Friday, 22 June 2012
Kang Putu
BESOK, Sabtu, 30 September 2006, empat puluh satu tahun sudah lembaran hitam kelam dalam sejarah negeri ini -– yang populer disebut sebagai Gerakan 30 September, G30S, atau Gestapu — berlalu. Lusa, Minggu, 1 Oktober 2006, empat puluh satu tahun pula lembaran yang sama – yang oleh kalangan lain disebut Gerakan 1 Oktober atau Gestok – tertutup debu.
Namun, sesungguhnya lembaran kelam itu belum benar-benar terbuncang dari ingatan. Bahkan, mungkin, tak bakal terhapus, terutama dari ingatan pelaku dan korban pembantaian massif rezim militer Jenderal Besar (Purnawirawan) Soeharto. Masih ada luka yang terus nganga. Masih ada darah yang terus membarah. Bacin, mengerak di dasar hati, merujit jiwa. Ada perih yang terus nyeri. Tak hilang-hilang, tak lekang tergerus zaman.
Memang sejarah “resmi” mengenai peristiwa yang diindoktrinasikan sebagai Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) itu sudah direvisi, meski tak rampung-rampung. Pula, film Penumpasan Pengkhianatan G30S-PKI produksi PPFN (1984) yang didaku sebagai karya besar sutradara Arifin C Noor tak lagi diputar sebagai ritual wajib tahunan. Dan, film-film (semi)dokumenter semacam Mass Grave Indonesia (2001) besutan sutradara Lexy Junior Rambadeta bisa “bergerilya” dari suatu ruang privat ke ruang privat lain, meski masih amat terbatas.
Yang lebih “bebas” beredar adalah berbagai buku, baik dari perspektif pelaku maupun perspektif korban, baik berupa memoar, kesaksian, his-story (bukan hi
Itulah langkah awal untuk memandang masa lalu secara adil dan jantan. Itulah fondasi lebih kukuh untuk menata masa depan. Masa depan yang menghargai keberbedaan, tanpa dendam, tanpa hasrat saling meniadakan.
“Apalagi yang kautuntut dari mereka? Mengembalikan Bapak, atau siapa pun, yang telah berkalang tanah, entah rela atau tidak, entah bersalah atau tidak?” sergah Ita, istri saya, ketika membaca draf tulisan ini. “Tak kunjung mampukah kau berdamai dengan masa lalu, melupakan keperihan itu, dan memaafkan siapa pun yang perlu kaumaafkan?”
“Siapa yang kau maksud dengan mereka? Jika anak-anak muda itu yang kau maksud, sungguh kau keliru. Mereka, tanpa setahu dan tanpa keinginan sendiri, menjadi ahli waris kekeliruan generasi sebelumnya, yang tak bersih dari keterlibatan dalam pembantaian. Namun, langkah konkret mereka dalam gerakan arus bawah untuk melakukan rekonsiliasi tak bisa kita nafikan begitu saja. Tak bisa kita anggap tak pernah ada dan tak berhasil guna. Bukan, bukan pada mereka tuntutan itu, jika memang ada, mesti diarahkan bukan?” sahut saya.
“Lalu kepada siapa? Pemerintah? Pemerintahan siapa? Soeharto, Habibie, Gus Dur, Mega? Atau, rezim Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla sekarang ini? Apa pula yang hendak kautuntut?”
Ya, ya, apa yang hendak saya lakukan? Berseru-seru kepada siapa pun, ke mata batin kemanusiaan, ke seluruh sudut dunia, bahwa saya cuma satu dari sekian banyak anak manusia di negeri ini yang tak kunjung memperoleh kepastian tentang nasib orang tua saya? Ya, jika Bapak hilang, kenapa tak pernah kembali? Jika mati, terbunuh, di mana pula jasadnya dikuburkan?
Dan stigma itu, cap hitam sebagai anak-anak eksponen Gestapu yang tak pernah terhapus dari jidat itu, serta segala implikasinya, siapa pula yang peduli dan berhak membuangnya? Lalu, dengan lapang dada segera merehabilitasi, syukur-syukur memberikan ganti rugi?
Jika benar itu bisa dijadikan tuntutan, apakah bukan suatu kemewahan belaka? Alih-alih peristiwa yang hampir setengah abad berlalu, sedangkan kasus Udin di Yogya pun tak pernah bisa jelas tersingkap? Dan Wiji Thukul, di mana pula kini dia berada? Siapa pula berani mendada dengan gagah dan bilang, “Ya, akulah yang membunuhnya. Akulah yang mengubur dia!” Juga korban penyerbuan pada 27 Juli 1996, Munir, dan masih banyak lagi anak negeri di berbagai sudut ribuan kepulauan ini yang belum lama benar terpenggal hak hidup mereka, siapa pula berani secara jantan mengakui telah membunuh mereka?
Begitu gampang nyawa melayang di negeri ini. Negeri yang senantiasa berkabut (sejarah) pembunuhan demi pembunuhan. Dan, wahai, Istriku, masih mampukah kita berucap, “Mati satu tumbuh seribu. Satu hilang, seribu terbilang?”
Perkara nyawa, Ita, bukan sekadar angka statistik. Di balik kematian seseorang, apalagi kematian akibat pembunuhan berlatar politik, ada sekian banyak kisah, ada sekian banyak resah. Jadi, kenapa kesadaran betapa berharga nyawa manusia tak kunjung menyemai di sanubari kita? Tengoklah, masih terus berlangsung penculikan demi penculikan, pembunuhan demi pembunuhan, lewat amuk massa atau “kerusuhan” di berbagai sudut negeri ini.
“Ah, jujur saja, sebagaimana setiap kali kaurasakan selama berpuluh-puluh tahun ini, sebenarnya kau cuma iri melihat orang berbondong-bondong nyadran
Kalaupun iya, salahkah saya? Kelirukah saya, jika beranggapan bahwa semua sudut negeri ini sesungguh benar adalah pekuburan Bapak, pekuburan orang-orang yang hilang dan dihilangkan secara paksa, pekuburan orang-orang yang dibunuh tanpa pernah diadili secara jujur, adil, dan terbuka? Tanah yang senantiasa bersimbah darah, tanah yang terus-menerus memerah?
Voice of Human Rights News, http://www.vhrmedia.com, Jumat, 29 September 2006
June 24th, 2012 at 01:34
Banjir besar dan kali Bengawan Solo jadi saksi sejarah..
June 22nd, 2012 at 18:50
Satu desa di wilayah Sleman juga menjadi korban, satu desa full……semua warganya …..menyedihkan sekali. Terima kasih Kang Putu…..nanti kita ngopi ngopi yaaaaa….
June 22nd, 2012 at 14:11
Waduuuhhh…ini salah satu bagian terkelam bangsa ini…
June 22nd, 2012 at 13:16
Waduh..trauma saya kalau membaca kisah geger gestok… saya bagian dari kisah ini. Mengerikan.
June 22nd, 2012 at 12:42
Terima kasih Kang Putu. Grobogan juga menjadi korban yang hebat saat itu.
June 22nd, 2012 at 11:10
SATOE Edan-edanan