Kolam, Royal-jedhing dan Pemukiman

Fire – Yogyakarta

 

Libur tlah tiba … hore.. hore.. hore…

Masa liburan menjelang. Berikut adalah salah satu tempat tujuan yang jarang terlewatkan bagi para wisatawan yang berkunjung ke kota ini.

Silakan membaca denah lokasi tersebut, tetapi bila pengin santai ketimbang mengingat-ingat mesti ke arah mana, bisa menggunakan jasa sejumlah guide yang terlihat setelah kita masuk. Bila melihat rombongan mereka akan mulai menawarkan jasanya. Bagi yang pertama kali kesini mungkin akan kebingungan dengan letak tempat yang terpencar dan sudah berbaur dengan pemukiman penduduk, sehingga disarankan menggunakan jasa guide. Sebaiknya membuat kesepakatan dulu tempat mana saja yang akan dipandu dengan tarif tersebut (sekitar 10-20 ribu rupiah nego), karena tempatnya terpisah.

Jangan lupa membeli karcis masuk, seharga tiga ribu rupiah. Sedang bagi wisatawan mancanegara seharga tujuh ribu rupiah. Percayalah, itu semua jauh lebih murah dibandingkan berbagai rahasia yang terkuak di dalamnya.
Ssttt…yang mbawa TOA itu kayaknya seorang pimpinan rombongan. “Perhatian-perhatian, bagi rombongan ibu-ibu Dharma Wanita dari Kona, harap berkumpul di depan gerbang …”

Maksud kata “tepas” di atas bukan alat dari anyaman bambu untuk mengipasi sate, “tepas kaprajuritan” bisa diartikan “biro keprajuritan”

Taman yang asri sudah menanti kedatangan kita. Bersiaplah untuk pesona keindahan, rahasia, dan nuansa magis. Konon dahulu, para putri sehabis mandi akan menikmati taman ini. Apa mungkin ya sambil maen gobaksodor atau betengan …? Maulah daku menjadi betengnya …
Bila ada produser Bollywood melihat jajaran pot besar ini, mungkin yang bakal terbayang adegan khas ‘kejarlah-daku-kau-kutangkap’ antara Aishwarya Rai dengan Shahrukh Khan mengelilingi pot-pot.

Dari foto ini terlihat jika di seberang tembok taman sudah merupakan rumah pemukiman penduduk.

Gemericik air yang menenteramkan hati menyambut kita. Lapang. Lengang. Tenang. Eh, tenang? Tergantung. Pada hari Minggu atau liburan, pengunjung akan lebih padat. Jadi yang gemar membuat foto narsis, mesti lebih sabar menunggu pengunjung yang lewat. Area sekitar sini adalah salah satu favorit untuk foto pre-wedding (perlu biaya tersendiri untuk izin membuat foto pre-wedding). Tentu saja perlu memilih waktu yang sepi di luar Sabtu-Minggu atau hari libur biar nggak keganggu dengan yang terlihat sliwar-sliwer, kalo yang sliwar-sliwer tapi nggak terlihat sih nggak masalah… (asal nggak ikut nebeng pulang aja)

Peribahasa bilang, air tenang menghanyutkan. Yah, memandangi ketenangan air di sini memang menghanyutkan, meski ada rombongan anak-anak remaja cekikikan, dan suara seorang guide muda memberi penjelasan dalam bahasa Inggris dengan aksen “jokteng”. Tapi serius nih, memang lokasi ini kerap jadi tempat syuting videoklip

Ngeliat dari atas patung kepala naga yang memancarkan air ini, perasaannya kok kayak gimana-gimana gitu …. seperti jadi pengin ….. nyemplung …

Tapi ingat … ada papan peringatan ini … Jadi jangan coba-coba nyemplung meski panjenengan bawa yang serba kiwir-kiwir apalagi kewer-kewer …..
Lho siapa itu bawa pancing diwut-diwut, jangan-jangan turis dari Serpong? “Mas, kita mancing di Kadi Soko saja, jangan di sini…”

Aha .. ada bangunan dengan banyak jendela di sana … Apa gerangan yang dilakukan di dalam tempat itu?

Hmmm … tempat yang strategis untuk “mencermati” … Seandainya Bidadari Dewi Aichi yang sedang mandi, akan kusembunyikan pakaiannya, supaya tidak bisa pulang ke Brazil. Tapi bila Mbok Emban Elnino yang sedang mandi, akan kuambil tekleknya supaya tidak bisa ngejar-ngejar daku untuk nagih utang …. Astaga, ternyata biar nyeker Mbok Emban Elnino malah njranthal cepet ….daku malah dibalang susur …

Nah, dari atas sini bisa lebih komplit “mengabsen” mereka yang sedang mandi, siapa tahu ada yang terselip … Konon dulu terdapat cara lempar bunga mawar oleh raja, untuk memilih selir yang akan menemani. Selanjutnya, terserah anda … Eh, terserah raja … (sensor, khusus dewasa). Sayangnya di lantai teratas ini, masih ada yang meninggalkan corat-coret.
Lho mana itu Bidadari Ayla, pamitnya tadi mau mandi, pasti lagi ngejar-ngejar luwak mau dipaksa makan kopi …

Wah ini tempat apa ya? Sayang tadi terlewat penjelasannya. Mungkin saja itu buat ngrangkeng Anoew si bakul dingklik kalo nekad nyemplung di kolam.

“Ini namanya gerbang apa?”
“Nggak tahu, pokoknya kita jeprat-jepret dulu di sini…”
“Cepetan ambil fotonya, sebentar lagi Eyang Gandalf mau ngintip gerhana, ntar kita kena intip juga ….”
“Ribet banget ya ngintip gerhana perlu pake pelindung, kalo ngintip kita nggak perlu pelindung…”
“Perlu juga… pelindung kepala … kalo digebuki orang sekampung …”

Rupanya ada yang sedang mencari nafkah dengan pertunjukan topeng monyet di sini, untunglah Bidadari Meitasari tidak sedang mandi di sini karena bisa girap-girap habis mandi dikejar monyet ….

Wah, lupa ini sampe di mana, sayang tulisannya sudah kurang jelas terbaca.

Nah, yang ini tulisannya jelas terbaca, ruang untuk mempersiapkan hidangan raja, tapi yang lebih jelas lagi adalah penampakan “seleb” di depannya …. agak grogi kayaknya, maklum nggak tiap hari dilirik Brad Pitt …

Eyang dari Mainz, yang gemar Reha, sebenarnya tak perlu repot, cukup ngangsu di sini dua kali sehari, dalam sebulan pasti sehat dan kekar ototnya kuat buat nggendong ibu-ibu PKK se-RT …… Miss Kona jangan coba-coba ikut ngangsu, ntar bukan embernya yang nyemplung tapi orangnya …

“Oh … jadi disini tempatnya berganti pakaian, masih dipergunakan tidak?”
“Jangan Mas, njenengan jangan nggligu di sini, nanti turisnya bubar semua, ikut bubar rejeki saya ….”

Entah kenapa, “Eyang Guide” ini (memang sudah sepuh usianya) memberi penjelasan dengan berbisik-bisik serasa khawatir ada yang nguping atau terganggu tidurnya. Jadi kayak lagi syuting Dunia Lain atau Percaya Nggak Percaya. Tapi salut dengan beliau ini, basa krama-nya mlipis benar-benar wong jeron beteng …

Yang ini ngambilnya mesti minggring-minggring. Konon dulu, Sultan gemar bermeditasi di sini.

Nah, saat Sultan bermeditasi, dari sini air dialirkan. Lalu akan terbentuk nada-nada yang kondusif untuk mencapai kondisi meditatif.

Bila ada Royal-Wedding, maka di sini ada Royal-Jedd(h)ing. Tidak perlu tutup hidung untuk mendekat, sudah lama tidak “on-line”. Jadi bila panjenengan kebelet, bukan disini tempatnya, terdapat sejumlah toilet di luar area, seperti foto berikut di bawah ini. Tapi kepikiran, jaman dulu ceboknya pake apa ya, masak pake daun …

Toilet di tempat wisata ini memang tidak ada penunggunya (entah kalo “penunggu dari dunia lain”), tapi tetaplah ikhlas memberikan dana untuk merawat kebersihan di sini, seikhlas saat kita ngeden …

Berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya kita akan mblasuk-mblasuk melewati pemukiman penduduk. Terus terang sih memang banyak jalan masuk kalo berniat mbludus … Silakan mampir dulu di warung setempat sekedar minum bila haus setelah jalan-jalan, atau sambil menunggu anggota rombongan yang masih pada antusias muter-muter sampe keblasuk.

Ketika lewat pemukiman, akan nampak aktivitas penduduk sekitar. Membatik pun tetap lestari di kampoeng cyber. Siapa hendak belajar membatik?

Menurut isu infotainment dengan derajat ngibul stadium tiga, Mick Jagger menjadi kuat nafasnya bernyanyi teriak-teriak sambil jingkrak-jingkrak di panggung, salah satunya adalah hasil latihan nyebul canting di sini … Tapi bibir pentolan Rolling Stone yang dower itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan insiden kesiram malam …

Keluar masuk gerbang demi gerbang, atau naik turun tangga, menjadi repetisi yang ditemui kala berwisata di sini. Benar-benar modal dengkul, jadi persiapkan dengkul panjenengan sebaik-baiknya …

“Saya tunggu di sini saja, Mas … Nggak ikut naik … Maklum balung tuwo …”
“Lho bukannya tadi tarifnya sudah include dengan ongkos kerokan ….?”

Dari atas, bisa terlihat semua, yang lagi narsis, yang berduaan, dan … jemuran …

Nah, di bagian ini tidak boleh naik-naik lagi, sedang direnovasi, jadi cukup melihat yang di bawah. Hmm.. tapi masih ada juga yang ngeyel …

Moga nanti saat sudah selesai dipugar, akan terlihat keindahan seperti aslinya dulu. Keindahan berpadu dengan fungsi pertahanan.

Berpindah lokasi lagi. Gerbang menuju sumur, tetapi di sumur ini tidak perlu ngangsu, karena sumur ini adalah Sumur Gumuling. Bila sebelumnya kita bersua dengan aspek peristirahatan, di sinilah sebagai tempat peribadatan.

Secercah cahaya dari masa lalu memandu kita menuruni tangga … wuihhh….

..menyusuri lorong waktu .. Konon memang tempat wisata ini memiliki banyak lorong rahasia, bahkan ada yang tembus sampai pantai selatan, tentu saja lorong-lorong tersebut sudah ditutup sekarang.

Suasana remang-remang terasa syahdu … Sebenarnya Sumur Gumuling dirancang dengan menyertakan aspek akustik, sehingga suara sang imam bisa terdengar di segala penjuru dengan jelas. Hmmm… kok dipake buat buat mojok juga …

“Apa gerangan yang tersimpan di sana …?” Lihat tempat lelaki tersebut berdiri, dikelilingi oleh lima anak tangga, adalah posisi favorit para pengunjung untuk berfoto, apalagi cukup terang.

Sayang lantai masjid bawah tanah sedang diperbaiki. Seorang anak menuruni tangga dengan kecewa. “Dik, jangan sedih ya .. Sini foto bareng Brad Pitt aja … Mau minta tanda tangan juga boleh ..”

Saatnya kembali ke dunia luar ..

Sudah mau pulang, mesti masuk lorong lagi. Langit-langit lorong di sini memang cukup rendah, mungkin kalo suatu saat ada Tour bagi para pemain basket NBA ke sini, perlu diantisipasi tukang urut buat mengurut punggung mereka saat pulang.

Walau kelihatan sempit, sebenarnya saat berada di dalam lorong tidak terasa pengap, itulah kehebatan arsitektur tempat ini.

“Wah, kendaraanku tadi diparkir dimana?”
“Kendaraan .. dengkulmu mlicet … Wong naik bis kota aja yang mbayari aku kok ….”
“Wah, suwun yo … pulangnya mbok dibayari sekalian juga …”
“Duwite dah buat jajan tadi. Sisanya cuma cukup buat ongkos aku naik bis ….”
“Lahh .. terus aku mulihe piye ….?”
“Ingkling ……..”

 

About Fire

Profile picture'nya menunjukkan kemisteriusannya sekaligus keseimbangannya dalam kehidupan. Misterius karena sejak dulu kala, tak ada seorang pun yang pernah bertatap muka (bisa-bisa bengep) ataupun berkomunikasi. Dengan tingkat kreativitas dan kekoplakannya yang tidak baen-baen dan tiada tara menggebrak dunia via BALTYRA dengan artikel-artikelnya yang sangat khas, tak ada duanya dan tidak bakalan ada penirunya.

Arsip Artikel

41 Comments to "Kolam, Royal-jedhing dan Pemukiman"

  1. erni  29 June, 2012 at 15:06

    Mas fire, tks infonya, aku terakhir kesana tahun 1988 waktu honeymoon ha..ha…. sekarang jauh lebih bagus, dulu ya sama sekali gak kerawat. menurut guide yg mengantar kami dulu taman sariitu bangunannya dibuat dari air kelapadan putihtelur, jadi gak pake semen dan pasir. (apa iya?) sampe sekarang masih kepikir berapapuluh ayam yang dipaksa bertelur tiap hari dan berapa ratus kelapa yang diambil airnya. … mohon pencerahan pada yang tahu.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *