Antara Bunda Maya, Ruvita, dan Mama Lili

Cipta Arief Wibawa

 

Belakangan ini, karena sedang libur kuliah, saya cenderung banyak menghabiskan waktu pagi untuk menonton teve, siang untuk berjalan-jalan, dan malam untuk kembali menonton teve juga. Aktivitas yang sebenarnya untuk beberapa hari ini cukup saya nikmati :) ngomong-ngomong tentang menonton teve, kita pasti tahu berita apa saja yang sedang hot minggu-minggu terakhir ini. Jujur, saya malas kalau bahas pemerintahan, bahas wanita yang telah mendekam di penjara saya juga tidak berminat, jadi lebih baik saya pilih bahas tentang gadis cantik bernama Ruvita saja ya.

Lebih dari dua minggu lalu Ibu Lili melapor melalui media massa bahwa buah hati yang dicintainya telah hilang sejak beberapa hari tak jelas juntrungannya. Masih saya ingat terang bagaimana gurat kekhawatiran Ibu Lili saat menceritakan kronologis kejadian hilangnya sang bocah. Lama tercenung, saya pun berpikir, kasihan sekali tu anak, mungkin kena culik ama segerombol elit biadab hasil olah sisi gelap negeri ini.

Hari pun berlalu dan tak saya hitung-hitung…

Hingga pada suatu malam tersiar kabar sang gadis telah ditemukan. Bukan main senangnya hati ayah dan bunda mendapati si cantik kecilnya dalam keadaan sehat bertualang jauh ke ujung timur. Si anak pun diantar pulang (Maaf saya tidak konsisten menyebutkan panggilan untuk Ruvita, tidak ada alasan khusus, iseng saja :P). Namun, bagai bulan yang memang memang tak pernah perduli dengan pungguk yang setia merinduinya, Ruvita pun bertingkah, bercerita tentang segala aib orang tuanya, “Saya pernah dijambak sama mama, saya mau sekolah ga dikasih, saya disuruh syuting terus, saya ga mau lagi tinggal sama mama, saya maunya tinggal sama Bunda Maya ajah” (Bacanya dengan agak merengek ya, dan ingat, tidak perlu dibumbui falsetto berlebih) Begitu ujar Ruvita di depan media sambil terus ngelendot dengan seorang wanita bernama Maya yang diakuinya sebagai “Bunda”.

Coba katakan, hati orang tua mana yang tak teriris mendengar buah hati yang setengah mati dicari dengan ringan mengucapkan kalimat-kalimat pedas macam tu? Lumayan kalau kalimat itu hanya sampai pada kuping kiri-kuping kanan ibunya. Ini malah masuk pula ke ratusan juta kuping rakyat Indonesia yang bisa saja kebetulan juga menonton adegan “tali kasih” yang kusut itu. Aih…

Selanjutnya, hanya ada umpatan yang hadir secara halus dari bibir si cantik Ruvita buat ibunya. Tak ingat dia wajah cantiknya itu terpenuhi gizinya karena keringat siapa. Pun tak terbersit dalam hatinya saat sakit siapa yang memberinya perhatian lagi tempat bernaung. Ah  bunda, anakmu sungguh ngeri melihat tunas-tunas negeri yang bahkan tega malu mengakui ibu sendiri. Pakai minta tes DNA segala. Dipikirnya kalaupun terbukti hasil tes itu menyatakan bahwa ia bukan anak kandung ibunya, terus mau apa?Tak ada! catat itu! TAK ADA! Apalagi sempat kenyataannya justru bicara berbeda. Malu tak terkita pasti kau rasa.

Manis nianlah khayalanmu wahai gadis jika kaupikir “bunda” kau itu akan senang menampungmu. Hah, ia pun punya kehidupan kawan. Perhatiannya tak lebih sebagai bentuk empati atas cerita-cerita mirismu tentang kehidupanmu di rumah dahulu. Jangan kaupikir lebih dari itu, bisa sakit nanti kalau anganmu jauh panggang dari api (BAH! batak kali aku? maaf ya, agak terbawa suasana).Okei, bak tu de topik. Kalau zaman saya dulu, dipukul orang tua wajar karena berbuat salah, seperti pulang larut malam tanpa alasan yang jelas misalnya.

Nah, bicara tentang larut malam, saya jadi teringat waktu Ruvita pernah juga bilang bahwa ia dipukul oleh mamanya karena pulang dari berjalan-jalan dengan temannya jam setengah sebelas malam. Sekarang pakai logika kawan, apa salah jika orang tuanya marah? apa salah jika kemudian orang tuanya berusaha memberi efek jera dengan memukulnya?Saya saja kecil dulu walau anak laki-laki tetap saja kena pukul kalau pulang malam tak jelas entah ke mana. Apalagilah jika ia wanita macam “primadona” kita ini. Haduh…Terkadang hukum yang sudah rapi dibuat seringkali disalah artikan, orang tua mukul anaknya sedikit sudah dibilang KDRT, kekerasan terhadap anak, dll.

At least, saya hanyalah satu dari sekian orang yang berpijak pada sebuah pandangan. Berusaha berpikir sesederhana mungkin dengan dangkalnya pengetahuan yang saya miliki. Sebagai seorang mahasiswa yang mengambil disiplin ilmu Psikologi saya memang tak banyak tahu tentang manusia, hanya bisa berasumsi saja. Tapi tak apa, setidaknya saya sudah bersikap :)

Sudahlah, buat Ruvita, saya hanya ingin bilang, cerita malin kundang yang cuma legenda itu saja sudah cukup untuk buat bulu kuduk berdiri, jangan sampai harus ditambah lagi ya adik manis…

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung Cipta Arief Wibawa…make yourself at home ya. Dan tentu saja ditunggu artikel-artikel lainnya. Terima kasih Dewi Aichi yang sudah mengenalkan Baltyra ke Arief Cipta Wibawa…

 

14 Comments to "Antara Bunda Maya, Ruvita, dan Mama Lili"

  1. gudhel nakkebo  28 June, 2012 at 03:30

    terlalu banyak mutar2 ceritanya, tapi akhirnya penilaian penulis cerita yang subyektif.

  2. Dewi Aichi  27 June, 2012 at 17:57

    Anung….iya…menghujam jantung ku…..you know?

    Wuihh…mas Arief…yang ngelike di fb..buanyakkkk……asik, moga teman teman mas Arief mulai masuk…satu demi satu ke baltyra….

  3. anoew  27 June, 2012 at 09:59

    ini si Dewik kok sukanya yang menghujam…

    Kasihan Ruvita..

  4. Dewi Aichi  27 June, 2012 at 01:13

    mas Arief wow…njawab tapi sudah pasang avatar he he…sipplah..

    Ini tulisan perdana yang menghujam he he…benar apa kata mas JC saya sepakat. Aduh Ruvita…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.