Tuesday, 26 June 2012
Anastasia Yuliantari
Begitu sampai di Jogja, hal paling dicari adalah makanan yang relatif murah dibanding Ruteng. Makanan khas seperti gudeg, sambel goreng, dan jangan lodeh (sayur lodeh) boleh diabaikan dulu karena aku lebih suka ngemil daripada makanan berat. Guna mencarinya, tempat paling ideal adalah pasar tradisional. Kebetulan pasar tak jauh dari rumah adikku, maka aktifitas mencari makanan dapat dilakukan dengan segera.
Mata ternyata lebih berkuasa daripada pencernaan, hasrat makan dan volume perut tidak berjalan seimbang. Keinginan untuk beli dan icip-icip mengalahkan kemampuan mencerna. Pagi itu aku jadi kalap melihat macam-macam makanan tradisional seperti lupis, putu mayang, cenil, onde-one, dan lain sebagainya. Harganya rata-rata lima ratus rupiah, sesuatu yang tak mungkin lagi ditemui di Ruteng. Harga makanan di Ruteng minimal seribu rupiah, lima ratus berarti hanya dapat pisang goreng sepotong di mana pisangnya sebiji dibelah jadi empat keping!
Memang terjadi perubahan besar dalam kemasan. Lupis dahulu kala dibungkus daun pisang. Penjualnya memakai penampi besar besar dengan segunung lupis, parutan kelapa, dan air gula yang biasa disebut juruh. Setiap kali pembeli memesan makanan itu, penjual akan membuka semat lidi di daun pisang yang membungkus lupis, membuka daun pembungkusnya, meletakkan di atas pincuk (daun bisang yang dibuat semacam tempat berbentuk segitiga dengan disemat lidi) lalu menambahkan parutan kelapa dan juruh. Saat ini lopis telah dibungkus dalam kemasan plastik karenanya tak perlu lagi dibungkus daun pisang, langsung disertakan dengan kelapa dan juruh dalam kantong plastik kecil. Bila hendak menyantapnya si pembeli bisa menanmbahkan bahan tambahan itu sesuai seleranya.
Putu mayang atau dalam bahasa Jawa Timur disebut Petulo juga berubah. Bentuk petulo yang aku kenal sejak kecil mirip mie yang menggumpal dengan warna hijau, merah, dan putih. Kue yang terbuat dari tepung beras ini dimakan dengan menambahkan santan bercampur gula merah. Saat aku kecil, bila membeli petulo harus bawa mangkok sendiri karena keberadaan santan yang ditambahkan cukup banyak ke dalam kue itu. Saat plastik sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari manusia, setiap kali ada pembeli, penjual mengambil plastik, meletakkan petulo ke dalamnya sebanyak yang dipesan, lalu menyiramnya dengan kuah, dan mengikat plastic pembungkusnya dengan menggunakan karet atau disimpul begitu saja. Kini petulo juga tampil dalam kemasan plastic namun telah siap saji. Bentukny juga lebih mirip dadar gulung walau ketika dikecap, rasanya tak beda dengan petulo jaman dulu. Kuahnya juga dicampur gula putih sehingga warna merahnya hilang. Mungkin makanan ini kreasi baru agar pembeli tidak bosan.
Makanan ketiga adalah ronde. Sebenarnya ronde termasuk minuman karena disebut wedang ronde. Tapi dalam semangkok ronde ada beberapa benda yang dicampurkan sehingga bikin kenyang. Sore itu, saat mengunjungi Budhe (kakak perempuan Bapak/Ibu) hal pertama yang dicari adalah ronde yang mangkal di Alun-alun Selatan. Menurut kisah sepupuku, ronde tetangganya ini beberapa kali ditayangkan di TV bersama beberapa artis sebagai penikmatnya. Aku tak tahu apa istimewanya karena rasanya sama saja dengan ronde lain. Mungkin karena posisi mangkalnya di tempat yang menjadi obyek kunjungan wisatawan membuatnya lebih beruntung dibanding ratusan pedagang minuman sejenis lainnya.
Ronde tetap disajikan dalam cara yang sama seperti dahulu kala. Pedagang memasukkan kacang, butiran ketan berwarna kuning yang disebut ronde, kolang-kaling yang diwarnai merah, dan beberapa potong roti ke dalam mangkok beling kecil bertatakan. Setelahnya isi tersebut diguyur dengan air jahe panas. Seingatku ronde jaman dahulu lebih pedas dibanding sekarang, namun kadang memori diukur berdasarkan usia yang berbeda, jadi pedas menurut jaman dahulu belum tentu dianggap sama pedas seperti sekarang. Namun rasa dan penampilan ronde memang tak banyak berubah.
Walau terkenal berasal dari Solo, makanan lain yang kucicipi adalah kerak nasi yang biasa disebut intip. Budhe kebetulan baru saja pulang dari Solo. Dia membawa seplastik intip yang digoreng agak gosong. Sebetulnya agak aneh juga orang sengaja menggosongkan nasi untuk membuat intip dengan dikeringkan selama beberapa hari. Di Manggarai intip atau rateng dimakan biasa saja dengan sayur. Max paling hobby makan rateng, namun ternyata kepercayaan bahwa bila suka makan intip jodohnya adalah tetangga tak berlaku buatnya. Walau bila nekat bisa saja dikatakan, “Jawa kan pulau tetangga.” Namun makan rateng di Manggarai memang tak mengakibatkan selalu dapat tetangga. Mungkin karena hal itu pula saya ogah makan intip. Takut dapat tetangga, sih. Kan tidak lucu kalau berkunjung ke rumah mertua hanya melangkah beberapa rumah, tak ada kesempatan merasakan acara mudik alias pulang kampung.
Setelah cemilan tradisional di atas kelihatannya aku harus berburu makanan berat. Gudeg, lotek, SGPC (sega pecel), dan gudangan (urap) telah masuk dalam daftar. Tapi agaknya tak boleh terburu nafsu, karena berat badan akan naik beberapa kilo karenanya, dan tentu tak baik bagi kesehatan dan tak elok untuk penampilan.
June 27th, 2012 at 06:54
AYla, oroknya siapa dan di mana? hahaha…
narsisnya Ayla mengundang senyum tersungging…
June 27th, 2012 at 06:25
Kowe ngopo yahmene tangi? Arep ngunduh salak po? Sopo sik akon kowe tangi yahmene…brisik…kono turu meneh…..ndak ming upload foto aneh aneh…..!
June 27th, 2012 at 06:19
@Dewi, kalo tetanggamu berbuah…eh, banyak buah mbok aku ikut biar merasakan buah-buahan juga. Perkara utang gampaaaangggg….hitung aja berapa, kalo udah punya uang pasti tak bayar. KALAU…ya……!!
June 27th, 2012 at 06:17
JC…..yo jelas pernah. Kan aku pingin banget cenil ama lopis. Wis kelakon kabeh, ning yo biasa2 wae. malah cenil tuh kan dari kanji, rasanya kayak makan lem….wkwkkwkwk.
June 27th, 2012 at 06:15
Pak Hand….jadi langsung, deh….hahahhaa.
June 27th, 2012 at 06:15
Linda, udah bawaan orok, mau gimana lagi???
June 27th, 2012 at 06:13
Yu Lani, lhaaaa kuwi nek nganti melar ngiwo nengen sing marakke mumet. Mangkat sak driji koq mulih iso dadi sak jempol, yo? Hahahahha.
Aku yo seneng intip manis, ning koq njur kelingan sak jempol mau.
June 27th, 2012 at 06:11
Pak DJ, di media sdh diadakan kampanye memakai tas yg bukan plastik. Saya juga sebenarnya engga suka pakai tas plastik, tapi di sini ga ada tas yg dr kertas atau dibungkus pakai daun kayak dulu. Semua pakai plastik.
Kapan hr di bandara saya liat seorang nona cakep sekali, dia beli makan siang, kayaknya nasi goreng, trus bungkusnya pakai styrofoam, adduhhhh saya bergidik sekali. Sementara utk bungkus makanan dingin aja dilarang krn beracun, apalagi utk bungkus makanan panas. Apa dia ga tahu ya? Bagus penampilan kemasannya tapi justru berbahaya.
June 27th, 2012 at 06:06
AH, lha iya intipnya juga dibungkus dengan plastik.
June 27th, 2012 at 06:05
Pampam….blom makan gudeg udah disuruh moto, ya engga ada, apalagi kameraku ketinggalan di Ruteng….wkwkwkwk.