Selubung Hitam Konspirasi (8): Dendam Sang Napi

Masopu

 

Matahari belum lagi sempurna menyapa tetes-tetes embun yang semalam turun, saat Joni dikagetkan oleh dering HP yang tergeletak di atas meja. Matanya masih berkejapan mengiring sigap tangan meraba tepian meja untuk meraihnya.

” Halo selamat pagi! ” sapanya sambil menyingkap selimut yang menutupi tubuh.

” Pagi Jon. Kamu sudah baca email-ku semalam? “

” Belum Pak, saya semalam hanya menganalisa sekaligus menginventaris saksi dan barang bukti  yang harus segera saya musnahkan. ” terkejut Joni saat mendengar sahutan suara di seberang sana. Dia tak menyangka, pak Rudi akan menelepon sepagi itu. Selama hampir 3 tahun menjadi bawahan pak Rudi, tak pernah sekalipun Dia menelepon sepagi ini.

” Baguslah kalau begitu. Segera email ke aku pagi ini. Sekalian  baca juga email dariku tentang detail rencana lanjutannya”

” Iya Pak ” jawab Joni sambil menggosok-gosokkan tangannya ke muka. Matanya segera memperhatikan jarum jam tangan yang ada di meja. Waktu masih begitu pagi, tapi pak Rudi sudah mengingatkan dia untuk segera membereskan masalah yang ditanganinya.

“ Ok Jon. Pelajari segera dan aku tunggu usulan barumu. “

” Siap Pak ” jawab Joni mengakhiri pembicaran di pagi itu.

Bergegas Joni melangkah ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri sebentar, Joni  mengganti baju tidurnya dengan kaos hitam kegemarannya. Kaos bergambar seseorang yang tengah menjadi sasaran tembak. Joni menyalakan laptopnya dan membuka email. Terpampang jelas di layar monitor tersebut beberapa email masuk yang belum sempat dibukanya, termasuk email dari pak Rudi.Tak butuh waktu lama, email-email yang telah dienskripsi tersebut berhasil dibukanya. Penjelasan panjang lebar yang kemarin didengarnya dari bibir pak Rudi kini terpampang lebih detail di depannya. Joni benar-benar kagum dengan pola pikir atasannya itu. Dari emailnya, Joni sudah bisa menduga jika pak Rudi begitu teliti dalam menyusun rencana lanjutannya tersebut.

Bukan hanya membahas mengenai usaha apa saja yang harus Joni lakukan untuk membungkam Arya dari kasus tersebut, tapi juga rencana-rencana lainnya untuk menghilangkan saksi dan juga bukti-bukti lainnya. Jelas dan terperinci. Bahkan untuk ekskutor yang akan ditugaskan menghabisi Arya di penjara nanti telah pak Rudi jelaskan secara gamblang.  Joni merasa tak perlu ada lagi yang dia usulkan ataupun pertanyakan. Semua usulan itu Joni rasa sudah sangat lengkap dan detail. Butuh waktu lama dan biaya serta tenaga yang tidak sedikit untuk membongkar kasus ini jika nantinya ada pihak yang mampu mengendusnya.

Setelah matahari makin tinggi menapak ke puncak tahtanya, Joni bergegas ke luar dari apartemennya. Sudah hampir 4 bulan ini dia berada di Surabaya untuk mengurusi segala persiapan skenario, ekskusi dan juga penanganan masalah kerusuhan  yang sukses 3 bulan lalu. Tak berapa lama kemudian tapak-tapak kakinya sibuk memacu land cruisernya membelah jalanan kota yang mulai dirambah kemacetan. Tak lama mobil tersebut berbelok ke arah Lapas yang sedianya akan dijadikan tempat penahanan Arya selanjutnya.

Setelah mengisi buku daftar besuk, segera dia menemui seorang narapidana yang tersebut dalam email pak Rudi. Narapidana bernama Lodi adalah terhukum kasus perampokan beberapa toko emas di beberepa kota. Lodi kini tengah menjalani tahun ketiga dari masa hukuman penjara selama 10 tahun. Menurut email Pak Rudi, Lodi siap ditugaskan apa saja termasuk untuk mengekskusi seseorang. Sementara Lodi sendiri sudah cukup dikenal oleh para narapidana lainnya sebagai lelaki kejam yang tak berperasaan.

” Selamat pagi! ” sapa Joni saat melihat Lodi telah duduk di seberang meja besuk di ruang tersebut.

” Pagi! Adakah saya mengenalmu? ” sapa Lodi dengan suaranya yang serak-serak basah. Kesan angkuh dan cuek terpancar dari wajah lelaki berusia 42 tahun tersebut. Kerut-kerut di wajahnya menggambarkan betapa kerasnya jalan hidup yang telah dijalaninya.

” Benarkah kamu Lodi? “

” Iya aku Lodi. Ada apa ? ” jawab Lodi ketus.

” Perkenalkan saya Joni, orang kepercayaan pak Rudi.” Joni mencoba memperkenalkan diri.  Seulas senyum coba dia berikan kepada Lodi. Namun usahanya untuk mencairkan suasana tersebut tak mendapatkan tanggapan. Lodi tetap seperti semula.

” Pak Rudi yang dari Jakarta itu? ” tanya Lodi masih dengan wajahnya yang sedingin bukit salju abadi di puncak jaya.

” Iya. ” jawab Joni singkat.

” Ok aku sudah tahu maksud kedatangan kamu. Mana foto orang itu. ” tanya Lodi langsung menuju ke pokok pembicaraan.

” Tahu dari mana kamu tentang apa yang dilakukan? ” Tanya Joni keheranan

” Pak Rudi sudah memberi tahu  melalui seorang kurirnya di kota ini. ” Jawab Lodi sambil mengulang hasil pembicaraannya. Sekitar 15 menit kemudian dia menyelesaikan ceritanya, sementara Joni hanya terdiam mendengarkan semua cerita itu dengan seksama.

“Pak Rudi sudah memberitahu kamu semua detail rencananya? ”  Joni sesaat setelah Lodi menceritakan pembicaraannya dengan pak Rudi.

” Iya. Dia juga memberi tahu bahwa kamu akan diugaskan untuk membantuku? ” raut muka Lodi Kariola tetap dingin memandang Joni.

” Iya. Aku memang ditugaskan membantumu tapi bukan sebagai ekskutor, hanya sebagai penyedia suplai logistik. “

“ Mana foto lelaki itu? ” tanya Lodi sekali lagi pada Joni.

” Lelaki ini yang harus kamu bungkam. Bisakah kamu melakukannya tanpa meninggalkan jejak?” tanya Joni sedikit meragu.

” Hanya lelaki kurus seperti dia? Gampang man. ” Jawab Lodi dengan pedenya.

” Jangan meremehkan dia Lod. Aku tahu kemampuannya. Karena itu kamu harus berhati-hati menanganinya. Jangan ceroboh dan usahakan serapi mungkin!. ” Joni mencoba mengingatkan Lodi agar tak menganggap enteng Arya.

” Ok Jon. Pokoknya kamu hanya terima beres saja ya. ” jawab Lodi tetap dengan sorot matanya yang sedingin salju tersebut.

” Ok Lod. Logistik apa yang kamu butuhkan? “

” Aku ingin saat ekskusi semua tahanan tidak menyaksikan itu. Karenanya aku butuh suatu tempat yang aman untukku menghabisinya. Kamu sediakan saja apa yang aku tuliskan dalam catatanku ini ”  kata Lodi sambil menyodorkan selembar kertas yang penuh dengan coretan. Joni memperhatikan daftar barang-barang yang dibutuhkan Lodi. Hanya beberapa item, tapi sesungguhnya barang tersebut agak susah untuk diselendupkan ke dalam lapas ini. Karena sistem keamanannya yang ketat dan berlapis.

” Hanya ini saja Lod? ” tanya Joni sesaat setelah memperhatikan catatan dari Lodi tersebut.

” Iya hanya itu saja untuk sementara ini. ” Jawab Lodi.

” Ok Lod. Besok aku kirim logistikmu. Nanti kita lanjutkan lagi diskusinya. ” kata Joni.

” Ok Jon ” seraya Lodi berdiri dan melangkah.

Tak lama setelah Lodi pergi, Joni segera meninggalkan lapas tersebut. Sambil mengemudikan mobilnya menuju arah barat kota, Joni memberi kabar terhadap Pak Rudi. Jawaban singkat dari pak Rudi cukup memberinya semangat.

 

_ _ _

Dengan pengawalan ketat, Arya dipindahkan dari rutan kepolisian ke Lapas yang menurut rencana akan didiaminya selama dia menjalani 7 tahun masa hukumannya. Saat Arya memasuki mobil tahanan yang akan memindahkan dirinya, dilihatnya beberapa petugas telah siaga di kiri kanan mobil. Di bagian depan juga terlihat 2 buah motor dan 2 mobil polisi bersiap mengawalnya. Begitupun di bagian belakang mobil dengan kompisi yang hampir sama. Sementara di dalam mobil tahanan sendiri tampak 2 polisi dengan senjata laras panjang yang siap siaga.

Dengan langkahnya yang berat Arya menaiki mobil tahanan tersebut. Ketika Arya telah duduk di kursi mobil tahanan, borgol yang melingkari tangannya dikaitkan dengan rantai yang seukuran tubuh panjangnya. Rantai tersebut terkait mati di lantai mobil tahanan. Setelah itu dua polisi kembali mengapit posisi duduknya. Pintu belakang mobil segera ditutup dari luar.

Mobil bergerak perlahan saat komandan pasukan memberi aba-aba. Raungan sirine yang memekakkan telinga membahana berkejaran dengan laju iring-iringan kendaraan yang bergerak konstan tersebut. Tidak berapa lama, akhirnya iring-iringan mobil tersebut sampai di lapas tempat Arya akan menjalani masa hukumannya. Pintu mobil tahanan segera terbuka. Tampak dua polisi segera bersiaga di kiri kanan pintu mobil yang telah terbuka tersebut. Kaitan borgol dan rantai di lantai mobil segera dibuka. Perlahan Arya turun dari mobil tahanan.

Saat kaki Arya baru saja menapak memasuki halaman lapas, terlihat begitu banyak sorot mata sinis yang mengikuti setiap gerak langkahnya. Mata yang seakan ikut menghakimi Arya atas semua kesalahan yang tidak pernah dia lakukan. Mata-mata yang seakan menelanjangi setiap detail tubuhnya untuk mencari jawaban atas kebenaran semua tuduhan tersebut.

Arya risih. Arya terganggu. Tapi apalah dayanya saat ini. Semua pembelaan dan barang bukti yang ditampilkan di pengadilan tak mampu menyelamatkan dirinya dari tuduhan yang telah dimanipulasi tersebut. Sekarang yang Arya lakukan hanyalah pasrah sambil menunggu perjuangan Anee, Anita dan Septian untuk mengumpulkan bukti yang bisa membuatnya terbebas dari hukuman tersebut.

Arya terus melangkah. Ditundukkannya pandangan matanya demi tidak melihat sorot-sorot mata yang begitu buas ikut menghakiminya. Tak berepa lama kemudian langkahnya telah sampai di ruangan kepala sipir penjara. Dilihatnya di sana Anee, Anita dan juga Septian telah menunggu untuk bertemu dengannya. Setelah mendapat ijin dari kalapas dengan diawasi oleh beberapa sipir berwajah angker dan angkuh yang berdiri agak jauh darinya Arya berbicara sebentar dengan mereka bertiga.

” Mas kami sedang mencari bukti-bukti jika mas sebenarnya tidak bersalah mas. ” Kata Anee membuka pembicaraan.

” Apa yang Mas bisa bantu An untuk mengumpulkan bukti-bukti itu Anee? “

” Apa mas tahu nama orang yang mengaku sebagai auditor independet itu mas? “

” Iya aku tahu. Apa hubungannya sama dia An? “

Dengan singkat Anee menjelaskan semuanya dengan terperinci. Anita dan Septian juga sesekali menimpali penjelasan Anee yang dirasa kurang lengkap. Arya hanya termangu-mangu saja mendengar penjelasan mereka bertiga. Semua itu dirasanya masuk akal dan saling berkaitan.

” Jadi bagaimana Mas sudah mengerti maksud kami tersebut?”  tanya Anee saat selesai menjelaskan apa rencana yang akan dilakukannya bersama dengan Anita dan Septian.

” Aku mengerti An. Dan aku dukung usaha kalian bertiga. ” jawab Arya dengan wajah penuh harapan.

” Apa mas masih punya beberapa info tentang tempat kerja mas yang lama yang belum mas sampaikan kepada kami? ” tanya Anee penuh harapan akan adanya sesuatu hal baru yang bisa membantu penyidikan yang dirinya dan tim pengacaranya lakukan saat ini.

” Semua sudah aku sampaikan An. Tapi mungkin kamu bisa mulai menyelidikinya melalui komputer di meja kerjaku An. ” kata Arya singkat.

” Maksud Mas? Aku kan gak bisa mengakses Komputer tersebut mas?” tanya Anee heran.

” Mungkin memang kita tak akan bisa masuk ke sana An, tapi aku mempunyai seorang teman yang bisa membantu kita untuk menyelidiki hal ini. Dia bisa melakukan hacking untuk mencari info sesungguhnya tentang perusahaan tempatku bekerja dulu An. ” Arya mencoba memberikan sebuah info yang bisa membangkitkan harapan istri dan tim pengacarnya.

” Siapa yang mas maksud? “

” Budi An. Dia sebenarnya seorang hacker yang handal. Tapi dia selalu bersembunyi dibalik wajah lugunya. Hanya aku dan dia yang tahu kemampuannya sebagai  hacker. ” terang Arya.

” Budi Permana maksudmu Mas? ” tanya Anee semakin keheranan.

” Iya, dia. Kamu masih ingatkan rumah dan orangnya? “

” Masih Mas. Beberapa hari yang lalu dia juga ke rumah saat Mas masih dalam proses persidangan. Dia bilang turut prihatin atas apa yang Mas terima. “

” Berarti dia sudah menangkap pesan yang aku kirimkan An. ” Arya berkata sambil menampakkan wajah penuh harapan.

” Pesan apa? ” tanya Septian menyela pembicaraan tersebut. Lelaki yang sedari tadi hanya mendengarkan pembicaraan Arya dan Anee. Dia bingung dengan perkataan Arya tadi.

” Begini, Budi sebenarnya selalu hadir saat sidangku. Dia mengikuti semua sidang itu. Karena itu waktu pembacaan pledoi aku membuat beberapa penekanan kalimat yang terulang dua atau tiga kali di sana. Kalimat-kalimat tersebut intinya memberi tahu Budi bahwa aku telah dijebak. Dan aku meminta bantuannya untuk mengungkap kasus ini. Dan trik ini sebenarnya adalah trik lama saat kami kuliah dulu untuk mengelabui teman-teman kita. Sengaja aku melakukan ini mas Septian. Aku menangkap gelagat adanya mata-mata di antara tim kita. Itu kenapa beberapa hari yang lalu aku meminta agar Thomas tidak lagi dilibatkan dalam proses banding kita.”

Arya menjelaskan semuanya secara detail. Termasuk kecurigaannya terhadap keberadaan Thomas dalam team pengacaranya. Awalnya Arya tidaklah curiga dengan keberadaan Thomas dalam Teamnya, tapi saat tiba-tiba beberapa barang bukti yang mereka punyai tak mampu meringankan tuntutan hukumannya, dia merasa curiga juga adanya penyusup dalam teamnya. Semua diceritakannya dengan jelas pada mereka bertiga. Mereka hanya manggut-manggut saja mendengar cerita tersebut.

” Bukannya pledoi kamu itu dibacakan kita berdua secara bergantian? ” tanya Anita ketika Arya menyelesaikan cerita tentang kecurigaannya.

” Iya memang benar. Tapi di tiap bagian akhir dan awal pledoi yang kalian baca bergantian tersebut ada penekanan kata yang berulang. Dan aku sengaja menyelipkannya saat kita telah bersepakat Anita dan mas Septian akan bergantian membacanya sampai bagian mana. Di situlah aku selipkan pengulangan kata dan kalimat yang merupakan kode aku dan Budi. Beruntungnya Thomas tidak ikut membacanya, karena hal itu akan mengacaukan bahasa sandiku untuk Budi” Papar Arya.

” Kenapa kamu tidak memberi tahu kami Arya?” kejar Anita.

” Aku menunggu jawaban Budi dulu, baru mau memberitahu kalian. Dengan kedatangannya ke rumah, dia telah berkata bahwa dia bersedia membantu kita. “

” Terus apa langkah selanjutnya untuk kita “

” Anee kamu kasihkan laptopku ke Budi. Biar dia bisa membuka dan mencari data-data apa yang dia butuhkan dari sana. Setelah itu Budi akan menukar laptop kita dengan laptopnya. Dia mencurigai laptop kita telah dibobol oleh orang lain. Beberapa hari setelah Pledoiku ditolak hakim, dia menyatakan hal itu saat menjengukku. Dia mencurigai adanya alat penyadap di laptop dan hpku tersebut.” Pinta Arya pada Anee.

” Iya mas. ” jawab Anee dengan nada masih tak begitu mengerti dengan kata-kata Arya.

” Satu hal lagi ya jangan temui dia lagi. Nanti dia akan mengirimkan hasil pekerjaannya tidak ke rumah ataupun kepada Anita dan mas Septian. Dia akan meletakkanya di tempat-tempat yang akan dia kunjungi. Dan kamu hanya perlu menerjemahkan SMS kode yang dikirimkannya. ” kata Arya menjelaskan detail rencana Budi kepada istri dan team pengacaranya.

” Bagaimana aku dan Anita serta mas Septian mengerti kode tersebut Mas? ” tanya Anee semakin bingung dengan maksud kata-kata suaminya.

” Anee kamu masih ingat sama permainan yang sering kita mainkan saat kita pacaran dulu? Sejenis permainan tebak-tebakan itu? ” tanya Arya mencoba memancing ingatab istrinya tentang permainan yang dulu sering mereka lakukan saat ingin bertemu tanpa diikuti oleh teman-teman mereka.

” Iya aku ingat Mas. Kenapa? “

” Nantinya Budi akan memakai kode-kode yang hampir sama dengan permainan itu An. Dan dia mengirimnya secara acak, bisa ke kamu ke mas Septian ataupun ke Anita. Jadi jika menerima SMS tersebut dan kalian bingung bisa saling bertukar informasi. ” papar Arya.

” Oo begitu maksudmu mas. “

” Iya An. Mbak Anita……mas  Septian aku titip jaga Anee ya. Please help us ya. “

” Ok Ar. Aku akan membantumu. “

” Makasih kawan  Sekalian tolong Anee ganti nomer hp-mu dulu.”

Berbarengan dengan itu tampak 2 orang sipir yang mengawasi Arya dan team pengcara serta istrinya dari jarak yang agak jauh memberi tanda jika waktunya sudah habis. Dengan anggukan kecil Arya memberi tanda kepada sipir bahwa dia mengerti. Segera dia berdiri dan kedua sipir tersebut menghampirinya. Sesaat sebelum kedua sipir itu sampai ke posisinya, Anee menghampiri suaminya dan memeluknya dengan penuh kerinduan.

” Kamu buka laci di almari pakaianku. Ada kata-kata yang aku tuliskan di sana. Mungkin bisa membantumu membuka tabir konspirasi ini An. “

” Baik mas. ” Jawab Anee sambil melepaskan pelukannya.

Tak lama kemudian Arya meninggalkan ruangan tersebut dengan kawalan sipir. Sementara Anee, Anita dan Septian pun bergegas meninggalkan ruangan tersebut untuk segera pulang. Dalam perjalanan pulang tersebut Anee ceritakan kembali beberapa hal yang sempat terlewat untuk dibicarakan. Tak lupa Anee menjelaskan permainan yang sering dia mainkan bersama suaminya dulu sewaktu masih pacaran. Anita dan Septian hanya mengangguk-angguk mencoba mencerna kalimat-kalimat dari Anee.

Tak lama kemudian mobil berhenti di depan mulut jalan kecil tempat Anee tinggal. Setelah Anee turun, mobil kembali melaju berputar arah meninggalkan Anee. Bergegas dia kembali ke rumahnya. Terngiang semua kata-kata suaminya tadi.

Begitu sampai di rumahnya, tanpa beristirahat Anee segera membuka laci kecil di almari baju suaminya. Dicarinya apa yang dia katakan tadi. Saat yang dicari diketemukan, dia tersenyum membacanya. Sebuah kutipan singkat dari film “The X Files” yang berbunyi “ The Truth is Out there “ begitu mengena untuknya saat ini. Kebenaran itu memang ada di luar sana, tinggal bagaimana usaha dari dirinya untuk membuktikan bahwa suaminya tidak bersalah. Semangatnya semakin menyala setelah membaca tulisan tersebut.

 

_ _ _

 

Masopu

 

8 Comments to "Selubung Hitam Konspirasi (8): Dendam Sang Napi"

  1. agung "Masopu"  7 July, 2012 at 16:31

    @ EA Inakawa…. Ikutin kelanjutannya, biar gak makin penasaran

  2. agung "Masopu"  7 July, 2012 at 16:30

    @ Candra Sasadara… penuh jebakan ya.. makasih

  3. agung "Masopu"  7 July, 2012 at 16:29

    @ JC idenya dari salah satu kejadian “khas” Indonesia, Kasus Hambalang juga ada sedikit pengaruhnya, tapi lebih ke kasus di tempat lain

  4. agung "Masopu"  7 July, 2012 at 16:26

    @paspampres…. siap gan. Lanjuttt

  5. EA.Inakawa  3 July, 2012 at 01:08

    mantap & jd penasaran, salam

  6. chandra sasadara  2 July, 2012 at 18:43

    rumit, penuh jebakan..membuat penasaran

  7. J C  2 July, 2012 at 11:35

    Semakin yakin kalau mirip dengan Kasus Hambalang sekarang (model dan level rekayasanya)

  8. [email protected]  2 July, 2012 at 11:05

    nomor satu…..
    LANJUT!!!!!!!!!!!!…. ini bisa mengalahkan serial berlanjut dari ci Lani nih…. ci lani punya 13 series….
    ini pasti lebih…

    LAJUT…. jangan putus tengah jalan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.