Sunday, 1 July 2012
Leo Sastrawijaya
Anda mungkin menganggap saya berlebihan bila saya katakan; masa depan negara ini tergantung dari bagaimana kita ke depan bisa menciptakan para pemasar handal dalam jumlah cukup.
Sah-sah saja bila anda menganggap demikian. Tetapi tunggu dulu. Saya serius. Serius seserius-seriusnya. Nasib kita tergantung kepada seberapa banyak kita memiliki praktisi pemasaran di masa depan.
Lha nalarnya apa?
Bukankah dari rilis pertanggung jawaban keuangan negara yang dikeluarkan untuk tahun 2010 jelas bisa kita lihat betapa sumber keuangan negara mayoritas berasal dari pemasukan pajak? Dari total realisasi penerimaan keuangan negara 2010 sebesar 995,27 trilyun, 723, 31 trilyunnya atau hampir 73% diantaranya adalah pemasukan pajak.
Lalu apa hubungannya?
Sebagai bukan ahli ekonomi saya berpikir sederhana saja, bahwa salah satu ‘biang keladi’ yang menyebabkan negara bisa memperoleh dana pajak sebesar itu adalah para pemasar.
Sekali lagi apa hubungannya?
Jelas ada. Pajak timbul dari transaksi bisnis atau jual beli terutama. Bila kita bicara tentang bisnis sedang bicara bisnis pasti bicara marketing sebagai jantung dan sekaligus paru-paru bisnis. Sedang bila kita bicara pemasaran, maka jelas kita akan bicara tentang seberapa handal system dan metode pemasaran yang dimiliki oleh sebuah badan usaha. Sedang dalam sebuah system pemasaran faktor tidak tergantikan adalah tenaga ahlinya.
Pemasukan pajak terutama terjadi karena adanya transaksi bisnis, penerimaan penghasilan dan keuntungan usaha. Pengusaha dari tingkat produsen sampai dengan pengusaha terakhir di tingkat pengecer yang menjadi pengusaha kena pajak wajib hukumnya mengenakan 10% Pajak Pertambahan Nilai kecuali untuk 9 bahan pokok. Begitupun untuk jasa kena PPN, siapa yang membeli jasa selalu wajib membayar setidaknya 10% PPN apabila penjual jasa tersebut adalah pengusaha kena pajak.
Pengusaha atau badan usaha juga wajib memotong pajak penghasilan bagi para pegawainya sesuai UU yang berlaku, begitupun juga keuntungan yang diperoleh sebuah badan usaha wajib membayar pajak penghasilan sebagaimana yang diatur dalam pasal 29 UU Perpajakan. Belum lagi aneka bea dan cukai yang juga wajib mereka bayar.
Lalu dimana peran penting seorang marketer?
Semua proses yang mengawali terjadinya transaksi di atas adalah proses marketing. Perusahaan perlu tenaga marketing andal agar bisa merumuskan strategi marketing yang tepat, mereka juga butuh sales person yang piawi mengeksekusi penjualan. Jika dagangan laris, maka jelas terjadi peningkatan pembayaran PPN bukan? Karena perusahaan laris, maka butuh banyak karyawan, dengan banyaknya karyawan maka banyak juga pajak penghasilan karyawan yang masuk kas negara. Jika penjualan meningkat hampir pasti keuntungan juga meningkat, dengan keuntungan yang meningktat pajak penghasilan perusahaan juga meningkat.
Seorang entrepreneur hebat sudah pasti juga pemasar yang hebat! Anda tidak bisa menjadi pengusaha jika anda hanya bisa membuat produk yang bagus tapi tidak bisa memasarkanya bukan? Dijamin rugi bin bangkrut. Sebaliknya seorang pemasar andal bisa menjadi seorang pengusaha tanpa harus bisa membuat produk yang bagus.
Begitu strategis bukan peran pemasar handal? Merekalah yang salah satu yang paling berjasa yang membuat mesin ekonomi berjalan. Namun sayangnya gairah memasarkan dan menjadi pemasar masih tidak dianggap oleh sebagian terbesar bangsa ini. Kita lebih menganggap menjadi birokrat dan administrator adalah pekerjaan paling bergengsi, padahal dalam mekanisme ekonomi, mereka seharusnya bertindak sebagai pelayan dan pendukung bagi para pemasar dan sistem pemasaran. Karena para pemasarlah para penghasil uang bukan hanya bagi sebuah institusi bisnis tetapi juga bagi bangsa dan negara.
Penulis pernah bekerja di sebuah perusahaan yang tidak menggunakan istilah kantor pusat bagi pusat operasi administratipnya tetapi justru menggunakan istilah formal Center for Marketing and Costumer Service atau Pusat Pelayanan Konsumen dan Pemasaran. Mengapa? Karena institusi bisnis itu paham benar bahwa kehidupan mereka tergantung kepada pemasaran dan konsumen mereka! Lha kalau pemasarannya loyo dan tidak ada pembeli terus dari mana datangnya hepeng bukan? Tanpa ada penjualan jelas bisnis mati. Sayangnya itu terjadi di sebuah korporasi asing.
Jadi jangankan untuk mengambil nilai ekonomi dari negera mereka untuk kemudian kita bawa ke rumah Indonesia. Di rumah sendiripun nilai ekonomi kita justru mengalir keluar seiring dengan laju konsumsi kita terhadap produk-produk negara lain.
Sampai saat ini sungguh saya tidak pernah mendengar seorang yang mencita-citakan anaknya untuk menjadi marketer handal. Semua yang saya dengar mereka mencita-citakan anaknya menjadi dokter, insinyur dan lain-lain. Tidak seorangpun yang ingin anaknya menjadi the great money maker of the world. Nampaknya menjadi orang kaya tidak cukup membuat gengsi naik ya…. hehehe…
Negeri kita secara alamiah kaya raya, sekali lagi secara alamiah. Kita butuh orang-orang yang bisa mengorganisasikan semua kelebihan alamiah itu menjadi nilai jual yang lestari dan menyejahterakan bangsanya. Mereka yang bisa melakukan itu adalah para marketer handal. Tidak hanya yang bekerja di organisasi swasta, seharusnya juga dalam birokrasi negara. Sebab sebagian dari tindakan dan aturan birokrasi kita masih berjalan ke arah berlawanan dari kaidah-kaidah tata laksana organisasi negara moderen, berlawanan juga dengan kaidah ekonomi dan pemasaran yang sebenarnya merupakan paru-paru dan jantung negara.
Ketika saya mulai serius membuat blog tentang Indonesia, saya semakin terkejut dengan begitu banyaknya keindahan dan keelokan ragam budaya dan alam yang layak dipasarkan ke dunia dan menghasilkan nilai tambah ekonomi yang dahsyat. Namun sayang kita tidak cukup memiliki pemasar dan entrepreneur andal untuk melakukan konversi dari kondisi menjadi peluang dan nilai ekonomi.
Begitupun berbagai sumber daya lain yang luar biasa melimpah. Sebagian dari itu justru dinikmati oleh para pemasar dan entrepreneur asing yang mampu membaca peluang, menggambar visi… dua keahlian dasar yang menjadi ciri para pemasar andal.
Adakah anda tergerak untuk mulai merubah mindset yang dari dulu memang telah dibuat demikian? Merubah mindset untuk mulai mengenalkan anak muda kita ke jantung ekonomi berinisial mencipta nilai dan menyampaikannya dalam khasanah ekonomika.
Atau kita puas menjadi selamanya membiarkan anak-anak kita tetap dalam kualitas koeli ? Lalu semakin meredup eksistensinya sebelum kemudian lenyap….
Kita membutuhkan banyak pemasar andal…. Sayangnya ini bukanlah idealisme maupun pilihan tetapi sebuah keharusan pragmatis.
September 25th, 2012 at 10:29
Terima kasih dengan artikel yang anda gagas, semoga menjadi pencerahan untuk bangsa yang sedang membangun seperti I ndonesia ini !
September 10th, 2012 at 09:18
writerpreneurship
, seorang penulis bahkan harus menjadi penjual handal tulisannya sendiri 
July 3rd, 2012 at 02:17
Mas Leo.saya setuju ulasan ini……saya 10 thn berkeliling Afrika menekuni bidang pemasaran,bisa dihitung dengan jari hanya belasan orang saja yang saya temui bermukim disini yg mencoba menjeput bola. salam sejuk
July 2nd, 2012 at 11:20
Indonesia memang sudah memiliki buanyak “MARKETER” sehingga Indonesia dikenal dunia. Mereka adalah: Gayus, Nazaruddin, Anas Urbaningrum, Zulkarnaen (koruptor pengadaan Quran), si Dagu Lapindo (ini mendunia malah)…
July 2nd, 2012 at 06:25
Sangat menarik membaca tentang ekonomi seperti ini, yang dikemas dengan apik, hingga tidak membuat pembaca malas untuk membaca…
July 1st, 2012 at 17:37
sebetulnya negara yang sehat pemasukan utamanya bukan dari pajak, lho
July 1st, 2012 at 13:53
Enterpreneur, marketer juga kan? Mendengar istilah marketer yang sering terbayang pertama, malah MLM, sales asuransi, atau SPG …. he he ….