Menerbitkan Indie: Petualangan Tersendiri (4)

Endah Raharjo

 

Kisah terakhir

Bagian terakhir ini berisi cerita pengalaman kami – saya dan Ria Tumimomor, 2 dari 8 pemilik Kampung Fiksi – dalam menerbitkan buku pribadi. Meskipun ini buku kami pribadi, teman-teman khususnya gang KF tetap membantu, minimal jadi pemandu sorak. Kalau kami sedang nggembos – karena mampet ide, capek, sakit, atau ada kesibukan lain – mereka akan memompa semangat kami supaya mblendung lagi.

Terlebih dulu akan saya jelaskan sedikit tentang ISBN. Mungkin ada yang lupa atau belum tahu, barang apa sih ISBN itu? Penjelasannya saya kopas dari laman Perpustakaan Nasional: ISBN (International Standard Book Number) adalah deretan angka 13 digit sebagai pemberi identifikasi unik secara internasional pada satu buku maupun produk seperti buku yang diterbitkan oleh penerbit. Setiap nomer memberikan identifikasi unik untuk setiap terbitan dari setiap penerbit, memungkinkan pemasaran produk yang lebih efisien bagi toko buku, perpustakaan, universitas maupun distributor.

Cukup jelas, to? Siapa saja boleh mengajukan ISBN, tidak harus penerbit. ISBN diurus di Perpustakaan Nasional, berkantor di Jl. Salemba Raya, Jakarta. Pengajuan ISBN dapat dilihat di tautan ini: http://www.pnri.go.id/LayananISBNAdd.aspx?id=1 atau minta informasi langsung ke nomor-nomor ini: (+62-21) 3101411, 3922749, 3922855, 3923116. Salah satu syarat mengajukan ISBN adalah bukti legalitas penerbit. KF tidak memiliki legalitas semacam akte notaris, namun tetap bisa mengurusnya. Kelengkapan mengurus ISBN oleh KF dapat dilihat di tautan ini:

http://gratcianulis.blogspot.com/2012/01/bagaimana-mengurus-isbn.html

Kalau KF bisa mengurusnya, pasti para Baltyrans (kok jadi mirip tyrant yaaa…. nggak enak banget kedengarannya!) juga bisa.

 

Cuplikan Kisah Si Jomblo

Sesuai judulnya, buku Ria Tumimomor ini menyajikan cerita suka-cita-duka-lara seorang jomblo perempuan yang usianya merayap naik. Buku mungil berisi 15 cerita pendek ini pernah juga terbit sebagai e-book. Ria memilih penerbit yang memberi layanan gratis – seperti pada kisah ketiga (kumpulan cerpen The Greatest Love of All).

Rincian biaya Cuplikan Kisah Si Jomblo:

  • Ukuran buku: 13 cm x 19 cm
  • Jumlah halaman: 108
  • Jenis kertas isi: kertas novel (lebih mahal dari HVS)
  • Cover: warna, art paper 230 gr dengan laminating doff
  • Ongkos produksi Rp 21.730
  • Harga jual: Rp 35.000
  • Keuntungan penerbit dari penjualan: Rp 5.308
  • Royalti penulis: Rp 7.962


Senja di Chao Phraya

Yang ini novel saya! Cerita roman tengah baya – istilah saya sendiri – antara Laras dan Osken ini pernah ditayangkan sebagai cerita bersambung di Baltyra, sebanyak 22 episode. Secara umum kisah yang disajikan dalam novel tidak berbeda, namun banyak sekali tambahan dan perubahan pada detilnya, juga penuturannya. Dalam cerber kisah dituturkan oleh orang ketiga, dalam novel Larasati menuturkan sendiri kisahnya. Cara Laras bertemu Osken juga tidak sama dengan di cerber, begitu pula akhir kisahnya. Pokoknya, novelnya ini beda, pasti rugi kalau tidak membeli –  ini jelas promosi, tapi nyata!

Saya memilih penerbit yang memberikan layanan penuh, seperti pada kisah kedua (kumpulan cerpen Banyak Nama untuk Satu Cinta) dan mengambil layanan gabungan, yaitu ‘ekspres dan pro-launching’. Dengan layanan gabungan ini novel saya siap dibeli dalam waktu 7 hari kerja sekaligus saya mendapat tanda bukti terbit sebanyak 25 eksp. Berapa duit saya keluarkan untuk itu? Tidak banyak, tak lebih mahal dari harga sepasang sneakers yang saya pakai bersepeda: Rp 1,5 juta.

Rincian biaya Senja di Chao Phraya:

  • Ukuran buku: 13 cm x 19 cm
  • Jumlah halaman: viii + 326 atau 334
  • Jenis kertas isi: HVS 70 gr
  • Cover: warna, ivory 230 gr dengan laminating doff
  • Ongkos produksi: Rp 48.025
  • Harga jual: Rp 62.500
  • Keuntungan penerbit: Rp 7.203
  • Royalti penulis: Rp 7.203

Cover Cuplikan Kisah Si Jomblo dikerjakan oleh perempuan muda sahabat kami, dengan tarif teman. Cover Senja di Chao Phraya dikerjakan oleh anak saya sendiri, tarifnya rahasia, eksklusif antara anak dan bunda. Proyek buku ini bener-bener mengasyikan, merekatkan persahabatan, meningkatkan kualitas cinta ibu-anak juga.

 

Promosi

Inilah bagian terberat dan harus dilakukan sendiri oleh penulis bila memilih self-publishing: promosi!

Kami – saya dan KF – memilih promosi secara sederhana: lewat Facebook, Twitter, menulis resensi buku di blog, memasang banner di blog (termasuk Baltyra), tak lupa profil Blackberry. Haaah… profil Blackberry? Iya, dengan cara ini saya menangkap 3 pembeli. Cara-cara lain seperti launching, diskusi buku dan jalur-jalur lain yang lebih high-profile belum kami tempuh, selain perkara biaya juga waktu dan tenaga.

Namun saya beruntung, seorang teman baik menawari launching novel Senja di Chao Phraya di kantornya, di Jogja, Jumat, 6 Juli nanti. Kebetulan kantornya, IVAA (Indonesian Visual Art Archive) sering dipakai diskusi dan nongkrong mahasiswa dan pegiat seni. Kalau ada sahabat Baltyra yang tinggal di Jogja, mohon hadir juga. Jangan lupa: pukul 16.00 – 18.00. Pengisi acaranya juga para sahabat saya: pembacaan beberapa bab novel oleh Ikun Sri Kuncoro dan obrolan seputar fiksi online oleh Odi Shalahuddin.

Dua penerbit yang kami pilih menyediakan diskon untuk pembelian dalam jumlah tertentu. Penerbit novel Senja di Chao Phraya memberi diskon seperti ini:

  • 15% untuk pembelian antara Rp 250.000 – Rp 500.000
  • 20% untuk pembelian antara Rp 500.000 – Rp 1 juta
  • 25% untuk pembelian antara Rp 1 juta – Rp 2 juta
  • 35% untuk pembelian di atas Rp 2 juta

Diskon itu saya manfaatkan untuk promosi, karena pembeli maunya membeli langsung dari saya. Caranya? Saya membeli buku sebanyak 20 eksp setiap tahapan. Harga buku Rp 62.500, jadi total pembelian Rp 1.250.000, artinya mendapat diskon 25%. Kemudian buku saya jual dengan diskon 20%. Saya puas dengan 5% itu plus – tentu saja – royalti yang dipatok oleh penerbit sebesar Rp 7.203 perbuku. Kalau mau dapat diskon sampai 35% bisa order 40 buku.

Sudah untungkah saya? Yang pasti, saya belum bisa beli sneakers baru…. Kenapa dari tadi ngomongin sneakers? Ya, itu cara saya membandingkan ‘angka’ agar tidak menilai sesuatu semata duitnya. Bila sepasang sneakers mampu memberi saya rasa bahagia ketika mengayuh sepeda, menerbitkan buku – dengan uang yang sama – mampu membenihkan bukan hanya rasa bahagia, juga menyambung persahabatan yang hilang (ada teman lama yang membeli buku saya, lalu kami kembali berkomunikasi), serta menambah pengetahuan, memperkaya batin, dan banyaaak manfaat lainnya.

 

Distribusi

Ini juga perkara tidak ringan bila pembeli maunya langsung membeli buku ke penulis. Di bagian kedua sudah saya sampaikan kalau orang Indonesia kebanyakan masih malas – entah apa sebabnya – membeli buku online. Padahal menurut saya sangat gampang dan menyenangkan! Kami bertiga – saya, suami dan anak tunggal kami – terbiasa membeli buku online, makanya seneng banget setelah tahu ada penerbit yang memajang buku terbitannya dan melayani pembelian secara online. Dari sekian pembeli novel Senja di Chao Phraya, 95% membeli langsung dari saya. Begitu pula dengan Cuplikan Kisah Si Jomblo, orang-orang maunya langsung membeli ke Ria.

Kumpulan cerpen ‘24 – Senarai Kisah dari Kampung Fiksi’ juga kami distribusikan sendiri, kami tidak memakai jasa penerbit, hanya jasa percetakan saja.

Bila punya banyak modal, bisa saja menyetak offset, langsung 3 ribu eksp, kemudian pakai jasa distributor. Mereka pasti akan minta jatah, bisa sampai 50% dari harga jual. Tapi harus hati-hati, sebab penulis umumnya tidak punya cara untuk mengontrol jumlah buku yang benar-benar terjual.

Waaah… jadi ingat! Urusan kirim-mengirim buku juga harus hati-hati. Saya tekor ongkos kirim. Kok bisa? Yaaa… itu kebegoan saya aja! Ternyata biaya pengiriman ke ‘Jakarta’ itu tidak sama. Mengirim ke Jakarta kota dengan Jakarta pinggiran (Tangerang, Depok, Bekasi dll) bedanya bisa sampai Rp 5 ribu. Saya terlanjur mematok ongkos kirim Rp 10 ribu pada pembeli tahap pertama di sekitar Jakarta (untuk pembeli tahap kedua, saya sudah paham). Begitu juga untuk kota-kota lain. Pesan saya, bila akan mendistribusikan sendiri dan mengirim lewat pos/jasa kurir: telpon dulu Kantor Pos atau jasa kurir sebelum mematok ongkos kirim.

Begitulah kisah saya dan Kampung Fiksi dalam menerbitkan buku secara indie. Sebenarnya masih ada satu novel lagi, karya pemilik KF juga, Winda Krisnadefa, judulnya Blackbook. Kabarnya novel ini sudah beredar di beberapa toko buku. Karena saya tidak mengikuti prosesnya, belum bisa saya perbagikan kisahnya. Kapan-kapan kalau Winda mau saya wawancara, hasilnya bisa saya ceritakan lagi.

Dari kisah pertama sampai keempat ini, teman-teman jadi tahu ada beberapa skema penerbitan indie. Mulai dari mengurus semuanya sendiri; ada yang membayar jasa penerbit indie online untuk layout, disain cover, dan ISBN; ada pula yang melalui self-publishing yang ditawarkan penerbit secara gratis namun semuanya harus dilakukan sendiri. Proyek ini ternyata bisa jadi petualangan tersendiri yang nilainya jauh lebih besar dibanding uang yang kami keluarkan.

Ada yang ingin mencoba? It’s orgasmic! Trust me!

***

 

20 Comments to "Menerbitkan Indie: Petualangan Tersendiri (4)"

  1. Anastasia Yuliantari  9 July, 2012 at 05:36

    Saya suenaaaang bisa dapat info ini. Seperti yg Mbak Endah bilang, biarpun penerbit yg menerbitkan buku saya yg pertama, tapi saya sering bengong kalo ditanyain di mana beli bukunya? Saya engga tahu gimana distribusinya terutama di kota2 kecil….hehehe.

  2. probo  7 July, 2012 at 19:06

    saya juga seneng bisa ketemu Dhimas Odi Shalahudin dan mbak Endah Raharjo……
    kapan2 ngankring bareng hahaha

  3. EA.Inakawa  7 July, 2012 at 18:40

    Iya deh Endah,saya jadi lebih tau sekarang dan seyogiyanya emang harus ada team untuk sharing yaaa……….salam sejuk

  4. Odi Shalahuddin  7 July, 2012 at 10:20

    Wah, senang rasanya bisa ketemu Mbak Endah dan Bu Probo saat launching novel Senja di Chao Phraya….

  5. Endah Raharjo  3 July, 2012 at 15:20

    @Inakawa: kalo nerbitkannya mudah kok,: ada naskah, layout, cover, isbn, itu aja yg berat itu promosi dan distribusi spy menjangkau masyarakat umum, bukan sebatas teman saja

  6. EA.Inakawa  3 July, 2012 at 01:25

    Ass,terima kasih Endah,saya pernah terpikir gimana caranya yaaaa…..info ini bermanfaat sekali walaupun tidak mudah yaaa,salam sejuk

  7. probo  2 July, 2012 at 17:59

    saya lagi ngompori suami, biar diterbitkan juga kumpulan cerita anaknya mbak Endah…..
    sampai ketemu tgl 6 juli besok ya……

  8. Endah Raharjo  2 July, 2012 at 17:19

    @JC, gampang kan, lagi pula sekarang penerbit major mulai melayani self publishing juga. Ayo itu memoirnya lanjutannya mana, ditunggu

    @Pak Handoko: iya, Pak. Langsung aja diterbitkan
    Penerbit SDCP: dalam kerja samanya disebutkan penulis bisa menarik kerja s amanya kapan saja, tdk ada batas minimal, dengan menulis surat pernyataan bermeterai dan ditandatangani, dikirim ke penerbit. Sekarang sy bs saja mengirim naskah SDCP ke penerbit major, tanpa memberi tahu penerbit, yg penting stlh ada deal – atau kapan saja – saya nulis surat pernyataan menarik naskah itu.

    Kalau penerbit Si Jomblo sepertinya naskah bisa ditarik kapan saja, tinggal dihapus saja dari akun atau ‘etalase’ di sana. Nanti saya tanyakan lagi mengenai hal ini, ya. Kalau ternyata jawaban salah, saya ralat di sini.

  9. Endah Raharjo  2 July, 2012 at 17:12

    @Mas Joko, ayooo… Menyenangkan lho
    @Mas Odi: heheheheee… Itu cerpen2nya daripada dimakan rayap ntar habis…

    @ Ivan: ntar saya kirim link lewat email ya, nggak tahu gimana caranya kasih link di sini

    @mbak Probo: ditunggu, di Jl Ireda, nanti kalo udh ada pengumuman sy jawil yaaa

    @Paspampres: waaaah…. Apik kuwi, ntar semua nulis ygmau baca siapa

  10. Endah Raharjo  2 July, 2012 at 17:07

    Pertama untuk G alias Gratcia (ini juga salah satu pemilik KF): makasih banyak tambahannya yaaa… Jadi penjelasannya meralat yg sdh saya tulis yaaa…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.