Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Selubung Hitam Konspirasi (6): BAP

Monday, 18 June 2012

Viewed 785 times, 1 times today | 16 Comments |

Masopu

 

Hari-hari terus berganti dengan cepat seperti detak jantung Aneeva Desy yang terus ditelikung kekalutan. Sudah dua hari, suaminya ditahan di kantor polisi. Bait-bait tanya yang telah bertahta sejak blow up kasus kerusuhan itu terjadi, kini semakin membesar. Seperti guliran bola salju yang semakin membesar seiring makin jauhnya dia bergulir menggilas hamparan salju yang dilaluinya.

Hari ini seperti yang telah direncanakannya bersama Septian, Anee berencana menjenguk suaminya di tahanan. Pagi-pagi sekali Anee sudah sibuk menghubungi Septian dan Anita untuk menanyakan jam keberangkatan mereka. Tak lupa Anee juga mengecek ulang data-data yang diminta oleh Arya untuk diserahkan kepada Septian.

Ketika jarum jam di tangannya tepat menunjuk angka 9.00, muncullah orang-orang yang dinantikannya. sepasang pengacara muda yang telah berjanji untuk membantunya. Mereka adalah Septian dan Anita, sahabat baiknya dulu sewaktu aktif di kegiatan OSIS semasa SMA dulu. Mereka adalah kakak kelasnya dulu.

” Hii Anee! Apa kabarnya? ” Sapa Anita sambil menyodorkan tangan halusnya.

” Baik Nit. Kamu sendiri sama mas Septian bagaimana kabarnya? ” Jawab Anee sambil menyambut uluran tangan Anita dan Septian bergantian.

” Kami semua baik An. Bagaimana berkas-berkas yang kami butuhkan? Apakah semua sudah siap?” tanya Septian dengan nada mengingatkan.

” Sudah mas. Bahkan copy berkas-berkas yang kemarin aku kirim ke mas dan Anita juga aku sertakan lagi.” Jawab Anee.

” Baguslah kalau begitu. Jangan lupa juga nomor HP temannya Arya yang menawarkan pekerjaan kepada Arya. Hp suamimu serta surat PHK suamimu itu juga jangan lupa. ” kata Septian kembali. Tampak tangan lelaki muda tersebut melipat lengan kemeja putihnya. Kemudian tangan tersebut mulai sibuk membuka-buka berkas yang Anee serahkan tadi.

” Ok mas, semua sudah saya siapkan di tas itu. Seperti yang mas Septian minta kemarin. Bagaimana mas perkembangan mas Arya selama masa penahanannya mas?” tanya Anee.

Dengan singkat Septian menceritakan bagaimana dia selama dua hari ini selalu mendampingi Arya. Bagaimana kerasnya interogasi yang harus dijalani Arya. Bagaimana polisi membentak-bentak Arya setiap kali menyidik Arya. Bagaimana pula para saksi dan juga terdakwa memojokkan posisi Arya. Keterangan-keterangan saksi yang menurut Septian agak janggal, tapi diyakini kebenarannya oleh polisi.

” Ok kalau begitu kita harus cepat berangkat ke kantor polisi sekarang. Biar bisa lebih leluasa kita berbicara dengan suamimu.” kata Septian sesaat setelah menyelesaikan cerita singkatnya tersebut.

” Mari mas.” jawab Anee sambil menenteng tasnya dan juga tas berisi berkas yang diminta oleh Septian.

Bergegas mereka bertiga meninggalkan halaman rumah Arya. Tak sampai 5 menit mereka akhirnya sampai di tempat parkir. Segera mereka masuk mobil dan tak lama kemudian mobil bergerak berbalik arah.

Guncangan dari gelombang-gelombang halus jalanan tersebut bersinggungan dengan degup jantung yang bertalu-talu di rongga dada Anee. Baju putih yang membungkus kulit putihnya, tak mampu menutupi ketegangan di wajahnya. Makin jauh roda mobil itu meninggalkan rumahnya, makin kencang degup itu bertalu-talu di hatinya. Setelah hampir setengah jam berlalu, akhirnya Septian membelokkan mobil tersebut ke arah Mapolda tempat Arya ditahan.

Septian segera berbicara sebentar dengan petugas polisi yang berjaga di Mapolda. Septian memberi tanda kepada Anita dan Anee untuk mengikutinya masuk ke ruang tempat Arya dan dirinya kemarin bertemu. Anee semakin tertekan dengan degupan jantungnya yang tak terkendali. Degupan yang tidak pernah dirasakan selama ini, bahkan saat jatuh cintapun, Anee tidak merasakan degupan yang sekeras saat ini. Tak berapa lama, mereka telah sampai di ruangan tempat Arya menunggu kedatangan mereka.

” Assalamualaikum mas Arya!” sapa Anee dengan mata yang berkaca-kaca.

” Waalaikum salam Anee. Apa kabarmu?” jawab Arya.

” Alhamdulillah baik mas. Mas sendiri bagaimana kabarnya?” kata Anee balik bertanya.

” Alhamdulillah sehat An. meski mas kurang tidur karena harus menjalani pemeriksaan bahkan terkadang sampai larut malam juga.” jawab Arya dengan mata berkaca-kaca menahan haru melihat kedatangan istrinya.

” Kasihan banget kamu, Mas.” kata Anee

” Tak apalah An. Ehhm bagaimana permintaan berkas-berkas yang aku minta disiapkan untuk mas Septian An, sudah ada semua termasuk HPku. ” tanya Arya.

” Tenang Ar. Istrimu sudah memberikannya tadi sebelum kita ke sini.” jawab Septian.

” Syukurlah kalau begitu mas Septian. Semoga barang-barang itu bisa membantumu untuk mengungkap rahasia dibalik semua ini. Sehingga bisa membebaskanku dari tuduhan ini mas. ” harap Arya dengan wajah berbinar.

” Semoga Ar. Ngomong-ngomong kamu jadi diperiksa lagi jam 11 nanti Ar?” tanya Septian.

” Iya mas. Dan hari ini agendanya masih seperti kemarin, aku mau dikonfrontir lagi sama setidaknya tiga orang saksi lagi. Dan yang satu kalau tidak salah sang penjual bubur di depan warung tempat aku ngopi tersebut mas. Sementara yang satunya lagi seorang pengunjung warung yang kebetulan ada di dekatku waktu itu. ” Jawab Arya.

“ Bukannya kemarin penjual bubur yang mangkal di depan warung kopi tersebut sudah dikonfrontir denganmu?” tanya Septian.

“ Ini mau dikonfrontir ulang mas.“ kata Arya.

” Semoga para saksi tersebut bisa menunjukkan bahwa kamu tidak bersalah Ar.”harap Septian.

” Semoga mas. Amien. ” jawab Arya seraya membasuhkan kedua telapak tangannya ke mukanya yang terlihat kuyu tersebut.

Setelah cukup berbasa-basinya, mereka berempat tampak terlibat dalam pembicaraan yang serius. Anee beberapa kali mengeluarkan beberapa berkas yang dibawa dari rumahnya tadi. Sementara Septian dan Anita sambil berbicara, mereka menulis di buku catatan mereka.

Dari percakapan itu mereka berempat seperti berusaha untuk menelisik kasus tersebut  lebih mendalam dibandingkan dengan yang kemarin Arya dan Septian lakukan. Mereka mencoba mengaitkan satu kejadian dengan kejadian lainnya. Tampak Septian dan Arya terlihat berpikir keras untuk menelaah kasus tersebut. Bagaimanapun mereka tahu tak mudah untuk membongkar kasus ini sekaligus mencari siapa yang salah, siapa yang benar.

Keasyikan mereka berdiskusi membahas masalah tersebut terganggu saat seorang polisi yang sedang bertugas datang kepada mereka dan memberitahukan bahwa penyidikan akan segera dimulai. Mereka tersentak saat menyadari hal tersebut. Petugas yang memberitahu mereka sekalian meminta Arya dengan didampingi Septian segera memasuki ruang pemeriksaan.

Saat memasuki ruangan pemeriksaan, mereka melihat ada tiga orang lain selain petugas penyidik. Arya ingat yang satu orang tersebut adalah penjual bubur yang mangkal di depan  warung tempatnya minum kopi waktu itu. Dan mereka kemarin sudah dikonfrontir. Arya merasa senang karena yakin pasti penjual bubur tersebut akan berkata yang mementahkan tuduhan terhadapnya dan apa yang dikatakannya kemarin.

Segera komandaan penyidikan kasus tersebut memulai penyelidikannya hari itu. Tapi sebelumnya, dia menanyakan apakah masing-masing saling mengenal. Arya kaget saat mendengar mereka bertiga mengaku mengenal Arya dengan baik. Padahal setahu Arya, dia hanya mengenal sang penjual bubur yang ketika itu sempat diajaknya ngobrol bersama Arpan sang pemilik warung. Sementara yang lainnya dia tidak kenal sama sekali.

Keterkejutan Arya tak hanya berhenti di situ. Saat dimintai keterangan mereka bertiga seperti telah seiya-sekata untuk memojokkan Arya dengan statement yang hampir sama. Yang membedakan hanyalah penjual bubur bercerita jika Arya dan orang-orang tersebut sempat memesan bubur kacang ijo kepadanya. Bersama kedua orang tersebut, Arya mematangkan rencana demonstrasi yang berujung rusuh tersebut. Keterangan pemnjual bubur tersebut ternyata lebih detail dan lebih lengkap dibandingkan kemarin. Sementara dua orang yang lain mengaku menerima sejumlah uang untuk merekrut dan mengumpulkan orang-orang yang diajak demo.

” Itu semua tidak benar pak. Saya tidak kenal mereka berdua. Sementara yang seorang lagi saya hanya mengenal sebagai penjual bubur pak. Saya tidak pernah ke sana sebelumnya pak. Sumpah. ” sanggah Arya dengan suaranya yang semakin serak menahan api amarah yang telah mencapai titik didihnya.

” Silahkan bapak bicara apa saja. Tetapi keterangan para saksi semakin membuat kami percaya jika kamulah di balik semua kerusuhan ini Pak. ” sergah komandan penyidikan dengan nada yang ikutan meninggi.

” Tapi itu semua fitnah pak. ” sanggah Arya.

” Fitnah? Bukankah semua bukti dan saksi jelas mendudukkanmu di kursi pesakitan? ” jawab Komandan polisi tersebut.

” Tapi saya tidak pernah melakukannya Pak. ”

” Saya tidak peduli. Yang saya pedulikan hanyalah saksi dan bukti, bukan ocehanmu dan juga Pengacaramu.” Jawabnya ketus.

” Maaf Pak polisi, bisa saya menyela sedikit?” Septian berkata tiba-tiba sambil membuka catatannya.

” Silahkan Pak. ”

” Bolehkan saya meminta agar pemeriksaan klien saya ditunda sampai besok? Sekarang sudah sore dan kondisi emosi tersangka sedang tidak bagus untuk menjawab sejumlah pertanyaan dari penyidik Pak. ” pinta Septian dengan mempertimbangkan kondisi psikis dan mental Arya yang drop.

” Ok kalau begitu. Karena kita sudah memeriksa tersangka hampir 7 jam, sebaiknya kita istirahat dan besok di mulai lagi.” Jawab komandan polisi tersebut menyetujui perkataan Septian.

“ Pengawal antar mereka ke ruang penahannya masing-masing. ” perintah komandan polisi kepada polisi yang sedari tadi mendampinginya di ruang penyidikan.

” Siap Komandan. ” jawab prajurit yang mengawal mereka.

Segera Arya dan 3 orang tersebut digelandang petugas ke ruangannya masing-masing. Arya masih galau. Tak dipedulikannya Anee istrinya dan juga Anita. Tapi sebelum masuk ke selnya, Arya masih sempat berbicara empat mata dengan Septian. Septian hanya menjawabnya dengan beberapa anggukan kecil tanda setuju.

” Anee, Anita mari kita pulang. Besok kita lanjutkan lagi ke mari untuk mendampingi Arya.” kata Septian sambil melangkah pergi dengan diikuti oleh Anee dan Anita. Hari mulai gelap saat mereka bertiga bergerak meninggalkan kantor Mapolda tersebut.

 

_ _ _ _

Proses penyidikan yang melelahkan,  akhirnya sampai di bagian akhir, yakni penanda tanganan Berkas Acara Pemeriksaan ( BAP ). Pagi itu, Arya kembali dibawa ke ruang pemeriksaan setelah hampir dua hari dia tidak menyambangi ruangan tersebut. Tanpa didampingi pengacara, Arya digelandang.

Saat kakinya melewati pintu ruangan tersebut, Arya melihat komandan polisi duduk sendiri di sana. Tidak seperti biasanya, dia terlihat lebih rileks dan tenang. Sementara di meja, tampak setumpuk laporan hasil pemeriksaan yang telah dijilid seperti buku.

“ Kamu tahu kenapa pagi ini saya panggil lagi ke ruang ini? “ tanya komandan polisi tersebut kepada Arya. Pandangan matanya yang terkesan lebih kalem meski tetap mengawasi setiap gerak-gerik Arya.

“ Tidak pak. “ jawab Arya sambil menggelengkan kepalanya.

“ Penyidikanmu telah selesai. Kini aku memintamu untuk menanda tangani BAP yang ada di depanku ini. “ lanjut komandan polisi tersebut dengan rileksnya.

“ Saya tidak mau menanda tanganinya. “ jawab Arya.

“ Kenapa tidak mau? “

“ Karena saya tidak pernah melakukan apa yang pihak penyidik tuduhkan. Dan juga BAP tersebut isinya tidak sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. “ jawab Arya tegas.

“ Kamu jangan mempersulit dirimu. Kemarin kamu boleh berbelit-belit, tapi saat ini kamu tidak bisa berlaku seperti itu lagi. Hal itu bisa memperberat hukuman yang bakal kamu terima “ bentak komandan polisi tersebut. Sorot matanya yang tadi tenang dan rileks berubah menjadi sangat tegang.

“ Tapi jika saya menanda tanganinya berarti saya mengaku bersalah dan terlibat masalah tersebut. “ jawab Arya lagi.

“ Ternyata kamu keras kepala juga ya? “ kata Komandan polisi tersebut dengan emosi.

“ Saya tidak keras kepala Pak. Saya hanya tidak mau mengakui dan menanda tangani BAP tersebut. Karena saya tidak bersalah.“

Kepala polisi tersebut terdiam beberapa saat. Menurutnya tidaklah mudah untuk menundukkan Arya. Dia tidak akan mau menanda tanganinya dengan paksaan, apalagi saat ini dia tidak didampingi pengacaranya. Sempat terlintas di benak komandan polisi tersebut untuk mengintimidasi Arya lewat istrinya. Namun pikiran itu segera dibuang jauh-jauh. Nama Septian dan Anita sebagai pengacaranya, membuat komandan polisi berpikir dua kali. Polisi mana yang tidak mengenalnya.

“ Sial kenapa lelaki ini bisa kenal dengan pengacara muda yang hebat itu “ gumam komandan polisi tersebut sambil meniupkan asap rokoknya tinggi-tinggi. Dia harus  mencari jalan lain untuk membujuk Arya agar mau menanda tangani berkas tersebut.

Hampir setengah jam lebih ruangan itu diliputi keheningan. Mereka yang ada di ruangan tersebut terlarut dalam alam pikirannya masing-masing.

“ Ok kalau kamu tidak mau menanda tanganinya. Kapan pengacaramu akan datang lagi? “ tanya Komandan polisi tersebut memecah keheningan ruangan tersebut.

“ Sesuai jadwal penanda tanganan BAP besok dia akan datang pak. “ Jawab Arya.

“ Ok kalau begitu besok kamu dan pengacaramu pelajari BAP ini dan aku harap kamu bisa segera menandatanganinya besok. “

Arya hanya mengangguk pelan. Matanya terus mengikuti gerak-gerik lelaki di depannya tersebut. Bagaimanapun dia tidak akan mau menanda tanganinya saat ini tanpa sepengetahuan Septian.

Komandan polisi membuka pintu ruang pemeriksaan dan berbicara dengan polisi yang berjaga. Setelah itu dia meninggalkan ruang pemeriksaan. Sementara polisi yang tadi berjaga segera menghampiri Arya dan memintanya untuk berdiri dan mengikutinya menuju ruang tahanan.

 

_ _ _

Komandan polisi memacu mobilnya dengan cepat. Sambil mengemudi, tangannya sesekali sibuk memencet nomer hp. Begitu tersambung, dia terlibat pembicaraan serius dengan seseorang.

Tiga puluh menit lamanya dia terguncang dalam kabin Opel Blazer berwarna merah marun. Akhirnya mobil berbelok memasuki pelataran parkir rumah makan yang cukup terkenal di kota tersebut. Tampak beberapa meja baru saja ditinggalkan pengunjung yang bersiap kembali melanjutkan aktifitasnya.

Langkah tegapnya membawa dia menuju ke salah satu sudut ruangan. Setelah menemukan meja yang dirasanya cukup enak, segera dia duduk dan memesan segelas cappuccino serta seporsi nasi beserta lauknya untuk makan siang. Sambil menunggu menu pesanannya, dia menghubungi nomer telepon yang diinginkannya. Hanya sekitar dua menit dia menikmati obrolan tersebut, sebelum anggukan pelannya menutup obrolan tersebut.

Saat waitress datang menghantarkan minumannya, dia meminta disediakan  asbak beserta rokok Marlboro merah. Selepas menghisap sebatang rokok, Komandan polisi tersebut segera memakan makanan yang baru saja diantar sang waitress.

Bibirnya yang mulai menghitam, karena kebanyakan menghisap rokok perlahan-lahan menghisap rokok yang kembali terselip di jarinya selepas menikmati seporsi nasi dan lauknya. Setelah dua kali dia mengganti rokoknya yang telah tinggal puntungnya, dia berdiri menyambut kedatangan seorang lelaki berkulit putih yang datang menghampirinya. Lelaki dengan tinggi badan sekitar 170 cm tersebut memiliki bentuk tubuh yang atletis.

“ Selamat siang Jon. “ sapanya seraya menjabat tangan lelaki tersebut.

“ Selamat siang Pak Budi. Bagaimana kabarnya hari ini? “ sapa lelaki tersebut.

“ Baik Jon, meski ada sedikit masalah dengan tokoh pesananmu itu. “

“ Masalah apa pak? “ tanya Joni dengan sedikit mengernyitkan kulit di keningnya.

Dengan ringkas komandan polisi yang bernama AKBP Irwanto menceritakan permasalahan yang dialaminya. Bagaimana begitu susahnya dia menyuruh Arya untuk mengakui dan juga menanda tangani BAP-nya. Semakin ke sini, keengganan Arya semakin menjadi, apalagi setelah Arya ditemani oleh dua orang pengacara muda terbaik di kota ini.

Kekhawatiran AKBP Irwanto bukan hanya itu, tetapi langkah-langkah berani yang telah diambil oleh tim pengacara dan juga istrinya. Bagaimanapun hal itu sangat merisaukan diri dan jajarannya dalam menangani kasus tersebut. Tim pengacara Arya terkenal cukup liat dan lihai dalam membongkar kasus persekongkolan. Hal ini tentu saja di luar perkiraan dirinya dan juga Joni sebelum menangani kasus tersebut.

Joni hanya termangu mendapati kenyataan tersebut. Terus terang semua ini di luar skenario dan rencana yang diinginkannya. Apalagi setelah dia mendengar cerita yang AKBP Irwanto ceritakan tentang kedua pengacara yang mendampingi Arya. Rencana yang telah disusunnya bersama pak Rudi bisa berantakan jika tidak cepat ditangani dengan baik.

Joni memainkan rokok yang berada di tangannya. Sesekali dia menghisap rokok itu dalam-dalam sebelum menghembuskannya perlahan. Sesekali tampak dia memainkan asap yang berhembus dari bibirnya, hingga membentuk bulatan-bulatan yang beterbangan perlahan.

“ Aku harus bisa mengetahui langkah-langkah mereka selanjutnya. Jika aku hanya mengandalkan keberadaan pak Budi, susah bagiku untuk mengontrolnya. Aku harus bisa memasukkan orangku ke dalam tim pengacaranya. “ Gumam Arya.

“ Pak Budi tenang saja ya. Aku sudah mempunyai rencana untuk menanganinya pak. Besok aku akan menemuinya dan membujuknya agar mau menanda tangani BAP dirinya. Agar semuanya segera berakhir. “ perkataan Joni memecah keheningan yang sempat ada di antara mereka.

“ Benar nih Jon? Apa rencanamu? “ Tanya pak Budi.

Joni menceritakan secara singkat rencananya untuk memasukkan seorang pengacara kepercayaannya ke tim pengacara Arya. Dengan mengaku menyesal karena ketidaktahuan dirinya akan kasus yang menimpa diri Arya, Joni ingin menawarkan seorang pengacara untuknya. Dan Joni yakin Arya akan menerimanya. Karena sejauh yang dia kenal, Arya berpantang untuk menolak uluran tangan dari orang lain.

Pak Budi hanya tersenyum mendengar semua penjelasannya Joni. Bagaimanapun rencana yang Joni jelaskan sangat bagus dan dia menilai semua rencana itu baik, makanya dia tidak ingin menyelanya. Baginya yang terpenting tugas untuk memaksa Arya menanda tangani BAP serta menyerahkan ke kejaksaan.

“ Ok Jon aku setuju dengan rencana kamu tersebut. Besok tim pengacaranya akan datang sekitar jam 12 siang. Kamu dahului saja mereka. “  Kata pak Budi.

“ Ok pak Budi. Besok pagi aku akan membawa pengacara untuknya. “ jawab Joni.

“ Jon aku pamit dulu. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku lakukan. “ Pamit Pak Budi.

“ Baik pak. Bapak tenang saja, pasti besok dia akan menanda tanganinya. “

Segera pak Budi berdiri dari tempat duduknya. Setelah menghampiri meja kasir untuk membayar semua pesanan makanan dan minuman yang dirinya makan bersama Joni, segera pak Budi berlalu menuju tempatnya memarkir mobil. Tak berapa lama kemudian dia telah berlalu meninggalkan halaman restoran tersebut.

 

_ _ _

Sejak melaksanakan sholat subuh tadi, Arya duduk merenung memikirkan pemeriksaan atas dirinya yang telah berakhir. Bagaimanapun dengan adanya permintaan untuk menanda tangani BAP, maka sebentar lagi dia akan resmi duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa atas sebuah perbuatan yang tidak pernah dilakukan.

Arya telah membulatkan tekad untuk tidak akan menanda tangani BAP tersebut sebagai bentuk perlawanan. Karena dalam pemikirannya, jika dia sampai menanda tangani berkas tersebut, kecil kemungkinan baginya untuk bisa membuktikan jika dia tidak bersalah.

Lamunan Arya terhenti saat seorang polisi yang berjaga di rumah tahanan menghampiri selnya dan memberitahukan jika ada dua orang yang ingin bertemu. Arya agak terkejut, karena dua hari yang lalu Septian memberitahu dia jika dia akan menemuinya hari ini sekitar jam 12, tidak sepagi ini. Segera dia berdiri untuk mengikuti langkah polisi tersebut.

Saat langkah kakinya telah memasuki ruang besuk, alangkah terkejutnya dia saat melihat siapa yang ingin menemuinya di sana.

“ Lo kok kamu ada di sini Jon? “ tanya Arya dengan nada terkejut. Langkah kakinya tertahan beberapa langkah dari pintu masuk ruangan tersebut. Tampak keragu-raguan menghampiri dirinya.

“ Aku ke sini untuk membantumu Ar. Sekaligus meminta maaf atas ketidak tahuanku atas masalah yang menimpamu. “ jawab Joni sambil berjalan menghampiri Arya yang masih berdiri termangu. Dituntunnya Arya untuk duduk di kursinya..

“ Gak apa-apa Jon. Mungkin memang ini cobaan bagiku. “ jawab Arya setelah duduk di kursi. Raut muka keheranan masih menghiasi wajahnya.

“ Saat aku ingin mengantarkanmu tempo hari, tiba-tiba aku di suruh mengaudit beberapa kantor cabang yang telah ada. Makanya aku gak bisa menemanimu.” Kata Septian memberikan alibi ketidak hadirannya menemani Arya saat mengajukan lamaran kerja yang berujung pada terjebaknya Arya di tengah-tengah demonstrasi yang berakhir rusuh.

“ Sudahlah Jon gak usah kamu pikirkan lagi. Ada apa kamu ke sini? “ tanya Arya

“ Ar sebagai wujud permintaan maafku, aku ingin membantumu dengan menyewakan salah seorang pengacara untukmu. “

“ Aku sudah punya tim  pengacara sendiri Jon. “

“ Terimalah Ar, untuk memperkuat tim pengacara yang sudah ada. “ Joni berusaha membujuk Arya agar mau menerima pengacara tersebut.

“ Tapi aku gak enak sama tim pengacaraku Jon. “ kata Arya dengan raut muka tak enak. Bagaimanapun dia tidak pernah menolak setiap uluran bantuan dari orang lain, karena hal tersebut menurutnya tidak beretika.

“ Nanti bisa kamu bicarakan dulu dengan tim pengacaramu. “ Bujuk Joni lagi.

Belum sempat Arya menjawab pernyataan Joni, seorang polisi yang berjaga di depan ruang, masuk. Dia memberitahu Arya, jika tim pengacaranya telah datang. Dengan halus Arya meminta Joni untuk meninggalkan ruangan itu dulu, Dia ingin berunding dengan Septian, Anita dan Aneeva mengenai tawaran dari Joni.

Joni mengangguk pelan. Segera dia berdiri bersama dengan pengacaranya untuk pergi meninggalkan ruang tersebut. Mereka diminta Arya untuk menunggu di lobi Mapolda. Sementara Arya akan membahas masalah permintaan Joni ke tim pengacaranya.

Tak lama setelah Joni meninggalkan ruangan tersebut, Arya menerima tim pengacaranya yang ditemani istrinya. Begitu mereka masuk, mereka segera membahas hal-hal penting yang tim pengacara temukan untuk membela Arya. Tak lupa Arya menceritakan bagaimana dia kemarin dibujuk oleh komandan polisi yang menyidik kasusnya untuk menanda tangani BAP-nya. Tak lupa juga dia menceritakan pula kedatangan Joni dan seorang pengacara yang akan diminta membantu tim pengacara Arya.

“ Bagaimana pendapatmu mas Septian?“ Tanya Arya.

“ Sebenarnya tidak enak memasukkan satu pengacara lagi dalam tim kita. Aku khawatir malah akan merusak suasana kerja kita. Bagaimana menurutmu An? “ Tanya Septian sambil menoleh ke arah Anita yang berdiri di samping Aneeva.

“ Memang tidak enak mas Septian. Tapi jika memang bisa memudahkan kerja tim pengacara ini, kenapa tidak kita coba masukkan saja. Lagian kata Arya pengacara itu yang bayar nantinya Joni. Bukan begitu Ar? “ sahut Anita.

“ Iya An yang bayar memang Joni. Bagaimana Anee? “ Tanya Arya sambil menoleh ke arah   Aneeva.

“ Ya kalau tidak mengganggu tim pengacara yang sudah ada, aku setuju saja mas. “

“ Jadi setuju nih teman-teman?” Tanya Arya lagi.

“ Iya setuju Ar. “

Arya meminta tolong polisi yang berjaga untuk memanggilkan Joni dan pengacara yang dibawanya tadi. Polisi tersebut segera menelepon ke resepsionis  untuk memberitahu Joni agar datang ke ruang besuk dan bertemu dengan Arya dan pengacaranya.

Tak lama kemudian, Joni dan pengacaranya masuk ke ruang besuk. Begitu mereka bergabung dan saling memperkenalkan diri, mereka membahas masalah yang Arya ceritakan tadi. Tak lama kata sepakat tentang beberapa hal termasuk Arya akan menanda tangani BAP-nya.

Joni tersenyum, akhirnya dia bisa membujuk Arya untuk menandatangani BAP-nya. Kegamangan akan  masalah tersebut kini selesai juga. Setelah Arya dan Septian melangkah ke ruang pemeriksaan untuk menandatangani BAP-nya.

_ _ _

 

Masopu

 

Share This Post

Posted by Monday, 18 June 2012 on 10:04.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

16 Responses to “Selubung Hitam Konspirasi (6): BAP”

Pages: [2] 1 »

  1. 16
    gurusatap Says:

    Wah, tulisan bagus. Biar saya baca dulu dari awal hingga akhir. Komenku nanti saja ya mas Agung? xixixi…

  2. 15
    erni Says:

    Zaman sekarang manusia jahat. menghalalkan segala cara untuk memuluskan kepentingannya. buas, lebih buas dari binatang hiiiiiii…… Agung, cepet dong lanjutannya, he..he.. aku tadi sempat berdoa supaya septian cs. sadar bahwa joni harus dicurigai. ternyata….

  3. 14
    agung "Masopu" Says:

    @anoew Makasih koreksinya mas Anoew. iya dibagian itu memang si Joni yang bergumam. Kelewatan waktu mengedit kemarin. Sekali lagi makasih mas

  4. 13
    anoew Says:

    Joni memainkan rokok yang berada di tangannya. Sesekali dia menghisap rokok itu dalam-dalam sebelum menghembuskannya perlahan. Sesekali tampak dia memainkan asap yang berhembus dari bibirnya, hingga membentuk bulatan-bulatan yang beterbangan perlahan.

    VS

    “ Aku harus bisa mengetahui langkah-langkah mereka selanjutnya. Jika aku hanya mengandalkan keberadaan pak Budi, susah bagiku untuk mengontrolnya. Aku harus bisa memasukkan orangku ke dalam tim pengacaranya. “ Gumam Arya.

    Sepertinya yang bergumam ini adalah lelaki atletis berkulit putih, yang disapa dengan sebutan Joni oleh si AKBP (Budi) Irwanto. Bukannya Arya. Atau saya yang salah tangkap.

  5. 12
    agung "Masopu" Says:

    @dewi Aichi
    Mengerikan hukum di Indonesia. Semalam sempat mengikuti twitter seorang yang terjebak Razia di Jakarta. Oleh Polisi wanita itu diintimidasi agar mengakui obat alergi yang dibawanya adalah Narkoba.
    Benar2 resek polisi

  6. 11
    Dewi Aichi Says:

    Betul mas, entah kapan hukum di Indonesia benar benar adil. Kadang penjahat yang paling jahat alias maling duit rakyat, masih saja dielu elu kan, jadi cerita dalam tulisan ini memang pas banget.

Pages: [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)