Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Bukan Cinta yang Kudamba 6

Thursday, 28 June 2012

Viewed 629 times, 4 times today | 6 Comments |

Yang Mulia Enief Adhara

 

Chapter 4

MIGUEL

Minggu-minggu pertama rasanya begitu berat. Pagi bekerja hingga malam setelah itu langsung pulang ke mess. Aku belum mendapat jatah libur, sehingga aku belum bisa sekedar melihat lihat kota Kuala Lumpur. Mbak Susi dengan sabar mengajari aku akan berbagai hal. Dengan cepat aku beradaptasi dengan suasana kerja juga kepada rekan-rekan kerjaku yang jelas semuanya baru. Kawanku tidak hanya orang Melayu, ada juga orang Philipina dan juga Thailand. Walau masih sulit untuk berkomunikasi namun kami tetap dapat melalui hari-hari penuh tawa.

Salah satu rekan kerjaku adalah Miguel yang berasal dari Philipina, posisi dia di resto ini adalah sebagai koki. Orangnya bertubuh atletis, tampan namun termasuk pendek. Tingginya tak lebih dari 163 cm. Namun ia benar-benar kocak, aku selalu tertawa saat melihatnya berbicara. Matanya yang sipit kerap membulat membuat wajahnya yang tampan terlihat imut-imut. Belum lagi saat dia berbahasa Melayu bercampur Philipine, sungguh membuatku pening, sudah setahun lebih bekerja di KL namun tetap tidak fasih berbahasa Melayu. Dan saat dia berbicara bahasa Inggris, itu membuatku bagai berada di planet asing, maklumlah bahasa Inggris-ku kan sangat pas pas-an, namun Miguel tiada bosan mengajariku berbahasa Inggris, hingga pelan-pelan aku bisa merangkai kata menjadi kalimat walau masih sulit untuk berbicara lisan secara langsung.

Miguel sering memberiku makanan ektra hasil masakannya. Kadang kami makan berdua dalam satu piring. Sungguh masakan Miguel sangat lezat. Mbak Susi pun sering menggoda diri-ku saat aku tengah bercanda atau makan berdua dengan Miguel. “Cieee Nita kayanya kesetrum nih”, Ujar Mbak Susi cekikikan, dan biasanya kusambut dengan lidah menjulur.

Miguel teman kedua setelah Mbak Susi. Bagiku dia seperti kakak. Walau bahasa lisan kami bisa dibilang tidak nyambung, namun secara hati kami begitu dekat. Saat aku duduk termenung mengingat keluarga juga Mas Widi, ia selalu memelukku dan berkata, “everything gonna be alright”, itu salah satu bahasa Inggris yang aku pahami sekaligus aku sukai saat meluncur dari bibir Miguel. Tiap mengatakan kalimat itu, mata sipit Miguel membulat dan bola mata warna coklat itu seolah bersinar.

 

******

Tiga minggu aku bagai ter-isolasi tidak dapat dihubungi juga menghubungi siapapun dari Indonesia. Namun saat aku mendapat libur pertamaku, di benakku hanya membeli kartu telepon dengan nomer Malaysia. Sialnya Mbak Susi tidak libur, namun Miguel kebetulan pas mendapat libur. Walau aku tidak mampu untuk mengutarakan keinginanku dengan sejelas jelasnya, ternyata Miguel cepat tanggap, jadilah aku pergi berdua dengan Miguel. Aku diajaknya naik Monorail yang membuatku kagum, melihat lihat KLCC, Bukit Bintang dan banyak lagi. Menurut Miguel wajahku cantik, bahkan Miguel rajin memotretku. Kami berdua juga kerap berfoto berdua dengan camera digital miliknya. \

Dan ada keajaiban terjadi, Miguel memaksaku membeli HP baru keluaran mutakhir. Uangnya tentu dipinjami dulu olehnya. Dengan susah payah Miguel menjelaskan padaku bahwa aku bisa mencicilnya sesukaku, butuh 30 menit hingga aku akhirnya paham maksud Miguel. Hatiku berat menerima bantuannya, terlalu banyak ia menolongku, maklum saat tiba di KL aku hanya bermodalkan uang sisa sekitar Rp.238.000. Namun aku tahu, bila aku menolak tentu dia akan sangat kecewa, aku tidak ingin senyum manis dengan lesung pipit di pipi-nya memudar karena kecewa.

Menurut Miguel HP jadul yang aku punya, umurnya sudah tak lama lagi. Sejujurnya aku menyadarinya, lha buat internetan saja lambat sekali. Sebuah merek terkenal dipilihkan Miguel. Dengan sabar dan tulus ia mengajariku cara mengoprasikan HP layar sentuh yang baru sekali ini ku lihat. Ia sibuk memeragakan cara untuk membuka berbagai aplikasi, ia juga dengan sabar memindahkan phone book dari HP jadul ke HP baru nan canggih yang jumlahnya sekitar 94 nama dan nomer. Aku sepertinya tidak begitu memperhatikan HP yang berada di tangan Miguel, aku Justru memperhatikan sosok Miguel. Pemuda berusia 26 tahun di sampingku ini begitu baik hati. Ku tatap wajahnya yang tampan, dengan cambang yang rapi juga bekas cukuran di dagu dan di atas bibir yang berwarna kehijauan. Aroma tubuhnya seperti roti, aku diam-diam menikmati semua yang ada dalam diri Miguel.

 

*****

Setelah semua nomer dipindahkan, kini Miguel mengajari cara membuka phone book. Aku lihat semua sudah tersusun, bahkan lengkap dengan kode negara. Sebagai wanita gagap teknologi hal ini sangat membantuku. Aku tetap saja bingung sewaktu aku ingin menelpon Mas Widi , maka Miguel lagi lagi membantuku, dipilihnya nama Widyanto sesuai permintaanku lalu dia mulai menunggu tanda panggil, dia memasang hands free. Tak lama Miguel berbicara, ” May I speak to Mr Widi? “, lalu sepertinya dia diam sejenak mendengarkan seseorang berbicara, tak lama dia bicara lagi, “My name is Miguel, keep holding please”. Miguel melepas hands free dari telinga-nya dan memasangkan ke telingaku. Aku pun berbicara tanpa harus menempelkan HP di telinga, bagiku ini tehnologi baru, bagi orang-orang ini tehnologi yang sudah standart.

 

*****

“Mas, ini aku …. Nita, piye Mas kabarnya? “, Ujarku penuh kerinduan. 3 minggu tak ku dengar suara Mas Widi. “Ini nomer aku di Malaysia Mas, disimpan yaa”, Lanjutku tetap antusias.

Mas Widi terdengar gembira, “Hallo sayang, Masyaallah aku kangen banged. Maaf dek waktu kamu berangkat, HP aku pas rusak, ingetkan waktu kita telpon malam-malam aku habis meeting? Nah HP-ku jatuh dari motor gara-gara aku terburu buru”, Suara Mas Widi terdengar penuh penyesalan. “Pas aku beli HP baru yaa jujur aja aku bingung, nomer kamu udah ndak aktif dek. Ohh iyaa dek, gimana kerja di Kuala Lumpur? Betah? ?”. Mas Widi berbicara penuh ceria. Jujur saja, aku suka, aku rindu suaranya.

Aku-pun bercerita panjang lebar, dan sampai aku bercerita tentang Miguel yang meminjamkan uang hingga aku memiliki HP baru. “Dia baik banged Mas, Mbak Susi banyak pengeluaran jadi nggak bisa diharapkan. Ini aja aku ndak minta ehh tau tau ditawari. Malah dipaksa Mas”, Aku bercerita sambil tertawa memandang Miguel yang sibuk duduk menikmati milk shake Vanilla di hadapannya dengan wajah kocak.

“Hmmm gitu yaa? “, Suara Mas Widi terdengar datar dan dingin, “Ngapain sih kamu mau diutangin sama laki laki itu? Pasti ada niat nggak bener tuh ! Baru kenal kok berani minjemin duit sebanyak itu? Aneh. Hati-hati dek, kamu bisa bisa dijebak dia lho, itu kayanya orang ada niat terselubung, biasalah liat perempuan cantik jadi segala cara ditempuh”, Ujar Mas Widi membuatku terkejut. Bisa-bisa-nya ia berbicara seburuk itu tentang Miguel.

Walau Mas Widi kekasihku namun aku tidak terima ia bicara seperti itu tentang Miguel, itu tuduhan tanpa alasan. “Maaf-kan aku Mas, tapi kamu sudah salah duga, ia baik seperti kakak-ku sendiri, dia banyak menolong aku lho Mas, aku jamin deh dia ndak seburuk yang kamu kira”. Ujarku sesabar mungkin.

Mas Widi diam, lalu dia berkata pelan, “Dek sepertinya kamu lebih suka membela dia yaa? Aku mikir gini karena nggak mau kamu celaka, bisa aja dia niat memperkosa kamu, ingat dia bukan teman sebangsa-mu”.

Sungguh saat mendengar semua ini ada rasa marah di dada-ku, lobang telingaku bagai ditusuk dengan obeng. aku wanita yang sabar, jarang sekali aku bisa marah. Namun kata kata Mas Widi terlalu keji, Miguel bagaikan sandaran di saat aku rapuh, rindu akan tanah air, rindu Mas Widi, rindu keluargaku. Mbak Susi memang banyak membantuku, tapi demikian juga Miguel, Aku juga butuh figur kakak lelaki di sini, dan Miguel orangnya. Tega betul Mas Widi mengucap tuduhan keji seperti itu. Kuredam emosiku dengan susah payah, ku tahan airmata-ku agar Miguel yang duduk di hadapanku tidak menaruh curiga. Bahkan Miguel menyodorkan minumanku, memintaku meneguk sedikit, mengira aku tengah larut dalam haru saat berbicara dengan kekasihku. Mataku memang berkaca-kaca, berkaca-kaca karena marah.

“Mas, jangan gitu ahh, ndak baik menuduh orang yang bukan-bukan, Insyaallah aku baik-baik saja, lagian kan ada Mbak Susi di sini”, Ujarku dengan suara sesabar mungkin, walau sejujur-nya aku ingin berteriak marah. “Mas udah dulu yaa, giliran mau nelpon Ibu dan Bapak, mumpung masih ada pulsanya nih”, Sahutku mengakhiri pembicaraan. Entahlah saat itu sempat melesat rasa benci di hatiku, aku membutuhkan cintanya, sepanjang hidupku, namun cinta yang benar bukannya cinta yang kalut.

 

*****

Entah ada apa ini? Sepertinya Mas Widi kian hari kian tak jelas, hati-nya bukan seperti yang ku kenal. Ada saja sikapku yang salah di mata-nya. Sedangkan Miguel adalah orang baru dalam hidupku, namun ia sangat memahamiku, kami bagai sepasang kekasih. Tujuh dari sepuluh orang yang kami kenal pasti mengira kami pacaran. Jujur saja aku takut jatuh cinta lagi, cintaku pada Mas Widi terus dikikisnya dengan kecurigaan dan kemarahan yang tak berarah. Aku mulai lelah menanggung semua ini. Entah kemana perginya kepercayaan dan keyakinan akan cinta, antara aku dan Mas Widi.

Aku kerap termenung memikirkan semua ini. Rasanya jarak Pekalongan Kuala Lumpur begitu sukses menghancurkan cintaku dan Mas Widi. Ada apa dengan Mas Widi? . Rupanya Mbak Susi memperhatikan diriku yang kerap melamun, dia tahu Mas Widi-lah yang kerap membuatku galau.

“Nit, ada masalah apa sih antara kamu sama cowok-mu? Kok sepertinya sering banged dia marah-marah? Lama-lama lihat kamu seperti ini bikin aku prihatin”, Mbak Susi menanyakan hal yang sejujurnya aku sendiri tidak tau jawabannya.

Ku aduk-aduk mie kuah dihadapanku dengan lesu, “Aku juga ndak tau Mbak, lha sejak aku di penampungan sikapnya jadi aneh, ada aja hal yang membuat dia kesal, jujur aja aku-pun bingung”, Sahutku sambil terus mengaduk mie dengan sumpit.

Mbak Susi menatapku, seolah ingin membaca pikiranku. Lalu dia meneguk kopi-nya pelan-pelan, dan kembali bicara, “Aku pikir cowok-mu itu rada ke-kanak-kanakan yaa Nit, sorry lho bukan aku mem-vonis, tapi dari sekian kali kamu dimarahi dia, rata-rata masalahnya tuh remeh. Aku kok jadi mikir kalau dia itu hanya cari cara buat putus sama kamu”.

Tenggorokanku rasanya tercekat, mie kuah di depanku seolah terbuat dari kawat yang siap merobek tenggorokanku. Tanpa bisa kubendung, airmata mengalir di pipi. Aku berfikir, apakah cinta sedemikian rumit? Kemana Mas Widi yang ku kenal? Kenapa makin hari, kebahagiaan itu kian kabur? Walau dia selalu bicara dengan nada rendah jarang sekali bernada bentakan, namun kata-katanya kerap menikam hatiku. Kemana perginya laki0laki yang selama ini ku banggakan? Yang seolah sempat membuatku berfikir sebagai wanita paling beruntung?

Mbak Susi memegang pundakku, dia berkata lembut, “Sudahlah Nit, jangan terlalu difikirkan, beri dia waktu, mungkin itu cara dia untuk menunjukkan bahwa dia takut kehilanganmu. Nah sekarang habiskan makananmu, kamu butuh banyak tenaga lho”.

Di sudut dapur itu aku diam membisu, satu jam lagi cafe resto ini akan dibuka, namun entahlah, aku merasa tidak semangat, jiwa-ku seperti nyaris tersesat dalam angan angan cinta. Tiba-tiba ku sadari Miguel menatapku dari area masak, tatapannya begitu sedih, seolah ia ingin mengatakan, bahwa ia tak rela melihatku selalu bersedih.

Miguel mendekatiku, duduk di sebelahku dan menatapku lembut. Kuusap airmata-ku, malu juga terlihat selalu sedih, apalagi gara-gara orang yang aku cinta. Miguel tak berbicara, ia hanya menuliskan kalimat di sebuah kertas dan memberikannya kepadaku, lalu dia kembali ke area masak untuk kembali menyiapkan aneka kue dan cake yang lezat. Perlahan- lahan, ku buka kertas dari Miguel, ku baca perlahan dan ku artikan pelan-pelan maknanya, dan airmataku kembali mengalir namun kali ini aku tak perduli tak malu karena ketahuan menangis, ku sengaja bebaskan airmataku mengalir.

Life is not fair
Sometimes dreams do not come true
Sometimes you’re not the hero
In the story of your life
And sometimes people die before they’re supposed to
 
Life is not fair
But fair has nothing to do with who you are inside
What you dream about
Who you love
And what you stand for

 

******

Aku hanyalah Nita seorang gadis sederhana dari Pemalang, aku hanya ingin dicintai laki-laki sederhana dengan cara sederhana namun mengapa yang kudapat selalu luka? Aku selalu tersesat di dalam cinta yang ku pilih, aku selalu tak mampu menjadi wanita sempurna di mata laki-laki yang ku cinta. Kini Mas Widi pun sepertinya mulai berubah, seolah lupa walau aku jauh namun aku masihlah Nita yang mencintainya.

Jauh dari rumah demi untuk mengejar cita-cita, mengejar mimpiku, namun apa artinya semua ini bila mimpi terbesarku justru direnggut paksa, yaitu dicintai dan mencintai tanpa akhir. Sungguh aku lelah, aku kehilangan arah, andai aku dapat bertanya pada Mas Widi, aku ingin bertanya padanya, jalan mana yang harus ku tempuh agar dapat berdampingan lagi seperti dulu, hingga tak ada lagi kemarahan atau kekecewaan yang menjadi peluru yang siap menghancurkan cinta kami.

Ku lempar pandanganku pada Miguel, ternyata dia terus menatapku, tepatnya mencuri-curi mata, namun tak sedikitpun keinginanku untuk menghapus airmataku, seolah aku tak sanggup lagi menghapusnya dengan tanganku, mungkin aku memang butuh tangan orang lain untuk menghapusnya dari wajahku, mungkin saja.

 

Share This Post

Posted by Thursday, 28 June 2012 on 14:23.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

6 Responses to “Bukan Cinta yang Kudamba 6”

  1. 6
    chandra sasadara Says:

    repot amat pelihara cinta jarak jauh

  2. 5
    J C Says:

    Walaaaaaaaahhh istilah’e Sasayu…hahahahaha…long distance relationship artinya locally single…

    PamPam lagi…wis jiaaaannn…

    Serial Enief memang selalu ada bagian seperti ini, tapi ada bagian yang mengejutkan alurnya…

  3. 4
    P@sP4mPr3s Says:

    BWAAAAAAAH!!!!!!!!…… ini sih pasti jadian ama miguel….
    trus ternyata miguel udah punya istri di philipine…. penyesalan datang terlambat….. termaksud terlambat datang bulan….
    balik ke indonesia…. di hina di cerca di maki….

    mas widi tak mau lagi….

    nasib…. TKW!!!….

  4. 3
    Dewi Aichi Says:

    Setuju sama Sasayu ha ha….

  5. 2
    Sasayu Says:

    Ooh Miguellll….Mas Widi dibuang ajaa, ga worthed bowww. Lagian Long distance relationship itu artinya locally singleeee…..asekkkkk

  6. 1
    James Says:

    SATOE bukan Cinta

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)