Menerbitkan Indie: Petualangan Tersendiri (1)

Endah Raharjo

 

Sejak awal saya tekankan, tulisan ini bukan mengulas – apalagi membandingkan – penerbitan konvensional vs. penerbitan indie.  Tulisan ini merupakan sharing pengalaman pribadi, agar teman-teman yang berniat menerbitkan buku lewat jalur indie punya gambaran lebih jelas tentang berbagai hal yang harus dipersiapkan dan akan dihadapi.

Ijinkan saya mengawali dengan sedikit menjelaskan tentang ‘indie’. Merujuk pada buku karya Kaya Oakes ‘Slanted and Enchanted – the Evolution of Indie Culture’, indie dimaknai sebagai: membuat sesuatu secara mandiri, terlepas akan mendatangkan uang atau tidak, dengan menitikberatkan pada nilainya yang bakal hilang bila sesuatu itu hanya merupakan kopian dari kopian dari kopian. Masih dalam satu paragraf, disebutkan pula bahwa indie bermakna perlawanan, risiko, keuletan, inovasi, dan penolakan terhadap konvensi; lalu ada pula kalimat ini: indie senantiasa menghargai kolaborasi dan networking, berbagi sumberdaya betapapun langkanya.

Pastinya ada makna indie lain yang dirumuskan oleh orang lain. Namun tulisan ini bukan membahas indie. Ini seputar pengalaman saya…. Halaaah… udah… segera saja di-share pengalamannya!

Baiklah.

Selama setahun ini, berawal April 2011, saya bersama teman-teman di komunitas Kampung Fiksi telah menerbitkan 5 buku lewat jalur indie: 4 kumpulan cerpen dan 1 novel. Semua buku terbit indie dan masing-masing punya kisah sendiri, yang tentunya tidak sama. Satu persatu kisah itu akan saya paparkan secara terbuka, sampai ke angka-angkanya…

Kisah pertama

Syahdan Kampung Fiksi sepakat menerbitkan kumpulan cerpen berjudul ‘24 – Senarai Kisah dari Kampung Fiksi’. Ini karya perdana kami. Prosesnya kalau diceritakan semua – termasuk rangkaian meeting lewat grup Facebook – bisa jadi buku sendiri. Makanya saya hanya akan cerita proses produksinya saja.

Naskah

Setiap penulis – ada 8 orang termasuk saya – menulis 3 cerita pendek. Naskah ini dikumpulkan jadi satu, disusun dengan rapi dalam format A-4. Masing-masing penulis berkewajiban mengedit sendiri tulisannya. Meskipun begitu, kami juga saling membantu. Naskah yang sudah rapi kami kirimkan pada teman yang bersedia membantu layout-nya.

 

Cover dan Layout

Teman kami mematok tarif Rp 500.000 untuk disain cover dan layout naskah. Ini jelas tarif pertemanan, kalau bukan teman pasti lebih mahal (tergantung keahlian dan pengalamannya). Naskah di-layout dalam format sesuai keinginan: ukuran buku, jenis font, ukuran font, spasi, dll. Disain cover dirancang sesuai keinginan. Proses layout dan disain cover ini melalui beberapa kali konsultasi. Hasil layout dan disain cover ini disimpan dalam format PDF, agar mudah dikirim lewat email untuk keperluan konsultasi.

Makin rewel penulisnya, pasti makin lama prosesnya. Untungnya kami ini sekumpulan perempuan manis – semua-muanya, jasmani dan rohani…. haiiissyy!!! Di tulisan ini saya tayangkan foto kami ketika kumpul bareng di Jakarta, bukan untuk nulis, tapi untuk hura-hura…

Oh, ya… supaya hasilnya prima, kapasitas disain cover minimal 300 dpi. Jangan lupa ya: 300 dpi.


Cetak Dummy

Begitu puas dengan hasil disain cover dan layout, teman kami yang sungguh budiman itu membuat dummy: mencetak 1 contoh buku agar hasilnya bisa disepakati atau perlu perbaikan lagi. Dummy cukup dicetak dengan fotokopi, pastinya pilih tempat fotokopi yang besar, yang punya mesin cetak warna, pokoknya jangan yang ecek-ecek…. Tinggal bilang kalau akan menyetak buku dummy, petugas fotokopi pasti paham (kecuali kalau apes, ketemu petugas yang baru hari itu masuk kerja).

 

Cetak

Sebelumnya, saya dan sang teman baik itu – sungguh saya ingiiiin menyebut namanya, tapi pasti beliau tidak suka – mencari informasi biaya cetak di beberapa percetakan. Dimana? Di Jogja. Percetakan apa? Kalau ingin tahu bisa kirim PM di FB yaaa…

Ada beberapa teknik cetak, di antaranya offset, stensil, POD, dan mungkin masih ada lainnya, saya kurang tahu. Offset adalah mencetak dengan mesin (entah apa namanya) dalam jumlah banyak, minimal 300 eksemplar (eksp). POD adalah kependekan dari ‘print on demand’, ini mencetak dengan mesin semacam printer raksasa yang harganya mahaaalll sekali… Bedanya apa, hayooo? Menurut manajer percetakan, ini cuma perkara efisiensi biaya saja. Beneran! Soal kualitas, tetap sama, asal kertas dan tintanya juga sama. Kalau mau nyetak banyak, di atas 300 eksp, sebaiknya pakai offset, lebih ekonomis. Kalau nyetak di bawah 300 eksp, pakai cara POD. Baca terus, saya akan cerita semua…!

Ini dia informasi biaya cetaknya (harga sesuai informasi bulan April 2011):

Ukuran buku kumpulan cerpen ‘24’ : A-5

Jumlah halaman: 170

Isi: kertas HVS 70, hitam/putih

Cover: art paper, full color, dengan laminasi doff (lebih mahal daripada glossy)

Biaya cetak POD: Rp 26.000 per eksp. Kalau mau menyetak 1 atau 5 atau 10 atau 20 atau100 eksp, biayanya tinggal dikalikan saja.

 

Kalau cetak offset (sebaiknya minimal 300 eksp agar efisien, kalau kurang dari itu lebih baik POD) dengan kualitas, ukuran dan jumlah halaman seperti di atas biayanya jauh lebih murah:

300 eksp: per eksp Rp 17.200

500 eksp: per eksp Rp 12.750

1000 eksp: per eksp Rp 9.750

Kelebihan POD dibandingkan offset adalah pada batas minimal eksemplar: kalau POD bisa menyetak hanya 1 eksemplar; kalau offset sebaiknya minimal 300 eksemplar. Mengapa? Untuk offset ini sebelum menyetak perlu dibuat mal atau master; biaya pembuatannya itu mahal, kalau hanya menyetak sedikit jadi tidak cucok.

Tarif-tarif itu kabarnya masih bisa ditawar, tentunya langsung dengan manajernya, bukan lewat saya! Mohon dicatat ya, saudari-saudara pembaca Baltyra, tarif itu saya dapat tahun lalu. Setahu saya mulai Maret 2012 harga kertas dan tinta naik. Untuk urusan harga ini, ada baiknya langsung dengan manajer. Sekarang ini di tiap sudut jalan – di Jogja – ada percetakan, pasti kompetisi jadi ketat.

Oke! Mari kita lanjutkan. Buku kumpulan cerpen itu kami jual langsung, artinya pembeli membeli pada kami, Kampung Fiksi. Harga kami patok Rp 45.000 per buku (ada yang mau beli? Assyik lhooo… sumpah pocong ini, nyaingi Marzuki Ali!).

Jadi kami untung: Rp 45.000 – Rp 26.000 = Rp 19.000 per 1 eskp. Keuntungan ini semua milik kami. Cukup banyak untuk harga buku sebesar itu. Mengapa? Karena kami tidak memakai jasa distributor. Tapi… yaaa… ada tapinya…! Kami harus promosi, ngirim sana-sini, nyatet ini-itu… yaaa seperti pedagang umumnya itu.

Kalau pakai ukuran dagang jelas-jelas bukan untung uang yang kami peroleh. Misalnya saja laku 100 eksp, keuntungan kotor hanya Rp 1.900.000. Kami membayar jasa layout dan disain cover sebesar Rp 500.000, keuntungan menyusut, tinggal Rp 1.400.000. Kalau baru terjual 100 eksp memang belum ada untungnya. Angka itu sangat kecil dibanding kerja kerasnya (menulis, berkali-kali meeting online harus bayar biaya koneksi internet karena kami tinggal di 4 kota yang berbeda, menerbitkan, plus pakai berantem segala…).

Tapi… itulah asyiknya indie…

Berikutnya akan saya ceritakan proses dan biaya terbit kumpulan cerpen kedua. Tapi…. sabar yaaa…. Soalnya JC sudah mrengut dari tadi, kasih aba-aba supaya tulisan saya sementara berhenti di sini…

Bersambung…

 

23 Comments to "Menerbitkan Indie: Petualangan Tersendiri (1)"

  1. Endah Raharjo  4 July, 2012 at 16:41

    Mas Yayok: iya, KF memang semua perempuan tp untuk jd sahabat KF siapa aja bisa, tak pandang jenis kelamin ato orientasi seksual

    Mas Iwan: heheheee… ditweet link-nya aja bisa nggak?
    Mas Odi: kabar baik, sampai ketemu Jumat yaaa…

  2. Odi Shalahuddin  23 June, 2012 at 20:02

    Menyimak.. belajar dari Mbak Endah..
    Gimana kabarnya, Mbak?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.