Dewi Aichi – Brazil
Mengenal Erika sejak dua tahun yang lalu. Erika seorang wanita cantik, berambut panjang, hitam legam. Umurnya 30 tahun. Selalu berpakaian rok sebatas lutut, atau gaun dengan lengan panjang.Tidak pernah merias wajahnya lagi. Penampilan yang sangat berbeda. Dikenakan sejak setahun yang lalu.
Sebelumnya, Erika berpakaian modis, wajah dengan sapuan make up, warna cat kuku yang selalu kuat dan kontras. Sepatu high heels, mini skirt dan gayanya yang selalu menarik. Cantik sekali. Erika tidak pernah mengenakan celana panjang lagi seperti dulu.
Erika berkepribadian sangat baik, suka menolong siapa saja. Banyak sekali sahabatnya. Termasuk saya yang bisa dikatakan dekat. Dalam satu minggu, bisa ke rumah 2 sampai 3 kali, hanya untuk berbagi cerita, makan bersama, atau sekedar menyapa kemudian pulang.
Sampai pada seminggu yang lalu, ketika saya mengundangnya ke acara festa Junina di sekolah anak saya. Berhubung undangan berlaku untuk 5 orang, maka saya ingin mengajaknya. Dengan rasa sungkan, Erika menolak undangan saya. Alasannya, bahwa kepercayaan yang diyakininya melarang mengikuti festa Junina.
Memang, festa Junina ada kaitan dengan salah satu kepercayaan yang membicarakan tentang São Juão. Ini sangat bertentangan dengan keyakinannya. Untuk itu saya kemudian yang minta maaf atas ketidaktauan tentang itu. Setelah itu, kami ngobrol apa saja seperti biasa.
Kemudian Erikapun menceritakan kekuatirannya, karena anak satu-satunya akan menari dansa Quadrilha dalam festa Junina di sekolahnya. Antara menuruti permintaan anaknya yang sangat memohon dengannya dan keyakinannya yang melarang mengikuti acara tersebut. Bingung dan galau.
Akhirnya, Erika menyetujui permintaan anaknya untuk melihatnya berdansa, tetapi tidak bisa mengikuti ritual lainnya yang menghidangkan makanan khas festa Junina. Setelah melihat anaknya dança, maka pulang lah Erika.
Keesokan harinya, Erika mengobrol lagi dengan saya, tentang kegalauan hatinya, tentang banyak hal yang tidak sesuai dengan keyakinannya. Di antaranya adalah, tentang anaknya yang belum tau apa-apa tentang keyakinan. Bagaimana cara menjelaskannya kepada seorang anak kecil? Tetapi, dalam pikiran seorang anak kecil, apakah bisa memahami? Apakah si anak sudah bisa menerima penjelasan si mama? Saya hanya bisa menjadi pendengar yang baik untuk Erika tanpa membuka suara.
June 26th, 2012 at 19:21
saya pun bersedia menjadi pendengar yg baik
June 26th, 2012 at 19:00
pakai bahasa anak-anak, lah
June 26th, 2012 at 18:06
Terima kasih semuanya, ini hanya sharing obrolan antar teman sehari hari….nanti hadir lagi ke sini…mau nyiapin pekerjaan dulu….
Sekali lagi terima kasih…
June 26th, 2012 at 13:53
*** . Dalam satu minggu, bisa ke rumah 2 sampai 3 kali, hanya untuk berbagi cerita, makan bersama, ***
Mbak DA….
Pertama Dj. pikir….
Pantas dia gelisah, lha mbak DA setiap minggu 2-3 kali datang untuk ngpbrol dan makan…..
Siapa orangnya yang tidak gelisah, mengahbisakan persediaannya Erika….
Taunya soal Iman, itu hak masing-masing orang dan tidak ada yang boleh mengganggu.
Hanya saja, kalau Imanya sudah kuat, hanya melihat, sebenarnya tidak jadi masalah, malah menambah
pengetahuan, asal jangan ikut dalam ritualnya.
Lain kali jangan hanya datang kerumah Erika dan makan saja.
srkali-kali untung Erika sekeluarga makan dirumah mbak DA ya…
Salam manis dari Mainz.
June 26th, 2012 at 13:53
DA : wadoh…….Erika jik kebingungan……klu bingung2 trs bs linglung………njur mesam-mesem dewe…….jgn sampai ketularan temannya yg lulusan Pakem
June 26th, 2012 at 13:46
Dilematis
June 26th, 2012 at 12:13
… Erica… oh Erica …… ; temanku yang lahir, besar dan menikmati hidupnya di Beijing (sebuah kota yg sejak diriku kecil sudah dicekoki dengan informasi ttg “ketidakbebasan” manusia), suatu kali mentertawakan diriku yang “harus” mengikuti iman kedua orang tuaku …. dalam tawanya aku menyadari jika diriku yang “selalu” menganggap diri lebih “bebas” dari dia; ternyata jauh lebih terikat dari dirinya yang bisa dengan bebasnya menyatakan diri “belum” berkeinginan untuk percaya pada apapun diluar kuasa manusia; dan diberikan kebebasan oleh ortunya utk itu. Btw, Mamanya rajin mengunjungi Gereja di hari Minggu serajin mengunjungi beberapa kuil di kotanya, sebelum memulai aktifitasnya.
June 26th, 2012 at 12:01
Pam… org dewasa jg yg mengotak2an anak… gak boleh main dng si ini si itu hahaha… capede…
June 26th, 2012 at 11:43
oh.. erika, saatnya mengisi gelas yang kosong dengan anggur kehidupan
June 26th, 2012 at 11:21
absen….
ahhh… dunia anak kecil memang berbeda dengan dunia orang dewasa, anak kecil adalah dunia yang simple dan mudah, dimana saja, bermain dengan siapa saja, tanpa memandang ini atau itu.
hanya orang dewasa lah, yang mulai mengkotak2kan diri sendiri…. dengan dalih kepercayaan, dsb….
salam…