Menemukan Harta dan Berbahagia

Angela Januarti Kwee

 

Senja Keduapuluh-satu di Biara Menyurai: Menemukan Harta dan Berbahagia

(http://www.squidoo.com/satoriquotes)

Pagi ini aku terpikir untuk kembali mengunjungi biara dan mengajak beberapa temanku. Aku mengirim sms sebelum berangkat kerja. Sesampai di kantor aku memastikan apa mereka akan ikut melewati senja dan misa bersama. Terlihat mereka masih ragu, apalagi hari ini kami menggenakan pakaian dinas resmi kantor dengan setelan jas yang cukup membuat gerah hingga menjelang sore; sedangkan aku memang sudah menyiapkan pakaian ganti.

Saat makan siang perbincangan kembali kuulang, aku menceritakan senja-senja yang sudah kualami. Bagiku tiap senja memiliki kesan tersendiri. Akhirnya satu teman memastikan akan ikut, sedangkan satu lagi belum.

Senja hampir tiba, pekerjaanku sudah selesai dan aku hendak mempersiapkan diri menuju biara. Aku kembali menanyakan pada satu temanku apa ia akan ikut dan ia menjawab iya. Kami bertiga segera berangkat dengan membawa kamera untuk berfotoria. Beginilah kalau sudah berkumpul, senangnya foto-foto. Karena agak awal datangnya, kami punya cukup waktu untuk menikmati suasana di sekitar biara.

Aku mengajak mereka menuju hutan di belakangan biara yang terdapat patung Bunda Maria Regina Pacis. “Suasananya enak sekali ya?” ujar salah satu temanku yang baru pertama kali mengunjungi biara. Mulailah kami bersukacita dengan mendokumentasikan permandangan sekitar.

“Sudah ya, kita bersantai di taman lagi aja,” saranku. Awalnya teman-teman penasaran dimana tamannya. Aku duduk di kursi taman dan mengajak mereka bersantai, “Tamannya mana kak? Masih ada waktukah bersantai?” ucap seorang teman. Aku tertawa seraya menjawab: “Inilah tamannya, lihat view tanaman dengan warna-warni dedaunan dan bunga yang bermekaran.” Kami bersantai sejenak ditemani seorang diakon yang sudah kukenal.

Kami mengikuti misa sore bersama, suasana hening menunggu misa dimulai selalu membuat hatiku tenang. Tidak begitu lama, seorang pastur memasuki ruang doa dan lagu pembukaan dinyanyikan. Hari ini gereja memperingati hari St. Aloysius Gonzaga, seorang pemuda dari keluarga bangsawan yang memilih meninggalkan harta dan kehidupan bangsawannya dan masuk biara pada usia tujuh belas setengah tahun. Jujur saja, saat aku mendengar sekilas tentang St.Aloysius Gonzaga yang diceritakan oleh pastur, hatiku tersentuh. Keesokan harinya aku bahkan mencari tahu dan membaca biografinya.

Dalam pencarianku, aku menemukan banyak hal yang memberikan perenungan pribadi. Terlebih ketika aku mulai ingin memilih kemana langkah kakiku selanjutnya, Tuhan memberikan petunjuk dalam ayat yang kubaca. “Kumpulkanlah bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” (Mat 6:20).

Sejenak aku teringat satu kesempatan bersama papa di rumah. Kami menonton satu acara yang menampilkan keluarga yang hidup kekurangan dengan banyak anak-anak. Aku berkomentar: “Gimana caranya mereka bisa hidup seperti ini?” lalu papaku menjawab: “Tapi hidup mereka bahagia,” aku terdiam. Papa benar, mereka terlihat bahagia dengan kesederhaannya.

Senja kali ini, aku diajak untuk menemukan harta sebenarnya. Harta yang selama ini kucari dalam perjalanan hidup dan membawaku pada kebahagiaan sejati bersama-Nya.

 

Sintang, 21 Juni 2012

SCA-AJ.020187

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

8 Comments to "Menemukan Harta dan Berbahagia"

  1. Angela Januarti  26 June, 2012 at 10:04

    Pak DJ, terima kasih. Andai bisa ingin sekali ke sana. Aku suka berpetualangan ke tempat yang mampu menciptakan keheningan seperti itu. Moga nanti terwujud ^_^

    Kak Kornelya : Terima kasih juga sudah membaca tulisanku. salam.

  2. Kornelya  26 June, 2012 at 03:36

    Angela, terima kasih untuk renungannya. Ya, kebahagia’an itu tergantung bagaimana kita menyikapi hidup. Salam.

  3. Dj.  25 June, 2012 at 23:55

    Hallo Angela…
    Terimakaksih untuk renungan yang indah….
    Kalau satu saat ke Jerman, akan Dj. ajak ke Biara di Darmstadt ( yang didirikan oleh ibu Basilea Schlink dan 6 orang temannya, Biarawati ) dengan nama ” Tanah Kanaan Kecil” yang sangat tenang dan indah.
    Tapi harus cari jadwal, karena sangat banyak pengunjungnya.
    Disana Angelika pasti akan sangat terkesan dan males pulang….
    Salam Kasih dalam nama TUHAN YESUS KRISTUS…!!!

  4. Angela Januarti  25 June, 2012 at 15:04

    Pak JC : Terima kasih juga, wah padahal hanya sharing kecil yang berseri ^_^
    Sempat kaget senja ke-21 ku terbit di sini.

    Pak Han : Kalau setiap orang mampu mengupayakannya, maka semuanya akan semakin indah. Hidup jadi lebih berarti.

    Bang Chandra & Bang [email protected] : Terima kasih.

  5. chandra sasadara  25 June, 2012 at 12:13

    aha satu lagi pengetahuan tentang jiwa yg tenang. tks Angela

  6. Handoko Widagdo  25 June, 2012 at 09:38

    Manusia bisa berbahagia dalam kondisi apapun. Itu yang seharusnya diupayakan. Terima kasih Angela Kwee.

  7. J C  25 June, 2012 at 09:28

    Angela Kwee, terima kasih untuk membuatku semakin paham akan inner/spiritual treasure…

  8. [email protected]  25 June, 2012 at 08:36

    absen no 1….
    masih kosong dipagi hari ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.