Indahnya Dunia Anak

Angela Januarti Kwee

 

Dunia anak-anak selalu menyenangkan, mungkin banyak orang akan sependapat denganku. Bagiku dunia mereka mengagumkan, menggemaskan juga membuat damai. Dalam keseharianku, aku sungguh berharap bisa terus berinteraksi dengan anak-anak. Meskipun tidak memiliki banyak kesempatan, aku tidak akan menyia-yiakan tiap kesempatan yang datang untuk bisa masuk ke dunia mereka. Paling tidak ini membuatku melupakan sejenak rutinitas orang “dewasa” dalam menjalani hidup maupun bekerja.

Biasanya kalau pulang kampung, aku akan senang bermain dengan keponakan dan adik-adik sepupuku yang masih kecil.

Dan bila mengunjungi tempat-tempat baru seperti perkampungan, hal yang akan aku cari terlebih dahulu pasti anak-anaknya. Kalau teman-teman yang mengenalku cukup baik, sudah tidak heran dengan sifatku yang satu ini. Aku bisa menjadi kekanakan seperti layaknya anak kecil ^_^

Dalam pengalaman yang kudapatkan bersama anak-anak, aku menemukan bahwa terkadang mereka juga seperti orang dewasa, harus bekerja dan tidak bisa menikmati dunia mereka selayaknya. Aku jadi teringat dua anak laki-laki di Dusun Empolah yang ditinggal orangtuanya (merantau) dan harus bekerja menoreh sehabis pulang sekolah. Semangat mereka untuk bertahan hidup memotivasiku bahwa dalam situasi sulit pun kita tidak boleh menyerah dengan keadaan.

Ada juga pertemuan dengan tiga anak yang lucu di Desa Jejora. Saking serunya bermain dengan mereka, aku lupa bahwa kami tengah bekerja dan harus mencari data untuk tamu yang didampingi. Meski akhir pekan yang seharusnya libur, aku merasa senang mendapatkan kesempatan ini. Paling tidak ini menambah warna lain dalam petualanganku.

Kesempatan lain di Desa Selebak. Saat diskusi kami sudah selesai dengan masyarakat setempat, anak-anak yang bermain lompat tali yang tidak jauh dari lokasi kami menarik perhatianku. Aku meminjam kamera tamu kami dan mengabadikan moment tersebut bersama satu temanku. Dan ketika aku mau berfoto bersama dengan anak-anak, aku melihat tamu kami tertarik untuk ikut. Langsunglah aku mengajaknya, dunia anak-anak mampu menarik siapa saja untuk masuk ke dalamnya.

Tapi terkadang tidak semua anak-anak mudah untuk didekati dan diajak bermain. Mungkin juga mereka takut dengan orang yang tidak dikenal. Aku mengalaminya beberapa kali, seperti pada saat acara penancapan tiang pertama pembangunan rumah betang panjang di Desa Rawak. Waktu itu ada dua anak yang terlihat manis sedang ikut menonton acara di Mega Tenda Paroki kami. Aku yang membawa kamera langsung membidik untuk mengambil foto. Eh, tahunya mereka menghindar, terlihat mereka malu. Namun aku mencari cara mengambil foto tanpa mereka ketahui, berlagak layaknya paparazi dan berhasil.

Dalam petualangan yang lain, aku mendapatkan kejutan dalam pertemuan dengan anak-anak di pedalaman Kapuas Hulu. Satu pagi aku bersantai di tepi sungai menikmati permandangan dan menunggu matahari terbit. Saat tengah asyik mengagumi semua yang ada di depanku, tatapanku tertuju pada seorang anak laki-laki yang juga melakukan hal yang sama denganku. Ia duduk di tepi sungai dengan handuk yang menutupi sebagian tubuhnya. Aku mendekat dan berbicara padanya, menanyakan jam berapa dia masuk sekolah.

Anak itu sedang bersiap untuk mandi ke sungai, udara dingin pagi hari mengajaknya untuk bersantai sejenak menunggu sinar mentari agar cuaca lebih hangat.

Masih dalam petualangan yang sama, aku memperhatikan seorang anak perempuan yang sedang mengantarkan dua orangtua menyeberangi sungai dengan sampan. Setelah sampai tujuan, tinggallah dia sendiri yang harus kembali ke seberang. Gadis cantik ini membuatku kagum.

Kemudian kami mengunjungi satu tempat baru lagi untukku. Di sini aku benar-benar tidak bisa menunggu lama untuk mengabadikan kebersamaan dengan mereka. Anak-anak Padua Mendalam yang menyambut kami dengan tarian dan menggunakan pakaian adat. Ternyata bukan cuma aku yang jatuh hati, beberapa teman dalam rombongan memilih berjalan paling terakhir dan melewati acara penyambutan di depan karena anak-anak ini.

Inilah sebagian potret dunia anak-anak di beberapa tempat di Kalimantan Barat yang pernah kukunjungi. Pada akhirnya tiap pertemuan dengan mereka mengajariku satu hal, bahwa hidup ini sangat indah dan patut disyukuri seperti apa adanya, tanpa beban seperti dunia mereka.

 

Sintang, 28 Juni 2012

SCA-AJ.020187

*Selamat juga untuk Pak Joseph Chen atas kelahiran anak ketiganya. Malaikat Kecil itu akan memberi warna dalam kehidupan seperti anak-anak yang pernah kujumpai.

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

10 Comments to "Indahnya Dunia Anak"

  1. Evi Irons  3 July, 2012 at 09:57

    Perlu adanya peningkatan hak perlindungan anak. Kalau di Amerika anak-anak sangat diawasi demi mencegah kemungkinan terjadinya kekerasan, kematian pada anak Dan phedopile. Sayangnya penjagaan anak-anak di negeri kita tidak begitu ketat, sehingga Ada beberapa anak menjadi korban Dari pihak orang dewasa termasuk orang tua sendiri. Maaf, agak melenceng dari artikel, cuma sekedar Saran saja.

  2. Dewi Aichi  3 July, 2012 at 06:57

    Angela…sungguh suatu kenikmatan yang luar biasa, yang patut disyukuri, kesempatanmu dalam pekerjaan telah memberi keindahan dengan menemukan kebahagiaan bersama anak-anak…

  3. EA.Inakawa  3 July, 2012 at 01:52

    masa kanak kanak itu luar biasa indah & tak terbeli untuk bisa kembali kesana……salam sejuk

  4. chandra sasadara  2 July, 2012 at 18:31

    mata anak-anak itu…
    melelehkan kedengkian..

    mata anak-anak itu..
    melunturkan keletihan..

  5. Angela Januarti  2 July, 2012 at 17:10

    [email protected] : aku nunggu Pak Han carikan cowok di negeri nenek moyang ^_^

  6. [email protected]  2 July, 2012 at 16:16

    eeeh… pak hand, gak boleh menawarkan bantuan lho ya…

  7. Angela Januarti  2 July, 2012 at 16:06

    [email protected] : Nggak kok, hanya saja kalau ada kesempatan jalan-jalan ke perkampungan aku suka nyari anak-anak untuk diajak bermain, atau hanya sekedar mengamati dunia mereka ^_^

    Pak JC : Makasih pak. Inilah tujuanku menulis, berbagi pengalaman yang kudapatkan.

    Pak Han : hohoho aku nggak akan jawab pertanyaannya. ^_^

  8. Handoko Widagdo  2 July, 2012 at 15:08

    Pertanyaan saya satu saja Angel, kapan bikin anak sendiri?

  9. J C  2 July, 2012 at 11:38

    Tulisanmu selalu mampu menyentuh dan membangkitkan esensi keindahan dalam kesederhanaan dalam arti yang sebenarnya, Angela!

    Dari artikel-artikelmu, semakin membuka wawasanku tentang kehidupan di Kalimantan dengan segala dinamika dan keindahannya…

  10. [email protected]  2 July, 2012 at 10:56

    nomor satoe….
    wah, pekerjaannya berhubungan dengan anak2 kah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.