Friday, 22 June 2012
Dewi Aichi – Brazil
Mengenalkan mainan tradisional kepada anak-anak adalah bagus menurut saya. Mengingat sekarang ini, mainan anak-anak sungguh canggih luar biasa. Dari munculnya play station 1-3, kemudian PSP, dilanjutkan dengan Xbox. Wah…sungguh luar biasa canggih. Belum lagi mainan-mainan lainnya yang serba elektronik.
Tetapi agar tidak mengesampingkan mainan tradisional, di sekolah anak saya setiap tahun memberikan tugas kepada anak-anak, untuk mempresentasikan mainan tradisional di depan kelas.
Seperti tahun lalu, saya mengikuti kesempatan ini untuk bisa ikut serta menyaksikan bagaimana anak-anak itu berkreasi. Setiap anak dikasih tugas untuk membuat dan menjelaskan cara bermain mainan tradisional tersebut. Bagi saya yang tidak tau sama sekali beberapa jenis mainan di Brasil, sungguh sangat sulit membantu membuat mainan yang akan dipresentasikan.
Tanya sana sini kepada teman-teman, mainan apa yang sudah dianggap kuno saat ini. Akhirnya, pilihan jatuh pada sebuah mainan yang disebut “peteca”, dan ini gambarnya:
Seperti “kok”, untuk bermain badminton kan? Bisa juga demikian, ini di Brasil disebut permainan peteca atau dalam bahasa Inggrisnya Shuttlecock, yaitu nama untuk sebuah artifak olah raga yang berasal dari Brasil pedalaman. Orang pedalaman di Brasil disebut juga Índia, yang telah menciptakan permainan ini. Konon, olah raga ini bertujuan untuk memanaskan tubuh di saat musim dingin.
Jika dimainkan rame-rame (lebih dari 2 orang), permainan ini sama dengan volley. Dan jika hanya dimainkan oleh 2 orang, mirip dengan permainan badminton. Yaitu dengan dikasih jaring penghalang di antara pemain.
Nah…saya membantu mendampingi dan mengarahkan anak ketika membuat permainan ini. Menggunting kain yang disebut TNT, kain yang sangat ringan, diisi dengan 100 gram pasir, kemudian ujungnya dikasih setangkai bulu ayam, dan diikat.
Setiap anak harus bisa menjelaskan permainan yang telah dibuatnya, dari cara membuatnya sampai cara bermain mainan tersebut. Juga sejarah mainan tersebut. Dipresentasikan di depan para orang tua, guru dan teman-teman.
Dan di bawah ini adalah mainan yang disebut “vai e vem”, atau bisa diterjemahkan dengan arti kurang lebih “bolak balik”, arti “vai” sebenarnya pergi, dan “vem” artinya datang. Tetapi karena saya artikan dalam cara bermainnya, lebih baik saya sebut saya mainan “bolak balik”.
Mainan ini sangat aku sukai. Dan asik untuk bermain bersama anak-anak, baik ketika di luar rumah, atau sedang di rumah. Cara bikinnya mudah sekali. Manfaatkan botol PET, buka tutupnya, kemudian bagian tengah dari botol itu digunting. Membutuhkan 2 botol PET untuk digunting. Kemudian, kedua botol tersebut disambung dengan menggunakan pita perekat atau lakban dengan arah mulut botol di luar, seperti tampak pada gambar di atas.
Setelah kedua botol tersebut direkatkan, masukkan dua utas tali, kira-kira panjangnya 5 atau 7 meter melalui mulut botol. Di ujung tali dikasih lingkaran atau bisa juga potongan kayu berukuran kecil untuk pegangan.
Dan cara bermainnya adalah dua orang, yang satu memegang dua ujung tali, dan satunya lagi juga memegang ujung tali di posisi berlawanan. Untuk memainkannya , salah satu pemain merenggangkan talinya hingga bisa membawa botol tersebut ke posisi lawan, setelah botol ada di posisi lawan, lakukan hal yang sama untuk mengembalikan botol tersebut ke posisi semula, semakin lama, gerakan semakin cepat.
Lihatlah video di bawah ini, siapa tau bisa diperkenalkan untuk anak-anak Indonésia, permainan ini sangat bagus karena selain mengajarkan kekompakan, juga kegiatain fisik.
Nah, bagaimana dengan permainan anak-anak sekarang yang kebanyakan kurang menggunakan fisik untuk beraktivitas? Sebaliknya, permainan anak-anak dahulu, sangat menyehatkan, karena sangat aktif, juga secara tidak langsung mengajarkan hidup bersosial yang baik, rukun, kompak dan toleransi terhadap teman-temannya.
June 22nd, 2012 at 19:03
James…thank you..!
Pak Handoko…halah kok malah ngematin yang kekar, wong aku yang cari gambarnya saja malah ngga sadar kok he he
June 22nd, 2012 at 19:02
Wowww…terima kasih ya ki Lurah baltyra….sudah tayang nih intip mengintip
Terima kasih Anda sudah membaca, silahkan tinggalkan intip, goreng gurih, pedasnya dikit aja…
June 22nd, 2012 at 18:17
Wah, kegiatan yang bagus banget… Di sekolah Cempluk, kapan itu juga sama, anak2 diminta permainan tradisional. Lebih ke permainannya sih, ada ular naga, sundamanda, gobaksodor, boy2 nan.
Mainan tradisional Brazil oke juga ya? Kreatif.
Cium ah, untuk calon mantuku sing bagus dewe
June 22nd, 2012 at 17:30
Dimana keadilan?? Mosok yang diposting cuma gambar laki-laki kekar setengah telanjang? Mana nih perempuannya yang, bermain dengan pose dan pakaian yang setara?
June 22nd, 2012 at 14:26
Dewi Aichi bikin sekolah barengan Elnino dan Ary Hana, kepala sekolahnya pak Hand. Bikin ekstra kurikuler permainan seperti ini…
Sepertinya boleh juga itu ditiru, nanti coba aku usulkan ke sekolah anak-anak…
June 22nd, 2012 at 13:58
DA : la dalah……..klu yg main aja ampe buka2-an begitu, ya jelas lah HOT banget……apalagi mainnya dibawah teriknya mentari disiang hari kkkkk……..gimana ya cara berpakaian pemain cewenya???? Apa ini permainan khusus buat cowo?
Mengapa kamu tdk memperkenalkan permainan anak2 tradisional Indonesia? Mungkin terlalu rumit utk membuatnya?
Itu mainan dr dua botol disambung, dikatakan dipotong memangnya botol plastic?
June 22nd, 2012 at 13:08
Mau bikin ah mainan seperti diatas buat anak-anakku yang separuih jawa kowek (suku jelek)…. untuk liburan.
June 22nd, 2012 at 12:48
pak han : cara mumpuni jadi atlet
June 22nd, 2012 at 12:31
Wah yang main badannya kekar-kekar. Makanya Mbak Dewi memilih jenis permainan ini.
June 22nd, 2012 at 11:05
SATOE Aktivitas….