Polynesian Performance by Halau Makanani

Lani – Kona, Hawaii

 

Aloha teman-teman jumpa lagi dalam tulisan sekapur sirih. Tulisan yang bertujuan mengajak untuk bergembira ria, mulai dari tersenyum /mesam-mesem kecut, mengendorkan otot yang pegel linu-linu, prinsipnya menghindarkan stress.

Kali ini aku ingin berbagi cerita tentang hiburan dari Polynesian dancing dari grup Halau Makanani.

Mereka datang ke panti manula di tempat aku bekerja, jam 7:00 malam, setelah jam makan malam.

Bekerja mendampingi manula, gerakan mereka yang lamban, harus diperhitungkan waktunya. Malam ini aku ajak nenek yang aku rawat untuk turun menikmati makan malam jam 5:45 sore, selesai jam 6:30. Ruang makan lokasinya di lantai 2.

Selesai makan, kami langsung menuju ruang aktifitas/meeting di lantai 1. Kursi sudah tertata rapi, masih sepi hanya kami berdua dan satu residen yang mondar-mandir mencari tempat duduk. Kami duduk di deretan kursi terdepan, posisi yang paling strategis.

Sambil duduk, kami memperhatikan para penari berdatangan, membawa peralatan mereka yang ditempatkan di atas trolley, seperti berbagai macam baju untuk menari, bunga hiasan untuk kepala, lei, alat music terbuat dari bamboo, alat music yang terbuat dari semacam buah labu yang telah dikeringkan, mengingatkanku film silat drunken master dengan Jackie Chan yang selalu membawa labu ini untuk tempat arak, alat mirip sapu terbuat dari sejenis rumput yang dikeringkan digunakan untuk menari. Rombongan terdiri dari 9 penari wanita, 1 penari pria, 1 orang penata acara merangkap mengurusi music.

Para penari sudah siap dengan seragam untuk tampilan yang pertama, T-shirt you can see berwarna kuning kunyit dengan tulisan Halau Makanani di punggungnya, bagian bawah dililit sarung berwarna merah bergambar bunga hibiscus, diikat dengan gesper terbuat dari tempurung kelapa, buatan dari Indonesia. Hmmmm………ikut bangga aku!  Jika berjalan sarung terbuka dan terlihat paha mereka.

Kembali ke rombongan para penari, usia mereka mulai dari 50 sampai 70 tahun, boleh dikatakan mereka bukan anak-anak, remaja lagi, akan tetapi usia sudah amat sangat dewasa.

Akan tetapi jangan ditanya gerakan mereka, sangat lincah, lentur, tidak kalah dengan yang muda-muda usia.

Tepat jam 7:00 malam, acara dibuka diawali kata pengantar singkat dari activity director sebut saja namanya L, kemudian acara diserahkan pada penata acara, tanpa basa-basi, hanya dikatakan tarian pertama dan selanjutnya……dengan nama dan iringan music/lagu mengisahkan tentang tempat, kejadian, serta sedikit arti dari lirik lagu, mengingat lagu-lagu menggunakan berbagai bahasa dari Maori, Hawaii, Inggris dan Perancis.

Iringan music mulai dari yang kalem, mendayu-dayu, pukulan drum ala Tahiti, teriakan-teriakan dari suku Maori dari New Zealand, hingga irama yang sangat rancak membuat sebagian besar penonton para manula tidak bisa diam ikut bergoyang menggerakkan kaki, bahu, kepala mereka di tempat duduknya.

Activity director, usianya lebih tua 3 tahun dibanding aku, tapi orangnya full of energy, bisa dimaklumi karena di masa lalunya dia adalah seorang penari, penyanyi, dia bisa memainkan ukulele selain guru senam buat para manula.

L, adalah penanggung jawab untuk segala macam aktifitas di panti manula ini. Dia kelihatan selalu wira-wiri/ mondar mandir, membantu, mengarahkan, mengatur, boleh dibilang seksi sibuk.

Sisi yang menarik dari L, sambil berjalan, kesana kemari, selalu menampilkan humor entah kata-kata jokes, tertawa, diseling menyingkap bajunya sekelebatan menampakkan pahanya, atau menggerakkan “tampah”, pinggul, dan pinggangnya…….

Hal-hal seperti itu yang membuat para manula asuhannya tertawa, dan berdecak, mungkin bikin mata melotot, sambil glekkkkk…..ngiler buat manula pria yang hanya beberapa saja lebih banyak manula wanita yang tinggal di panti ini.

Satu tarian ke tarian selanjutnya saling bersusulan, para penari berganti pakaian dengan cepat setiap satu tarian selesai, dilanjut dengan tarian berikutnya.

Pakaian para penari sangat bervariasi, mulai dari sarung pendek hanya diikat satu sisinya, satu sisi terbuka hingga penari bisa bergerak dengan leluasa, hingga baju panjang sampai ke mata kaki, mereka menari tanpa alas kaki, sarung yang hanya dililitkan dan diikat di bagian dada, atau diikat di bagian leher mereka, sangat kreatif sekali, tidak ketinggalan hiasan bunga di atas kepala, dijepit di sisi telinga, atau dipakai seperti crown di kepala, berbagai Lei baik bunga dan dedaunan, melingkar/dikalungkan di leher, warnanya cerah ceria sangat menarik.

Penari pria satu-satunya bercelana panjang hitam, T-shirt hitam, rambut dikuncir seperti ekor kuda, dengan lengan penuh dengan tattoo,  memakai hiasan crown di atas kepala, sarung dililitkan berbentuk segitiga diikat di bahunya, tidak ketinggalan Lei sebagai kalung, tidak bervariasi dibandingkan dengan para penari wanita.

Tidak terasa 10 jenis tarian telah berlalu, tarian no 11 adalah tarian terbaru yang belum pernah ditampilkan oleh mereka, nampak beberapa penari gerakannya tidak serasi, mereka saling melihat, meniru, penari yang lebih menguasainya.

Pertunjukkan ditutup dengan tarian no 12, sebelum tarian dimulai, pimpinan penari mengumumkan akan memberikan gerakan-gerakan dasar yang mudah untuk diikuti dan mengajak para penonton yang bersedia untuk maju ke depan dan menari bersama mereka.

Inilah kesempatan yang kutunggu-tunggu, hatiku bersorak gembira, karena kaki, dan tanganku sudah gatel hanya duduk saja. Ajakan ini disambut dengan antusias tepuk tangan dari semua penonton. Walau akhirnya yang maju ke depan hanya 3 orang, 1 penonton remaja, activity director yang menggamit aku untuk ikutan berpartisipasi, hayuuuuuukkkkkkkk sapa takut, wakakakakak………

Sebelum tarian dimulai, kami ber 3 memperhatikan gerakan-gerakan yang diberikan, ternyata memang sangat mudah, gerakan orang mendayung perahu, ke kiri dan ke kanan, gerakan jari tangan seperti riak-riak ombak di lautan, tidak ketinggalan gerakan megal-megol pinggang, pinggul dan “tampah”, kaki ditekuk sedikit kemudian dengan jinjit, dibuka, ditutup dengan cepat.

Setelah contoh gerakan diulang beberapa kali, dengan segera kami memposisikan diri, aku ada di deretan kedua dari depan agar bisa meniru penari di depanku, L berada di urutan paling depan, music diputar iramanya sangat rancak.

Inilah kali pertama aku ikut menari hula bersama para penari professional, dengan modal nekad, karena belum pernah ikut kursus menari hula, walau keinginan itu masih berkobar di hati ini, satu saat pasti jadi kenyataan, siapa tahu bisa tampil di depan teman-teman di rumah kita ini. Saat ini cukup mimpi dulu hahaha……..

Aku menari dengan penuh semangat, mengikuti gerakan mereka, tidak mau kalah dengan para penari beneran, walau kadang salah, keliru muternya, tapi cuek saja jalan terus.

Satu penari di sebelahku sempat memperhatikan gerakan-gerakanku, begitu tarian selesai penari di sebelahku langsung berkomentar : o, wow! HOT mama…..you’re great……!

Jawabanku : singkat mantaffffs…..thanks! Yang jelas aku puas, bisa ikut berlenggang lenggok bersama mereka, bergembira ria bersama menghibur para manula, melepaskan kegatelan kakiku yang tidak tahan hanya duduk sebagai penonton.

Para penari mendatangi para manula, bersalaman, dan berbincang-bincang dengan mereka. Melihat, memperhatikan mereka, emosiku ikut tersentuh, sedih, bahagia, campur aduk tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata.

Yah, para manula butuh hiburan, penghiburan, dihibur, diajak bersuka ria, diajak berkomunikasi, karena di usia lanjut mereka, tidak bisa bergerak sebebas yang masih muda, kuat, dan penuh dengan enerji. Dengan adanya kegiatan semacam ini, mereka bisa ikut dilibatkan.

Teman-teman marilah nikmati hidup yang singkat ini.

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.

 

Lani, Kona-The Big Island of Hawaii

June 6 – 2012

 

59 Comments to "Polynesian Performance by Halau Makanani"

  1. Lani  2 July, 2012 at 14:13

    MBAK PROBO : waaaaaaah, berat menjawab tantangan seorg guru tari………..

  2. probo  2 July, 2012 at 10:07

    hahaha ya suk nari bareng ya…….

  3. Lani  1 July, 2012 at 23:06

    MBAK PROBO : namanya seneng menari apalagi penari……..jelasssssssss banget, begitu ada/melihat org menari sikil jd gatelllllllll………kudu njegur menari to……..aku jd ingin melihat mbak, menari lo……….pasti luwes gandhessssssss

  4. probo  1 July, 2012 at 14:40

    wah asyik tenan……meh padha aku dhek mben mabak, pas among tamu mantenane saudara, lha ada tari otpeng ireng (teman2 temanten), aku dadi gatel…….biar gelungan dan sendal jinjit njur njoged topen ireng,…hahaha, ya rada pethathakan kae….

  5. Lani  25 June, 2012 at 14:04

    UGIE : yo wes ndak apa2 klu lagi sibuk……..selesaikan dl, nanti pas liburan iso nyudrun lagi disini

  6. ugie  25 June, 2012 at 12:34

    Laniii … sik yo , aku lagi ngitung2 biji , nulis rapot .. ngko aku libur skull tgl 1 July tekan 13 July .. mugo2 banyak waktu nggo dolanan net … Maaf mbakyuku yang sudrun..eeee.. yg terlalu semangad .. ,critane lagi ngebut ro gawean ..

  7. Lani  24 June, 2012 at 23:33

    UGIE : yo iki profesinya nambah…….sudrun-e yo melu nambah……..hahaha…….ngapain aja dirimu, ndak pernah japri?????

  8. ugie  24 June, 2012 at 15:53

    Lani tambah profesi ? wingi penari belly saiki penari hula? … HEBATTTT … !

    * Superwomen tenan *

  9. Lani  24 June, 2012 at 14:12

    SLB : WAIMEA itu ada di Kau’ai, O’ahu dan the Big Island…….entah apakah ada di Moloka’i, Lana’i yg baru aja dibeli oleh jutawan no 5 didunia……

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.