Handoko Widagdo – Solo
Ketika tsunami menerpa Aceh pada Desember 2004, semua pihak di dalam maupun luar negeri memberi perhatian kepada para korban. Berbondong-bondong bantuan dari Negara-negara sahabat berdatangan. Demikian pula organisasi-organisasi pembangunan (baca: LSM asing dan organisasi dibawah naungan PBB). Mereka semua melakukan tugas-tugas tanggap darurat dan setelahnya melakukan kegiatan rekonstruksi paska bencana.
Di dalam negeri, kegiatan-kegiatan tanggap bencana dan rekonstruksi memberi peluang kerja yang tidak sedikit. Banyak pekerja social yang berangkat ke Aceh. Selain bertujuan untuk berjuang memberi bantuan kepada saudara-saudara di Aceh yang sedang mengalami bencana, para pekerja ini juga sekaligus menangguk rupiah. Maklum, dengan berjibunnya organisasi social yang bekerja di Aceh, persaingan untuk mendapatkan staff begitu tinggi. Harga pekerja menjadi tidak rasional. Seseorang dengan pengalaman kerja 5 tahun dan bisa berbahasa Inggris dengan mudah bisa mendapatkan Rp 25.000.000 per bulan. Untuk kualifikasi yang lebih tinggi, harga Rp 50-70 juta per bulan tidaklah sulit untuk didapatkan. Anak-anak yang baru lulus kuliahpun mendapat rejeki. Harga mereka pada kisaran 5-10 juta.
Pembajakan staf antar organisasi menjadi hal yang lumrah. Para pekerja tersebut, setelah sampai di Aceh (karena rekruitmen dilakukan diluar Aceh), segera saja ditawari oleh organisasi lain dengan iming-iming gaji yang lebih tinggi. Demikian pula yang terjadi dengan para pemula. Setelah mendapat pelatihan tiga-empat bulan, mereka segera saja pindah kerja dengan mencantumkan pelatihan yang didapat di CV-nya.
Kini Aceh telah reda. Pekerjaan rekonstruksi telah berkurang banyak. Organisasi-organisasi sosial telah pergi. Para pekerja pun sudah kembali ke daerah asal masing-masing. Persoalan baru kini muncul, yaitu dilema para pekerja eks Aceh.
Hampir setiap lowongan pekerjaan yang dibuka selalu dibanjiri dengan para pejuang eks Aceh. Kalimat-kalimat seperti berikut menghiasi hampir semua CV:
Posisi-posisi yang dipajang di CV tersebut kebanyakan sama sekali tidak cocok dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Jika diamati dengan cermat, terjadi lompatan quantum pada CV-CV tersebut. Bukan hanya pada posisi pekerjaan, lompatan quantum juga terjadi pada salary. Banyak yang lompatan gaji yang dicantumkan dalam salary history lebih dari 200%!

Dengan posisi dan gaji yang pernah diterimanya di Aceh, para pekerja ini berharap bisa mempertahankannya. Padahal posisi yang dilamarnya tidak selalu sesuai dengan posisi dan gaji tersebut. Akibatnya, sering kali CV-CV yang over qualification akan ditinggalkan begitu saja. Kalaupun ada yang cocok, negosiasi gaji menjadi hal yang alot. Jadi bagaimana sebaiknya?
June 25th, 2012 at 10:50
Memang sungguh menyedihkan AH.
June 25th, 2012 at 10:46
makanya kalo dimintai sumbangan buat korban bencana alam dll, saya pilih diam ato langsung ke lokasi, ngasih ke yg bersangkutan. banyak proyek lsm cuma habis di gaji karyawan. kata kawan saya yang melalang-buana di ngo, ‘yang pentng tujuan proyek tercapai. mau pemberdayaan, sudah 1-2 diberdayakan dll. walau itu cuma menghabiskan 20-30% anggaran bantuan’. lha sisanya yang 70%? dibagi-bagi antar pegawai lsm tadi.
June 25th, 2012 at 10:39
AH, saya tidak tahu berapa persen yang dipakai untuk karyawan (khususnya tenaga asing) di Aceh. Tapi melihat bahwa pemerintah akhirnya mendirikan BRR, sepertinya porsi gaji tentunya menjadi sorotan.
June 25th, 2012 at 10:37
hehehehe… keluar dari konteks pak, berapa persen sih dana bantuan yang dibuat mbayari para pekerja lsm ini? dalam kasus ham di afghanistan, bea buat pengeluaran pekerja ekspatriat bisa mencapai 40% dari total anggaran. makanya bantuan tidak maksimal, kesunat 40%. tapi buat proyek room to read, bea belanja karyawan ini tak boleh melebihi 10%, agar tujuan program terlaksana mulus
June 25th, 2012 at 10:07
Terima kasih Mas Subali. Tetapi memang berat untuk bisa menerima penghargaan (gaji) yang lebih rendah dari yang pernah kita terima sebelumnya.
June 25th, 2012 at 10:01
tergantung dari apa yang ingin dicari mas han…mengapa,,,,, orang tak pernah puas walau gaji 100 juta sebulan. takpernah puas itu,,,, lalu bagaimana,,,ada orang yang hanya tamat slta,,, pengalaman 20 tahun,, tapi karena,,,merasa puas,,,dan menerima banwa hidup ini bukan gaji yang besar yang jadi ukuran,,,,,, tetapi puas dengan apa yang bisa dikerjakan,,,,dan membuat sebuah perubahan,,,,,,,,!
kalau hidup hanya melengkapi sebuah kegiatan itu hanya ratarata orang biasa…..tetapi dengan sebuah kterbatasan,,,apakah itu gaji yang rendah,,pengalaman yang pas-pasan,,,, tetapi bisa membuat sebuah perubahan yang berarti….itu luar biasa……,pergunakanlah hidup ini ,,,,untuk sebuah ,,,,,,,niat yang tulus….iklas.. dan berbagi……….
June 25th, 2012 at 09:34
Kang JC, bagi teman-teman yang tinggal di Aceh, mereka lebih bisa menerima untuk mendapatkan gaji yang lebih rendah. Bagi teman-teman yang berada di luar Acehlah yang biasanya mencoba mempertahankan level of salary mereka. Timor Leste tidak terlalu soal, karena kebanyakan pekerjanya bukan dari Indonesia.
June 25th, 2012 at 09:32
Terus piye, pak Hand? Bagaimana sekarang pasar tenaga kerja di Aceh? Bagaimana kabar Timor Leste? Apakah mengalami hal yang sama atau ada cerita menarik lainnya?
June 25th, 2012 at 08:54
Kalau gak mau bagaimana PASPEMPRES?
June 25th, 2012 at 08:35
nomor satu di hari ini….
hmmm…. ya turunin gajinya lha, kan udah gak sesusai