Tuesday, 19 June 2012
Anastasia Yuliantari
Kereta api Sancaka berangkat tepat jam tujuh pagi dari Stasiun Gubeng Surabaya. Lamat-lamat penyanyi yang menghibur para penumpang di ruang tunggu mendendangkan lagu Yogyakarta yang begitu popular di telinga orang Indonesia. Aku tersenyum, mungkin Mas Penyanyi sengaja mencocokkan lagu-lagunya dengan kereta yang melaju meninggalkan stasiun.
Perjalanan selama 5 jam menyuguhkan banyak kenangan. Dari teriakan para pedagang asongan di setiap stasiun sampai bau bumbu pecel Madiun yang mengundang rasa lapar di hangatnya udara pagi. Seorang Ibu yang duduk di sampingku menawarkan dengan setengah memaksa rempeyek kedelai yang dibelinya, “Ayo dicicipi, to Mbak. Rempeyek ini sama sekali engga berminyak. Bagaimana cara membuatnya, ya?” Setelah berkali-kali akhirnya aku menerima juga. Rasanya gurih dan renyah. “Benar, to? Kalau lewat tempat ini lagi saya akan beli satu dos.” Wah, si ibu ini ternyata penggemar rempeyek.
Begitu memasuki Jogja, hatiku berdetak cepat. Entah mengapa aku selalu dapat membedakan bau udara tempat ini. Begitu melihat Bandar udara Adisutjipto, suasana Jogja telah menggeret sukma. Satu demi satu tempat yang dahulu berkali aku lewati, kuperhatikan dengan seksama. Banyak yang telah berubah walau tak sampai dua tahun aku meninggalkannya.
Sesampai di Stasiun Tugu para penumpang dipersilahkan berjalan ke luar tempat itu melalui jalan keluar dengan terowongan bawah tanah yang mengarah pada Jalan Pasar Kembang di samping selatan stasiun. Beberapa pengemudi taksi, ojek, dan becak menawarkan jasa. Berkali-kali kugelengkan kepala dengan jawaban, “Mboten, tidak.” Setelah sekali hampir tergelincir mengatakan, “Toe.” Kata tidak dalam bahasa Manggarai yang biasa kukatakan pada tukang ojek yang mencari penumpang di Ruteng.
Mentari menyengat ubun-ubun saat aku melangkah sepanjang jalanan yang ramai. Pikirku lebih baik mencari makan dulu di Malioboro Mall karena letaknya hanya beberapa meter dari Stasiun Tugu. Tengah hari begini, perut telah menagih karena sarapan yang kelewat dini.

Begitu memasuki Mall diriku disambut oleh jajaran stand yang memamerkan segala macam kerajinan. Asesoris dan pakaian-pakaian itu cantik-cantik dan menggerakkan hati untuk membeli, sayang tujuan utamaku ke sini kali ini bukan hanya berlibur dan shopping, terpaksa hasrat itu kutahan. Namun yang paling berat adalah keinginan untuk pergi ke ground floor guna menyusuri deretan rak-rak buku di Gramedia dan Periplus. “Fokus, Tia. Fokus!” Bisikku berkali-kali agar terus bergerak ke lantai dua menuju gerai makanan cepat saji.
Sementara menikmati makanan, tampak dua orang memasuki gerai itu juga. Mereka memesan makanan dan duduk beberapa meja di depanku. Mendadak aku agak terkesima. Kelihatannya aku “mengenal” salah seorang dari mereka. Mungkin lelaki itu juga “mengenali” wajahku karena beberapa kali dia menatapku. Ya, kelihatannya kami saling mengenal karena jejaring sosial. Memang kami tak pernah berinteraksi, namun wajahnya yang beberapa kali berseliweran di layar kaca tak banyak beda dengan kenyataan. Antara kenal dan tidak, akhirnya aku memutuskan bangkit dari tempat itu untuk menuju rumah Sari, adikku yang sudah beberapa kali menelepon, menunggu kedatanganku.
Jalanan menuju Jalan Kaliurang sangat padat, beberapa kali taksiku harus merayap di belakang ratusan sepeda motor. Jogja semakin padat dari hari ke hari. Ternyata banyak hati yang terjerat untuk tinggal di kota ini, sementara yang berdatangan setiap tahun tak jua surut.
Graha Sabha terlihat berdebu di siang yang terik. Mataku agak terbelalak melihat sebuah gedung berbentuk lengkung dengan arsitektur minimalis dengan besi dan kaca setinggi entah berapa lantai di seberangnya. Wah, ternyata telah berdiri gedung baru yang megah di kampus ini. Pantas Fitri, temanku, mengatakan: “Nanti mbak pasti pangling (tak mengenali) kalau datang lagi ke sana. Makanya, ntar aku anterin, deh.” Ujarnya dalam percakapan telepon sebelum aku berangkat dari Ruteng.
Jalan Kaliurang telah banyak perubahan, begitu berubahnya sampai hampir saja gang rumah Sari tak aku kenali lagi. OMG….hanya dalam dua tahun!!
Begitu taksi berhenti di depan rumah dan pintu aku buka, udara panas kembali menyengat. Memang tak sangat panas bagi kebanyakan orang di Jawa, namun aku terbiasa dengan suhu udara 25 derajat Celcius, lonjakan 10 derajat sungguh terasa. Namun aku mencintai Jogja, hingga perbedaan itu hilang begitu menikmati senja bersama secangkir teh poci dan beberapa iris tempe mendoan.
June 22nd, 2012 at 19:45
@Dewi, wis to suk tak terke, sementara ngenteni foto2ne Mbak Probo pas dolan karo aku…hahahaa. Ngiler2, deeehhh….!!!
June 22nd, 2012 at 19:19
Komen 35 wakakakkaka….ha ha ha…..wah njelehi tenan
June 22nd, 2012 at 19:07
Yu Lani, lha embuh kalkulatore. Sing jelas bebek goreng separo regane 110 rb, tenan ki. Lha kan aku ora ndelok, sing penting mangan…hehehee. Pas mbayar lagi mendelik…hahahaa.
Aku mulih dhewe, suk September Max nyusul nggo kangen-kangenan sedhela….hahahaha.
June 22nd, 2012 at 19:04
@Dewi, woooo….aku nang kampuse wong waras, sik. Engko nek karo kowe lagi nang Pakem…hehehehe.
June 22nd, 2012 at 00:45
AY : aku se7777 sm kamu, golek…..menikmati……..makanan itu bukan di MALL……krn rasanya yg biasa2 saja, harganya menthung…….opo kalkulatornya error?
June 22nd, 2012 at 00:43
AY : nah, itu artinya kamu udah lbh krasan dgn alam Manggarai……cinta dgn sekelilingmu, dan jg kangen karo Max yo? ini balik dewe apa sama dia?
June 22nd, 2012 at 00:07
Ayla….kowe ra mampir kampusmu…? RSJ Pakem ha ha ha…
June 22nd, 2012 at 00:07
Yu Lani, iya sih. Makanan sendiri lebih terjamin kebersihannya juga ga ragu2 akan bahan2nya. Wis nek ngene ki dadi kelingan Manggarai.