Sunday, 24 June 2012
Endah Sulwesi
Jarak di antara kita membentang lebih satu abad sejak engkau tiada. Dua tahun lalu, aku beserta rombongan peserta seminar internasional yang membincang tentang dirimu, berkesempatan mengunjungi makammu di Bogor. Kau, maestro seni lukis yang dihormati di seantero dunia, bermakam di tengah kampung kecil, menempati areal yang jauh lebih sempit dibandingkan halaman rumah orang-orang kaya di Pondok Indah yang mungkin salah satunya memajang karyamu di dindingnya.
Nama dan karyamu, selama ini, hanya kuketahui lewat bacaan dan cerita para sahabat yang tergila-gila padamu sampai terobsesi membuat novel tentangmu, walaupun belum juga selesai meski telah melampaui hitungan waktu 10 tahun *Lirik Iksaka Banu dan Kurnia Effendi* Barulah dua tahun lalu aku bisa bertatapan langsung dengan beberapa karyamu di Istana Bogor. Oh, sungguh sebuah kemewahan bagiku dapat bermuka-muka dengan masterpiece-mu: “Penangkapan Diponegoro” yang fenomenal itu. Merinding aku oleh sebuah aura keagungan yang terpancar dari lukisan itu. Waktu itu kondisinya sungguh memprihatinkan: suram, kotor, dan bagian belakang kanvas nyaris robek. Beberapa ahli yang khusus mempelajari karya-karyamu, tampak sangat serius – dan penuh hormat – mengamati lukisan tersebut.
Oh, hampir lupa. Sebelum kunjungan ke Istana Bogor itu, aku dan kedua sobat yang menggilaimu itu pernah juga bertandang ke bekas rumahmu yang sekarang menjadi bagian dari RS Cikini. Dalam salah satu bab novel yang tak kunjung terbit itu, sahabatku dengan sok romantis menyebut rumahmu sebagai “rumah dansa”. Ah, kalau saja kau masih hidup, kurasa kau akan sepakat dengan sebutan itu. Apalagi Constance, istrimu, yang gemar berdansa itu, pasti akan tertawa-tawa senang mendengarnya. Sayangnya, rumah dansa itu kini merana, nyaris kehilangan kemegahannya. Lantai atas yang terdiri dari beberapa kamar tidur bahkan sudah tak bisa dikunjungi karena lantainya sudah rapuh.
Lalu, kesempatan untuk kembali berdekat-dekat denganmu datang lagi dalam sebuah pameran akbar yang menggelar hampir seluruh karyamu, termasuk sketsa dan litografi. Pemeran itu digelar di Galeri Nasional, Jakarta, selama 2 pekan (3-17 Juni 2012). Di sana, orang berduyun-duyun menikmati 35 lukisanmu, termasuk “Penangkapan Diponegoro” yang terkenal itu. Kali ini aku bukan sekadar merinding, tetapi tergetar berada di antara lukisan-lukisan itu. Ada suasana agung menyelimuti ruang pameran itu.
Sepertinya kau terobsesi pada detail dan binatang buas, ya? Cukup banyak lukisanmu yang bertema “berburu binatang buas”. Dan, sungguh, cuma genius yang “sakit jiwa” yang mampu menghasilkan detail-detail rumit seperti dalam “Drinking Tiger”. Baiklah, aku memang bukan pengamat lukisan, namun aku bisa menikmati keindahan yang dahsyat dari ke-35 lukisan di galeri itu, dan terpesona. Kau memang maestro. *Menjura*
June 25th, 2012 at 14:56
“Oh, sungguh sebuah kemewahan bagiku dapat bermuka-muka dengan masterpiece-mu”
SENANG DENGAN KALIMAT INI.
June 25th, 2012 at 14:54
Nyessssssssssssssssel gak bisa beli lukisannya.
June 24th, 2012 at 21:55
Kayak ginian ini nih yang bikin ngiri abis……Endah…kutunggu acara pamer yang selanjutnya ha ha…..film kek…buku kek….makanan kek….
June 24th, 2012 at 18:47
Menyesal tidak sempat ikut menyaksikan.
June 24th, 2012 at 15:39
Zwei…..
June 24th, 2012 at 11:18
SATOE…..