Belajar Melayani

Angela Januarti Kwee

 

Ketika aku punya kesempatan untuk berkunjung dan mengikuti acaranya. Aku diajak berkumpul bersama dan mengenal keluarga besarnya. Sudah sekian tahun saling mengenal, aku belum punya kesempatan untuk bertemu mereka. Sudah saatnya aku mengenal keluarga abangku ini, pikirku.

Pertama kali datang, aku dikenalkan dengan beberapa keponakan dan abangnya. Ketika sedang berbincang, keponakannya mendapatkan tugas untuk menyusun kenang-kenangan yang akan dibagikan dalam acara pentahbisannya. Aku yang masih bingung mau melakukan apa, mengambil inisiatif untuk membantu mereka. Seraya menyusun kami berbincang, bagiku ini hal yang menarik karena kami mulai bisa mengakrabkan diri.

Menjelang malam, keluarga besarnya mulai berkumpul. Terlebih ada beberapa tamu yang ikut menginap di tempat yang sama denganku. Orang rumah terlihat sibuk menyiapkan segala sesuatu. Biasanya dalam situasi begini aku paling senang mengambil bagian untuk bantu-bantu. Aku menuju dapur, mencari hal yang bisa kukerjakan sembari mulai mengakrabkan diri dengan keluarga besarnya.

Semuanya mengalir saja, akhirnya aku mulai akrab dengan mereka. Ternyata hal sederhana yang bisa kulakukan dengan membantu melakukan hal kecil memberikan manfaat yang besar.

*

Pada waktu makan siang setelah acara di kampung, seorang abang yang sudah kukenal berkata padaku: “Sibuk bantu-bantu dia,” ucapnya. Dengan candaan aku menjawab: “Aku datang bukan untuk dilayani, tapi melayani.” Kami pun tertawa.

Keesokan harinya; yang merupakan hari untuk beristirahat sebelum melajutkan acara berikutnya. Ia mengajak aku, kakak ipar dan keponakannya untuk berkunjung ke rumah seorang kakek yang sangat dekat dengan keluarga besarnya. Kakek itu tengah sakit parah, beliau terserang penyakit kanker kulit.

Kami berjalan kaki sekitar lima menit dan menuju salah satu rumah panjang. Perlahan kami masuk ke rumah dan mendapati kakek tersebut terbaring lemah. Abangku mulai mempersiapkan perlengkapan untuk berdoa dan memberi berkat dengan air kudus.

Hari berikutnya, aku memilih bersantai di tepi sungai seraya menunggu fajar dan melihat sinar mentari pagi. Aku mendengarkan musik dan bernyanyi. Saat tengah asyik menikmati suasana tersebut, seorang bapak melewati tempatku duduk. Aku menyapa dan bapak itu memberitahuku kakek yang kami jenguk kemarin sore telah meninggal dunia.

Tidak lama kemudian, seorang abang datang menghampiriku. Aku bertanya ia dari mana dan ia berkata baru datang dari rumah duka. Sejak subuh ia diberitahu dan segera pergi ke sana untuk membantu mereka mempersiapkan segala sesuatu.

Saat mereka akan melayat, aku diajak untuk ikut serta. Kami berbincang dalam perjalanan dan mereka menceritakan tentang perjuangan kakek tersebut selama hidupnya. Ketika sampai, aku melihat semua orang tengah sibuk menyiapkan keperluan untuk pemakaman. Kami duduk dekat kakek tersebut dibaringkan, aku memandangi wajahnya yang meninggal dalam damai. Abangku memimpin doa bersama di rumah duka. Ada rasa gembira melihatnya melakukan pelayanan di sela acara yang cukup padat.

Keesokan hari kami melanjutkan perjalanan untuk misa perdananya. Ini menjadi pertualangan terakhir sebelum aku kembali ke tempat tugas. Kami disambut meriah oleh masyarakat di sana dengan acara dan tarian adat. Semua orang terlihat kompak untuk menjadikan acara ini berjalan lancar.

Malam hari aku diajak untuk membantu merangkai bunga untuk dekorasi di gereja. Terlihat anggota koor juga sibuk latihan untuk misa esok hari. Mereka sungguh luar biasa, yang kulihat koor di tiga tempat yang berbeda sangat indah. Mereka mempersiapkan semua berbulan-bulan yang lalu. Patut diacungkan jempol.

Misa berlangsung tiga jam bersama para umat di sana. Antusias umat sangat terlihat, bagiku ini menjadi salah satu pengalaman yang juga berkesan. Sebelum aku berangkat menuju Putussibau dan kembali ke Sintang. Abang memberitahuku ia akan tinggal tiga hari di kampungnya dan memimpin misa requiem untuk kakek yang meninggal hingga acara penguburan.

Pengalaman yang sederhana, tapi bagiku memiliki kesan mendalam. Tiap orang yang kujumpai selama seminggu ini memberiku pelajaran tentang melayani tanpa pamrih. Terlebih abangku yang satu ini. Sejak aku mengenalnya, ia selalu mengajari banyak hal sederhana. Ketika ia memantapkan diri dalam panggilan imamatnya untuk melayani Tuhan, para umat, sesama dan harus meninggalkan keluarga besar yang sangat mencintainya. Aku kembali belajar dari pribadinya.

Sintang, 19 Juni 2012

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

12 Comments to "Belajar Melayani"

  1. Mas Tok  24 June, 2012 at 01:50

    ” melayani ” membutuhkan kekuatan yang dahsyat.. bukan hanya fisik belaka tapi mejalankan Pelayanan yang benar2 Ikhlas, Tulus..dari massa ke masa kekuatan pelayanan merubah perilaku untuk terus bersyukur……

  2. Lani  22 June, 2012 at 03:01

    artikel sederhana akan ttp mengandung makna yg dalam……..mmg begitulah adanya didlm hidup saling melayani satu sama yg lainnya…….wlu kdg lbh terkesan minta dilayani…..drpd melayani………

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.