Yang Mulia Enief Adhara
Artikel sebelumnya:
Berada di penampungan tidaklah seberat yang kubayangkan, karena aku mendapat banyak ilmu baru dan juga sahabat baru. Jauh dari keluarga tak seberat yang aku kira, karena kami selalu berhubungan baik melalui SMS atau telpon hingga kami seakan selalu dekat. Namun jauh dari Mas Widi menjadi begitu berat dan menghukum kalbu. Tiga hari baik-baik saja tiba-tiba hari ke 4 ia marah-marah. Ada saja salahku. Namun ia cinta yang ku pilih maka aku percaya ini hanya cobaan dan aku harus dan pasti bisa melewatinya.
Walau tanpa dia tahu, aku kerap menangis, menangis karena bingung. Baru sampai tahap penampungan sudah begitu lebar terbentang keraguan di hatinya, bagaimana kalau aku di KL? Seminggu lagi aku diberangkat-kan ke Kuala Lumpur, aku mendapat kerja bersama Mbak Susi, dan kami satu mess. Kebetulan dua orang asal Indonesia yang bekerja di Resto itu kembali ke tanah air karena akan menikah.
Mas Widi mungkin tak setuju aku pergi? Namun kenapa ia tak berterus terang melarangku? Aku rela jadi budak di toko SEMBAKO asalkan tetap memiliki cinta Mas Widi. Namun terlanjur basah untuk berfikir kembali ke Pemalang. Sudah terlalu jauh langkahku dan aku tidak boleh kembali begitu saja. Ya ! aku yakin Mas-ku begini karena terlalu cinta, dan ditambah masalah kerjaan saat dia mulai dipromosikan memegang jabatan, wajar kalau emosi-nya tak terkontrol.
*****
Ku kemasi barang-barangku, besok pagi aku sudah meninggalkan penampungan ini. Aku jelajahi tiap ruangan yang ada, seolah ingin kurekam dalam ingatanku, resmi 2 bulan aku berada di dalamnya, para pengajar dan pengawas menganggap aku memiliki point di atas rata-rata hingga aku dirasa sudah layak diberangkatkan. Sore itu aku duduk di taman bersama beberapa sahabatku, tak terhindarkan juga, kami semua tenggelam dalam haru biru. Beberapa sahabatku masih melanjutkan pendidikan di penampungan. Aku dan Ratmi termasuk rombongan ke Kuala Lumpur namun kami tidak bekerja di satu tempat. Warsih, Peni, Yuyun, Eka termasuk rombongan ke Hongkong. Sementara Saskia dan Astuti masih berada di penampungan. Mereka ini lah sahabat-sahabatku yang ada di penampungan selain Umi.
*****
Di sela isak tangisku aku juga berusaha untuk menghubungi Mas Widi, namun panggilanku tidak terjawab, aku SMS juga belum dibalas. Sepertinya Mamas sibuk hari ini. Aku ingin mendengar suaranya, karena kemungkinan saat tiba di KL aku belum tentu bisa langsung mengganti kartu-ku dengan nomer setempat. Aku pergi ke KL bukan sebagai wisatawan yang dapat berbuat sesukanya, aku pergi sebagai TKI yang pasti semuanya harus melalui aturan ketat.
Jam 22.17 Mas Widi menelponku, mengatakan dirinya baru saja selesai meeting. Rupanya ia menjadi calon kuat menduduki posisi manager marketing. Kuucapkan kata selamat dengan tulus. Sayangnya kami tak dapat berbicara banyak, karena Mas Widi kelihatan begitu lelah, nada suaranya begitu layu. Aku tak tega menyita waktunya lebih banyak lagi, walau sejujurnya aku masih ingin berbincang dengannya.
*****
Ruang tunggu terminal keberangkatan di Bandara Soekarno Hatta terlihat hiruk pikuk, aku menjadi salah satu calon penumpang yang berada di ruang tunggu itu. Mataku masih bengkak karena menangis. Subuh tadi ku telpon Bapak dan Ibu juga Lukman. Kami berpamitan dengan haru. Ibu memang malaikat hidupku, selalu membuatku tenang walau aku tahu hati-nya berat melepasku pergi jauh ke negeri orang. “Ndok, jaga kesehatanmu yaa, ingat selalu pesan Bapak dan Ibu. Jangan khawatirkan kami, Dek Lukman, Mbak Sari dan Mas Yusuf selalu berkumpul, jadi Ibu ndak kesepian. Kalau ada apa-apa segera hubungi kami yaa sayang”. Ujar Ibu panjang lebar, “Ibu juga sudah minta sama Mas Yusuf sering sering menelponmu, pokoknya konsentrasi sama pekerjaanmu saja yaa, kami setia menantimu di Pemalang, beritahu segera kalau kamu sudah mendapat nomer di KL yaa”. Aku berusaha tegar, walau saat telpon ditutup, aku tak sanggup menumpahkan tangisku. Sungguh bagiku meninggalkan keluarga adalah hal yang berat.
Namun saat ku hubungi Mas Widi, HP-nya tidak aktif, mungkin dia masih terlelap karena pulang terlalu larut. Hingga saat aku sudah di ruang tunggu keberangkatan, HP itu tetap tak dapat dihubungi. Pandanganku nanar, kutatap landasan pacu dari balik dinding kaca, tak kusadari airmata menitik di pipiku. Tanpa aku duga Ratmi mengawasiku, aku terkejut saat tiba-tiba dia berbicara tepat di sampingku, “Masih mati HP pacarmu? Aneh banged sih? Ceweknya mau berangkat kok malah susah dihubungi? Kayanya masa bodoh ya? “.
Aku sedikit tergagap, tak mengira ada yang tahu kalau aku sejak subuh tak berhasil menghubungi Mas Widi. “Ahh kok ngomong gitu Mi, Mas Widi kan emang semalam meeting sampai malam, aku tau dia kecapean. Nanti juga pasti nelpon kok atau SMS”, aku menjawab dengan belagak wajar, walau jauh dalam lubuk hatiku ada rasa sedih yang mungkin tak dapat dirasakan oleh orang lain.
Ratmi memandang keluar kaca, lalu dia menoleh kearahku dengan pandangan menyelidik, seolah aku sejenis species asing dimatanya, “Yaa asal tau ya Nit, nomer Indonesia dihubungi saat diluar negeri tuh susah, SMS-an juga mahal, buat ganti kartu yaa nggak mungkin langsung, moga-moga aja pulsa kamu masih banyak buat ngehubungi Mas Widi-mu itu !!”, Ratmi bicara sedikit ketus.
Aku buru-buru memeriksa sisa pulsaku, “Yaa Allah, tinggal 3300 perak, wah gimana ini? “, Pikirku. Tapi aku juga tak berani ribut berkeluh kesah, bisa-bisa Ratmi makin sebal sama Mas Widi. Aku duduk pasrah, menunggu waktu untuk boarding ke pesawat. Ku lihat Ratmi duduk di sebelahku, tiba-tiba dinyalakannya MP3 dari HP-nya, diputarnya lagu ADA Band, lagu itu mengalun bagai ribuan belati yang menyayat hatiku. Sepertinya Ratmi menyindirku dengan lagu itu.
Mencoba bertahan sekuat hati
Layaknya karang yang
Dihempas sang ombak
Jalani hidup dalam buai belaka
Serahkan cinta tulus di dalam takdir
Tak ayal tingkah lakumu
Buatku putus asa
Kadang akal sehat ini
Belum cukup membendungnya
Hanya kepedihan
Yang s’lalu datang menertawakanku
Engkau belahan jiwa
Tega menari indah di atas tangisanku
*****
Akhirnya aku duduk dalam cabin pesawat, jantungku berdegub keras. Aku tak tau banyak apa yang harus aku lakukan. Sementara Ratmi sepertinya serba tahu segalanya, dengan tenang dikenakannya sabuk pengaman, ditutupnya separuh dari penutup jendela untuk mengurangi silau. Aku hanya mengikuti saja apa yang dia lakukan. Hingga Pramugari mulai memberikan instruksi keselamatan dalam penerbangan sejalan burung besi yang aku tumpangi bergerak ke landasan pacu. Sungguh seumur hidup aku baru kali ini menaiki pesawat terbang, bahkan langsung ke luar negeri. Otot-ototku tegang hingga ku rasakan pesawat menggelinding makin cepat dan tiba-tiba menanjak menuju angkasa. Mulutku sibuk komat kamit membaca doa bersamaan dengan perutku yang bagai dikorek-korek dengan ribuan lembar bulu ayam, geli sekali bercampur mual.
Aku tak berani menatap keluar jendela, tubuhku gemetar dan berkeringat, sungguh rasanya menegangkan sekali. Pramugari mulai sibuk mengedarkan minuman, aku pun meminta teh panas, entah aku tetap merasa mual walau tadi sudah ku telan 2 butir obat anti mabuk. Ratmi nampak acuh saja, matanya menatap layar monitor disandaran kursi didepan kami yang entah memutar film apa. Sejak pembicaraan kami yang terakhir, kami saling membisu. Sepertinya dia secara tidak langsung mengatakan padaku bahwa dirinya muak mendengar kata ‘Widyanto’ yang kerap meluncur dari bibirku.
******
Sekitar 2 jam lebih kutempuh perjalanan yang membuatku panas dingin. Hingga akhirnya tak lebih 15 menit lagi aku sudah benar-benar berada di Kuala Lumpur. Ke Jakarta saja aku cuma numpang lewat, lha ini langsung ke kota asing dengan budaya, bahasa dan aturan yang pastinya berbeda. Dalam hati aku bersyukur ada Mbak Susi, selain sebagai rekan kerja, dia pasti juga akan menjadi sumber informasi bagiku. Dan dari sekian juta kemungkinan yang akan terjadi di Kuala Lumpur, pikiranku tetap terpaku pada kekasihku Widyanto yang sampai detik aku masuk pesawat tetap tidak dapat dihubungi. Entah berapa lama aku tenggelam dalam pikiranku, hingga ku dengar suara Pramugari mengumumkan pesawat akan segera mendarat di KLIA.
June 23rd, 2012 at 13:54
Welcome to KL.
Ditunggu lanjutannya.
btw, cebung Jeniffer nya juga aku tunggu lho.
June 23rd, 2012 at 13:04
Spadaaaaaa….!!!
Juga tidak ada orang….