Jalan Pulang

Ida Cholisa

 

Aku tahu  ini salah, mencintai lelaki yang telah beristri. Bukan kehendakku jika dalam perjalanan waktuku aku menemukan cinta selain cinta suamiku.

Mulanya biasa saja, ia mengagumi tulisan-tulisanku.

“Aku suka rangkaian tulisanmu,” begitu awalnya. Hingga kemudian kami menjadi sangat dekat seiring berjalannya waktu.

“Dinda, tulisanmu malam ini telah kubaca,” seperti biasa ia membuka malam dengan mengirim pesan di inbox-ku.

Aku hanya mengucapkan terima kasih saja, seperti halnya aku membalas pesan-pesan yang masuk lainnya. Tak ada yang spesial dari sosok lelaki tersebut, selain kebiasaannya menyebutku dengan panggilan ‘Dinda’.

“Aku tak bisa tidur, Dind. Tulisanmu membuat hatiku bergetar.”

Aku tersenyum membaca pesannya malam ini. Jam dinding baru saja berdentang dua belas kali.

“Dinda, aku seolah terperosok dalam pusaran cerita yang kautulis. Ah Dind… sepertinya… aku mulai jatuh hati pada dirimu, bukan hanya pada tulisan-tulisanmu…”

 

***

Ini  minggu ketika inbox-ku dipenuhi kiriman pesannya. Hingga akhirnya ia mengetahui nomor PIN BB-ku setelah ia melakukan investigasi teman-teman dunia mayaku. Pagi, siang, malam, handphone-ku dipenuhi dengan beragam pesan.

“Dind… sudah makan siang?”

“Jaga kesehatan ya, Dind…”

“Sudah bobo, Dind?”

Ah… lama-lama otakku penuh dengan puluhan pesan yang muncul beruntun tak kenal waktu. Hingga akhirnya aku lelah meladeninya. Maka ia acap kudiamkan saja.

“Dinda… lama ya kita nggak BBM-an? Pesanku nggak pernah Dinda balas…”

Huh, muak rasanya. Secepat kilat kupencet ‘clear history’, hingga lenyap semua tulisannya. Aku cukup lega.

Tiba-tiba… dalam hitungan detik pesannya muncul kembali.

“Dind, besok aku datang di acara launching bukumu, ya?”

Sudah, itu saja kalimat pamungkasnya. Kulempar hapeku ke atas kasur, hingga rasa kantuk membawaku ke alam tidur…

 

***

“Bunga, sepertinya aku tak bisa mengantarmu siang nanti.”

Aku terperangah. Suamiku tak bisa mengantarku dalam peluncuran buku? Bagaimana ini?

“Terus aku berangkat sama siapa? Aku buta kota Jakarta, Mas.”

“Nanti berangkat sama Om Tono, ya?” ia menyebut sopir langganan yang kerap kami panggil saat kami bepergian jauh.

“Kamu nggak marah kan?”

“Tidak sih, cuma kecewa.”

“Kali ini saja, aku ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Besok-besok aku pasti bisa menemanimu kembali.”

Suamiku meninggalkan rumah sesaat sebelum Om Tono menjemputku. Kepadaku ia mengucapkan kata selamat dan rasa suka cita atas kesuksesan menulisku. Berikutnya, bersama sopir saja aku menembus kemacetan kota Jakarta.

Aku patut bangga, mestinya. Tapi tanpa kehadiran suamiku, rasa bangga itu seolah tak sempurna. Hingga detik bedah buku di depan audiens, pikiranku selalu tertuju pada rasa kecewaku. Aku tetap bisa tampil prima dalam launching buku ke lima belasku, meski sebenarnya tetap saja rasa kecewa mengelayuti hatiku. Mestinya aku tak harus memiliki perasaan seperti itu, dan mestinya pula aku belajar menjadi perempuan mandiri yang tak tergantung sepenuhnya pada suami. Tapi ah, aku memang belum bisa…

Acara launching dan bedah buku pun selesai. Setelah menikmati hidangan dan melayani beragam permintaan tanda tangan, aku pun bersiap pulang. Syukurlah acara berlangsung dengan sangat sukses.

Aku menuruni tangga toko buku. Kuedarkan pandangan sesaat kakiku menginjak pintu keluar. Di mana Om Tono? Bukannya kami janjian di tempat ini?

Lima menit menunggu, belum nampak kedatangan sopirku. Rasa galau mulai merasuki hatiku. Hari semakin sore. Senja mulai turun. Hujan pun mulai menurunkan bulir-bulir airnya. Ah, di mana Om Tono?

Seseorang keluar dari mobil dan berjalan mendekatiku.

“Tadi saya tak sempat menyalami Anda. Saya Anugrah, fans berat Anda.”

Anugrah? Aku mulai mengingat-ingat nama itu. Oh, inikah lelaki yang kerap menyebutku dengan panggilan ‘Dinda’?

“Sudah ingat, kan?” ia tersenyum dan menjabat tanganku.

“Saya jatuh cinta pada tulisan-tulisan Anda. Sebuah keberuntungan buat saya bisa bertemu langsung dengan Anda. Jika Anda tak keberatan, ijinkan saya mengenal lebih jauh diri Anda. Saya ingin menjadi seseorang yang sangat spesial di hati Anda.”

Ia memberikan sebuah kartu nama. “Ir. Didi Anugrah.” Sebuah nama perusahaan berikut alamat lengkapnya tercetak jelas di situ.

“I hope you’ll be my special one.”

“I’m married,” kataku dengan suara sedikit menyentak.

“No problem. Something you have to know, I like you. I do love you.”

Aku menatapnya tajam saat ia kembali menjabat tanganku. Lambaian tangannya melenyap seiring ia memasuki mobil sedannya. Aku termangu, seolah terhipnotis oleh pertemuan singkat itu. Hingga kemudian Om Tono tiba, dan secepat kilat aku melompat masuk ke dalam mobilku.

Lelaki itu, Ir Anugrah, semakin gencar melilit hatiku dengan kiriman-kiriman pesannya. Ia bahkan telah beberapa kali meneleponku. Bahkan beberapa kali juga mengirimkan resensi bukuku yang dimuat di sebuah harian surat kabar.

“Aku suka menulis sepertimu, Dind. Tapi aku belum pernah menerbitkan buku,” demikian katanya ketika kami bertemu untuk ketiga kalinya dalam acara book fair di kota Jakarta. Setelah pertemuan ketiga itu, entah mengapa hatiku ditimbuni perasaan tak menentu…

Tuhan, benarkah bahwa aku mulai jatuh hati padanya? Aku menemukan lautan cinta pada teduh wajahnya. Bahkan aku merasakan getar aneh saat menjabat tangannya. Benarkah aku mudah jatuh cinta, sementara setelah berbulan-bulan ia melakukan pendekatan padaku, baru kali ini hatiku tersentuh rindu?

“Aku tahu engkau gundah, Dind. Seperti yang selama ini aku rasakan, aku yakin kau mulai merasakannya. Aku mencintaimu, Dind. Kuharap kau tak menyangkal perasaan terdalammu.”

Tulisan-tulisanku mulai kacau. Semua yang kutulis seolah tertuju pada lelaki itu. Tuhan, apakah aku mengalami jatuh cinta kedua di usia matangku?

“Aku selalu menyukai titik embun, Dinda. Meski hinggap sebentar di atas daun untuk kemudian jatuh meluncur, aku merasakan sensasi luar biasa saat menatap embun. Kubayangkan cintamu jatuh di hatiku, meski hanya sesaat, kemudian aku merasakan getaran yang sangat hebat…”

“Kadang aku berpikir bahwa aku telah gila. Bagaimana mungkin aku mencumbumu tanpa  menyentuhmu, Dinda? Tapi aku seolah merasakan semuanya…”

Pesan berikutnya muncul kembali di handphone-ku.

“Cinta itu soal hati, itulah sebabnya aku tak peduli statusmu. Kubiarkan cinta ini mengembara menuruti kemauannya, meski kutahu ini salah adanya.”

“Aku hanya meminta sedikit ruang kosong di hatimu, Dinda. Agar aku bisa sejenak melepas rasa gundah. Kusadari benar, tidaklah mungkin aku memaksamu untuk mengosongkan ruang hatimu sepenuhnya untukku, sebab telah ada hati lain yang menguasaimu. Tapi… mengertilah Dinda… aku benar-benar tak bisa menjauhkanmu dari relung hatiku. I love you, Dinda.”

Kami menjadi dekat sesudahnya. Bukan dekat secara fisik, melainkan dekat secara batin. Hingga seiring merambatnya waktu, cinta bersemi indah di relung hatiku….

Tuhan. Hinakah diriku, mencinta pria lain padahal telah ada suami di sisiku? Istri tak bersyukurkah aku, sementara suamiku telah berbuat banyak kebaikan untukku, tetapi aku bermain hati di belakangnya? Betapa tak tahu dirinya aku…

Tapi cinta soal hati. Kalimat lelaki itu terngiang-ngiang di kedua telinga. Cinta tak pernah memilih di mana ia akan hinggap. Manakala kuku tajamnya mencengkeram, maka bersiaplah  untuk melawan atau jatuh terbenam. Jangan salahkan cinta saat hati tergelincir, tetapi salahkah pribadi yang terkuasai cinta hingga ia tak lagi mampu jernih berpikir.

 

Aku mulai mengagumi lelaki itu. Sosok yang sepintas mengingatkanku pada kumbang gagah di masa lalu itu memiliki banyak keistimewaan di mataku. Oh, aku seperti remaja yang tengah jatuh cinta, hingga sosok Mas Anugrah demikian melekat hingga ke relung jiwa. Melalui foto-foto yang banyak terdapat di akun fesbuknya, aku mulai menyenangi kebiasaan anehku, duduk berlama-lama sambil menelanjangi deretan foto lelaki itu. Aku menyukai wajah dengan garis yang tegas itu. Kemudian lengkung alis tebalnya, kemudian dua bola mata teduhnya, kemudian hidungnya yang panjang dilengkapi barisan kumis hitam yang memayungi bibir penuhnya. Rahangnya yang kuat serasi sekali dengan dagu licin berwarna kebiru-biruan. Lehernya yang jenjang, dadanya yang bidang, lengannya yang kukuh dan seluruh tubuh yang menurutku sermpurna utuh membuatku semakin tergila-gila pada lelaki tersebut. Kedua kakinya yang panjang bahkan membuatku mabuk kepayang. Mas Anugrah seolah sosok masa lalu yang kini menjelma menjadi sosok baru dalam kehidupanku.

Kebiasaanku berimbas jelek pada diriku. Aku sering mengalami mood yang berubah-ubah tanpa pernah kumengerti. Aku lebih suka menyendiri, dan handphone selalu menjadi teman setia ke mana pun aku pergi. Aku seolah merasa ada sosok istimewa di dalam telepon genggamku, hingga  ketika berada di dekatnya aku seolah tengah berada di dekat sosok spesial itu. Ini hal yang aneh, apakah aku terkena guna-guna lelaki tersebut, hingga aku menampakkan sikap yang aneh seperti ini? “Kau sedang jatuh cinta, Bunga”, itu jawaban yang dilontarkan teman dekatku, Anna.

Aku sedang jatuh cinta? Mungkin demikian sebabnya. Aku merasa lebih menyukai pergantian hari, karena di dalamnya terdapat banyak sekali curahan hati. Setiap pergantian pagi menuju siang, siang menuju malam, begitu seterusnya, hatiku dipenuhi harap akan perjumpaan dengannya. Tak perlu aku menatap teduh wajahnya, sederet pesan indah cukuplah menghapus perih rindu yang menusuk sukma. Saat kerinduan begitu menyergap sementara harap tak jua mendekat, entah mengapa gelombang rasa memenuhi dada. Adakah ia menjauh karena cinta tergerus masa?

Begitulah, aku selalu berkelana dalam rimba rasa, berpagut dalam hening jiwa, meresapi benar semua gegap-gempita yang memenuhi dada. Ribuan rasa berpendaran di udara, membentuk bintang bercahaya yang menyilaukan alam semesta. Di langit tinggi cintaku mengembara, menembus batas hingga memunculkan semburat nama.  Anugrah.

Ya, lelaki itu, lelaki itu yang membuatku jadi begini. Menyiksa rasaku, menggelorakan hatiku, membinarkan rona mukaku hingga aku seolah menjadi muda kembali. Tiba-tiba saja aku ingin berpenampilan lebih menarik. Tiba-tiba saja aku ingin memperlihatkan apa pun yang terbaik.

Inikah jatuh cinta? Serasa indah segalanya. Kerinduan berpagut harap yang terkadang berakhir kecewa karena terhalangnya asa, tak menyurutkan sedikit pun rasa cinta yang bertebaran memenuhi dada. Selalu ada kerinduan saat cinta pasang, hingga perpagutan rasa menjadi muaranya.

“Dinda….”

Sungguh tak bisa kulukiskan bermacam rasa saat tiba-tiba ia muncul di depan mata. Wajah tegas dengan mata teduh itu membuatku terkesima. Jika bukan karena rasa malu dan kesadaran diri akan statusku, tentu aku akan menjatuhkan diri di pelukan dada bidangnya. Oh, aku ingin melakukannya. Hatiku tercabik-cabik oleh keinginan yang luar biasa, tapi sekali lagi aku terpenjara oleh status tak biasa…

Bahwasanya, telah ada sebentuk cinta yang bersemayan di relung jiwa. Sanggupkah aku mengkhianatainya?

“Aku kangen, Dinda…” ia menatapku lama. Hening tanpa suara beberapa jenak. Bibir penuhnya hendak mengucap kata, namun kutahan ia dengan bahasa isyarat agar ia tak mengucapkannya. Aku tahu apa yang akan ia katakan, dan aku sungguh tak sanggup untuk menolaknya andai ia mengucap demikian.

“Dinda…” ia maju selangkah. Tuhan… aku menutup mata. Gejolak rasa berhimpitan berdesak-desakan. Aku sungguh tak kuasa saat lengan kukuhnya melingkari bahuku, mendekapku erat hingga kurasakan jantungnya yang berdetak sangat kencang.

“Aku tak ingin mengatakan apa pun, Dinda. Kau tentu merasakan semuanya. Satu pintaku Sayang, jangan pernah menjauh dariku.

Sesuatu yang sangat kutakutkan terjadi kini, saat bibir penuhnya memagutku penuh sensasi. Saat ia hendak melakukan lebih, kutepiskan ia hingga semburat kecewa melintas di redup matanya.

“Maafkan aku, Dinda.”

Kami saling berdiam. Angin malam berhembus pelan. Keheningan sahdu terasa mengoyak perasaan. Dalam cinta, dalam kedekatan, terdapat sekat karena status yang tak terbantahkan…

 

***

Cinta itu masih tumbuh dengan suburnya, meski tak ada pertemuan lagi yang mengaduk rasa. Melalui bahasa tulisan kuadukan segala beban, hingga lenyap batu berat yang menindih perasaan.

Lelaki itu masih menjadi kuncup di hatiku. Dan aku terus merawatnya agar tumbuh indah sepanjang waktu. Tak ada yang tahu rahasia hatiku, pun suamiku. Semua terangkum indah dalam hening waktu. Tak ada yang berubah atas cintaku pada suamiku, meski bunga cinta lain  tengah bermekaran dalam hatiku. Kuncup itu memang telah mekar dengan sempurna. Semerbak harumnya menjadi penanda bahwa tengah berlompatan titik rindu dan cinta yang luar  biasa.

“Tetaplah begini, Adinda. Jangan pernah berubah. Meski adaku hanya selintas saja, tetap tempatkan aku di ruang terdalam hatimu.”

Aku mengangguk saat itu, meski kesedihan begitu menguasaiku. Tentu tak mudah memasung diri sementara cinta tengah merayapi hati. Berpura-pura itu menyakitkan, sangat tak mengenakan.

“Sepertinya kau sekarang jarang menulis, Bunga,” kata suamiku.

“Kata siapa? Aku tetap menulis, tapi lagi malas menerbitkan buku. Apa saja yang keluar dari hatiku, itu akan menjadi tulisan-tulisan baruku.”

“Syukurlah kalau begitu. Aku lihat kau banyak berdiam sekarang. Kenapa?”

“Nggak, nggak apa-apa.”

Begitulah, kujalani hari seolah tak ada apa-apa. Gelombang rasa yang acap berdebur dan menggerus keteguhanku, sedapat mungkin aku tahan semampuku, Aku tak ingin suamiku mengetahui sisi terdalam perasaanku. Dan aku tak ingin ia, Mas Anugrah, merasa tersisihkan oleh suamiku. Ini perjuangan sesat seorang perempuan bersuami sepertiku, menyimpan dua cinta sekaligus dalam satu waktu.

 

***

Pagi ini, menjelang keberangkatanku menuju kantor Lembaga Bantuan Hukum di mana aku bekerja sebagai pengacara, sebaris pesan muncul di layar handphone-ku.

“Jika terjadi apa-apa pada diriku, tetaplah bungkam, jangan sekali-kali kau melibatkan diri. Aku tetap mengenangmu sebagai bunga yang pernah menghiasi hatiku. Apa yang kulakukan padamu, membawamu pada pusaran cintaku, itu semata-mata karena besarnya rasa kagum dan kasih sayangku padamu, meski aku hanya mampu melakukan semua itu melalui rasa tersembunyiku. Selamanya mencintaimu, Anugrah.”

Pandanganku terasa kabur. Tiba-tiba ada rasa takut menyelinap dalam hatiku. Sesuatu yang tidak pernah aku khawatirkan sebelumnya tiba-tiba bergelayut dalam hatiku. Ada apa dengan pencinta tersembunyiku?

Kulajukan mobil dengan perasaan tak menentu. Janji dengan seorang klien tak mungkin aku batalkan kembali hari ini. Sementara hatiku tunggang-langgang oleh rasa takut yang mendera hati. Apa sebenarnya yang terjadi dengan pesan singkat yang dikirim kekasih gelapku ini?

Kuurungkan niatku menuju kantor. Aku membelokkan arah menuju Salemba. Di sanalah berdiam rumah besar Mas Anugrah. Aku merasa perlu untuk datang ke sana, lantaran pesan  singkat yang ia kirimkan beberapa saat lalu. Ada sesuatu yang tak beres, aku yakin itu. Maka dengan kecepatan tinggi kularikan mobilku, tak peduli dengan rentetan bunyi klakson yang menghujaniku. Aku mengendarai mobil dengan zigzag, berusaha mencari celah di mana aku bisa mencapai lokasi dengan cepat. Aku bahkan melupakan faktor keselamatanku demi lelaki yang telah memasung jiwaku itu.

Satu jam kemudian… sampailah aku ke sebuah jalan besar yang menuju rumah Mas Anugrah. Kulambatkan laju mobil saat kendaraanku berpapasan dengan lautan manusia. Jantungku berdetak kencang. Apa itu?

Aku mencari tempat di mana bisa kuparkir mobil dengan aman. Sebuah warung kecil dengan tanah kosong di sisinya kupakai sebagai tempat memarkir mobil usai meminta ijin pada pemilik warung. Selanjutnya aku bergegas menuju kerumunan manusia…

Dugaanku benar. Rumah Mas Anugrah! Rumah besar Mas Anugrah tampak dipagari garis polisi. Beberapa petugas berseragam cokelat berjaga-jaga di sekitar rumah mewah tersebut. Aku berdiri mematung di antara lautan manusia yang memadati jalan masuk rumah Mas Anugrah. Dadaku berdetak sangat kencang. Mata dan telinga kupasang lebar-lebar. Tuhan… ada apakah gerangan?

Detik demi detik yang menegangkan berakhir dengan pemandangan yang memilukan mata. Aku melihat tiga polisi menggotong plastik jenazah berwarna kuning. Disusul kemudian… seorang lelaki tampak berjalan dengan kepala tertunduk, Kedua tangannya diborgol dengan digamit dua orang polisi. Dadaku terkesiap…

“Mas Anugrah…”

Suaraku melompat keluar. Kepala tertunduk itu seketika menengadah. Menatapku sejenak, kemudian dengan bahasa isyarat ia menyuruhku berlalu dari tempat itu. Aku tak tahu harus berbuat apa. Dalam keadaan lelaki itu terborgol, aku ingin ia menceritakan padaku tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tapi sekali lagi tatap isyaratnya menyuruhku untuk pergi.

Aku menatap punggung lelaki gagah yang kini telah memasuki mobil khusus tahanan. Saat mobil itu berjalan pelan, ia memandangku dari kejauhan. Sungguh aku tak bisa menahan derasnya laju kesedihan. Jika tak ingat bahwa aku tengah berada di kerumunan massa, tentu aku telah mengalirkan air mata hingga terlepas segala beban jiwa…

 

***

Mas Anugrah terlibat dalam cekcok besar dengan istrinya. Asmara tersembunyi bersamaku terkuak oleh sang istri hingga mereka tak mampu mengendalikan diri. Mas Anugrah menancapkan pisau dapur tepat di ulu hati istrinya, disaksikan anak semata wayang mereka. Pesan singkat Mas Anugrah terkirim sesaat sebelum mereka bercekcok kembali.

Pembunuhan itu memasung lelaki tersebut hingga tahanan menjadi tempat berdiamnya.

Rasa cintaku tulus adanya. Dalam keadaan ia terbelenggu dalam jeruji tahanan, aku menawarkan diri menjadi pengacaranya. Aku membelanya, aku berjuang keras agar hukuman ringan yang akan didapatkannya, bukan hukuman seumur hidup atau hukuman berat yang akan dijalaninya.

Suamiku turut mendukung langkahku membela lelaki itu, tanpa ia tahu bahwa lelaki itu adalah cahaya lain yang turut menerangi hatiku. Kusimpan rapat rahasia itu, kutempatkan mereka secara khusus dalam ruang hatiku. Kuberikan cinta seperti dahulu pada dua lelaki itu. Hatiku tak berubah. Bukankah aku menempatkan Mas Anugrah sebagai cahaya remang belaka? Bukankah aku tak melakukan apa-apa, selain hanya menempatkannya secara istimewa di relung hati saja?

Aku tetap bekerja seperti biasa. Di antara paruh waktu, aku menulis banyak cerita. Kasus demi kasus yang banyak kutemui di kantor  bantuan hukum memberiku banyak inspirasi untuk menuangkannya menjadi cerita yang memberi hikmah bagi banyak pembaca. Hingga akhirnya sebuah novel “Selalu Ada Untukmu” pun meluncur dari tanganku, tentang kisah cinta tersembunyi dua anak manusia yang dipenuhi prahara dan air mata.

Aku mengunjungi rumah tahanan di mana Mas Anugrah meringkuk di dalamnya. Seorang petugas lapas membawaku ke sebuah ruang tunggu yang dibatasi jeruji besi. Hatiku berdebar, seperti apa keadaan lelaki itu sekarang?  Di tanganku tergenggam novel baru.  Di hatiku bertimbun lautan rindu. Sekian bulan aku tak bersua usia putusan vonis padanya, jujur aku dikepung rasa rindu yang luar biasa…

Seorang petugas menggamit lengan seorang lelaki. Mas Anugrah! Tapi… benarkah ia Mas Anugrah?  Semuanya terasa berbeda kini. Di mana sosok Mas Anugrah yang dulu? Yang terlihat kini berbeda jauh seratus delapan puluh derajat…

Wajah lelaki itu sangat kusut, dekil dan terlihat lebih tua. Pakaiannya sedikit lusuh. Pandangannya kosong. Kumis dan jenggotnya tampak tumbuh tak beraturan. Saat ia berada sangat dekat denganku, aku mencium aroma tak sedap dari tubuhnya, sangat berbeda dengan aroma wangi yang dahulu selalu tercium saat berdekatan denganku.

“Mas Anugrah…”

Aku berusaha menyalaminya. Ia memandangku tanpa cahaya cinta, hanya tatapan kosong belaka.

“Mas Anugrah…”

Ia tetap membisu. Air mataku hampir tumpah saat seorang petugas lapas berbisik di telingaku.

Mas Anugrah mengalami depresi, jiwanya terganggu. Ia bahkan terkesan tak mengenaliku. Saat kupanggil namanya kembali, ia hanya tertawa menyeringai dengan gigi-gigi kuning yang berbaris rapi…

Kupegang erat novel di tanganku. Pemandangan memilukan Mas Anugrah membuatku berderai air mata. Tak pernah kusangka bahwa cinta tersembunyiku akan mengalami nasib seperti ini. Tak pernah kubayangkan ini bakal terjadi…

Aku mengusulkan kepada petugas lapas agar Mas Anugrah mendapat perawatan intensif di bawah penanganan dokter  ahli jiwa. Setelah berkali-kali aku mengajukan permohonan dan memberi jaminan, Mas Anugrah akhirnya dirawat di sebuah rumah sakit jiwa.   Selama beberapa kali dalam seminggu aku rutin mengunjunginya. Novel terbaru tentang kisah cinta itu pun sesekali kubacakan untuknya, hingga lambat laun ingatannya pun pulih kembali.

Aku tidak melakukan semuanya sendiri. Suamiku turut andil memulihkan ingatan lelaki tersebut. Latar belakang pekerjaan suami yang merupakan dokter jiwa turut mempercepat kesembuhan Mas Anugrah hingga ia pulih seratus persen.

“Terima kasih, Dinda. Suamimu baik sekali.”

Kalimat itu meluncur dari bibir Mas Anugrah saat ia dibawa kembali menuju rumah tahanan. Penanganan jiwa yang intensif di rumah sakit telah mengembalikan Mas Anugrah ke kondisi  normal.

“Tetap kuat ya, Mas? Banyak-banyaklah berdoa.”

Ia menatapku dengan tatapan sendu. Bulir air mata tertahan di sudut matanya.  Wajahnya yang telah kembali bercahaya tampak dipenuhi aura cinta. Aku hampir saja jatuh dalam pelukan dada bidangnya kalau saja petugas lapas tak segera menariknya menuju ruangan tahanan.

“Selamat tinggal, Dinda…”

Aku mengangguk pelan. Tiba-tiba kurasakan pipiku basah oleh air mata. Aku berbalik arah, seketika langkahku terantuk kaki seorang lelaki yang ternyata telah berdiri lama di belakangku.

“Bunga…”

Aku terkejut demi mendapati lelaki itu adalah… suamiku! Rasa gugup menyelimutiku. Aku berusaha keras menetralisir hatiku.

“Pulang ya sekarang? Besok aku ada tugas ke luar kota. Hari ini aku ingin kau menyediakan waktu khusus untukku.”

Aku tersenyum. Ia melingkarkan tangannya di pinggangku. Kami berjalan pelan menuju mobil. Senyum terkembang di bibir kami. Cinta indah itu bersemi kembali.

Aku memeluk tubuh suamiku dengan berjuta rasa. Jauh di atas sana, bayangan Mas Anugrah tampak menatap kami dengan pandangan penuh harap dan cinta.

Aku tahu rasa ini salah,  tapi aku tak tahu bagaimana memutus rasa ini agar tak lagi menggelayuti hari-hari dan kehidupanku. Hingga beberapa bulan kemudian aku dikagetkan dengan kematian suami teman karibku, Anna. Meski ia tak melakukan perselingkuhan sepertiku, ia katakan padaku bahwa ia merasa sangat menyesal karena pernah melakukan sebuah kesalahan pada suaminya semasa hidupnya. Hingga ketika sang suami berpulang karena sakit yang diderita, Anna belum sempat meminta maaf  padanya.

Aku tersadar seketika. Mukaku seperti ditampar, hingga terbentang di depanku berjuta kesalahan yang pernah kulakukan.

Aku menangis saat kudapati suamiku terbaring sakit beberapa bulan kemudian.

“Bunga, kau istri yang baik…” ia berhenti bicara. “Suatu saat… jika aku meninggalkanmu…” ia berhenti bicara lagi.

“Iya, Mas…”

“Suatu saat jika aku meninggalkanmu… kuharap kau mampu menjaga dirimu dengan baik…”

Sungguh, ini tamparan yang semakin memperlihatkan belang keburukanku. Aku menangis.  Aku terguguk.

“Maafkan aku, Mas. Aku punya banyak salah…”

Aku tak perlu mengatakan celah keburukanku, tapi penyesalan itu membulatkan tekadku untuk mengakhiri kisah perselingkuhanku. Suamiku adalah cahaya sebenarnya dalam hidupku, sementara Anugrah hanyalah kerlip cahaya di malam kelamku…

Telah kusudahi semuanya. Aku telah kembali menemukan jalan pulang…***

 

Cileungsi, Juni 2012-

 

11 Comments to "Jalan Pulang"

  1. nurain silalahi  24 July, 2012 at 12:32

    suatu rasa yang umum dalam ragam pergaulan sekarang, adanya kekaguman pada seseorang. bagiku, kutorehkan dalam hati, andai aku nanti terjerat cinta lagi (dan sedang, semoga tidak berlanjut ke jenjang perselingkuhan), janganlah hendaknya terlempar ke jurang cinta yang tak bisa lagi keluar darinya. aku berusaha tidak memupuk taman bunga cinta itu, dengan doa, semoga bisa.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.