Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Back to Jogja (2): Makanan, makanan!!

Tuesday, 26 June 2012

Viewed 2044 times, 3 times today | 45 Comments |

Anastasia Yuliantari

 

Begitu sampai di Jogja, hal paling dicari adalah makanan  yang relatif murah dibanding Ruteng. Makanan khas seperti gudeg, sambel goreng, dan jangan lodeh (sayur lodeh) boleh diabaikan dulu karena aku lebih suka ngemil daripada makanan berat. Guna mencarinya, tempat paling ideal adalah pasar tradisional. Kebetulan pasar tak jauh dari rumah adikku, maka aktifitas mencari makanan dapat dilakukan dengan segera.

Mata ternyata lebih berkuasa daripada pencernaan, hasrat makan dan volume perut tidak berjalan seimbang. Keinginan untuk beli dan icip-icip mengalahkan kemampuan mencerna. Pagi itu aku jadi kalap melihat macam-macam makanan tradisional seperti lupis, putu mayang, cenil, onde-one, dan lain sebagainya. Harganya rata-rata lima ratus rupiah, sesuatu yang tak mungkin lagi ditemui di Ruteng. Harga makanan di Ruteng minimal seribu rupiah, lima ratus berarti hanya dapat pisang goreng sepotong di mana pisangnya sebiji dibelah jadi empat keping!

Memang terjadi perubahan besar dalam kemasan. Lupis dahulu kala dibungkus daun pisang. Penjualnya memakai penampi besar besar dengan segunung lupis, parutan kelapa, dan air gula yang biasa disebut juruh. Setiap kali pembeli memesan makanan itu, penjual akan membuka semat lidi di daun pisang yang membungkus lupis, membuka daun pembungkusnya, meletakkan di atas pincuk (daun bisang yang dibuat semacam tempat berbentuk segitiga dengan disemat lidi) lalu menambahkan parutan kelapa dan juruh. Saat ini lopis telah dibungkus dalam kemasan plastik karenanya tak perlu lagi dibungkus daun pisang, langsung disertakan dengan kelapa dan juruh dalam kantong plastik kecil. Bila hendak menyantapnya si pembeli bisa menanmbahkan bahan tambahan itu sesuai seleranya.

Putu mayang atau dalam bahasa Jawa Timur disebut Petulo juga berubah. Bentuk petulo yang aku kenal sejak kecil mirip mie yang menggumpal dengan warna hijau, merah, dan putih. Kue yang terbuat dari tepung beras ini dimakan dengan menambahkan santan bercampur gula merah. Saat aku kecil, bila membeli petulo harus bawa mangkok sendiri karena keberadaan santan yang ditambahkan cukup banyak ke dalam kue itu. Saat plastik sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari manusia, setiap kali ada pembeli, penjual mengambil plastik, meletakkan petulo ke dalamnya sebanyak yang dipesan, lalu menyiramnya dengan kuah, dan mengikat plastic pembungkusnya dengan menggunakan karet atau disimpul begitu saja. Kini petulo juga tampil dalam kemasan plastic namun telah siap saji. Bentukny juga lebih mirip dadar gulung walau ketika dikecap, rasanya tak beda dengan petulo jaman dulu. Kuahnya juga dicampur gula putih sehingga warna merahnya hilang. Mungkin makanan ini kreasi baru agar pembeli tidak bosan.

Makanan ketiga adalah ronde. Sebenarnya ronde termasuk minuman karena disebut wedang ronde. Tapi dalam semangkok ronde ada beberapa benda yang dicampurkan sehingga bikin kenyang. Sore itu, saat mengunjungi Budhe (kakak perempuan Bapak/Ibu) hal pertama yang dicari adalah ronde yang mangkal di Alun-alun Selatan. Menurut kisah sepupuku, ronde tetangganya ini beberapa kali ditayangkan di TV bersama beberapa artis sebagai penikmatnya. Aku tak tahu apa istimewanya karena rasanya sama saja dengan ronde lain. Mungkin karena posisi mangkalnya di tempat yang menjadi obyek kunjungan wisatawan membuatnya lebih beruntung dibanding ratusan pedagang minuman sejenis lainnya.

Ronde tetap disajikan dalam cara yang sama seperti dahulu kala. Pedagang memasukkan kacang, butiran ketan berwarna kuning yang disebut ronde, kolang-kaling yang diwarnai merah, dan beberapa potong roti ke dalam mangkok beling kecil bertatakan. Setelahnya isi tersebut diguyur dengan air jahe panas. Seingatku ronde jaman dahulu lebih pedas dibanding sekarang, namun kadang memori diukur berdasarkan usia yang berbeda, jadi pedas menurut jaman dahulu belum tentu dianggap sama pedas seperti sekarang. Namun rasa dan penampilan ronde memang tak banyak berubah.

Walau terkenal berasal dari Solo, makanan lain yang kucicipi adalah kerak nasi yang biasa disebut intip. Budhe kebetulan baru saja pulang dari Solo. Dia membawa seplastik intip yang digoreng agak gosong. Sebetulnya agak aneh juga orang sengaja menggosongkan nasi untuk membuat intip dengan dikeringkan selama beberapa hari. Di Manggarai intip atau rateng dimakan biasa saja dengan sayur. Max paling hobby makan rateng, namun ternyata kepercayaan bahwa bila suka makan intip jodohnya adalah tetangga tak berlaku buatnya. Walau bila nekat bisa saja dikatakan, “Jawa kan pulau tetangga.” Namun makan rateng di Manggarai memang tak mengakibatkan selalu dapat tetangga. Mungkin karena hal itu pula saya ogah makan intip. Takut dapat tetangga, sih. Kan tidak lucu kalau berkunjung ke rumah mertua hanya melangkah beberapa rumah, tak ada kesempatan merasakan acara mudik alias pulang kampung.

Setelah cemilan tradisional di atas kelihatannya aku harus berburu makanan berat. Gudeg, lotek, SGPC (sega pecel), dan gudangan (urap) telah masuk dalam daftar. Tapi agaknya tak boleh terburu nafsu, karena berat badan akan naik beberapa kilo karenanya, dan tentu tak baik bagi kesehatan dan tak elok untuk penampilan.

 

Share This Post

Posted by Tuesday, 26 June 2012 on 11:04.

Categories: Food. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

45 Responses to “Back to Jogja (2): Makanan, makanan!!”

Pages: [5] 4 3 2 1 »

  1. 45
    Bagong Julianto Says:

    AY,

    Bungkus plastik nggantikan dau pisang, lhah….ini yang harus direkoreksi lagi.
    Sesuatu di daun pisang bikin makanan enak….

  2. 44
    Silvia Says:

    Foto dadar dan rondenya ga tahan deh

  3. 43
    Anastasia Yuliantari Says:

    Yu Lani, hahaha….yo isane njuk mung nganggo katok kolor, wkwkwkkwk.

  4. 42
    Lani Says:

    41 AY : edisi molor?????? memangnya pake celana kolor????? hahaha……..mmg susah klu usia udah banyak, makan kelebihan dikit aja badan gampang mblegenduk

  5. 41
    Anastasia Yuliantari Says:

    Yu Lani, diupayakan ngicipi tok. Nek nganggo tanduk barang iso batal edisi singset, sing ono edisi molor, wkwkwkwk.

Pages: [5] 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)