MTB Baruku

Linda Cheang – Bandung

 

Halo semua teman Baltyra,

Sedikit kisah lagi dariku, ini tentang sepeda jenis mountain bike (MTB) terbaru yang kumiliki. Judul artikel ini memang disengaja seperti itu, karena kalau kugunakan judul Sepeda Baruku, nanti rancu dengan artikel tulisannya Lani van Kona :D.

Memiliki MTB sendiri memang satu cita-citaku sejak pertama kali mengendarai MTB adikku pada 13 tahun lalu, namun baru ada kesempatannya pada tahun ini. Selain memang pas sepertinya rejekinya disediakan pada tahun ini, juga ada alasan lain yang lebih kuat, keponakanku Edwin, memerlukan sepeda untuk sarana pergi kuliah. Ya, sebab kalau aku beli begitu saja tanpa alasan pendukung, sebetulnya aku sendiri sudah cukup dengan Si Hitam, sepeda jenis city bike yang ada di artikelku beberapa waktu lalu. Lagipula, unutk beberapa alasan, Si Hitam jauh lebih andal daripada MTB.

Edwin minta aku menjadi sponsor utama membeli sepeda baru, karena uang tabungannya hasil mengumpulkan ang pao pada Tahun Baru Imlek lalu, masih jauh dari cukup untuk sebuah MTB baru.

Aku bersedia dengan kesepakatan bersama, bahwa aku menaruh “saham” yang terbesar atas sepeda tsb, namun prioritas utama pemakaian sepeda itu adalah untuk keponakanku itu berangkat dan pulang kuliah, plus untuknya beribadah Minggu ke gereja. Apalagi jam kuliahnya akhir-akhir ini lebih sering tak menentu dan jika pergi kuliah menggunakan angkot, sekalipun jarak dari rumah ke kampus tidak sampai 5 KM, namun kadang ketersediaan angkot  atau ketersediaan tempat duduk di angkot sulit diprediksi. Ketika Edwin tidak sedang kuliah, maka aku yang gunakan sepeda tsb, biasanya untuk pergi melakukan kegiatan ibadah tengah minggu ke gereja di luar ibadah utama di Hari Minggu. Selain sebagai alat transportasi, MTB baruku tsb juga sekalian kugunakan untuk optimalisasi berolahraga mengencangkan otot-otot kaki dan perut.

Kami pergi bersama-sama ke toko sepeda dekat rumah yang menjadi langgananku untuk servis Si Hitam dan Edwin pertama kali  memilih sepeda MTB bukan seperti yang ada di gambar pada artikel ini. Dengan ukuran ban 26 inci, ada per besar di bawah sadel dan ada “tanduk” di kedua grip stangnya. Tugasku adalah menawar kepada Si Engkoh pemilik toko, agar harga sepeda yang ditawarkan sudah termasuk kuncinya dan disetujui. Namun apa daya, sepeda pilihan pertama itu hanya bertahan sehari dimiliki, karena menurut keponakanku, performanya tidak bagus. Kabarnya sepeda itu merupakan produk sepeda KW, jadilah Edwin kembalikan sepeda tsb ke tokonya dan aku setuju atas usulannya untuk tukar tambah dengan sepeda lain yang lebih andal. Dapatlah sepeda merek SENATOR, MTB buatan lokal berukuran ban 26.

Dilengkapi 3 gir besar dan 6 gir kecil untuk keperluan jalan yang menanjak sesuai kecuramannya merek yang sama dan bentuk yang sama dengan MTB adikku.. Bedanya, untuk MTB yang sekarang, selain sudah memiliki kode produksi SNI, alat untuk memindahkan gir bukan berupa tombol yang digerakkan oleh kedua jempol, melainkan di kedua grip stang sepedanya. Ukuran ban segitu masih memungkinkan kakiku menyentuh tanah ketika aku duduk di sadelnya, tanpa harus pakai sepatu/sandal bersol tebal seperti 13 tahun lalu.

Sebagai pihak yang paling banyak mengunakan MTB, maka Edwin bertugas untuk melengkapi MTB baru itu dengan peralatan pendukung yang dirasakan perlu. Edwin memilihkan klakson sepeda berlampu, disusul lampu depan seperti senter yang memiliki 5 macam nyala, lampu belakang yang ada 3 macam nyala, spatbor untuk kedua roda,  tukar tambah sadel sepeda yang aslinya terlalu keras, serta sebuah tempat untuk botol air minum dipasang pada batang bawahnya. Jadilah tampilan Si Biru – begitu saja kunamai sepeda itu sesuai dengan warna catnya yang memang biru – begitu gagah sesuai untuk tunggangan cowok, tetapi aku tidak pernah ragu untuk menunggangginya.

Ketika aku mengendarai Si Biru, rupanya setelah 13 tahun berlalu, orang-orang masih belum terbiasa melihat cewek mengendarai MTB untuk cowok yang ditambahi perlengkapan komplit.  Maka, ke mana pun aku melenggang dengan Si Biru, ada saja orang-orang yang melirik ke arahku, sampai ada juga orang yang melontarkan perkataan dengan nada suara kurang ajar. Padahal, aku tidak pernah punya niat untuk jadi tujuan perhatian orang-orang, sebab bagiku, mengendarai MTB apapun versinya,  bukanlah sesuatu hal yang aneh. Menghadapi hal seperti itu, sikapku cukup dengan tidak pedulikan dan terus melaju saja dengan MTBku.

Mengendarai Si Biru,  jelas berbeda pengalamannya dengan ketika mengendarai Si Hitam. Dengan Si Hiam, sekalipun tidak ada gir untuk memudahkan mengayuh ketika melewati jalan menanjak, namun aku merasa lebih rileks, karena posisi tubuh yang tegak lurus. Sedangkan ketika mengendarai Si Biru, sekalipun menyenangkan karena dengan mengayuh pedalnya, otot-otot kaki dan otot perut jadi semakin kencang dan lemak di perut semakin cepat terkikis, namun posisi tubuhku cenderung jadi cepat membungkuk, dengan beban tubuh serasa bertumpu pada kedua tangan yang memegang grip, menyebabkan aku lebih sering merasa kesemutan pada kedua tangan dibanding ketika mengendarai Si Hitam. Demi menghindari jadi cepat membungkuk ketika menunggangi Si Biru, aku harus duduk dengan tubuh bagian atas yang membusung, agar tidak cepat merasa pegal.

Di jalanan aspal menurun tentu saja Si Hitam lebih cepat meluncurnya karena jenis ban berbeda. Si BIru dengan ban untuk MTB membuat performa ketika di jalan aspal menurun melambat karena daya cengkeramnya yang tinggi, dan daya cengkeram ini berguna bila menuruni jalanan tidak rata karena banyak kerikil atau jalanan berbatu. Sekarang ini, mengendarai Si HItam sudah lebih bergaya karena sudah dilengkapi dengan klakson sepeda yang sama tipenya dengan yang dipasang di Si Biru, plus sudah ada reflektor di bagian belakang sepedanya. Tinggal diperlukan lampu depan dan helm untuk bersepeda, serta pompa mini portable untuk dibawa ke manapun bersama sepedanya.

Hasil dari menunggangi kedua sepeda tsb, selain aku merasa lebih sehat, tidak mudah jatuh sakt, juga perlahan tubuh menuju ke berat badan yang lebih ideal, bentuk tubuh juga semakin langsing dengan otot-otot yang kencang. Lagipula aku berhasil membuat Edwin secara sukarela menggerakkan tubuhnya dengan bersepeda menunggangi Si Biru, sebab untuk ukuran tubuhnya saat ini, Edwin sudah masuk ke kategori berlebihan berat badan. Sementara bila diberi ajakan untuk berolah raga Edwin, selalu emoh.

Bersepeda, ya, berolahraga juga.

Ayo, kita bersepeda.

 

Salam gowes,

Linda Cheang

Juni 2012

 

10 Comments to "MTB Baruku"

  1. ugie  2 July, 2012 at 00:52

    assiik , sepedaan . Sepedane kerenn..

  2. Linda Cheang  29 June, 2012 at 07:56

    Hennie setuju, tuh. Masih sedikit orang yang mau mnejaga lingkungan. Tapi, ya, masih untung juga, di Bandung sini, makin banyak warga yang bersepeda.

    Lani karena bukan untuk jadi juara Iron Man, makanya aku beli MTBnya, kalau dikurs ke USD, nggak sampai $100, tuh. Pilih buatan lokal aja, dah. Nanti kalo ada rejekinya, baru mau beli MT khusus cwek yang sekitaran $ 250, buatan lokal juga, tapi merek terkenal (Polygon).

    Kalo di jalanan mulus, ya pakenya city bike, donk…

    Oom Dj lag ngutak-ngutik apa, sih, sampe akuatir diprotes oleh Pak Lurah? hahahaha… jadi penasaran.

    JC Pak Lurah Buto, MTBku mau dibikin ukuran Buto juga bisa. Tinggal ganti ban ukuran 30 ato 32, ato 34, jadi, deh sepeda Buto, hehehe… tapi untukku, 26 cukup, dah, itu juga banyak orang melihat ku mengendarainya sampai mendelik matanya

  3. J C  29 June, 2012 at 06:17

    Ini sih masuk kategoi sepeda mini buat aku… coba tanya pak Hand ukuran sepedaku… :

    Pak Hand, lho kok made in Roma? Jauh bener?

  4. Dj.  29 June, 2012 at 02:07

    Yuuuup….!!!
    Linda, teruskan untuk selalu bergerak.
    Dj. hari ini juga dapat hadiah baru, tapi … ya…belum mau pamer, nanti dimarah pak lurah…
    Hahahahahahaaha….!!!

  5. Lani  29 June, 2012 at 01:55

    LINDA, DA : boncengan????? pangkon waelah tambah asyikkkkkkk wakakakak………….

    nah speda gunung ini ndak pas dikendarai dijalanan yg mulus…….malah dadi pating gronjal………speda oh speda harganya dimulai $ 100 and up tergantung mutu, assesoris, dll………dst……..nah, nek speda Iron Man ora kuat krn mulai ribuan sampai puluhan ribu………dan ndak pas selain kantong jg kita2 bukan utk jadi juara Iron Man…….

  6. HennieTriana Oberst  29 June, 2012 at 00:14

    Asyik nih Linda makin sehat.
    Mestinya diikuti yang lain ya, membuat udara makin bersih.

  7. Linda Cheang  28 June, 2012 at 20:32

    Pak Hand buatan Parijs van Java

    DA mbonceng nand ndi? nggak ada boncengannya, koq

    Paspempers kata siapa mahal? Standar SNI nggak mesti mahal, kow, kan made in lokal .
    Helm, jelas SNI, kan, pabrik sepedanya (Polygon) sekaligus bikin helm, ada di sini

  8. P@sP4mPr3s  28 June, 2012 at 20:20

    edian….. edian…..
    pasti mahal punya nih sepeda…. lisensi SNI… helemnya SNI jg gak?

  9. Dewi Aichi  28 June, 2012 at 17:42

    Mbonceng Lin…!

  10. Handoko Widagdo  28 June, 2012 at 15:14

    Made in Roma?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Image (JPEG, max 50KB, please)