Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Dilema Mantan Pejuang Aceh

Monday, 25 June 2012

Viewed 1977 times, 6 times today | 84 Comments |

Handoko Widagdo – Solo

 

Ketika tsunami menerpa Aceh pada Desember 2004, semua pihak di dalam maupun luar negeri memberi perhatian kepada para korban. Berbondong-bondong bantuan dari Negara-negara sahabat berdatangan. Demikian pula organisasi-organisasi pembangunan (baca: LSM asing dan organisasi dibawah naungan PBB). Mereka semua melakukan tugas-tugas tanggap darurat dan setelahnya melakukan kegiatan rekonstruksi paska bencana.

Di dalam negeri, kegiatan-kegiatan tanggap bencana dan rekonstruksi memberi peluang kerja yang tidak sedikit. Banyak pekerja social yang berangkat ke Aceh. Selain bertujuan untuk berjuang memberi bantuan kepada saudara-saudara di Aceh yang sedang mengalami bencana, para pekerja ini juga sekaligus menangguk rupiah. Maklum, dengan berjibunnya organisasi social yang bekerja di Aceh, persaingan untuk mendapatkan staff begitu tinggi. Harga pekerja menjadi tidak rasional. Seseorang dengan pengalaman kerja 5 tahun dan bisa berbahasa Inggris dengan mudah bisa mendapatkan Rp 25.000.000 per bulan. Untuk kualifikasi yang lebih tinggi, harga Rp 50-70 juta per bulan tidaklah sulit untuk didapatkan. Anak-anak yang baru lulus kuliahpun mendapat rejeki. Harga mereka pada kisaran 5-10 juta.

Pembajakan staf antar organisasi menjadi hal yang lumrah. Para pekerja tersebut, setelah sampai di Aceh (karena rekruitmen dilakukan diluar Aceh), segera saja ditawari oleh organisasi lain dengan iming-iming gaji yang lebih tinggi. Demikian pula yang terjadi dengan para pemula. Setelah mendapat pelatihan tiga-empat bulan, mereka segera saja pindah kerja dengan mencantumkan pelatihan yang didapat di CV-nya.

Kini Aceh telah reda. Pekerjaan rekonstruksi telah berkurang banyak. Organisasi-organisasi sosial telah pergi. Para pekerja pun sudah kembali ke daerah asal masing-masing. Persoalan baru kini muncul, yaitu dilema para pekerja eks Aceh.

Hampir setiap lowongan pekerjaan yang dibuka selalu dibanjiri dengan para pejuang eks Aceh. Kalimat-kalimat seperti berikut menghiasi hampir semua CV:

  • Senior Program Officer for Social Mobilization Program at American Red Cross in Banda Aceh.
  • Trainer for 100 Teacher, Teacher Development Program cooperated with Islamic Relief Aceh, Aceh Besar, NAD, Indonesia.
  • Tsunami Emergency Response Team – CARE International Indonesia.

Posisi-posisi yang dipajang di CV tersebut kebanyakan sama sekali tidak cocok dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Jika diamati dengan cermat, terjadi lompatan quantum pada CV-CV tersebut. Bukan hanya pada posisi pekerjaan, lompatan quantum juga terjadi pada salary. Banyak yang lompatan gaji yang dicantumkan dalam salary history lebih dari 200%!

Dengan posisi dan gaji yang pernah diterimanya di Aceh, para pekerja ini berharap bisa mempertahankannya. Padahal posisi yang dilamarnya tidak selalu sesuai dengan posisi dan gaji tersebut. Akibatnya, sering kali CV-CV yang over qualification akan ditinggalkan begitu saja. Kalaupun ada yang cocok, negosiasi gaji menjadi hal yang alot. Jadi bagaimana sebaiknya?

 

Share This Post

Posted by Monday, 25 June 2012 on 08:12.

Categories: Nusantara. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

84 Responses to “Dilema Mantan Pejuang Aceh”

Pages: « 9 [8] 7 6 5 4 3 2 1 »

  1. 80
    P@sP4mPr3s Says:

    Ooohhh….

  2. 79
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Jangan gitu PamPas, doa kan tsunami di negeri mereka. Kita yg jadi relawan bergaji gedhe. Mumpung mereka sedang kolaps.

  3. 78
    P@sP4mPr3s Says:

    dilema dapet gaji gede, kerjaan gak gitu berat… sekarang, mana ada mereka dapet gaji gede, dengan pengalaman kerja yang diluar kebiasaan….

    yah…

    satu2nya jalan, mereka harus menyesuaikan diri….
    atau….
    berdoa, supaya ada tsunami lagi di aceh…. (haiz…. amit2)

  4. 77
    Handoko Widagdo Says:

    Lani, mereka itu dalam dilema, bukan sedang ngambek apalagi umpak-umpakan minta gaji gedhe.

  5. 76
    Lani Says:

    41 HAND : o, jd gitu ta penjelasannya………aku kira mrk trs umpak2-an klu ndak dpt gaji gede mrk akan menolak bekerja……krn klu sampai begitu yg rugi jg ada dipihak mrk sendiri to………

  6. 75
    Handoko Widagdo Says:

    Sebenarnya artikel tentang eks tentara Fretelin lebih cocok diterbitkan tanggal 20 Mei, sesuai dengan HUT Kemerdekaan (kembali) Timor Leste.

  7. 74
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Ceritakan dong…. Saya juga (ternyata) ada tetangga Timor Leste dekat rumah. Tapi agak pro-sana sih.

  8. 73
    Handoko Widagdo Says:

    Ada sih cerita mantan pejuang Fretelin yang saya kenal dan tahu riwayatnya.

  9. 72
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Oooh…bukan sisi militer atau politik, tetapi human (kemanusiaan). Saya mau tahu dan ingin tahu nasib mereka. Bagi saya mereka serpihan traged manusia. Kebetulan Mas Han mobilitasnya tinggi ke lokasi terpencil. Siapa tahu bisa..

  10. 71
    Handoko Widagdo Says:

    Mas Iwan, aku gak berani menulis mantan pejuang Timor Timur dan pejuang Papua. Sebab pengetahuanku tentang keduanya sangat sedikit.

Pages: « 9 [8] 7 6 5 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)