Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Back to Jogja (3): Alkid di Malam Minggu

Friday, 29 June 2012

Viewed 1874 times, 6 times today | 34 Comments |

Anastasia Yuliantari

 

Alkid kependekan dari Alun-alun Kidul alias Alun-alun Selatan. Tempat ini merupakan salah satu obyek wisata yang popular di Jogja. Kepopulerannya sebagai tempat wisata muncul setelah banyak pedagang menjajakan barang dagangannya di sepanjang trotoar yang mengelilingi tempat itu.

Awal mulanya, para penjaja makanan hanya menyediakan jagung bakar dan minuman sederhana seperti teh, jeruk hangat, atau paling pol wedang jahe (jahe panas). Mereka menggelar tikar untuk duduk lesehan bagi para pengunjung. Penerangannya pakai lampu tekan. Atapnya pun tenda-tenda sederhana. Namun seturut dengan berjalannya waktu, area itu menjadi semakin meriah. Bila malam minggu tiba, aneka makanan akan dapat dinikmati di tempat itu. Walau masih lesehan, karena itu merupakan trademarknya, namun telah banyak yang membawa diesel untuk menyalakan listrik.

Setiap malam Minggu, sejak matahari mulai meluncur dari titik kulminasinya, satu demi satu pedagang muncul. Penjaja makanan mulai menggelar tikar-tikar dan memasang tenda. Para pengasong menempatkan gerobak-gerobaknya di lokasi yang diperkirakan strategis. Penjual mainan anak-anak serta tempat penyewaan tutup mata untuk acara masangin mendisplay bawaannya, dan tukang parkir bersiap dengan rompi jingganya.

Sore ini aku juga terlibat dalam aktivitas malam mingguan di Alkid. Bukan benar-benar meluangkan waktu untuk ke tempat itu, namun kebetulan aku sedang mengunjungi Budhe Rus, jarak rumah Budhe Rus dengan Alkid hanya 200 meter, sehingga membuatku ingin melongok juga.

Kono, melu Mas Nur wae, timbang dhewe (Sana, ikut Mas Nur saja daripada pergi sendiri).” Ujar Budhe begitu aku selesai mandi sore ini.

“Wah, males Budhe, ntar hanya nonton orang pacaran aja.”

Ya, malam minggu memang malam untuk pacaran. Tempat ini tak menjadi perkecualian. Pasangan yang sedang dirundung asmara biasanya nyantai di tempat ini, jajan dan berasyik masyuk menggossipkan berbagai hal.

“Yaaa jangan nonton yang pacaran. Naik odong-odong apa sepeda tandem.”

Aduh, Budhe ini, memangnya aku anak-anak, koq disuruh naik odong-odong.

Weeee tenan, rasah mbayar nek melu Mas Nur (Beneran ini, engga usah membayar kalau ikut Mas Nur).”

Lha koq?

“Mas Nur kan jaga parkir di sana, jadi bebas.”

Anak bungsu Budhe, yang biasa kupanggil Mas Nur, memang sudah lama bersama pemuda kampung setempat menjaga tempat parkir dan tentu saja keamanan di tempat itu. Pada hari-hari tertentu dia dan groupnya bergantian dengan group lain “dinas” sampai dini hari. Terutama bila malam minggu, bisa sampai pukul empat pagi.

“Kalau jajan bisa bebas gak?” Tanyaku sambil tertawa.

Yo bebas, ning aku sing mbayari (Ya bebas, tapi aku yang bayarin).” Sahut Mas Nur yang baru saja datang dari kampung istrinya di Bantul, untuk menunggui kios buah-buahan milik mereka.

“Berarti ditraktir, nih yaaaa.” Godaku.

Lha iyo, sak waregmu (Iya, sekenyangmu).”

Maka cepat-cepat kukait sandal dari bawah tempat tidur. Tapi membayangkan duduk sendirian menonton orang-orang lain dengan pasangan atau anggota keluarga tentu menimbulkan bête, apalagi Mas Nur akan sibuk dengan pekerjaannya, jadi kuputuskan untuk menenteng laptop ke sana.

Ngopo ndadak nggowo ngono barang? Wah, kowe ki sinau terus hobbyne (Ngapain bawa barang itu segala? Wah, kamu nih hobbynya belajar terus).”

Ternyata Mas Nur mengira aku membawa laptop untuk belajar. Jangan salah, ya aku kan mau online agar tetap punya teman untuk bercakap-cakap atau tertawa-tawa. Dunia memang menyenangkan sekali sekarang.

Waktu menunjuk angka lima ketika kami berangkat. Melalui tembok-tempok keraton yang tinggi bayangan senja tampak memudar dihalau sinar lampu merkuri kekuningan. Orang-orang lalu-lalang dari dan ke arah alun-alun. Mereka bertegur sapa dengan Mas Nur, beberapa yang belum mengenalku menggodai Mas Nur sambil tersenyum-senyum.

Pahin e, dab.” Kata-kata ini bukan bahasa Jawa, namun bahasa slang yang bahkan orang Jawa sepertiku tak mengerti artinya. Tapi karena aku mendengarnya berulangkali maka tahu juga, artinya adalah apik je Mas (Bagus, Mas).

Mas Nur menjawab dengan pelototan, “Iki adiku, ngawur wae! (Ini adikku, ngawur aja!).”

Mereka kembali tertawa sambil berkata, “Sorry, yo Mbak. Ra ngerti, je (Sorry, ya Mbak, ngga tahu, sih).”

Kami memasuki alun-alun selatan yang telah ramai. Aku mencari tempat duduk di pendopo Siti Hinggil yang merupakan bagian dari bangunan Kraton Yogyakarta. Dari tempatku duduk tampak dua pohon beringin besar yang ditanam di tengah alun-alun. Beberapa orang telah mengikuti masangin, yaitu mencoba berjalan menembus tengah dua pohon beringin itu. Menurut kepercayaan, siapapun yang berhasil berjalan melaluinya, keinginannya akan tercapai. Sayang sekali seumur hidupku aku hanya pernah melihat seorang yang berhasil, itu pun seorang turis asing yang masih anak-anak, dia mencobanya bukan hanya sekali, bahkan sampai dua kali. Orang-orang begitu terkagum-kagum. Wah, akan jadi apa anak ini kelak, ya?

Keramaian sore ini semakin tampak karena ada promosi rokok yang menyuguhkan panggung terbuka dengan acara musik dan tentu saja Sales Promotion Girl (SPG) yang bergelar kutilang: kurus, tinggi, langsing plus cantik tentu saja. Tak heran beberapa lelaki sampai dicemberuti pacarnya karena memelototi para kutilang.

“Mereka tuh cantiknya karena pakai make up tebal. Kalau baru bangun tidur belum tentu secakep itu,” Ujar seorang cewek yang duduk di sebelahku sambil mencibir ke arah si kutilang.

Iyo po? (Apa iya?).” Kata pacarnya tak puas.

Hambok tenin (Beneran!).” Jawab si cewek dengan wajah semakin keruh.

Wheeeelaaah, iki yang-yangan koq malah sulaya (Pacaran koq malah bertengkar) kataku lirih sambil tersenyum-senyum. Si cewek menoleh dan memelototiku, namun rautnya kemudian berubah tenang setelah melirik layar laptopku yang sedang menayangkan laman jejaring sosial. Pikirnya aku pasti menertawakan status teman.

Ketika hari semakin malam, odong-odong, becak mini, dokar, dan sepeda tandem sudah mulai disewa para pengunjung. Jalanan ramai nian dengan acara keliling alun-alun. Untuk menyewa odong-odong dua kali putaran alun-alun cukup lima ribu rupiah. Kereta kuda atau bisa disebut dokar, sepuluh ribu dua kali putaran, sepeda tandem dan becak lima ribu rupiah. Semua ini tarif rata-rata orang yang pandai menawar, kalau wisatawan dari luar kota harganya bisa berkali lipat, apalagi yang kelihatan berasal dari tempat yang jauh.

Saat aku sibuk mengamati suasana alun-alun sambil berjejaring sosial, Mas Nur datang membawakan wedang ronde dalam mangkuk kecil. “Nyoh ngombe ronde sik (Ini, minum ronde dulu).” Dia duduk menjajariku sebelum berkomentar, “Kowe ki yo nyok mesbuk, to Dik? (Kamu, tuh juga sering FB-an, to Dik?)”

“Iya, dong.”

Wuaahhhh kemayu, diseneni bojomu kapok! (Wuaaahhh genit, nanti kalau dimarahi suamimu baru tahu rasa!).”

Mas Nur engga tahu kalau kami adalah suami istri aktivis jejaring sosial. Dia kira hanya para remaja saja yang gemar berjejaring sosial.

Lampu-lampu yang menyala di seputar alun-alun semakin gencar memancarkan cahaya. Angin dingin bertiup dari arah laut selatan menuju gunung Merapi. Aku menikmati kesejukannya membelai rambutku, sementara orang lain sudah mulai merapatkan jaketnya. Udara Jogja yang panas membuatku mensyukuri bertiupnya angin yang agak keras malam ini.

Ayo tak terke mulih sik. Wis jam sepuluh (Ayo, aku antar pulang dulu, sudah jam sepuluh).” Kata Mas Nur setelah menanyakan waktu pada salah seorang pengunjung.

Aku mematikan laptop, meletakkan ponsel kembali ke dalam tas, dan mulai bangkit mengikuti Mas Nur memasuki lorong bertembok tebal menuju rumah. Sebelum berbelok menuju lorong berikutnya, kutolehkan kembali kepala ke arah Alun-alun Selatan yang semakin malam semakin bertambah meriah.

 

Share This Post

Posted by Friday, 29 June 2012 on 13:19.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

34 Responses to “Back to Jogja (3): Alkid di Malam Minggu”

Pages: [4] 3 2 1 »

  1. 34
    Anastasia Yuliantari Says:

    Kaka Kornel, salam udah disampaikan ke Condong Catur. Ayooo kapan ke Jogja lagi?

  2. 33
    Anastasia Yuliantari Says:

    Mas ISK, Monggo, cepat menginjakkan kaki mumpung ada yg akan dan sedang di Jogja, nih. Hehheehe.

  3. 32
    Anastasia Yuliantari Says:

    Anoew, ora ana sing gratis….”Tumbas to, Mas,” Ngono jarene. Ning embuh yo wong aku yo ora nggatekke. Mendingan nonton yg lagi pacaran to, biar bisa liat yg semriwing….wkwkkwk.

  4. 31
    Anastasia Yuliantari Says:

    Yu Lani…whelaaahh nek mbrobos ringin yo mesti ora iso wong yo ora bolong, hehehe. Berjalan di antara 2 beringin to. Ning Dian Nugraheni ora gelem nyoba, jare nek ora nembus ndak marakke mumet. Weh, repot nek ngono. Aku ning yo ora tau, wong wegah digeguyu nek menggok.

Pages: [4] 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)