Draupadi (1)

Chandra Sasadara

 

Semua orang mungkin berpikir bahwa aku adalah satu-satunya perempuan di dunia yang paling berbahagia. Bagaimana tidak, aku istri Pandawa. Istri para kesatria yang diinginkan oleh setiap perempuan, bahkan oleh mereka yang telah memiliki suami. Banyak perempuan yang berharap sekedar untuk menjadi pembantu di rumah tangga para kesatria Pandawa agar bisa berdekatan dan membaui keringat pujaan hati mereka.

Aku bersanding di dampar kencana dengan Yudhistira yang agung dan dicintai rakyatnya. Aku dimanja oleh kesatria lelananging jagad. Arjuna, panengah Pandawa yang tampan tiada tanding dan sakti pilih tanding. Aku diperlakukan seperti boneka kayu yang tidak boleh lecet sedikitpun oleh Bimasena. Laki-laki perkasa di jagad raya. Nakula dan Sahadewa, dua suami kembarku itu juga sangat tulus dan lembut memperlakukanku sebagai istri.

Tentu aku tidak menyalahkan mereka, orang-orang yang menganggapku perempuan paling bahagia di dunia. Memang kenyataannya aku diperlakukan sangat baik dalam keluarga Pandawa. Apalagi mertua perempuanku, Kunti. Perempuan terhormat yang menganggapku sebagai anak sendiri. Mungkin banyak perempuan yang menginginkan kedudukanku, menginginkan untuk menjadi diriku.

Sebelum aku menjadi istri Pandawa, aku juga seorang putri di Negeri Panchala. Perlakuan yang aku peroleh dalam keluarga Pandawa juga aku peroleh dalam keluargaku. Aku dihormati sebagai anak tertua Prabu Drupada. Aku juga sangat dicintai dan dihormati oleh adik-adikku, Srikandi dan Dristadyumna. Seluruh pejabat dan rakyat Panchala sujud di kakiku. Aku bisa mendapatkan apapun yang aku mau. Jadi tidak terlalu berbeda hidup dalam keluarga Pandawa dan di Negeri Panchala. Aku sudah sangat biasa mendapat pujian dan perlakuan hormat dari semua penduduk Negeri Panchala.

Namun sebagai manusia, perempuan butuh lebih dari sekedar pujian, pengakuan dan kehormatan yang wadag. Aku tidak mengingkan pujian karena aku istri Pandawa, trah Bharata yang disegani oleh seluruh negeri di tanah Hindustan. Aku juga tidak nyaman mendapat pengakuan karena alasan sebagai menantu Kunti, perempuan terhormat dari Kuntihbhoja. Aku juga risau kalau dihormati karena aku anak Prabu Drupada yang agung di Negeri Panchala. Karena menurutku itu perlakuan yang tidak tulus, pengakuan yang pamrih. Aku ingin mendapat kesempatan sebagai manusia, sebagai perempuan yang mendapat perlakuan sama dengan kaum kesatria.

Perempuan butuh didengar, diserap kemauannya dan mendapat kesempatan yang sama dalam membuat keputusan apalagi yang berhubungan dengan diriku. Aku menyadari bahwa perempuan memiliki kodrat untuk melahirkan dan menyusui anak, tapi hal tidak bisa dijadikan alasan untuk menempatkan perempuan pada kedudukan di bawah kaum kesatria.

Perang dan damai bukan melulu urusan laki-laki. Perang justru menjadi urusan paling penting dalam kehidupan perempuan. Siapa yang menjadi janda setelah semua kesatria mati berebut nyawa di medan laga. Siapa yang akan mengurus anak-anak dan orang tua setelah para laki-laki menjadi korban dalam pertempuran. Perempuan selalu menjadi bagian perang  yang paling tidak terlindungi. Ketika kaum kesatria menang perang, perempuan tidak menikmati apapun. Pada saat mereka kalah perang, perempuan akan menanggung semuanya. Menanggung kekalahan, menjadi manusia rampasan, diperbudak, dipaksa meninggalkan tanah leluhur bahkan tidak jarang harus menjadi pemuas nafsu kaum prajurit.

*****

Sebagai anak penguasa, aku pernah merasakan hal itu. Marasakan menjadi manusia pelengkap, pelengkap bagi kaum kesatria. Meskipun aku memiliki semua yang dimiliki kaum kesatria, sebagai perempuan aku tetap harus diam dan menerima keputusan mereka. Itu terjadi ketika keluargaku memilih laki-laki yang akan menikahiku. Ayahku, Raja Agung Negeri Panchala menyelenggarakan sayembara secara besar-besaran, mengundang hampir semua kesatria, raja bahkan kaum brahmana di seluruh tanah Hindustan.

Kesatria tampan dan sakti berdatangan memenuhi undangan ayahku. Selain anak-anak Dristarasta penguasa Negeri Hastinapura, hadir juga kesatria yang terkenal sakti seperti Krishna, Sisupala, Jarasandha, Salya dan Karna. Satu persatu para kesatria itu gagal memasukkan lima anak panah dalam lobang cakra yang berputar terus menerus. Bahkan Karna yang terkenal sebagai pemanah ulung dan sulit ditandingi gagal melakukan ujian yang diberikan oleh Dristadyumna.

Semua yang hadir di arena sayembara tegang karena tidak satupun kesatria dan raja dapat menembus lobang cakra. Beberapa kesatria bahkan ada yang menuduh bahwa ayahku hanya ingin memamerkan kecantikan anaknya tanpa bermaksud untuk memilih menantu. Namun adikku Dristadyumna mampu mengatasi ketegangan, bahkan dengan keyakinan penuh ia mengatakan bahwa akan muncul seorang kesatria yang akan memenangkan sayembara. Hingga langit barat memerah, tidak seorang kesatria pun yang maju ke arena pertandingan. Hanya ada seorang brahmana dekil dengan tubuh ditutupi kulit kayu yang maju ke arena.

Brahmana dengan tutup kulit kayu itu meminta ijin kepada Dristadyumna untuk ikut dalam sayembara memperebutkan diriku. Aku hampir menjerit, aku takut brahmana itu memenangkan sayembara. Tidak dapat dibayangkan aku harus menikah dengan brahmana miskin, hidup menderita di hutan dan membesarkan anak-anakku dalam kemiskinan. Tapi saat itu aku yakin bahwa brahmana itu tidak akan menang, sebab para kesatria sakti seperti Karna dan Salya saja tidak mampu menembus lobang cakra dengan lima anak panah.

Aku hampir jatuh pinsan ketika brahmana dekil itu dengan mudah menembus lobang cakra dengan lima anak panah yang dipersayaratkan. Aku marasa bahwa warna langit berubah hitam pekat secara tiba-tiba. Semua kebahagiaan yang aku bayangkan menjadi istri seorang yuwaraja atau kesatria tampan telah pupus. Hidupku berkahir, dari anak Raja Agung Negeri Panchala menjadi istri brahmana miskin. Telah terbayang bahwa hidupku akan berakhir di hutan. Berkeliling meminta sedekah, memunguti buah-buahan dan kacang-kacangan di hutan bersama anak-anakku.

Ketika aku sedang menangisi nasib malang yang akan aku jalani bersama brahmana dekil itu, ayah memangilku untuk dipertemukan dengan calon suamiku. Dewata ternyata tidak pernah berhenti memberikan kebahagiaan kepadaku. Aku dipertemukan dengan seorang laki-laki yang sangat tampan, lembut dan sangat mempesona. Belum pernah aku melihat laki-laki dengan daya tarik seperti yang aku lihat saat itu. Ia pemperkenalkan diri sebagai Arjuna, panengah Pandawa dari keluarga Bharata dari Hastinapura. Laki-laki inilah rupanya yang menyamar sebagai brahmana dekil dengan kulit kayu menutupi tubuhnya.

Hatiku bukan hanya bersorak, tapi aku hampir menangis karena bahagia. Semua doa yang akau panjatkan kepada Dewata selama ini telah dikabulkan. Aku akan diperistri oleh seorang kesatria yang terkenal paling tampan di tanah Hindustan, sakti mandraguna, memiliki saudara-saudara yang setia dan juga sakti. Namun kebahagiaan itu hanya aku rasakan sesaat. Arjuna meminta agar ayahku mengijinkan putrinya dinikahi oleh Pandawa. Itu artinya aku tidak hanya akan menjadi istri Arjuna, tapi juga Yudisthira, Bimasena, Nakula dan Sahadewa.

Aku memaki dalam hati. Laki-laki macam apa yang merelakan calon istrinya dinikahi bersama-sama dengan saudara laki-lakinya yang lain. Norma apa yang mengijinkan seorang perempuan menikah dengan lima laki-laki sekaligus. Aku rela untuk tidak menikah dengan laki-laki paling tampan di dunia dari pada harus menikah dengan empat saudaranya yang lain.

Aku lega ketika nada bicara ayahku seperti tidak merelakan anaknya dinikahi oleh lima laki-laki yang masih satu darah tersebut. Ayahku meminta waktu satu malam untuk memikirkan permintaan Arjuna. Aku berharap ayah akan meminta pendapatku sebelum membuat keputusan yang menyangkut masa depanku. Ayahku memanggil pejabat tinggi Negeri Panchala, tetua agama, saudara-saudaraku dan aku. Aku berharap ayahku yang selama ini dikenal sebagai raja bijak dan adil mau mendengar isi hatiku.

Para pejabat memberikan usul, para tetua agama memerika pedoman yang berasal dari ajaran suci. Mereka berdebat tentang moralitas dan karma apabila pernikahan tersebut jadi dilakukan. Mereka akhirnya mendapat pembenaran bahwa sumpah setia merupakan norma tertinggi yang tidak dapat dilanggar. Alasan Arjuna ingin menikahiku bersama saudara-saudaranya yang lain adalah untuk memenuhi sumpah Pandawa. Mereka bersumpah bahwa semua yang dimiliki akan dibagi bersama. Aku diperlakukan seperti makanan dalam piring yang bisa dibagi sesuka hati. Dan ayahku menyetujui.

Aku dibiarkan seperti seonggok sampah di ruang kumuh. Tidak seorangpun menengok ke arahku, apalagi meminta pendapatku. Mereka lupa bahwa aku adalah perempuan yang sedang mereka perdebatkan nasibnya. Tidak, mereka tidak lupa. Mereka sengaja membiarkan aku menanggung semua keputusan kerajaan seorang diri. Aku sudah tahu bahwa perempuan memang harus menanggung keputusan orang lain. Aku bahkan tidak menangis sedikitpun ketika keputusan itu diambil dan disetujui oleh ayahku.

Aku tahu bahwa ayahku sebenarnya tidak menyetujui anaknya dinikahi oleh lima laki-laki. Pembenaran yang dicari oleh para tetua agama dalam kitab suci hanya untuk menutupi tujuan sesungguhnya yang dimiliki ayahku. Ayahku masih menyimpan dendam kepada Mahaguru Drona. Melalui pernikahanku, Negeri Panchala bisa bersekutu dengan Pandawa dalam perang besar yang bakal pecah antar keluarga Bharata. Perang yang telah diramalkan oleh para pertapa dan wiku.

Menurut perkiraan ayahku, Drona tidak akan berpihak kepada Pandawa sebab Mahaguru keluarga Bharata itu telah banyak berhutang budi kepada Duryodhana. Yuwaraja negeri Hartinapura itu telah memberikan apapun yang diminta oleh Drona. Dipastikan Drona yang sakti dan mengusai segala macam sejata dan siasat perang itu akan berada dalam barisan prajurit Hastinapura.

Mahaguru sakti itu hanya bisa ditandingi oleh Arjuna dalam olah senjata dan kecerdasan Krishna dalam siasat perang. Maka menikahkanku dengan Pandawa adalah satu-satunya cara menempatkan Dristadyumna dalam barisan Arjuna dan Krihsna. Dristadyumna, adik laki-lakiku itu telah diramalkan akan mengakhiri kehidupan Drona dalam perang besar keluarga Bharata. Dan aku menjadi alat tukar untuk sebuah dendam usang ayahku yang tidak pernah usai.

Aku tidak menyesal sebagai perempuan, tidak juga menyesal lahir di keluarga Negeri Panchala. Aku hanya satu dari berjuta perempuan yang mengalami nasib buruk akibat pilihan-pilihan yang tidak pernah aku buat sendiri. Terlahir dari rahim siapapun, perempuan hanya menjadi pelengkap bagi keberadaan kaum kesatria. Belum ada pertapa dan wiku yang meramalkan kapan nasib perempuan akan berubah menjadi lebih baik, tapi yang pasti nasib buruk perempuan masih akan berlanjut. Entah sampai kapan, akupun tidak yakin nasibku akan berubah lebih baik meskipun aku seorang Permaisuri Maharaja Negeri Indraprastha.

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

23 Comments to "Draupadi (1)"

  1. Handoko Widagdo  29 June, 2012 at 10:46

    Alam flora kebanyakan juga berpoliandri. Setangkai bunga jagung dibuahi oleh sari dari banyak bunga jantan.

  2. chandra sasadara  29 June, 2012 at 10:46

    Kang JC dan Bu’ Dewi tinggal bersepakat saja tuk buat petisi agar poliandri dan poligami diakomodasi dalam RUU perkawinan..ehhehehehehe

  3. chandra sasadara  29 June, 2012 at 10:41

    Mbak Dewi : saya kira menarik “menghidupkan” poliandri..hehehehe. dulu poliandri ditentang (salah satunya) karena alasan nasab/garis keturunan. hal ini ada hubunganya dengan hukum pewarisan. klo sekarang kan ada uji DNA dll, jadi seseoran bisa dilacak garis keturunannya untuk menentukan hak warisnya. hehehehe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *