Audrey (7): Masa Lalu yang Datang Kembali

Anastasia Yuliantari

 

Maafkan aku, Sweetie karena meninggalkanmu di tengah percakapan kita kemarin. Bukan aku tak merindukanmu atau kisahmu tak menarik bagiku, tapi sesuatu terjadi begitu mendadak, bahkan tak memberiku kesempatan untuk bernapas barang sehelaan.

Dear, setiap orang pasti punya masa lalu, kan? Secara tak sengaja kita berbagi kisah usang dalam setiap percakapan. Hal itu wajar saja, karena setiap babakan hidup jalin-menjalin tanpa putus sampai jantung kita berhenti berdetak suatu ketika. Tapi bagaimana perasaanmu saat masa lalu itu menyeruak kembali dalam kekinianmu? Ya, tergantung, pasti begitu jawabmu karena dirimu adalah orang paling enteng menanggapi sesuatu yang telah lampau, atau hanya aku saja yang tak tahu, bahkan tak mau tahu tentang masa silammu?

Aku juga tak terlalu melankolis romantis menanggapi masa lampau, hanya saja ketika kenangan itu berwujud seorang lelaki yang mempunyai daya pesona mengurat akar dalam darahnya, kedatangannya sungguh menggoncangkan. Bahkan membuat jantungku berhenti berdetak sesaat.

“Hai, Dey.” Sapanya di ponselku. Aku tak tahu dari mana dia memperoleh nomorku. Tanpa pencantuman namanya di belakang pesan itu pasti aku mengira pesan itu akal bulusmu untuk menggodaiku. Maafkan diriku untuk kedua kalinya, tapi aku sudah lupa bila kamu dan dia sama-sama memanggilku dengan sebutan: Dey. Ahhh, sungguh sebuah kebetulan.

Setelah mendapat pesannya jiwaku jadi begitu dahaga seperti rusa di padang Sahara. Tanpa ada pretensi untuk membuatmu cemburu atau sakit hati, tapi yah, harus kukatakan bahwa goncangan kehadirannya sampai membuat tanganku gemetar memegang alat komunikasi itu. Aku bahkan harus menghapus beberapa jawaban yang sudah kutulis di layarnya hanya untuk menjawab sapaannya.

Setelah berkali-kali kucoba, akhirnya yang kukirim hanya sebaris kalimat paling umum dan sederhana. “Hai juga. Apa khabarmu?”

Tentu saja dia juga membalas dengan jawaban yang paling biasa. “Kabar baik. Kamu sendiri bagaimana?”

Lalu tak terasa kami berbalas pesan. Semakin lama semakin panjang. Semakin lama semakin memancarkan rindu masa lalu yang kiranya masih tersimpan di bawah permukaan hati kami. Tak mengherankan bukan? Kami pernah punya cerita-cerita indah bersama tentang akhir minggu di sebuah pantai paling menawan di dunia, atau kisah padang savanna penuh bunga putih kuning, juga renungan paling kami sukai menjelang senja. Tak terasa air sudah menggenangi kelopak mata.

Aku menangis, dear. Tak jelas benar untuk apa bulir-bulir bening itu akhirnya mengalir di pipiku. Antara rindu dan pilu tak lagi bisa kubedakan. Ketika aku tergugu dan memakinya karena masih dapat menumpahkan airmataku, dibalasnya pesanku, “Kamu pikir aku tak sedang menyeka ingusku? Sialnya lagi aku lupa membawa saputangan.”

“Kamu pasti tampak lucu dengan airmata bercucuran.” Balasku di antara tawa dan tangis.

“Sekali-kali lelaki juga perlu menangis. Baik untuk kesehatan mata dan jiwa.”

Aku tertawa terbahak di antara isakan yang masih tersisa. Mungkin memang nasibku selalu bertemu dengan lelaki bandel sekaligus mempesona. Dalam beberapa hal kalian sungguh tak jauh beda.

“Sungguh menyenangkan bila seseorang melihatmu sedang berleleran ingus.” Jawabku.

“Pasti. Aku sedang menenggelamkan diri di perpustakaan dengan lengan jaket basah seperti diguyur air comberan.”

Aku melirik kaca ruangan kantorku yang dipenuhi mahasiswa berlalu-lalang. Kutundukkan kepala untuk mencabut tissue di depanku untuk membersihkan mata dan hidung yang pasti sudah memerah.

“Apakah kau memutuskan merindukanku setelah sekian lama?” Tanyaku antara iseng dan keinginan untuk mengipasi ego di dada.

Jawabannya semakin menyesakkan, “Aku selalu merindukanmu, Dey. Hanya dirimu saja yang tak tahu.” Pesan berikutnya muncul sedetik kemudian, “Aku melihat fotomu di jejaring sosial, membaca tulisan-tulisanmu di berbagai situs, aku tahu banyak tentang dirimu, tapi aku tak bisa lagi menyentuhmu.”

Aku tak mau mengakuinya, tidak segamblang lelaki itu, namun diriku pun tak jauh berbeda. Beberapa kali kudengar kisah tentangnya, walau berusaha membuat tawar rasa dalam dada, tusukan pilu masih mampu membuat hariku berubah kelabu.

Kulontarkan lelucon yang kutahu tak lucu, “Kita memang tak tinggal di tempat yang sama, jadi bagaimana mungkin kau bisa menyentuhku?”

“Menyentuh tubuhmu tak seberharga menyentuh jiwamu, Dey.” Balasnya.

Mataku kembali berkaca-kaca.

“Aku merindukan jiwamu yang indah, Dey. Bahkan dalam kesenyapan percakapan kita, aku dapat merasakan riak dan gelombangnya.”

Tak terasa aku mengingat kembali ribuan panggilan telepon yang pernah kami lakukan. Di antara sapaan tentang kabar atau cuaca dan ucapan selamat tinggal, tak jarang terjadi jeda panjang berisi desau angin atau helaan napas. Aku yang paling sering memecah sunyi itu dengan kata-kata konyol seperti, “Halo, siaran telah usai, tolong matikan radionya.” Atau, “Tuan masih di sana kah?”

Sebagai jawaban adalah gelak panjang diikuti rayuan yang aku tahu hanya gombal tak berharga.

“Duitmu banyak benar, ya sampai bisa dibuang-buang hanya untuk mendengar dengung dari negeri seberang.”

“Siapa bilang aku mendengar dengungan? Aku mendengar jiwamu bernyanyi, Dey.”

“Tapi jiwaku tak sedang bernyanyi. Jiwaku sedang kesal!”

“Ya, aku mendengar jiwamu bernyanyi dengan kesal.”

Oh kenangan itu. Bagaimana mungkin aku bisa mencegah hatiku tak terguncang karenanya?

Namun sejujurnya, kami tak sudi atau tak berani benar-benar mengoyak masa lalu. Saat terakhir kami bersama sungguh menyakitkan. Masih dapat kurasakan hambarnya rasa akibat pengkhianatan yang kutemukan tanpa sengaja.

Lelaki menarik selalu membuat banyak perempuan berpaling padanya, itu sungguh aku tahu, namun tak bisa kutolelir bila terjadi pada diriku. Ada saatnya aku begitu menginginkn perhatiannya hanya untukku, lalu saat hal itu tak bisa lagi kuperoleh jiwaku akan memberontak. Aku tak suka bertanya-tanya di mana hatinya berada bila tak sedang bersamaku. Aku tak ingin menghabiskan energiku untuk menenangkan rasa gelisah dan tak percaya pada kekasihku.

“Apa yang sudah berlalu biarkanlah berlalu.” Tulisku.

Jawabannya adalah sebuah panggilan telepon. Aku tak tahu harus mengangkatnya atau membiarkannya berakhir sebagai panggilan tak terjawab. Hatiku ditumbuhi kebimbangan antara ingin mendengar kembali suaranya dan ketakutan jika terpikat sekali lagi olehnya. Ternyata hasrat bertukar kata dengannya lebih besar sehingga kami tenggelam dalam pembicaraan panjang.

“Kamu pasti harus kembali kuliah, jadi kita putuskan saja percakapan ini.” Mataku menerawang ke arah jam dinding di kantor.

“Banyak kisah yang masih ingin kuceritakan padamu.” Tolakmu.

“Uang sakumu selama sebulan akan habis dalam sehari untuk membayar percakapan ini.”

Tawanya menggema. “Aku tak perduli. Aku masih menunggu sesuatu.”

Hatiku berdetak cepat. Sejujurnya aku teringat dirimu. Walau kita belum lama bersama, namun diriku tak mungkin mengenyahkanmu hanya karena fatamorgana.

“Tak ada lagi yang perlu kau tunggu.” Jawabku.

“Aku tak akan memutuskan percakapan ini sebelum kau membiarkanku mendengarnya.”

Untuk ketiga kalinya butiran air sudah mengancam di pelupuk mata.

“Aku tak bisa.”

Terdengar helaan napas sarat kepedihan.

“Apakah begitu besar kesalahanku sehingga untuk mendengar tawamu pun aku tak layak?”

Dan genangan yang berusaha kutahan itu kembali meluncur ke pipi. Aku tertawa sambil terisak-isak. Sungguh terdengar aneh bahkan untuk telingaku sendiri.

“Terima kasih, Dey.” Ujarnya dengan suara tercekat.

Sambungan terputus diikuti kesunyian yang panjang.

Sayangku, hingga kini perasaanku masih terombang-ambing seperti lautan yang dihajar badai, karenanya aku meminta waktu beberapa saat untuk menenteramkannya. Bukan berarti badai itu telah mengubah lautan, namun biarlah dia berlalu tanpa membuat kerusakan.

Lalu ketika mentari bersinar indah kembali, bolehkan aku meminta satu hal darimu?

Tolonglah, aku ingin kembali mendengar suaramu.

 

18 Comments to "Audrey (7): Masa Lalu yang Datang Kembali"

  1. Anastasia Yuliantari  4 July, 2012 at 22:38

    Pak ODB, siiippp, Pak. Setuuuuujjjjuuuuu.

  2. Orlando Daytona Beach  4 July, 2012 at 22:11

    A YU, Yesterday is a history
    Today is a reality
    Tomorrow is still a mysteri

  3. Anastasia Yuliantari  4 July, 2012 at 22:03

    Hennie, benar sekali tuh. Terkenang2 padamu judulnya….(nyanyian keroncong itu, ya….) hehehe.

  4. Anastasia Yuliantari  4 July, 2012 at 22:02

    Yeni, thank you sdh membacanya dan menyukainya.

  5. Anastasia Yuliantari  4 July, 2012 at 21:59

    JC….hihihi….diulang2 kayak test aja. Thank you, ya udah membacanya.

  6. HennieTriana Oberst  4 July, 2012 at 21:59

    Ayla, kisah kasih seperti ini ada dan serasa berat untuk melepasnya

  7. Anastasia Yuliantari  4 July, 2012 at 21:58

    Linda, iya tuh cinta yg harus berakhir karena keadaan tak memungkinkan….hehehehe.

  8. Anastasia Yuliantari  4 July, 2012 at 21:56

    Dewi, mosok sih? Asyyyiikkkk….utangku padamu kan dari masa lalu, aja dipikir maneh yoooo.

    Kapan2 aku pakai nama Dewi sebagai nama tokoh, ya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.