Ujung Penantian

Ida Cholisa

 

Ini bukan hal biasa ketika kudapati sahabat terbaikku, Indra, mendiamkanku untuk  waktu lama. Kukatakan bukan hal biasa karena sebelumnya ia sangat dekat denganku. Kerap kukatakan banyak kisah hidup kepadanya, dan dengan kerendahan hati seperti biasa ia akan mendengarkan ceritaku dengan kalimat penyemangat dan doa yang sangat kusuka.

Indra menempati ruang khusus di relung hatiku. Sahabat yang kukenal beberapa tahun lalu itu banyak memberi inspirasi bagi kehidupanku. Ia pula yang merentangkan tangan padaku saat beragam musibah menimpaku, hingga adanya begitu berarti bagiku. Rasanya, aku tak ingin Indra menjauh dariku.

Tapi kini lain. Indra berubah sikap padaku. Tak lagi sehangat dulu. Ia acuh tak acuh padaku, hingga kegalauan menyelimuti hatiku. Aku menangkap ada sesuatu yang berbeda pada diri Indra. Pesan-pesanku di BBM dianggap angin lalu, hingga aku kehilangan keindahan yang dulu sempat mewarnaiku. Hingga saat kukirim pesan melalui inbox, ia mengatakan bahwa ia sedang malas bicara, ingin diam saja. Tentu saja aku gusar. Kutanyakan apakah ia marah padaku, ia menjawab tidak. Hingga akhirnya aku mengirim pesan kembali. Isinya, permintaan maaf andaikata aku memiliki kesalahan yang tak aku mengerti. Hanya jawaban Indra yang masuk di BBM-ku setelah penantian panjangku; tanda jempol belaka.

Aku masih gusar, tentu saja. Ini bukan Indra yang biasanya. Adakah aku menyakitinya hingga ia berperangai tak biasa?

Rasanya kesedihan begitu mendera hatiku. Hari-hariku terasa lesu. Gairah hidupku menurun hingga berimbas pada lemahnya fisikku. Sesungguhnya Indralah salah satu sumber kekuatan fisikku. Ia secara tak langsung menyuntikkan semangat besar bagi kesembuhan sakitku. Ya, aku, Mutiara, gadis yang terpasung sakit besar sesungguhnya sangat menanti tetesan semangat Indra yang sering ia berikan dahulu.

Indra bukan apa-apaku, bukan siapa-siapaku. Namun adanya sangat berarti bagi kehidupanku. Ia lelaki lajang yang dua bulan lagi hendak menjemput pernikahannya, sedangkan aku gadis lajang yang hingga kini belum memiliki calon pendamping hidup, kecuali Indra kawan terbaikku. Kusadari sepenuhnya siapa diriku, gadis pesakitan yang tentu saja berpikir ulang terhadap lelaki yang hendak meminangku.

Aku hanya sedih, mengapa Indra berubah sikap padaku? Takutkah ia bahwa aku akan menjadi salah satu pengganjal dalam rencana pernikahannya? Kukatakan, sekali-kali tidak, sebab aku memahami benar siapa diriku.

Gerimis duka kembali turun membasahi relung hatiku. Kerinduanku pada Indra hanya berpendar di udara. Aku ingin Indra bersikap seperti dahulu, tidak mendiamkanku begini, hingga membuatku gusar setengah mati. Tanpa sebab ia tak membalas pesan-pesanku, tanpa sebab ia membungkam mulut kepadaku.

Aku rindu Indra, itu saja. Tidak mengharap apa pun darinya. Pun untuk selembar cinta. Sekali-kali tidak, sebab kupahami benar siapa diriku. Aku hanya ingin Indra kembali berbicara, kembali menunjukkan roman manis seperti biasa. Bukan dingin yang membuatku merasa bersalah atas apa yang tak kumengerti penyebabnya.

Penantian panjangku berpagut sepi, tak ada setitik cahaya pun yang Indra kirimi. Ia tetap bungkam seribu bahasa, membuat hatiku lara dan merana. Tubuh lemahku semakin menderita, menyimpan kerinduan yang hanya berputar-putar untuk kemudian mati menggelepar. Aku terpasung sunyi, aku terbelenggu rindu yang menggerogoti diri.

Aku kembali masuk rumah sakit. Kanker getah beningku telah menuju stadium lanjut. Ayahku, ibuku, semua handai taulanku, menangisi keadaanku. Tapi aku tidak. Aku hanya ingin Indra mendatangiku, menguatkanku, meski kemudian ia akan pergi meninggalkanku.

Suster kembali memasukkan jarum infus kemoterapi kepadaku. Tubuhku kembali menggelepar seperti dulu. Aku lelah, aku lelah. Aku ingin tak ada lagi infus kemoterapi mendera tubuh ringkihku.

Cairan infus kemo teras merembes memasuki tubuhku. Seperti biasa aku akan menjadi mayat hidup selam pengobatan itu. Jiwaku melayang-layang. Di mana ia kini, sahabat terbaik yang selama ini memberi penghiburan?

Tubuhku lemah, tak seperti biasa. Ini kemo kesekian belas yang menjalari tubuh lemahku. Aku merasakan kekuatan yang kini lenyap dari tubuhku, seperti melenyapnya Indra dari kehidupanku. Aku merindukan sapa lembut Indra, aku merindukan nasehat Indra, aku merindukan canda riang Indra. Ia segalanya bagiku, meski adaku tak akan mampu bertengger manis di relung hatinya itu.

Ini minggu ke dua bulan Januari. Biasanya Indra akan datang sambil membawa kue tart dan hadiah untukku. “Selamat ulang tahun, Tiara. Sehat selalu, ya?” Demikian ia selalu menghibur dan menyemangatiku.

Aku meminta ayah ibuku mengambilkan gaun terindahku.

“Untuk apa?” tanya ibu.

“Hari ini ulang tahunku, Ibu. Indra akan datang seperti biasa.”

Ayah dan ibu saling berpandangan. Aku meminta mereka lekas mengambilkan gaun terindah itu, sebab aku ingin memakainya sekarang. Hingga kemudian gaun itu pun terhampar.

“Pakaikan, Ibu,” pintaku.

Ibu memandangku tak berkedip.

“Kau tengah dikemo, Nak. Ibu takut cairan kemo ini macet seperti dulu. Bukankah dokter dan suster mengingatkanmu untuk bedrest hingga usai kemoterapi?”

“Tak mengapa, Ibu. Ini hari ulang tahunku. Aku ingin Indra datang dengan keadaan aku terlihat cantik. Ayolah, Ibu, jangan lupa bedaki mukaku, poles bibirku.”

Ibu menatapku dengan mata yang terlihat berat. Sudut matanya dipenuhi bulir air yang menggumpal.

“Mengapa Ibu hanya diam? Ayo Bu, aku kuat…”

Dengan susah payah Ibu berusaha mengganti baju pesakitanku. Dua suster membantu memasukkan gaun indah itu ke tubuhku dengan menggeser selang infus dengan sangat hati-hati.

“Jangan banyak gerak ya, nanti infus kemonya macet. Bahaya,” suster berperawakan sedang mengingatkanku.

Ibu mendandaniku dengan mata berkaca-kaca.

“Ibu kenapa?” tanyaku.

“Tidak, Nak. Ibu bahagia, kau terlihat sangat cantik.”

“Ibu bohong, bukankah kepalaku botak, Bu? Bagaimana Ibu mengatakan aku cantik?”

Ibu memelukku erat. Seketika pundakku terasa basah. Ibu menangis!

“Kau tetap cantik, Nak. Kerudung ini akan membuatmu semakin cantik.”

Ibu merapikan gaun dan jilbabku. Kemudian membetulkan riasan bedak dan lipstikku.

“Selamat ulang tahun ya, Nak? Doa Ibu selalu menyertaimu…”

Ibu kembali memelukku, disusul ayahku dan dua suster itu.

Kubaringkan tubuh lemahku kembali. Mata ayah dan ibuku terus digenangi bulir bening yang menggumpal. Mengapa mereka mesti bersedih melihatku, sedangkan aku lebih merasakan sedih terhadap keterdiaman Indra sahabat terbaikku? Aku ingin ia datang di hari ulang tahunku ini, ulang tahun yang membawaku pada usia matang, dua puluh delapan tahun. Bukan hal aneh jika aku kerap mendengar pembicaraan orang tuaku, tentang keinginan mereka melihatku melangkah ke pelaminan. Keinginan yang membuatku berendam dalam sedih tak tertahankan.

“Ibu, jam berapa sekarang?”

Ibu menatapku muram.

“Jam dua siang, Nak. Kenapa?”

“Lama sekali…”

“Lama apanya?”

“Indra.. koq belum datang…”

Ibu mengusap kepalaku.

“Tidurlah, nanti Ibu bangunkan saat Indra datang. Mudah-mudahan ia masih ingat hari ulang tahunmu.”

Aku mengangguk. Di antara rasa sakit, mual, perih dan seribu rasa akibat pengobatan kemoterapi, aku masih mendulang mimpi bahwa Indra akan datang lagi. Aku mencoba menidurkan diri, berharap saat Indra datang aku telah segar kembali.

“Aku tidur ya, Bu? Jangan lupa perbaiki bedakku saat Indra datang nanti. Aku tak mau ia melihatku pucat menahan sakit.”

Ibu mengangguk sambil mengusap pipiku.

“Tidurlah, Nak.”

Awan putih berarak membawaku terbang ke langit tinggi. Di sana aku bertemu bidadari cantik yang mengelilingiku sembari menunjukkan istana indah untukku.

“Nanti kita akan sering bermain di sana,” katanya. Aku berlari, menari dan menari, mengikuti gerak gemulai tujuh bidadari.

“Tiara… bangun, Sayang…” suara ibu membangunkanku.

Aku seperti dibangunkan dari mimpi, saat lamat tapi pasti kutemukan seseorang telah berada di sisi. Ia… ia… ia bukan Indra, melainkan Armand, teman sekantornya.

“Tiara…” ia mendekat dan menyalamiku.

“Ini ada titipan dari Indra. Ia menyampaikan ucapan selamat dan kado ulang tahun.”

“Indra mana?”

“Ia sedang sibuk, Tiara. Ia hanya bisa menitipkan ini untukmu.”

Tiba-tiba saja kesedihan mengaduk perasaanku. Kuterima kado itu dengan hati tercabik-cabik.

“Ini apa?” aku menyentuh amplop berukuran besar dengan warna kuning gading.

“Maaf, Tiara, Ini undangan pernikahan Indra. Ia berharap kau cepat sembuh agar bisa menghadiri hari istimewanya. Kau akan datang, kan?”

Aku mengangguk pelan. Kamar rumah sakit terasa berputar. Air mata menggelontor tanpa mampu kutahan. Hatiku pedih bukan kepalang. Aku berenang dalam kolam kesedihan yang tak mampu kulukiskan. Hatiku hancur. Aku sedih, aku sedih sekali…

Air mata telah tak berguna. Penantian panjangku berakhir sia-sia. Kerinduanku bersua Indra laksana kapas yang melayang-layang di udara…

Tubuhku semakin lemah. Dokter belum memperbolehkanku untuk pulang ke rumah. Sel kankerku telah menyebar ke beberapa titik. Aku seperti berada di batas akhir…

Aku masih rindu Indra. Bilakah ia datang dan mengucap satu kata? Itu saja yang kuinginkan, sebab ia telah lama berada dalam keterdiaman yang membuatku jatuh dalam kesengsaraan…

Tubuhku makin lemah. Aku melihat negeri di atas awan yang begitu indah…

“Tiara, sembuh ya, Nak? Jangan tinggalkan Ibu…”

Masih jelas suara tangis ibuku, disusul tangis tertahan ayahku.

“Ibu, Indra mana? Biarkan aku mengucap selamat atas pernikahannya…”

Ibu makin terguguk. Aku semakin lemah… negeri di atas awan semakin  terlihat indah…

“Aku… aku… ak…aku lelah… Ibu…”

Kurasakan sakit yang menjalar di tubuhku. Aku tak ingat apa-apa lagi karena rasa sakit yang menguasai tubuhku…

Hingga akhirnya aku mendengar suara histeris tangisan. Ayah ibuku memeluk tubuh kosongku, sementara aku melayang-layang menatap pemanadangan penuh keharuan yang diwarnai tangisan…

Jasadku telah dibawa pulang. Aku melihat semua menangis. Aku berada di sekitar para pelayat, tetapi mereka sama sekali tak melihatku. Saat tubuhku dimasukkan ke dalam  keranda, dan isak tangis tertahan terdengar di mana-mana, aku melihat seraut wajah yang sangat kupuja, seraut wajah yang membuatku terpenjara dalam rindu tak berujung… Indra.

Ya, Indra berada di tengah lautan pelayat…

Aku mendekati Indra, dengan kerinduan yang terus menyesaki dada.

“Indra, ini aku Mutiara…”

Tapi wajah lelaki itu sama sekali tak menoleh ke arahku. Ia seolah tak mendengar suaraku.

“Indra… ini  aku, Mutiara,” kukeraskan ucapanku, tetapi kembali sia-sia. Indra hanya bergeming dengan mata berkaca-kaca…***

 

Cileungsi, Juni 2012-

 

12 Comments to "Ujung Penantian"

  1. anoew  27 June, 2012 at 09:54

    Mbak Ida, Dewi, yang oke itu Baltyra dot com. Asik kan bisa baca artikel sambil diperkuat dengan ilustrasi bahkan, iringan musik dari youtube.

    Long life Baltyra.

  2. Dewi Aichi  26 June, 2012 at 18:04

    BU Ida he he he he…..Anung idenya memang okeeee….!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.