Mengintip Aktivitas Anak di Sekolah

Dewi Aichi – Brazil

 

Mengenalkan mainan tradisional kepada anak-anak adalah bagus menurut saya. Mengingat sekarang ini, mainan anak-anak sungguh canggih luar biasa. Dari munculnya play station 1-3, kemudian PSP, dilanjutkan dengan Xbox. Wah…sungguh luar biasa canggih. Belum lagi mainan-mainan lainnya yang serba elektronik.

Tetapi agar tidak mengesampingkan mainan tradisional, di sekolah anak saya setiap tahun memberikan tugas kepada anak-anak, untuk mempresentasikan mainan tradisional di depan kelas.

Seperti tahun lalu, saya mengikuti kesempatan ini untuk bisa ikut serta menyaksikan bagaimana anak-anak itu berkreasi. Setiap anak dikasih tugas untuk membuat dan menjelaskan cara bermain mainan tradisional tersebut. Bagi saya yang tidak tau sama sekali beberapa jenis mainan di Brasil, sungguh sangat sulit membantu membuat mainan yang akan dipresentasikan.

Tanya sana sini kepada teman-teman, mainan apa yang sudah dianggap kuno saat ini. Akhirnya, pilihan jatuh pada sebuah mainan yang disebut “peteca”, dan ini gambarnya:

Seperti “kok”, untuk bermain badminton kan? Bisa juga demikian, ini di Brasil disebut permainan peteca atau dalam bahasa Inggrisnya Shuttlecock, yaitu nama untuk sebuah artifak olah raga yang berasal dari Brasil pedalaman. Orang pedalaman di Brasil disebut juga Índia, yang telah menciptakan permainan ini. Konon, olah raga ini bertujuan untuk memanaskan tubuh di saat musim dingin.

Jika dimainkan rame-rame (lebih dari 2 orang), permainan ini sama dengan volley. Dan jika hanya dimainkan oleh 2 orang, mirip dengan permainan badminton. Yaitu dengan dikasih jaring penghalang di antara pemain.

Nah…saya membantu mendampingi dan mengarahkan anak ketika membuat permainan ini. Menggunting kain yang disebut TNT, kain yang sangat ringan, diisi dengan 100 gram pasir, kemudian ujungnya dikasih  setangkai bulu ayam, dan diikat.

Setiap anak harus bisa menjelaskan permainan yang telah dibuatnya, dari cara membuatnya sampai cara bermain mainan tersebut. Juga sejarah mainan tersebut. Dipresentasikan di depan para orang tua, guru dan teman-teman.

Dan di bawah ini adalah mainan yang disebut “vai e vem”, atau bisa diterjemahkan dengan arti kurang lebih “bolak balik”, arti “vai” sebenarnya pergi, dan “vem” artinya datang. Tetapi karena saya artikan dalam cara bermainnya, lebih baik saya sebut saya mainan “bolak balik”.

Mainan ini sangat aku sukai. Dan asik untuk bermain bersama anak-anak, baik ketika di luar rumah, atau sedang di rumah. Cara bikinnya mudah sekali. Manfaatkan botol PET, buka tutupnya, kemudian bagian tengah dari botol itu digunting. Membutuhkan 2 botol PET untuk digunting. Kemudian, kedua botol tersebut disambung dengan menggunakan pita perekat atau lakban dengan arah mulut botol di luar, seperti tampak pada gambar di atas.

Setelah kedua botol tersebut direkatkan, masukkan dua utas tali, kira-kira panjangnya 5 atau 7 meter melalui mulut botol. Di ujung tali dikasih lingkaran atau bisa juga potongan kayu berukuran kecil untuk pegangan.

Dan cara bermainnya adalah dua orang, yang satu memegang dua ujung tali, dan satunya lagi juga memegang ujung tali di posisi berlawanan. Untuk memainkannya , salah satu pemain merenggangkan talinya hingga bisa membawa botol tersebut ke posisi lawan, setelah botol ada di posisi lawan, lakukan hal yang sama untuk mengembalikan botol tersebut ke posisi semula, semakin lama, gerakan semakin cepat.

Lihatlah video di bawah ini, siapa tau bisa diperkenalkan untuk anak-anak Indonésia, permainan ini sangat bagus karena selain mengajarkan kekompakan, juga kegiatain fisik.

Nah, bagaimana dengan permainan anak-anak sekarang yang kebanyakan kurang menggunakan fisik untuk beraktivitas? Sebaliknya, permainan anak-anak dahulu, sangat menyehatkan, karena sangat aktif, juga secara tidak langsung mengajarkan hidup bersosial yang baik, rukun, kompak dan toleransi terhadap teman-temannya.

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

39 Comments to "Mengintip Aktivitas Anak di Sekolah"

  1. Dewi Aichi  27 June, 2012 at 07:43

    Ugie….terima kasih…wah…lha itu jaman kita dulu …..tiap malam bulan purnama….dulu di kampung ibuku meriah banget, semua warga keluar, ngobrol, makan makan, anak anak pada main…

  2. ugie  25 June, 2012 at 21:34

    seru banget , juga seneng liat anak2 yg kreatif … dadi eling dolanan jamuran .. yo ge gethok ..

  3. Dewi Aichi  25 June, 2012 at 21:21

    Lani…memang di tempatmu namanya apa?

  4. Dewi Aichi  25 June, 2012 at 18:10

    Pak SLB, betul sekali he he….banyak mainan seperti itu, apa saja bisa dibuat anak anak, trus untuk lempar lemparan. Chien zhe, wah malah jadi penasaran saya dengan mainan ini. Yeye mungkin?

  5. Dewi Aichi  25 June, 2012 at 18:06

    Linda….barangkali memang sudah ada, hanya sedikit yang tau, kalau yang bolak balik memang aku belum tau keberadaannya sebelum mengenal di Brasil…sedang peteca ya mirip mirip dengan mainan Indonesia juga.

  6. Dewi Aichi  25 June, 2012 at 18:05

    Lani, iya kalau di tempatku namanya yeye, aku ngga tau ada nama lain, biasanya memang yang main anak anak perempuan. Yang megangin ujung tali ada masing masing.

    Pak DJ, dakon mainan yang bisa dimainkan anak perempuan maupun laki laki, kalau benthik sebenarnya atau pada umumnya anak laki laki yang pada main. Nah kalau mainan suru saya ngga kenal Pak….

  7. Lani  24 June, 2012 at 14:16

    32 SLB : “Chièn zhe” atu something like that. Siapa yang masih ingat?

    ++++++++++++++

    itu disebut YEYE, menurut Dewi sipentulis……..dulu aku pinter sekali memainkan itu lo………mungkn msh muda belia jd masih sgt lentur………..

  8. Swan Liong Be  23 June, 2012 at 21:42

    Liat foto dari benda yang seperti shuttlecock saya teringat permainan waktu masih anak² dengna benda yang mirip foto itu cuma bawahnya biasanya pake keping sen yang dibungkus dengan kulit dan diatasnya juga pake bulu atau bisa juga sen itu dibungkus dengan kertas dan atasnya kertas itu di potong² . Benda itu di”lempar² keudara dengan telapak kai sebanyak mungkin siapa yang bisa mainkan paling lama dia yang menang. Saya masih ingat namanya “Chièn zhe” atu something like that. Siapa yang masih ingat?
    Kalo saudara perempuan biasanya main bekel atau bekelen.

  9. Linda Cheang  23 June, 2012 at 11:49

    DA : anak-anak Indonesia sebenarnya punya lebih banyak permainan tradisional. Bahkan dari Komunitas Hong di sini, banyak sekali permainan tradisional anak-anak Indonesia yang mirip dengan permainan anak-anak banyak negara.

    Aku yakin permainan seperti peteca dan vai e vem juga ada di Komunitas Hong yang versi Indonesianya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.