[Serial Negara Kapitalis] Mbak Hannah Patah Hati

Dian Nugraheni

 

Karena aku bekerja di Deli, sebuah Kedai Sandwich yang berada di tengah-tengah kampus George Washington University (GWU), Washington, DC, maka, aku pun banyak mengenal para mahasiswa yang menjadi sebagian besar pelanggan Deli. Salah satunya adalah seorang mahasiswi, bernama Hannah. Menurutku sih, Mbak Hannah adalah mahasiswi GWU yang paling cantik yang pernah aku lihat sampai hari ini.

Kalau ukuran cantik adalah boneka Barby, maka mbak Hannah lebih cantik dari itu. Rambutnya blonde, lurus, bibirnya mungil, hidungnya tidak terlalu runcing, matanya indah, tubuhnya semampai. Tapi yang membuat mbak Hannah terlihat lebih cantik, sepertinya lagak lagunya. Lagak lagunya gemulai, sopan, selalu senyum, ramah. Berpakaian selalu tertutup, meski di hari panas, aku belum pernah melihat mbak Hannah memakai celana yang terlalu pendek, atau baju tak berlengan. Pokoknya, di mataku, mbak Hannah itu indah.

Dulu, pertama kali aku memperhatikan mbak Hannah, selain dari keindahaan yang terlihat,juga karena, apabila sedang dalam antrian memesan sandwich, dia hampir selalu datang bersama pacarnya, seorang pemuda bertampang Timur Tengah yang kalem. Dalam antrian yang panjang dan padat, mereka berdua nampak selalu mesra, berkata-kata dalam intonasi rendah sambil keduanya selalu tersenyum, dan sesekali berpelukan atau berciuman kecil. Sebuah ciuman yang manis, dan membuat aku ikut tersenyum haru menikmati keindahan itu.

Lalu, setelah selesai mengantri sandwich, ketika tiba di meja kasir, aku perhatikan nama di kartu bayarnya, kemudian aku sapa, “thanks, Hannah, have a good day…” Kemudian dia tersenyum, dan membalas, “Thanks.., you do the same….”

Yang terjadi kemudian, setiap dia membayar di meja kasir, kami selalu ngobrol sedikit, berbasa-basi, misalnya, menanyakan, bagaimana studynya, kapan pulang kampung liburan, dan hal-hal seputar itu. Tak semua mahasiswa mahasiswi pelanggan Deli ramah, tak banyak yang mau meluangkan sedikit waktunya untuk ngobrol bersama pekerja Deli, tapi tidak dengan Mbak Hannah, meski hanya tigapuluh detik, pasti dia akan berhenti sejenak dan ngobrol bersama kami.

Tapi pemandangan indah itu tak berlangsung lama, mbak Hannah tak lagi datang bersama pacarnya. Dan “putus”nya Mbak Hannah dengan pacarnya ini, terjadi setelah libur panjang summer. Mungkin orang tua mbak Hannah tidak menyetujui hubungan mereka. Mungkin lho.., ini cuma mungkin. Setelah putus, keduanya, mbak Hannah maupun bekas pacarnya itu masih sering datang ke deli secara terpisah. Aku lihat, wajahnya sama-sama muram.

Singkat kata, mbak Hannah pun menjadi pelanggan favorit di Deli. Demikian pula dengan Joe Deli, Store Manager kami, yang akhirnya, Joe malah memasangkan mbak Hannah dengan salah satu atlet Base Ball GWU, yaitu “Mr. Steven Seagal”, alias pemuda kalem bernama Luke, yang wajahnya memang sekilas mirip Steven Seagal, sang Bintang Laga di kancah perfilman bule. Luke ini, juga salah satu mahasiwa pelanggan Deli favorit kami.

Aku lihat, Mr. Steven Seagal, Luke,  terlalu cool, terlalu cuek. Dalam kurun waktu setelah mbak Hannah dan Luke jadian, hanya beberapa kali saja Mbak Hannah ditemani Luke ketika pergi ke Deli, selebihnya mereka datang sendiri-sendiri. Kalau pun datang berdua, Luke nampak terlalu dingin terhadap Mbak Hannah, jangankan mendekap atau memberi ciuman kecil pada Mbak Hannah, menatap mesra pun aku tak pernah melihatnya, meski ekspresi wajah dan tubuh Mbak Hannah sangat menginginkan perhatian yang lebih dari sekedar itu.

Sampai pada suatu ketika, Luke dan tim Base Ballnya bertanding dengan tim dari sebuah universitas di South Carolina, 6 jam perjalanan darat dari Washington, DC. Anggota tim Base Ball itu menginap beberapa hari di sana. Di sebuah pagi yang mendung, ketika mbak Hannah membeli segelas kopi, di Deli, Joe bertanya, “bagaimana, apa kabar Luke di South Carolina…Apakah mereka memenangkan pertandingan ?”

Wajah mbak Hannah yang semula ceria, tampak menyurut, meski masih tersenyum, dia menjawab, “Dia tidak texting, tidak telpon aku, sama sekali…”

Joe agak terkejut, “Bagaimana mungkin…?”

Mbak Hannah hanya mengangkat bahu dan tersenyum, “I dont know, Joe…” Mendengar hal itu, tiba-tiba saja ada sedikit sesak di dadaku.Karena aku lihat, wajah mbak Hannah jelas-jelas muram. Besok-besoknya, ketika Luke datang ke Deli, kulihat wajahnya biasa-biasa saja, malah sedikit nampak ceria.

Minggu-minggu setelah itu, dengan sendirinya kami mahfum, bahwa mbak Hannah tak lagi berpasangan dengan Luke, alias sudah putus.

Ketika Luke datang ke Deli, sesampainya di meja kasir, lantas saja Joe berkata sambil tersenyum-senyum, “What happen..? ternyata kamu heart breaker yaa..?” Sebenarnya, Joe berkata demikian juga karena dia merasa bersalah, karena yang menjodohkan mbak Hannah dengan Luke, adalah Joe.

Luke, hanya tersenyum amat tipis, tanpa menjelaskan apa pun, seperti umumnya lelaki, tak banyak mulut. Hari-hari selanjutnya, Mbak Hannah nampak seperti sedikit kucing-kucingan, bila ke Deli, dia selalu berusaha untuk tidak bertemu Luke. Dan kami pun, bila ngobrol sama mbak Hannah, tak lagi menyinggung soal mereka berdua. Sekarang, mbak Hannah lebih sering “dikawal” oleh beberapa kawan lelakinya, yang nampak sangat berkenan menemani mbak Hannah ke mana pun. Kali ini pun, aku tersenyum haru melihat mbak Hannah bersama kawan-kawannya yang juga ramah, dalam hati aku berkata, “terimakasih untuk bersedia menemani mbak Hannah yaa…”

Mbak Hannah.., Mbak Hannah, yang cantik dan demikian indah, memang tak selamanya hidup itu indah, tak selamanya harapan terjadi seperti yang kita impikan. Juga soal kisah cintamu yang selalu hanya seumur jagung itu. Biarkanlah…

Waktu akan terus berjalan, dan engkau, Mbak Hannah yang cantik dan baik, dirimu pun akan mengikuti jalur waktu untuk terus berproses. Hatimu akan terus terlatih untuk memahami banyak hal. Suatu hari nanti, engkau pun akan tau, dan bisa merasakan, bahwa cinta bukanlah hanya perkara laki-laki dan perempuan. Cinta, bukan hanya melulu soal sentuhan fisik yang menggetar hingga ke palung kalbu.

Engkau akan bisa merasakan, bahwa cinta itu ada di mana-mana, beterbangan di sekitar kita. Hanya orang-orang dengan hati yang “terlatih’, hati yang bisa “menghargai” yang akan mampu menangkap pendar-pendar cinta yang beterbaran di sekitar kita itu. Hati yang abai, tak akan mampu melihatnya, apalagi menjangkaunya.

Bahkan ketika engkau, “hanya”  melihat sekuntum bunga, ketika engkau melihat seekor anjing becanda dengan kucing, ketika engkau melihat temanmu mengenakan dasi yang lucu, ketika angin berbisik saat engkau berjalan sendirian, ketika engkau melihat sepasang lelaki dan perempuan berpelukan, dan banyak hal lagi, yang di mata orang “awam” itu adalah biasa-biasa saja, maka bagimu, itu akan menjadi suatu keindahan tersendiri, yang membuat hatimu tersentuh, yang membuat rasamu menjadi penuh kasih, penuh cinta, bahkan getarannya akan lebih indah ketimbang saat engkau berpelukan dengan kekasihmu.

Semua hal yang nampaknya biasa, akan bisa terasa luar biasa untuk hati-hati yang “terlatih’, hati-hati yang telah pernah memahami, merasakan, dan menghargai  banyak hal. Semua hal yang nampaknya biasa-biasa saja itu akan bisa membuat “flying without wings”…, bahkan tanpa berkata-kata, tanpa bersentuhan, dan puncak cinta bukan lagi orgasme, tetapi lebih ke arah ekstase…

Salam hati penuh cinta….

 

Virginia,

Dian Nugraheni

Minggu, 6 Mei 2012, jam 4.38

(Totally cloudly sky, padahal pengen liat bulan penuh nanti malam, akankah terlihat di sini…?)

 

11 Comments to "[Serial Negara Kapitalis] Mbak Hannah Patah Hati"

  1. EA.Inakawa  3 July, 2012 at 01:35

    kalau lebih cantik dari boneka Barby,besok juga sudah banyak yang naksir yaa mbak Hannah…..salam sejuk

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *