Indonesia’ku

Fahri Asiza

 

Fiksi agak bonsai: Indonesia’ku

 

WARSITO kaget. Namanya ada di koran, sebagai pemenang pertama undian sebuah produk minuman. Di atas namanya, tertulis : PEMENANG PERTAMA 1 MILYAR RUPIAH. Kampung pun gempar. Nama Warsito berkumandang. Banyak yang datang, termasuk wartawan. Tiga hari kemudian setelah namanya diumumkan, Warsito pun masuk koran. Juga diwawancarai oleh beberapa wartawan dari televisi swasta.

                         ***

Warsito sekarang punya rumah mewah dan tanah yang luas. Di halaman rumahnya, ada dua buah mobil. Setiap hari selalu saja ada yang datang. Minta sumbangan pembangunan masjid, sekolah, yayasan yatim piatu atau juga ada yang tiba-tiba bertamu dengan harapan dapat bagian. Warsito tidak berubah, tetap ramah, tetap bekerja di bengkel sepeda. Siapa saja boleh datang. Sebuah mobilnya pun sering dipinjam. Tapi siapa pun lebih menghormatinya sekarang. Kalau dulu dia dipanggil Warsito Item karena kulitnya memang hitam, sekarang dipanggil dengan sebutan Pak Warsito.

Anak-anak yang datang membetulkan sepeda, yang masih memanggilnya Warsito Item, dimarahi orangtuanya, lalu ditarik ke rumah Warsito dan disuruh minta maaf. Orangtua anak itu bersikap seperti minta ampun.

Warsito tetap tersenyum.

“Nggak apa-apa, dari dulu saya sering dipanggil Warsito Item.”

“Tapi, sekarang kan lain, Pak. Maafkan anak saya ya, Pak.”

“Iya, iya.”

Banyak yang suka pada Warsito yang tidak berubah. Tapi tak sedikit yang iri.

“Coba kalau dia nggak mengirim undian itu, belum tentu jadi orang kaya.”

“Iya, cuma gitu aja bangga.”

“Mending kalo usaha sendiri.”

“Kita juga bisa kayak Warsito, nggak kerja, tapi rajin ngirim kupon undian, pasti juga jadi orang kaya.”

Ucapan itu pun membumi dan merekah. Orang-orang mulai sibuk membeli produk-produk makanan atau minuman yang murah merah tapi menjanjikan bermacam hadiah. Hadiah utama satu milyar, sejumlah uang, lalu mobil, lalu motor, dan alat elektronik lainnya.

Semua berlomba dan sibuk mengirimkannya. Para penjual senang karena banyak dagangan mereka yang laku. Para petugas di kantor pos sibuk, karena setiap hari antrian malah bertambah panjang. Orang-orang mulai berkhayal satu sama lain, apa yang akan mereka lakukan dengan uang satu milyar.

“Kalau aku sih nggak pengen kayak Warsito. Pake beli rumah mewah sama mobil segala. Mendingan didepositoin. Bunganya kenyang kita makan.”

“Kalau saya sih, pengen pergi Haji.”

“Kalau saya, pengen nyumbang ke masjid.”

“Kalau aku sih pengen beli rumah yang ada kolam renangnya. Biar tau gimana rasanya jadi orang kaya.”

Ketika satu produk diumumkan, para penjual koran laris manis karena korannya dibeli. Yang tidak kebagian menjadi jengkel. Mencoba meminjam, tapi tidak dikasih. Beberapa jam kemudian, terdengar gerutuan dari masing-masing orang karena namanya tidak ada. Mereka pun saling pandang iri satu sama lain dan lega mengetahui kalau tak seorang pun di antara mereka yang tinggal di kampung itu mendapatkan hadiah.

“Jangan-jangan Warsito lagi.”

“Kalau dia menang lagi, pasti pake dukun!”

“Brengsek! Nggak fair kalo begini! Kita harus demo dia!”

“Tunggu, tunggu, mendingan kita tanya aja, dia ke dukun mana? Siapa tau kita dapat rezeki juga!”

Mereka pun datang ke rumah Warsito. Warsito mengaku kalau dia tidak pakai dukun, hanya karena dia sedang beruntung saja. Tapi orang-orang tidak percaya. Mereka membenci Warsito.

Kegiatan mengirimkan undian dan sikap saling curiga mulai membuat Pak Lurah kesal. Karena tak ada lagi orang yang bekerja di sawah, ladang, kantor kelurahan. Masjid dan Mushalla juga sepi. Kalau pun ada yang datang, mereka hanya numpang berdoa agar namanya keluar sebagai pemenang.

Keributan sudah mulai terjadi ketika salah seorang mendapatkan hadiah motor. Yang lain iri. Dan memaki-makinya. Pak Lurah menjadi jengkel. Setelah mengadakan rapat dengan para stafnya dan dihadiri oleh orang-orang Kecamatan, akhirnya diputuskan untuk membuat pengumaman :

DILARANG MENGIRIM UNDIAN JENIS APA PUN!

Orang-orang marah. Karena menganggap hak mereka dikebiri. Mereka protes lebih keras. Pak Lurah yang tidak mau kampung yang dipimpinnya jadi lebih berantakan karena orang-orang mulai terbius dengan segala jenis undian berhadiah, tetap bersikeras dengan larangannya itu.

Orang-orang bubar dan menggerutu. Tapi diam-diam tetap mengirimkan undian. Pak Lurah menjadi jengkel, karena setelah mengamati di Kantor Pos, di sana masih tetap ramai orang-orang yang mengirimkan kupon hadiah. Lalu diadakan rapat lagi dan dibuat pengumuman baru.

SIAPA PUN YANG MENGIRIM UNDIAN JENIS APA PUN, AKAN DIHADAPKAN PADA HUKUM.

Kali ini semau lebih banyak diam. Mereka tau, hukum tak bisa dilawan. Karena, hukum bisa memenangkan sebuah perkara meski salah, tapi juga bisa menyalahkan sebuah perkara meski benar. Begitu yang ada dalam pikiran mereka.

Kampung pun kembali menjadi tenang, meski masih ada satu dua orang yang mengirimkannya melalui kantor pos yang berbeda.

Sebulan kemudian, satu teriakan keras terdengar, “Hooooiiii, para wargaku! Aku menang undian satu milyar! Aku menang!!”

Orang-orang berbondong-bondong keluar dan semua tertegun.

Pak Lurah berteriak-teriak kegirangan sambil mengibar-ngibarkan koran yang dipegangnya.

Di ambang pintu rumahnya, Warsito menghela napas masygul. Lalu berkata pada istrinya, “Bu, bagaimana kalau rumah dan yang kita miliki ini kita jual?”

 

*mutiara duta – menjelang malam

 

8 Comments to "Indonesia’ku"

  1. erni  20 June, 2012 at 12:09

    JC, Yup bentul (benar dan betul) sekaleee

  2. Wahnam  20 June, 2012 at 07:23

    Kalau di HK dan China namanya : 六合彩 (Liùhécǎi)

  3. Bagong Julianto  19 June, 2012 at 20:44

    Fahri A>>>

    Putu Wijaya punya saingan ini…..
    Ayo, tunggu bonsai yang lainnya…..

    Suwunnn…

  4. Dj.  19 June, 2012 at 01:01

    Mas Fahri….
    Terimakasih untuk cerita yang mencerminkan kelaukuan anak bangsa yang
    benar-benar seperti anak kecil yang masih harus diurus ( dimomong ).
    Orang masih turut campur akan apa yang orang lain bikin dan bahkan iri terhadap kemewahan orang lain…
    Nah ya….
    Salam Sejahtera dari Mainz.

  5. probo  18 June, 2012 at 23:37

    aku kok nggak pernah menang ya……..
    o iya…lupa tidak jadi saya kirim undinnya

  6. Dewi Aichi  18 June, 2012 at 18:00

    Mas Fahri, apa kabar? Wuihh…lama banget tulisan ngga muncul, sekali muncul dapat satu miliar..! Wokehhhhhh…..bagi bagi dong mas Warsito…..dugem yuk ha ha….

    Apa memang masih ada model undian seperti ini ya? Kalau dulu porkas, waktu jaman Sudomo. Di Brasil, namanya loteria, tiap hari antrinya panjang banget…ada kerabat hubby pensiunan polisi, uang pensiun tiap bulan habis untuk beli lotre, beertahun tahun, ngga pernah dapat, tapi masih aja menunggu jadi kaya raya dengan mendapat lotre. Di Brasil, tiap bulan ada yang dapat, tapi identitas dirahasiakan, hanya kotanya yang disebutkan.

  7. Linda Cheang  18 June, 2012 at 14:56

    begitulah….

  8. J C  18 June, 2012 at 13:05

    Memang ciri khas masyarakat Indonesia tepat persis yang digambarkan di artikel ini…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.