Menerbitkan Indie: Petualangan Tersendiri (2)

Endah Raharjo

 

Sekarang kita memasuki bagian kedua. Sebelum mulai, mungkin ada yang bertanya-tanya tentang ISBN. Penjelasannya akan saya tulis di bagian akhir dari seri tulisan ini.

 

Kisah kedua

Ini tentang kumpulan cerpen bertajuk ‘Banyak Nama untuk Satu Cinta’. Penggarapan kumcer ini heboh sekali, sebab Kampung Fiksi (KF) mengajak banyak sahabat untuk bergabung. Buku ini menyajikan cerita-cerita pendek – masing-masing sekitar 800 kata – karya 36 penulis (8 penulis KF plus 28 kontributor).

Tidak seperti kumcer pertama, KF kali ini tidak mengurus sendiri penerbitannya, namun lewat penerbit yang khusus menerbitkan buku-buku indie dan menjualnya online. Saya tidak akan menyebutkan nama penerbitnya. Bagi sobat-sobat Baltyra yang ingin tahu boleh bertanya via email atau mengirim PM di FB saya. Yang jelas, saya tidak merekomendasikan apalagi mempromosikan penerbit manapun. Kalau saya beri tahu – bila ada yang bertanya via email atau PM – itu murni demi keterbukaan informasi.

 

Naskah

Naskah dikirim oleh para kontributor KF lewat email Kampung Fiksi. Semua naskah yang masuk diseleksi bersama, dan terpilih 29 cerita terbaik versi KF ditambah 8 cerita karya penulis KF. Seluruh cerita diedit bersama. Seorang koordinator bertanggungjawab mengumpulkan semua cerita itu untuk dijadikan naskah. Editnya tidak cukup sekali, lho… beberapa kali dipenthelengi sampai habis beberapa botol tetes mata! Meskipun begitu, masih saja ada typo satu-dua.

 

Cover

Sebenarnya penerbit yang dituju sudah menyediakan jasa pembuatan cover, namun kami ingin merancang cover sendiri. Kami mengajak sahabat yang pandai merancang cover. Gratis, tentunya.

Kalau meginginkan cover dirancang oleh penerbit juga bisa, karena tarif yang mereka pasang sudah termasuk jasa pembuatan cover.

 

Menghubungi Penerbit

Setelah naskah dan cover siap, koordinator menghubungi penerbit yang menyediakan beberapa paket jasa penerbitan. Salah satunya adalah paket ekspres dengan tarif Rp 1.000.000. Paket ini meliputi:

  • edit aksara dan EYD
  • design cover dan layout kualitas prima sesuai permintaan penulis
  • ISBN
  • jasa cetak kualitas prima dengan mesin printing POD, cover kertas ivory 230gr dengan laminating doff, dan kertas isi HVS 70gr
  • 1 eksp bukti terbit dikirim langsung ke alamat penulis tanpa ongkos kirim
  • satu kali review design cover dan penulis berhak melakukan revisi satu kali
  • promosi di website, FB, dan Twitter
  • buku akan siap dipesan dalam waktu 7 hari kerja (ekspres)
  • royalti 15% dari biaya produksi.

Dengan paket ini penerbit mendapat untung dari: pengerjaan disain cover dan layout, bagi hasil selisih antara harga jual buku dengan biaya produksi. Penentu besarnya biaya produksi juga penerbitnya, bisa jadi penerbit sudah mendapat untung juga dari situ. Penulis hanya memperoleh royalti yang besarnya ditetapkan penerbit.

Biaya produksi buku, harga jual, dan royalti ditentukan oleh ukuran, jumlah halaman, jenis kertas, dan warnanya (hitam/putih atau full color), dengan rincian seperti ini:

  • Ukuran buku: 13 cm x 19 cm
  • Jumlah halaman: 199
  • Isi: kertas HVS 70 gr, hitam/putih
  • Cover: kertas ivory 230gr dengan laminating doff
  • Biaya produksi (sesuai tarif penerbit): Rp 32.387
  • Harga jual (dipatok oleh penerbit): Rp 42.100
  • Royalti penulis: Rp 4.858 per eskp
  • Hak penerbit: Rp 4.858 per eksp

Urusan angka ini memang sudah dipatok semua oleh penerbit. Pokoknya yaaa… tinggal ‘take it or leave it’, gitu. Tapi memang kami jadi tidak repot. Tinggal kirim duit Rp 1 juta, lalu kirim naskah dan disain cover (kalau mau merancang sendiri). Seminggu kemudian, si buku kumcer bernama ‘Banyak Nama untuk Satu Cinta’ itu sudah bisa dipesan secara online. Beda paket ekspres dengan paket lainnya salah satunya ada pada jangka waktu.

Sebagai penulis, kami harus membuat akun di website penerbit, tentunya ada password dan tetek-bengeknya. Semua komunikasi dilakukan lewat akun itu. Kami bisa tiap saat ngintip jumlah buku yang sudah terbeli plus royalti yang kami terima, disajikan terbuka. Royalti bisa diminta tiap 3 atau 6 bulan. Jangan lupa, mereka juga melayani tanya-jawab lewat telpon.

Kalau dijelentrehkan seperti itu prosesnya terkesan rumit, namun bila dilakukan sebenarnya sangat mudah. Saya ringkas di sini:

  • Siapkan naskah (dan cover bila ingin merancang sendiri)
  • Cek website penerbit, pelajari dan pilih paket yang diinginkan
  • Buat akun di website penerbit
  • Siapkan uang sesuai tarif paket yang diinginkan
  • Transfer uang ke rekening penerbit
  • Penerbit akan ‘membuka’ atau mengaktivasi akun
  • Unggah naskah lewat akun. Kirim cover lewat email (hanya bila ingin merancang cover sendiri)
  • Penerbit akan menghubungi/berkomunikasi baik lewat email atau telepon.

Kalau saya yang sungguh-sungguh bego untuk urusan online ini bisa melakukannya (dengan mudah), saya yakin pembaca Baltyra – yang ingin menerbitkan buku – pasti tidak akan kesulitan.

Setelah buku terbit (artinya siap dibeli), masih ada lagi yang harus dilakukan penulis: promosi. Jangan tanyakan mengenai tahapan yang satu ini karena saya tidak akan cerita. Saking pusingnya. Dipelajari saja sendiri. Kampung Fiksi selama ini melakukan promosi lewat akun FB, blog, twitter dan profil BB. Kok profil BB segala? Ah… namanya juga promosi, semua jalur layak dicoba!

Dengan royalti yang hanya Rp 4.858 per eksp, maka untuk bisa kembali modal (minimal Rp 1 juta untuk biaya jasa) buku harus terjual sebanyak 205 eksp. Mudahkah menjual buku sebanyak itu? Dicoba dulu… saya tidak ingin cerita! Saya sekalian ingin berpesan, bila ada teman yang menerbitkan buku secara indie, jangan sekali-kali minta diberi gratis. Beda halnya kalau si penulis sendiri yang ingin memberi.

Salah satu – menurut saya – yang kurang praktis dari penerbitan indie online semacam ini adalah pembeli harus melewati beberapa proses. Pertama, pembeli harus sign up dan mengisi form pembelian online. Setelah itu penerbit akan mengirim tagihan via email agar pembeli membayar di rekening mereka. Sesudah membayar pembeli harus memberi konfirmasi agar penerbit bisa segera mencetak buku dan mengirimkan. Selain via email, ada juga layanan pembelian via sms yang kurang lebih prosesnya sama.

Dengan cara ini si penerbit hanya memajang buku digital di website untuk dilihat-lihat pembeli. Kalau sudah terbeli, baru mereka menyetak (dengan sistem POD). Kira-kira perlu waktu 7 – 10 hari dari membayar hingga buku diterima oleh pembeli, tergantung alamatnya.

Untuk mempermudah pembeli (orang Indonesa umumnya masih malas melakukan pembelian online, dianggap ribet atau entah apa… hiks… sedihnya…) penulis bisa membeli sejumlah buku dan menjualnya langsung pada pembeli. Selain itu penulis – atau siapa saja – akan mendapat diskon antara 10% – 35% bila membeli dalam jumlah tertentu. Sebagai promosi – juga agar pembeli senang – penulis bisa membeli dalam jumlah banyak, kemudian diskon itu diberikan pada pembeli. Hal ini saya lakukan untuk novel saya ‘Senja di Chao Phraya’ yang beberapa waktu lalu iklannya dipajang di halaman depan Baltyra. Kisah novel saya ini nanti akan saya beberkan juga.

Bersambung….

Catatan:

Blog Kampung Fiksi baru saja memenangi Internet Sehat Blog & Content Award (ISBA) 2012, kategori Bronze. Mau berkunjung? Klik di sini: http://www.kampungfiksi.com/

 

14 Comments to "Menerbitkan Indie: Petualangan Tersendiri (2)"

  1. Endah Raharjo  1 July, 2012 at 13:51

    @Anastasia dan Pak DJ: segera aja yang ngendon di laptop diedit dan diterbitkan

  2. Endah Raharjo  1 July, 2012 at 13:48

    @kornelya: nurut saya nerbitkannya mudah, yg sulit itu promosi dan distribusi
    @dinanda: memang begitu kayaknya yaaa ketika kita ngalami/melakukan sesuatu kadang2 merasa biasa2 aja, remeh temeh, tapi kalau ditulis dan dibagikan, ternyata ada aja teman yg bisa ngambil manfaatnya… *keajaiban berbagi*

  3. dinanda  30 June, 2012 at 21:16

    bagus, berbagi kisah…., saya juga punya pengalaman tentang self publishing……, ternyata… dibalik suatu penerbitan karya…., ada hal-hal yang sebelumnya kita anggap biasa bahkan cenderung kita remehkan…., padahal semuanya sangat penting….tapi sangat mengasyikan…..

  4. Kornelya  26 June, 2012 at 03:32

    Ternyata oh ternyata tidak mudah untuk menerbitkan buku sendiri. Endah terima kasih untuk membagi kisahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.