Draupadi (2)

Chandra Sasadara

 

Aku ikut hadir ketika Yudhistira menemui Widura. Kedatangan sesepuh Negeri Hastinapura itu selalu membahagiakan Pandawa.  Kedatangan Widura selalu disambut dengan segala kebesaran dan rasa hormat oleh para Pandawa. Selain Bhisma, Widura adalah orang yang selalu melindungi Pandawa dari ancaman dan bahaya yang dibuat oleh Kaurawa dan Sangkuni.  Namun sebagai perempuan, aku merasakan ada sesuatu yang berbeda. Mata orang bijaksana itu sedikit keruh ketika beradu pandang denganku. Aku tidak bisa menduga apa yang akan disampaikan oleh Widura kepada Maharaja Yudhistira, namun mata Widura itu seolah memberikan tanda bahwa akan ada petaka yang bakal dipikul Pandawa.

Sepanjang pembicaraan antara Widura dan Yudhistira, aku tidak menemukan ada kalimat Widura yang memuat ancaman dari Kaurawa atau dari Maharaja Dristarasta, penguasa Negeri Hastinapura. Menurut Widura, Dristarasta bermaksud mengundang keluarga Pandawa untuk menikmati keindahan Istana Hastinapura yang telah lama di tinggalkan. Pandawa memang belum pernah menginjakkan kaki di Istana Hastinapura setelah upacara agung Rajasuya untuk menasbihkan Yudhistira sebagai Maharaja Indraprastha. Widura menambahkan bahwa anak-anak Dristarasta juga telah menyiapkan permainan dadu untuk menjamu Yudhistira. Permainan yang paling disukai Yudhistira.

Di ujung kalimatnya, Widura menasehati Pandawa dan secara khusus kepada Yudhistira bahwa permainan dadu hanya akan membakar kewaspadaan. Widura menambahkan bahwa itu selain penuh tipu muslihat, juga bisa menyeret jiwa manusia ke dalam nafsu untuk mengalahkan. Karena itu jangan pernah bertaruh dalam permainan dadu. “Bermainlah seperti masa kanak-kanak dulu, bermain-main hanya untuk senang-senang”. Widura mengakhiri kalimatnya dengan air mata menggenang.

Kalimat Widura yang terakhir itu seperti menghujam jantungku. Widura seperti telah tahu bahwa akan ada bahaya besar dalam permainan dadu yang telah dipersiapkan oleh Kaurawa. Meskipun diucapkan dengan tersenyum, namun nasehat Widura itu seperti melarang Yudhistira untuk bermain dadu. Aku menangkap peringatan bahaya dari masehat itu dan aku berharap Pandawa juga menangkap peringatan Widura. Namun jantungku hampir putus ketika Yudhistira justru mengatakan bahwa dirinya telah bersumpah untuk tidak mengecewakan siapapun. Itu artinya ia akan memenuhi undangan Dristarasta ke Hastinapura dan bermain dadu dengan para Kaurawa dan Sangkuni.

Aku tidak tahu apakah sumpah Yudhistira untuk tidak mengecewakan orang lain itu termasuk buat istrinya atau hanya berlaku bagi kaum kesatria. Aku kecewa dengan keputusan Yudhistira, namun apakah dia tahu bahwa ia telah mengecewakanku. Sebagai satu-satunya perempuan yang hadir menemui Widura, aku tidak setuju dengan keberangkatan Pandawa ke Hastinapura. Seperti halnya Widura, aku juga mencium rencana busuk Kaurawa dan Sangkuni dalam permainan dadu yang telah mereka siapkan. Aku khawatir Yudhistira akan terseret ke dalam taruhan yang tidak terkendali.

Aku ingin mengatakan ketidaksetujuanku, aku ingin semua orang tahu bahwa keputusan yang diambil oleh Maharaja Indraprastha itu salah. Salah karena tidak mengindahkan nasehat Widura, orang yang pernah menyelamatkan Pandawa dari kebakaran di istana kayu yang bernama Siwam. Salah karena keputusan itu tidak dibicarakan bersama dengan Bimasena, Arjuna, Nakula dan Sahadewa sebagai pemangku kekuasaan Indrapastha selain Maharaja Yudhistira. Dan tentu saja salah karena ia tidak meminta pendapatku, pendapat istrinya.

*****

Prathikami, sais kereta Duryodhana meminta ijin untuk menemuiku. Perasaanku sungguh tidak enak dengan kedatangan sais itu. Dengan wajah ditekuk ke tanah dan suara terputus-putus, Prathikami mengatakan bahwa aku telah menjadi milik Duryodhana karena Yudhistira suamiku telah mempertaruhkanku di meja judi. Aku diperintahkan untuk datang di arena pertaruhan dadu. Nyawaku seperti meloncat ke udara kosong. Aku kesulitan bernafas, kesulitan menangis. Aku limbung. Tubuhku mulai dipenuhi keringat dingin. Sesaat, aku tidak punya tenaga sama sekali untuk menyangga tubuhku.

Dengan sisa tenagaku, aku menghardik Pratikhami.

“Tanyakan kepada Yudhistira, apakah ia manusia merdeka atau telah menjadi budak ketika mempertaruhkan istrinya!!??.”

“Tanyakan kepada Sangkuni, apakah seorang budak memiliki kebebasan untuk mempertaruhkan orang lain??”

“Tanyakan kepada tetua Wangsa Bharata yang hadir di meja judi, apakah mereka akan merelakan anak perempuanya, istrinya, atau ibunya menjadi pertaruhan di meja judi??”

Entah apa yang disampaikan oleh Prathikami kepada Duryodhana, namun yang datang untuk memaksaku setelah Prathikami adalah Duhsasana. Salah seorang Kaurawa yang terkenal kasar dan tidak sopan terhadap perempuan. Tanpa banyak bicara Duhsasana menarik, mendorong dan melecehkanku dengan kasar. Aku meronta, memaki dan terus berusaha melepaskan diri dari kekurangajaran Duhsasana.

Semua mata melotot memandangku. Hanya Widura, Bhisma dan Mahaguru Drona yang memejamkan mata ketika Duhsasana mendorongku di tengah-tengah arena perjudian. Lima suamiku wajahnya di tekuk, tidak sedikitpun melirik ke arahku. Aku seperti burung kecil yang sayap-sayapnya dilepas satu persatu. Sendirian di tengah gurun tandus. Aku ingin berteriak, tapi tidak sedikitpun suara mau keluar dari tenggorokanku.

Suara Wikarna, salah seorang anak laki-laki Dristarasta memecahkan ketegangan di arena judi.

“Aku meminta supaya kemenangan Duryodhana dibatalkan, aku tahu bahwa Raja Indrapastha itu telah diperlakukan secara licik oleh Sangkuni dalam permainan judi, sehinga tidak pernah menang satu kalipun.” Dengan kalimat yang tertata rapi, Wikarna menatap para tetua Wangsa Bharata yang duduk berbaris.

“Yudhistira telah mempertaruhkan hartanya, kendaraan perangnya, prajuritnya, penduduk dan desa-desa di kerajaannya, istananya, saudara-saudaranya, dirinya dan terakhir istrinya.”

“Sunggu aku bertanya, apakah pantas orang yang telah mempertaruhkan dirinya sendiri di meja judi kemudian mempertaruhkan istrinya??”

“ Apakah pantas seseorang mempertaruhkan istri orang lain?? bukankah kalian semua tahu bahwa Draupadi bukan hanya istri Yudhistira??”

“Apakah kalian semua mendengar Yudhistira meminta persetujuan saudara-saudaranya pada saat mempertaruhkan Draupadi!!??”

“Jawabannya tidak!!! Karena itu bebaskan perempuan itu!!” tulunjuk Wikarna tertuju ke arahku.  Sungguh aku berharap kalimat itu keluar dari mulut salah satu suamiku, tapi aku harus kecewa. Kalimat pembelaan itu justru keluar dari saudara kandung Duryodhana.

Kesadaranku mulai pulih, aku tidak bisa berharap mendapat pembelaan dari suami-suamiku. Tekadku sudah bulat, aku harus membela diriku sendiri. Perempuan tidak bisa berharap terlalu banyak kepada kaum kesatria, mereka memiliki dunianya sendiri. Memiliki tata nilai sendiri.

“Penjudi yang paling jahat sekalipun tidak akan mempertaruhkan pelacur milikinya di meja judi, bagaimana bisa seorang maharaja dapat mempertaruhkan permaisurinya?” Aku mulai menggugat Yudhistira.

“Perlakuan tidak hormat kepadaku ini bukan hanya melukaiku, tapi melukai semua perempuan. Apakah ada di antara kaum kesatria di sini yang lahir dari batu? bukan dari rahim perempuan seperti aku?”

“Kalian boleh berebut kekuasaan, tapi kalian tidak berhak mengorbankan perempuan!”

“Kalian seharusnya menempatkan perempuan setelah Dewa-dewa yang kalian sembah.”

“ Darah, air mata dan  air susu perempuan yang membuat kalian menjadi manusia seperti sekarang.”

Entah ada yang mendengar atau tidak kalimat yang terus keluar dari mulutku di arena pertaruhan itu. Tapi aku terus bertanya, menggugat dan menuntut apa yang seharusnya diberikan kepada perempuan. Menurutku kaum kesatria telah merampas hak perempuan yang telah diberikan Dewa. Kalimatku berhenti ketika kainku ditarik secara kasar oleh Duhsasana. Laki-laki itu berusaha mempermalukan aku di tengah arena judi. Ia terus menarik kainku agar aku telanjang. Suara terakhir yang aku dengar sebelum pingsan adalah suara tertawa Duryodhana. Bukan suara suamiku. Lima laki-laki yang aku harapkan bisa membebaskanku dari penodaan dan hinaan Kaurawa.

 

17 Comments to "Draupadi (2)"

  1. chandra sasadara  6 July, 2012 at 11:35

    Matur Nuwun Mas Anoew

  2. anoew  5 July, 2012 at 20:43

    Warna baru bagi saya buat menikmati cerpen atau cerbung. Banyak pengetahuan didapat meskipun jujur saya ora mudeng dunia wayang. Lain kalau wayangnya bening mulus seger..

    Mantabs mas Chandra.

  3. chandra sasadara  4 July, 2012 at 14:34

    Bu’ Linda : aku pun penasaran akan ke mana cerita ini berakhir..hehehhe

  4. Linda Cheang  3 July, 2012 at 23:49

    tunggu sampai nanti ditolong Kreshna.

    *pingin tau ajah, jadi kayak apa, ntar, ceritanya *

  5. chandra sasadara  3 July, 2012 at 11:44

    Bu’ Cello dan Bu’ Dewi terima kasih telah mampir

  6. Dewi Aichi  3 July, 2012 at 06:48

    wahhh..makin seru nih ceritanya..

  7. cello mita  3 July, 2012 at 04:19

    Dilanjutt dong…asyikk nihh bacanya….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *