Premortem – Puzzle yang Tak Kunjung Tersusun

Elnino & Handoko Widagdo

 

Judul: PREMORTEM

Penulis: J. Angin

Tahun Terbit: 2012

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 137

 

By Elnino:

Gara-gara foto seorang teman yang sedang pamer buku bercover putih bergambar hitam dan merah, terpampang di halaman jejaring sosialnya, hati jadi tergelitik untuk bisa mendapatkannya. Pucuk dicinta ulam tiba, si penulis menawarkan untuk mengirimkan buku tersebut. Saya cukup mengirim alamat saja.

Rejeki memang tidak ke mana, hehe… Tapi, tunggu dulu, sebagai imbal balik, saya harus menuliskan review atas buku tersebut. Watawww! Review? Seumur hidup, seingat saya, saya belum pernah menulis soal review atau resensi mengenai apa pun. Bagaimana cara menulis review pun tak pernah saya ketahui. Jadi, bagaimana? Baiklah, saya rasa tak ada salahnya mencoba. Apa pun hasilnya…hehe…

PREMORTEM. Begitulah judul buku putih karangan J. Angin ini. Menggelitik. Apa sih, artinya? Sakratul maut, kata seorang teman. Fiuuuh…. Apakah buku ini bakal berisi hal-hal seputar bagaimana menghadapi kematian? Mari kita lihat.

Ada setidaknya 3 hal unik, yang saya temui di Premortem. Pertama, halaman katalog yang berisi judul buku, nama pengarang, nama editor, penerbit, cetakan ke berapa, No. ISBN dll. diletakkan di lembar paling belakang buku. Di mana lazimnya, lembar itu ada di bagian depan sebuah buku. (Pentingkah ini? Saya tidak tahu. Bisa jadi itu merupakan kesengajaan, demi keunikan buku ini. Who knows?). Meskipun sepertinya saya pernah melihat ada satu dua buku yang ber’model’ sama.

Kedua, buku ini tidak memiliki daftar isi. Jadi kita tidak  bisa memilih, mana judul yang paling menarik yang akan kita baca lebih dulu. Itu kebiasaan saya. Jarang sekali saya membaca runtut dari depan ke belakang. Kebiasaan yang aneh… Tapi saya kira, pembaca nanti akan mengerti mengapa daftar isi tidak penting lagi keberadaannya, hihi…

Ketiga, tidak ada percakapan atau dialog langsung dalam cerita di buku ini. Semuanya menggunakan gaya penuturan ulang. Mula-mula tidak terbiasa membacanya, tapi percayalah, lama-lama bisa diikuti, kok.

Membaca Premortem bisa diibaratkan memasuki sebuah rumah dengan seribu pintu. Setiap pintu akan mengantarkan kita pada sebuah cerita tersendiri. Atau bisa juga disamakan dengan percobaan menyusun puzzle dari sekian banyak bentuk yang terserak. Ada 2 alur cerita utama yang bisa saya tangkap di sini (tidak yakin juga :p). Cerita soal pergulatan batin bapak si Bagus yang risau karena badan anaknya itu ditumbuhi bulu-bulu panjang mirip monyet. Tentang perjuangannya membesarkan dan melindungi si Bagus, yang bahkan tidak diakui oleh ibu kandungnya sendiri. Mulai dari numpang tinggal di sebuah ruangan masjid dan hidup dari belas kasihan warga sekitar, hingga berhasil memiliki gerobak dan kemudian toko sendiri, dan harus berakhir dengan nasibnya yang jadi gila. Entahlah. Mungkin karena tidak mampu bersaing dengan supermarket yang dibangun di seberang tokonya.

Alur kedua, adalah cerita mengenai tokoh ‘aku’, yang menikah dengan Abang dan memiliki kakak: mas Darwin, mbak Norma, dan mempunyai adik bernama Nissa dan Dama. Keluarga ini sering berkumpul bersama, dengan tambahan kehadiran anggota baru hampir di setiap tahunnya. Termasuk kemudian, kehadiran Jenny anak Nissa, yang setelah menikah kemudian tinggal di Amerika. Kerancuan mulai terjadi ketika di cerita berikutnya, tokoh ‘aku’ mengunjungi Jenny yang sakit kanker. Di situ diceritakan, ‘aku’ belum pernah bertemu Jenny sebelumnya. Waks! Rupanya saya telah tersesat…

Buku ini menuntut kemahiran pembacanya mencari kunci untuk membuka pintu berikutnya agar bisa lolos ke pintu keluar. Jika tidak, selamat berputar-putar di dalamnya sampai berkeringat dingin, hahaha… Dan seumpama menyusun puzzle, potongan yang kita kira merupakan penggenap bentuk yang sudah ada, ternyata tidak klop ketika kita letakkan di ruang kosong yang ada. Sungguh sulit menerka, bagaimana ustad Adil di bagian depan, muncul sebagai Romo Adil di bagian belakang. Mungkinkah mereka tokoh yang sama? Atau sama sekali berbeda, hanya namanya yang kebetulan sama? Apa hubungan kisah tentang sepotong adegan dalam peperangan dengan perampokan toko emas yang menewaskan perampoknya? Apa hubungan Bagus yang berbulu seperti monyet dengan Bagus yang anak orang kaya tinggal di luar negeri?

Entah saya yang kurang cerdas atau bagaimana, sampai buku habis dibaca dan diulang-ulang beberapa bagiannya, tidak kunjung saya temukan kunci untuk membuka pintu keluarnya. Teman (yang pamer buku tadi), yang katanya sudah tamat membaca dua kali pun, berakhir sama. Mungkinkah perlu berguru dulu pada seorang ahli membaca pikiran? Atau bisa jadi, itulah yang diinginkan penulisnya? Tak hendak memberi petunjuk, di mana kunci itu dia sembunyikan? Garuk-garuk kepala…

Jadi, buat mereka yang suka memecahkan teka-teki, mungkin buku ini bisa jadi salah satu alternatif untuk menjajal kemampuan anda. Dengan catatan, kalau nanti akhirnya tersesat, jangan emosi, terus kepengen nggetok kepala penulisnya ya… Seperti saya juga, hahaha…

 

By Handoko Widagdo:

Bagaimana kalau hidup adalah sekedar menunggu mati? Waktu-waktu yang kita jalani adalah premortem – pra kematian? Masih adakah yang bisa dilakukan? Masih adakah yang menantang? Masih adakah yang perlu diperjuangkan?

Novel J Angin ini memang lain dari galipnya sebuah novel. Jika novel pada umumnya mempunyai bangunan cerita dengan awal dan akhir, novel ini ’hanya’ merupakan potongan-potongan cerita orang-orang yang tak saling berhubungan. Potongan-potongan kisah di waktu dan tempat yang berbeda. Bahkan tokoh, waktu dan tempat menjadi tak berharga.

Bagaimana anda akan menghubungkan cerita seorang yang harus memecat seorang staf yang tak pernah tersenyum dengan cerita tentang perempuan yang pertama kali mendapat haid? Apa hubungan antara seorang yang terjebak dalam sebuah rumah di tengah peperangan dengan seorang pemuda yang pergi ke toko perhiasan untuk membeli cincin hadiah bagi calon istrinya? Apa pula hubungan sebuah keluarga yang secara rutin menyelenggarakan makan malam saat tahun baru dengan seorang yang membeli sebuah rumah makan? Dan masih banyak cerita lain yang semuanya tidak saling berhubungan.

Namun disinilah sebenarnya kekuatan novel ini. Novel ini lebih ’sadis’ dari cerita detektif yang merangsang pikiran anda dengan labirin kejadian-kejadian. Jika dalam cerita detektif pada akhirnya anda akan sampai kepada kesimpulan logis dari semua potongan kejadian, jangan harap anda akan menemukannya dalam novel ini.

Anda harus menggunakan pikiran, imajinasi, pengetahuan dan bahkan iman untuk mencari benang merah dari semua cerita. Secara cantik J Angin menyembunyikan kesimpulan dari isi novel. Karena – seperti disampaikan di halaman belakang kulit buku, Andalah yang harus membuat kesimpulan tersebut. Tapi jangan membuat kesimpulan bahwa hubungan semua tokoh, kejadian dan waktu adalah hanya sekedar menunggu mati – PREMORTEM. Karena kalau itu kesimpulan anda, anda adalah seorang yang menunggu ajal saja.

 

48 Comments to "Premortem – Puzzle yang Tak Kunjung Tersusun"

  1. Handoko Widagdo  24 June, 2012 at 18:57

    Ya udah nanti maharnya seperangkat alat mandi

  2. elnino  23 June, 2012 at 06:04

    Makasih sudah mampir, om Dj.. Betul apa yg om Dj katakan, mengisi waktu antrian dg sebaik2nya supaya tidak ada penyesalan nantinya.
    Salam manis.

  3. elnino  23 June, 2012 at 06:00

    Lani, hahaha…moco buku sedia balsem, puyer bintang 7? Betul juga ya, mungkin kalo minum puyer bintang 7, puyengnya bisa hilang terus jadi mudeng
    Memang diperlukan imajinasi yg canggih untuk bisa menangkap pesan buku ini.

  4. Dj.  23 June, 2012 at 01:17

    Mbak Elnino dan mas Handoko…
    Maturv Nuwun…!!!
    Lha memang hidup menunggu mati, istilahnya kan kita ini sedang antri.
    Tapi gunakanlah waktu yang ada, selama dalam antrian sebaik-baiknya ( untuk berbuat baik )
    Jangan sia-siakan waktu yang masih ada.
    Salam manis dari Mainz….

  5. Lani  23 June, 2012 at 00:42

    EL-NANO-NANO, HAND : waaaaaaw! Jd ini resensi buku pertama buatmu? Moco resensinya ora mudenk…….opo meneh moco bukune langsung, kudu sedia balsam, obat puyer bintang 7 hahaha…….klu menurutku dr resensimu ini, critanya sepotong2 krn ant satu dan lainnya tdk ada hubungannya blasssss……..
    Buat Hand, bener yg kau katakan baca buku ini spt muter2 di labirin……berkelak-kelok, klu salah masuk malah semakin keblasuk…….bener2 bkn kemringet bacanya……ditambah cenut2 kepala………

  6. Dewi Aichi  22 June, 2012 at 19:45

    Ha ha ha ha ha

  7. elnino  22 June, 2012 at 19:38

    Wik, resensi lagi? Boleh, siapa takut? *ngelap keringat

  8. elnino  22 June, 2012 at 19:34

    Pak Han, bukan gadis Pariaman, tapi gadis Sleman. Jadi maharnya masih utang ya…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.