Yani Utomo
Di suatu sore minggu lalu aku masuk ke sebuah toko roti di daerah Tebet, seperti biasa begitu masuk mata langsung tertuju ke arah kue-kue kering yang tersusun rapi di sudut kiri lemari. Lebaran sudah lama berlalu, bahkan sudah akan datang kembali dalam beberapa bulan mendatang, tetapi susunan manis kue-kue kering tersebut seakan tidak mengenal waktu, menjelang lebaran atau bukan, tetap konsisten dalam menarik seleraku.
Aneka kue kering seperti nastar, putri salju dan terutama kastengel memang menjadi kue favorit dan seringkali teman nonton tv yang mengasyikan bagi kami di rumah. Bahkan bisa menjadi suguhan yang tidak membosankan bagi tamu-tamu kami. Akhirnya kubeli dua pak kastengel dan tentu saja dengan beberapa roti termasuk roti tawarnya yang gurih.
Di dalam mobil, dalam perjalanan pulang, pikiranku masih tersangkut ke kue kastengel yang baru saja berpindah dari lemari toko kue ke tanganku dan ingin rasanya segera membukanya dan makan bersama keluarga di rumah sambil minum teh hangat. Ah pasti lezaaat ……….. kue dengan rasa kejunya yang sangat kental.
Keju … ya aku ingat, kenapa kue kastengel terasa sangat lezat karena menurut informasi teman-teman yang senang membuat kue kering, kastengel biasa menggunakan keju Edam asal Belanda yang telah dikenal kelezatannya di Indonesia sejak lama.
Mengingat kata Edam, pikiranku langsung menerawang ke kota kecil Edam di Belanda ….
Dari pencarianku di Wikipedia, Edam adalah sebuah kota kecil yang terletak di propinsi Noord-Holland. Bersama dengan Volendam, Edam membentuk sebuah geemente bernama Edam-Volendam. Nama Edam berasal dari sebuah bendungan di sungai E atau Ije dimana orang-orang pertama tinggal and akhirnya dinamai Ijedam atau Edam. Kota ini pernah menjadi pusat ekspor keju Belanda.
Suatu hari di akhir Juni 2010, saat berlibur ke Belanda, mbak Nunuk mengajak kami menyusuri jalan-jalan kota kecil dan pedesaan menuju ke utara, ke kota Groningen dengan mampir terlebih dahulu ke pasar keju Edam. Tujuan awal kami sebenarnya adalah ke pasar keju yang lebih besar dan ramai di Alkmaar tetapi karena tidak buka saat itu, akhirnya kami memutuskan ke Edam untuk melihat secara langsung bagaimana proses jual-beli keju secara tradisional dilakukan di Belanda.
Pagi sekitar jam 10.00 kami sampai di kota Edam, mobil diparkir di lapangan rumput yang memang disediakan sebagai tempat parkir dan layaknya di Jakarta banyak petugas parkir yang mengatur mobil-mobil pengunjung yang keluar masuk area parkir.
Cuaca memang habis hujan saat itu sehingga udara sejuk agak dingin dan lapangan menjadi becek. Untuk memudahkan para pengunjung berjalan kaki keluar masuk area parkir menuju dan kembali dari pasar keju, lapangan rumput diberi penutup kayu sejenis triplek pada beberapa bagian yang parah beceknya.
Gambar 1. Lapangan parkir pengunjung Pasar Keju Edam
Kami datang pada hari yang tepat saat pasar keju buka tiap minggunya, yaitu hari Rabu. Tetapi jangan salah dulu …. karena tidak tiap Rabu sepanjang tahun pasar keju Edam buka. Ternyata hanya pada hari Rabu di bulan Juni dan Agustus saja bukanya, itupun hanya dari pagi hingga tengah hari, saat proses jual-beli keju selesai.
Takut terlambat, begitu keluar mobil kami bergegas menuju ke lokasi pasar keju Edam yang terletak di Jan van Nieuwenhuizen Square …………….
Gambar 2. Lokasi lapangan Jan Nieuwenhuizen (Sumber : Google)
Sampai di lokasi pasar, pertama kali yang kulihat adalah kerumunan orang yang mengarah ke tengah lapangan dan terlihat seperti sedang melihat suatu pertunjukan. Kami bergegas mendekat dan memang benar ada pertunjukan di sana, pertunjukan jual-beli keju ….
Aku melihat lapangan telah dipenuhi dengan keju-keju berwarna kuning-merah diletakkan bertumpuk dengan dialasi karpet tipis berwarna hijau serta ada yang tersusun di dalam alat angkut keju yang terbuat dari kayu (seperti gondola). Di sekitar keju-keju tersebut banyak meisjes en mevrouws berpakaian tradisional Belanda dan para pria mengenakan seragam putih-putih.
Tampak sekelompok pemain musik di salah satu sudut lapangan dengan mengenakan pakaian seragam putih-putih berscarf merah bercorak khas dan sabuk kain berwarna hijau atau merah serta mengenakan topi. Alas kaki tidak seragam, ada yang masih mengenakan alas kaki petani khas Belanda yaitu klompen kayu namun lebih banyak yang menggunakan sepatu kulit modern (mungkin lebih nyaman dipakai) (lihat gambar 3).
Sekeliling lapangan diberi pembatas pagar agar pengunjung tidak masuk ke tempat pertunjukan proses jual-beli keju secara tradisional, yang dapat mengganggu jalannya pertunjukan. Untuk kenyamanan pengunjung, di pinggir lapangan disediakan kursi dan dipayungi atap sebagai pelindung dari sinar matahari musim panas (Juni – Agustus) walaupun pada saat kami di sana udara sejuk cenderung dingin.
Sebagian pengunjung duduk dengan nyaman dan sebagian berdiri (bagi yang telat datang sehingga tidak kebagian tempat, seperti kami …). Semua mata tertuju ke tengah lapangan menyaksikan pertunjukan proses perdagangan keju secara tradional di kota Edam.
Suasana sangat ramai dan meriah saat itu dan pengunjung, tepatnya para turis, sangat antusias menyaksikan pertunjukan tersebut ……………
Gambar 3. Tumpukan keju Edam di tengah lapangan Pasar Keju (dengan latar belakang korps musik), tempat perdagangan keju Edam digelar …..
Pertunjukan proses tradisional perdagangan (jual-beli) keju Edam tersebut memperlihatkan bagaimana pada masa lalu proses perdagangan keju Edam dilakukan menggunakan kapal-kapal melintasi kanal yang membelah kota Edam dan kemudian keju-keju tersebut dibawa ke pasar keju Edam dengan menggunakan kereta kuda. Sayang sekali kami terlambat datang sehingga tidak dapat mengikuti bagian proses yang menarik tersebut. Hanya terlihat kereta kuda yang sedang diparkir di pinggir lapangan.
Bagian pertunjukan yang langsung kami saksikan adalah beberapa anak kecil dengan pakaian khas putih-putih, scarf merah, sabuk kain merah atau hijau seta mengenakan topi dan klompen Belanda berputar lapangan memamerkan bola-bola keju-keju Edam warna merah dan kuning, di dampingi seorang mevrouw Belanda berpakaian tradisional. Hal itu merupakan bagian dari proses promosi agar pengunjung pasar tertarik untuk membeli keju yang ditawarkan di pasar (lihat gambar 4).
Selain itu terlihat keju-keju yang telah tersusun rapi di atas gondola diangkut oleh dua orang pengangkut keju menuju tempat penimbangan untuk ditimbang. Para pengangkut keju menggunakan seragam putih dengan scarf merah bermotif dan mengenakan topi berpita merah, biru atau hijau.
Gambar 4. Pertunjukan seni jual keju Edam (anak kecil dengan kostum khusus berputar menawarkan keju Edam khas berbentuk bulat berwarna merah) didampingi seorang ibu perpakaian tradisional
Selanjutnya dalam pertunjukan tersebut penjual dan pembeli memperlihatkan satu bentuk komunikasi tradisional yang terlihat unik. Proses tawar nenawar dilaksanakan dengan dua bahasa, bahasa lisan dan bahasa tubuh (dalam hal ini tangan). Penjual dan pembeli terlihat melakukan tawar menawar langsung secara lisan (penjual menyebutkan harga penawaran dan pembeli memberikan respon) dan pada saat yang sama mereka saling menepuk tangan berkali-kali sampai terjadi kesepakatan harga atau deal antara kedua belah pihak. Begitu deal, mereka saling bersalaman dan aktivitas saling menepuk langsung berhenti (lihat gambar 5).
Untuk meyakinkan pembeli mengenai kualitas keju yang dijual, penjual tidak segan-segan mengambil contoh keju untuk dicicipi pembeli, dengan mengambil sample sekerat keju bagian dalam (lihat gambar 6).
Proses jual-beli keju di pasar Edam ini, selain memperlihatkan proses tradisional, sesungguhnya juga merupakan kegiatan perdagangan keju biasa. Kita dapat melihat penjual keju yang menjajakan dagangannya dengan menggunakan gerobak dorong yang memutari lapangan pasar dan menawarkan langsung ke pengunjung.
Jual-beli keju dalam jumlah besar dan eceran dilaksanakan di pasar keju Edam ini. Penjualan retail atau eceran lebih ditujukan untuk kebutuhan para turis.
Gambar 5. Prosesi tawar menawar harga keju antara penjual dan pembeli dengan menggunakan tepukan tangan dan bersalaman
Gambar 6. Penjual mengambil sekerat keju bagian dalam untuk dicicipi calon pembeli
Keju yang merupakan salah satu komoditas ekspor utama Belanda selalu memiliki sisi menarik untuk dilihat dan dinikmati. Kemasan menarik untuk turisme selalu dipertahankan dan bahkan segi historis-budaya dari prosesi penjualan keju Edam di Belanda Utara ini sangat menonjol dipertontonkan.
Gadis-gadis keju (kaas meisjes) yang muda cantik dengan pakaian tradisional dan tawa sumringahnya dalam melayani pengunjung telah menjadi daya tarik tersendiri. Ditambah paduan warna warni keju, kostum pemain musik, penjual dan pengangkut keju, dan bangunan berbata merah telah memberikan pesona tersendiri dari pertunjukan tersebut ……………
Bahkan dalam rangka menarik minat turis untuk datang dan menyaksikan proses jual beli keju di masa lalu yang masih dipertahankan sampai saat ini di kota kecil Edam, penyelenggara menyediakan seorang MC yang memberikan penjelasan seluruh aktivitas perdagangan keju yang terlihat di lapangan dalam beberapa bahasa, yaitu Belanda, Inggris, Perancis, Jerman dan kadang-kadang diselingi dengan bahasa Italia atau Spanyol. Bahasa Indonesia belum dipergunakan disini mengingat jumlah turis Indonesia yang datang ke pasar keju Edam ini tidak banyak (saat berkunjung kesana aku tidak melihat adanya orang Indonesia lainnya selain kami) …………
Pertunjukan proses tradisional perdagangan keju Edam ini memang dikemas dengan menarik, sesuai dengan tujuan utamanya meningkatkan program turisme secara berkesinambungan. Mereka berhasil membuat perpaduan unsur tradisional dan modern dalam kegiatan perdagangan keju di Edam khususnya dan Belanda umumya (karena ada beberapa kota lain yang juga menjadi penghasil keju) menjadi paket pertunjukan turisme yang sangat “menjual”.
Tradisional dan modern, kombinasi dua aspek yang selalu akan menimbulkan keindahan, keunikan, nostalgia dan romantisme telah dikemas sedemikian rupa menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk dapat dinikmati oleh kita semua……
Tujuan akhir pemerintah Belanda memang berhasil karena Pertunjukan Pasar Keju Edam ini dapat mendatangkan ribuan pengunjung Pasar Keju Edam setiap tahunnya ………………….
Gambar 7. Kaas meisje dengan pakaian khasnya sedang melayani pembeli keju
Puas menyaksikan pertunjukan keju, kami menyusuri kota kecil Edam yang dilintasi kanal dengan jembatan “buka-tutup” yang memungkinkan kapal-kapal kecil bisa lewat, terlihat rumah-rumah atau bangunan tradisionalnya yang menarik menuju pusat kota dengan stadhuis nya dan lapangan yang mungil namun tertata apik (dam plein).
Gambar 8. Kami bertiga (Ario, aku dan Nadya) berpose di depan jembatan “buka-tutup” yang sedang dibuka karena ada kapal yang akan lewat
Gambar 9. Salah satu rumah mungil penuh bunga warna warni
Gambar 10. Ario di tepi kanal Edam
Saat berkeliling dan melewati restaurants kecil yang menyebarkan aroma kopi dan gebak, tiba-tiba keinginan untuk makan kue apple-taart khas Belanda begitu menggebu dan kami segera mencari restaurant yang menyediakan apple taart tersebut.
Akhirnya di sudut jalan kami menemukan sebuah restaurant yang cukup nyaman namun masih terlihat sepi. Pada saat kami dekati, seorang wanita pekerja restaurant dengan kostum celana pendek, T shirt dan tangan memegang rokok sedang membersihkan seluruh meja dan kursi. Wanita itu mempersilakan kami masuk dan mencari tempat duduk serta memesan kopi dan kue-kue. Tampaknya restaurant belum sepenuhnya buka, maklum masih pagi belum tengah hari apalagi cuaca mendung, namun kopi dan kue-kue telah tersedia.
Lega rasanya bisa mencicipi kembali kelezatan apple-taart Belanda di suatu kota kecil bernuansa pedesaan yang indah, nyaman dan tenang, bernama Edam ………….
Gambar 11. Mbak Nunuk, aku dan Nadya sedang menunggu datangnya apple taart dan kopi
Gambar 12. Nadya sedang bermain alat pasung, hi ………… serem membayang-kan bagaimana alat ini bekerja pada jaman dahulu …….
Selesai menikmati kopi dan gebak, kami kembali ke mobil dan sesuai rencana akan meneruskan perjalanan ke Groningen. Namun sayang sekali rencana tersebut tidak kesampaian karena mobil mbak Nunuk tiba-tiba bermasalah di tengah jalan dan harus masuk bengkel ………. Akhirnya kami kembali ke Heerhugowaard dengan menumpang truk pengangkut mobil dari bengkel …………………………………….
Pengalaman yang mengesankan bagi kami bertiga ……….. dan terima kasih untuk mbak Nunuk yang telah membuat kami memiliki satu memori indah tentang Belanda ……………
Catatan :
Terima kasih juga utuk mbak Nunuk yang telah memperkenalkan aku dengan komunitas Baltyra yang sangat menarik, penuh kreativitas dan inspiratief ………………………….
16 Juni 2012
Note Redaksi:
Selamat datang dan selamat bergabung untuk mbak Yani Utomo! Make yourself at home ya…dan ditunggu artikel-artikel berikutnya. Matur nuwun kepada bu Nunuk yang sudah mengenalkan Baltyra ke mbak Yani…
June 21st, 2012 at 20:22
Mbak Nu2k, ditunggu ya recept kaasstengelsnya …… dan kapan2 mau njajal keju smoke Gouda yang kata mbak Lani uenaak tenan ……..
Mas JC, meskipun tidak sempat ke Edam tetapi kota2 yang dikunjungi merupakan kota2 tua yang cantik ……