Sajak-sajak Patah untuk yang Terkasih

El Hida

 

kekasih, saat ini, telah sampaikah kepadamu
kecupan demi kecupan yang kukirim lewat dzikrulloh
aku mengemasnya seperti kukemas kemesraan demi kemesraan
dalam cumbuan malam hening

Di kelopak shubuh, kekasih, dalam secangkir mocca beraromakan qunut
Aku mencium kaki Tuhan dan kupohonkan restu kita satu
Kudengar amin malaikat dari setiap kalam yang kugurat

Temui aku pada sepertiga malam nanti
Di atas sejadah, di bawah langit gundah

Kekasih, aku kini berada di antara maghrib dan isya
Saat di mana aku merasakan kesepian yang dalam
Aku akan kirimkan kepadamu bergelas-gelas rindu
Untuk kau reguk manisnya saat kau haus akan cintaku

kekasih, telah kita jatuhkan airmata ke dalam danau kebahagiaan yang kita buat dari kemurnian cinta
lalu kita sama-sama tenggelam di kedalamannya sehingga kita reguk kerinduan tak terhingga
terimakasih, sayangku, untuk segala rasa yang telah tulus kau anugerahkan kepadaku
demi Tuhan aku bahagia

Sajak-sajak patah pagi ini, kekasih, telah aku tuliskan di halaman pertama fajar merah
Untuk kau baca saat pertama kau buka mata setelah kau cumbu shubuh di mataku
Tetaplah tersenyum, kekasih, meski perjalanan hidup terasa berat
Dan peganglah hatiku slalu

Malam ini, kekasih, rembulan setengah purnama
Aku tahu setengahnya lagi bersinar di hatimu
Aku sungguh telah kehilangan kantukku
Dan selalu saja kuhadirkan engkau di setiap hela nafasku

kekasih, maka malam segera lagi akan datang menemuiku
dapat aku pastikan bahwa kerinduanku akan semakin kepadamu
seperti bola salju yang menggulung dari puncak kutub
maka begitulah cinta dan rinduku kian agung kepadamu
kekasih, aku merindukanmu

kekasih, tak perlulah kita tanggapi mereka yang mengintai
dan yang sangat menginginkan langkah kita gontai
kita hanya perlu menjalani takdir ini dengan jiwa sahaja dan hati damai
sehingga Dia mencintai kita dan memeberikan kesadaran untuk mereka
bahwa tempat orang-orang yang iri dan hasud itu adalah neraka

kekasih, kau sungguh tahu betapa kerinduanku tak pernah khatam kepadamu
kendati telah kau berikan duapuluh empat jam untuk menemani hidupku
kerinduanku ini selalu saja ada dan bahkan kian melangit tinggi dan melaut luas

aku tak dapat menyembunyikan gelisahku
tiada kudapati kabar keadaanmu
sungguh membuatku merasakan kegalauan
pada tingkat tertinggi perasaan
semoga engkau lekas sembuh, kekasih, aamiin

aku tahu engkau sedang sakit, kekasih,
maka aku takhlishkan kepadamu do’a-do’a
semoga engkau dapati rasa sakit itu
menjadi semacam api yang membakar
dosa dan khilaf yang telah terlewati
syafaakillaah, kekasih, semoga lekas sembuh

insyaalloh, kekasih, maka tak akan ada yang mampu memudarkan apalagi menghapus rasa Cinta Mahaku kepadamu
bahkan kematian, akan semakin membuatku mencinta meski tempat dan jarak selalu berkhianat

pagi ini begitu dingin, kekasih, seperti engkau kemarin malam
sampai aku tak dapat melelapkan mimpiku saat kulewati pusat malam
dan hanya aku dan hening memanjakan gemintang dari balik awan malam
dan raga jiwa kian beku saat aku dan engkau bersama menjubahkan malam

Sepagi ini, wahai bintang fajar langit batinku
Aku telah melukis warna rindumu di atas halimun
Menjadi pelangi sbelum matalangit terbit
Pijarmu halaman jiwa penuh asmaraku
Sehingga pada setiap garis yang hendak lagi kugores
Engkau menjelma sejuk kalbu

Malam mingguan di bawah langit cintamu
Duduk berdua di atas kursi kerinduan kita
Di antara pohon-pohon asmara jiwa
Aku dan engkau menjadi angin menggiring awan
Menuju rembulan menjadikannya hujan
Melahap malam meminum air hening gemintang sunyi

Senja berganti wajah
Sedang aku masih berpasrah
Semoga malam dipenuh berkah
Selamanya cinta ‘kan rekah

senja ini, kekasih, aku bingkaikan do’a-do’a putih untuk damai jiwamu
semoga pada setiap tetesan keringat yang jatuh di halaman bathinmu
menjadi mutiara yang akan kau pakaikan kelak di alam abadi hidupmu

Kita memang baru saja terlelap, kekasih, tapi kita harus segera bangun
Karena kita harus bicara padaNya tentang segala keinginan
Ambilah bening wudhu dari adzan pagi, kekasih, lalu kita reguk
Do’a dan pengharapan suci kita dari bergelas-gelas dzikrulloh

Kekasih, terimakasih telah kau bangunkan aku dari lelap ke jagaku
Sungguh ini membuatku kian dalam menghatikan kerinduan
Dan engkau, izinkan aku memeluk erat jiwamu dan menghangatinya
Sehingga beku kalbu mencair dalam dekap cinta yang maha

Kekasih, malam di sini begitu gelap dan kelam pengap
Namun aku tak sedikitpun merasa khawatir dan getir
Sebab engkau telah menjadi selaik rembulan
Yang memurnama dalam langit kerinduanku

Kekasih,aku ingin berada di dekatmu sehingga tak ada satu detikpun kulewati tanpamu
Lalu saat aku terkantuk menghadapi hidup yang meletihkan
Aku berharap engkau tak beranjak walau sedetak dari jantungku
Sampai akhir datang matiku, engkau yang memelukku..

kekasih, ketika aku lelah dari hidupku
bukan melihat dedaun hijau menenangkanku
bukan pula mendengar gemercit pipit mendamaikanku
melainkan aku ingin melihat wajahmu
dan mendengarkan tutur sapamu menguatkan hidupku

sehari tak kudengar suaramu, kekasih
aku merasa masih kuat
tapi sedetik tak memikirkanmu
sungguh aku tak bisa

ingin melihat wajahmu dengan jarak terdekat, kekasih
seperti engkau adalah wajahku, dan kita menjadi satu wajah

kekasih, saat kebosanan maha dahsyat memelukmu
lindungi hatimu dengan dzikrulloh
sehingga ketenangan Mahaagung menjadi wajahmu

matahari jatuh di kepalaku
beruntung aku tengah memikirkanmu
dan bayanganmu yang meneduhkannya

hanya ada satu kata untuk mengganti kata rindu-ku kepadamu
dan aku yakin engkau kata apa yang aku maksudkan
ya, hanya cinta-lah kata yang bisa mengganti kata rindu itu
semoga engkau terima dengan tenang hati dan ikhlas jiwa

Akhirnya, malam tanpa gemintang dan rembulanpun berakhir
Rasanya seperti keluar dari sel tanpa jeruji dan cahaya
Aku lalu menjadi halimun yang kau selimutkan
Dan matahari masih kucari meski dhuha telah tiba

Kekasih, aku akan mentasbihkan satu kekhawatiran
Lalu segera terbaring di bawah kaki rembulan pagi
Dan engkau, kekasih, terlelaplah di dadaku
Rajuti segala mimpi yang kita yakini pasti
Lalu tafwidkan kepada hening tatapan fajar
Semua akan indah

akhirnya, kekasih, malam sunyi itu berakhir saat adzan pagi dikumandang
penantianku akan kehadiranmu untuk menemaniku melahap sisa-sisa kesepian
berujung pada lelapnya fajar di sepertiga malam mimpi-mimpi hening

saat kita tertawa bersama, kekasih, itulah saat di mana kita dapat merasakan kerinduan yang maha lebay ini merasuki detakkan demi detakkan jantungku
dan saat kita terdiam untuk sejenak merenung dan membayangkan segala hal yang akan mungkin terjadi, saat itulah kita mulai merasakan kedewasaan

aku tahu engkau itu laksana matahari tatkala mampu menerangi hati dan jiwaku
dan sungguh aku menjadi malam saat tak kujumpai kau di senja mataku

kekasih, aku lantunkan salam rindu dari kedalaman kalbu untukmu terkasih hatiku
ada berjuta asa yang kupohonkan di taman indah sujud-sujud pasrah atas sejadah
tentang keinginan jiwa dan ragaku untuk selalu bersamamu sampai tiada terkurung lagi waktu
semoga sampai kepadamu dengan ranum seperti buah anggur yang ungu matang
untuk kupanen lalu kuperas sebagai minuman pagi yang memabukkan perasaan

Kekasih, aku ingin katakan kepadamu bahwa sesungguhnya cinta dan kesetiaanku itu tidak ada batasnya
Namun jika engkau memaksaku untuk membilang kepadamu di mana batasannya
Aku akan jawab, di matamu yang setiap saat selalu kau kedipkan
Mungkin kau akan tanya lagi, kenapa cinta dan setiaku berbatas di matamu
Aku jawab, karena matamu itu tak pernah berdusta untuk berkata

Kekasih, datanglah kepadaku membawa satu gelas saja anggur hatimu
Aku ingin menenggaknya, kekasih, sebab kini aku tengah sangat dahaga
Dan nanti pada saat aku mabuk oleh karena tetesan demi tetesan
Peluk jiwaku, kekasih, sehingga kau tahu aku menggilaimu

Kepadamu yang hendak berjalan di bawah hujan
Ingatlah aku yang tak pernah melupakanmu
Sehingga walaupun setiap butirannya membekukan ragamu
Ia tak mampu mengkakukan rasa cinta kepadaku
Aku akan sgra mnjadi badai pagi
Andai kau tak halilintarkan rindu

kekasih,lihatlah rembulan yang duduk di kepalaku
Bibirnya yang dingin mampu membekukan adzan pagi
Yang dikumandangkan fajar di pelupuk mataku
Dan engkau yang sedari malam aku dzikir heningkan
Kini menjadi dhuha yang belum tiba di jantungku

setiap kali aku mengingatmu
kepalaku terasa sangat berat
mungkin karena kerinduan
yang semakin menggunung
atau bisa juga karena
cinta padamu teramat berat

kekasih, tahukah engkau kenapa aku selalu saja cemburu kepada mereka yang mengagumimu
sungguh bukan karena aku tak percaya kepadamu, melainkan karena rasa cintaku
yang setiap saat kian bertambah dan selalu bertambah kepadamu, semoga kau fahami itu

sabarlah, kekasih, hidup memang selalu memberi pelajaran yang berharga
baik itu berupa musibah yang membuat hati gelisah, ataupun kebahagiaan yang membuat jiwa sumringah
semua telah tercatat di lauhilmahafudzNya untuk kita tinggal menjalani saja segala kuasaNya
dengan keikhlasan tentunya, supaya tak lagi kita mengeluh kepada segala cobaan
Tuhan bersama kita selalu, janganlah letih mengingatNya, kekasih, agar Dia memeluk erat do’a dan mimpi kita

kekasih, panas sekali siang ini
seperti ada api mengelilingi ragaku
tapi hati sungguh sejuk, kekasih
karena wajahmu tertanam di sini
seperti pinus di tengah hutan
belantara jiwaku

senja ini, kekasih, kau bilang dirimu ingin mencuri lelap dari matahari
maka tidurlah, sayang, di sini, dalam pelukan hangat nyanyian rindu
baringkan lelahmu, sehingga nanti ketika engkau terjaga
aku masih ada di sampingmu, memeluk segala peluh hidupmu

ekasih, cobaan hidup itu adalah hakikatnya Tuhan Mahasayang
sayang kepada kita dengan ingin menaikkan derajat di mataNya
sungguh bersyukur dengan apapun ujian yang Tuhan jatuhkan
adalah lebih merdu daripada kita tertwa dalam lupa kepadaNya

 

 

elhida, tsm-juni-2012

 

3 Comments to "Sajak-sajak Patah untuk yang Terkasih"

  1. J C  2 July, 2012 at 11:15

    Ikutan mas Sumonggo…sudah terpatah-patah membacanya…

  2. Dewi Aichi  2 July, 2012 at 06:27

    El Hida , tulisanmu sungguh menyejukkan..wah…apalagi ini sajak untuk seseorang yang terkasih…

  3. Sumonggo  1 July, 2012 at 14:01

    Membaca puisi sepanjang ini, mungkin sang kekasih sudah lama mengantuk

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.