanda “GORENGAN” menyebar dari pasar hingga ke pemukiman. Dari tempat parkir keramaian, hingga tikungan jalan jalan lingkar. Mudah mencarinya. Lagi murah membelinya. Variasi gorengan adalah: kripik tempe, tahu isi, bakwan, pisang molen, resoles, ubi kayu-ubi jalar dsb. Harga bervariasi dari 500, 2000/3 dan 1000 rupiah per buah.

Adik saya, sebelumnya punya langganan tempat menikmati gorengan di pasar, hingga satu saat menjumpai serpihan plastik putih di keripik tempe. Berarti?!  Apa yang pernah dilihatnya di TV itu terjadi juga di lingkungannya. Pula saya alami hal yang sama: ada sejumput benda putih, sekian milimeter persegi yang masih dalam jangkauan penglihatan mata telanjang di gorengan tempe kripik.

Gbr. 8 & 9. Aneka gorengan dari Gerobak “X1”, Rp.5.000,- untuk 7 potong  (termasuk 3 kripik tempe).

Gbr. 10 & 11. Aneka gorengan dari  Gerobak “X2”, untuk 7 potong (termasuk 3 kripik tempe), cabe banyak.

 

TINJAUAN LAPANGAN

Demi memenuhi hasrat pribadi untuk memastikan masih adanya “penjual aneh” dan melihat fenomena kripik papan tempe di sekitaran maka pembelian dilakukan serentak di 5 lokasi di Sekayu. Malam hari. Siang hari, dengan jumlah produsen yang lebih banyak, dianggap terwakili oleh tindakan beli malam ini.

Gbr. 12 & 13. Aneka Gorengan dari Gerobak “X3”, Rp.5.000,- untuk 10 potong (termasuk 4 kripik tempe)

Gbr. 14 & 15. Aneka Gorengan dari Gerobak “X4”, Rp.5.000,-, untuk 11 potong (termasuk 4 kripik tempe)

Gbr. 16  & 17. Aneka Gorengan dari Gerobak “X5”, Rp.5.000,-, untuk 8 potong (termasuk 2 kripik tempe)

 

PERLAKUAN

Setelah didapat variasi gorengan dari 5 tempat berbeda, maka khusus tempe kripik diambil masing-masing 2 buah untuk dikeringanginkan di suhu ruang keluarga pada malam hari dari jam 20.40 malam hingga pagi hari.

Gbr 18 s/d 21. 10 Kripik Tempe dari @ 2 potong per Gerobak, dikeringanginkan mulai malam hingga pagi.

Gbr.22 & 23. Hasil Pembiaran (Pengeringanginan), dari 10 tempe tinggal 7, yang 3 pindah lokasi ke perut Agus dan Mamanya. Belum sempat lagi didokumentasi……

Gbr. 24. INILAH  4 POTONG KRIPIK PAPAN TEMPE DARI 2 LOKASI GORENGAN DI SEKAYU…….

 

PEMBAHASAN

  1. Gorengan dijual menetap di lokasi tertentu, walau gerobak bisa didorong.
  2. Tidak ada standar harga gorengan (minimal saat dilakukan pembelian).
  3. Jenis gorengan adalah: tempe, tahu isi, bakwan tauge-kol, bakwan variasi jagung, ubi jalar, pisang, pisang molen.
  4. Dua dari lima gerobak menjual gorengan kripik tempe, saking keras dan liatnya, namanya menjadi kripik papan tempe. Seperti mengigit papan. Pula dijumpai adanya titik-titik putih (!!)
  5. Bahwa peliputan adanya kripik plastik tempe di layar TV tidak berpengaruh nyata, baik bagi penggoreng (=produsen) maupun penikmat (=konsumen) terbukti dari tetap masih adanya penjual dan pembeli. Peliputan ini dilakukan malam hari. Jumlah penjual pagi-siang-sore hari jumlahnya jauh lebih banyak lagi dan pernah dibuktikan adanya serpihan plastik putih di  kripik papan tempe.

 

KESIMPULAN:

Silahkan Pembaca menyimpulkan sendiri……………

Kesimpulan pribadi: ayo tetap makan tempe, tapi jangan sembarangan makan gorengan……(Jangan tanya POM dan polisi, mereka lagi sibuk dan agendanya pasti banyak).

Sampunnnn. Suwunnnn… (BgJ, 05062012)

 

36 Comments to "Gorengan"

  1. Lani  19 June, 2012 at 22:39

    BJ, MAS DJ : nah, ini peluang bisnis export godong gedang ke Mainz…………bagaimanapun tempe dibungkus dgn godong gedang lbh mantep……..drpd plastik tp mmg belum nemu tempe dibungkus dgn daun pisang di LN……..yg jelas ndak apa minyak campur plastik spt disini

  2. Kornelya  19 June, 2012 at 22:34

    Mas Bagong, aku pernah makan tempe busuk di Solo, dibuat oleh ibu temanku, dimakan bersama tumis kangkung, nasi panas , enak tenan. Aku coba buatkan selalu gagal, lalu temanku di Calfornia sarankan, bungkus dengan kain kassa katun, gantung diluar rumah (didahan) pepohonan kecil, suruh bojomu pipis disekitar pohon biar ngga dimakan rusa. Intruksi aku patuhi, bangun pagi tempenya tinggal 1/2 dicotok burung dan squirel. hahahaha.

  3. Bagong Julianto  19 June, 2012 at 20:26

    Lani dan KangMas Dj>>>

    Ini ada peluang ekspor daun pisang dari Kona ke Mainz, gimana?
    Tempe makanan produk global. Pernah lihat/baca ada Priyantun Jawa merantau dan menikahi Nyi Jepang di Jepang. Mereka jadi pengusaha tempe di Jepang. Sukses.

  4. Bagong Julianto  19 June, 2012 at 20:20

    Silvia>>>

    Gorengan jadul masih ramah lingkungan. Saya justru curiga, adanya penayangan tempe plastik di media dan pada saat bersamaan tidak adanya ketegasan pemangku hukum justru melahirkan dan memicu merebaknya pedagang tempe plastik ke mana suka…. buktinya di Sekayu, kota kecamatan yang jadi ibukota kabupaten juga ada tempe kripik papan plastik ini……

    Bung Iwan>>>

    Pernyataan Bung, itu adalah kemauan terselubung saya juga! Nyambung ‘kan?!

  5. Bagong Julianto  19 June, 2012 at 20:12

    atite>>>

    Adik saya yang wong Palembang itu nampaknya kesenengan pula ngonfirmasi: “Minyakmu pakai plastik?”. Sudah ada 2 gerobak gorengan yang menghilang…… Seingat saya, mereka kaum penjual ini wong datangan dari Jawa (Jakarta-Bandung-Jateng)……

    Kornelya>>>

    Benar! Tempe ini menu wajib. Seminggu sekali belanja. Tempe tersaji 3-4 hari dalam seminggu….Pernah cicipi sayur tumpang? Sambel tempe busuk? Nggado tempe mentah?

  6. Dj.  19 June, 2012 at 18:40

    agong Julianto Says:
    June 19th, 2012 at 06:30

    KangMas Dj>>>nggak akan bosan makan tahu-tempe, leres niki! Pengin tahu: di Jerman (Mainz) tempe apa dibungkus daun juga? Di Sekayu kebanyakannya dibungkus plastik, satu dua ada yang dibungkus daun pisang atau daun lainnya….. Suwunnn…
    ————————————————————-

    Mas Bagong….
    Jelas dibungkus plastik mas…
    Lha daun pisangnya sangat jarang ada dan kalau adapun beku dan sangat mahal.
    Memang sih lihat di PPasar Modern BSD di Serpong, Jakarta. kelihatan lebih bagus kalau dibungkus daun pisang.
    Salam,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.