Kesaksian Kluprut: Catatan Retrospektif (1)

Kang Putu

 

Tulisan serial berupa Catatan Retrospektif (1989-1994) ini pernah diterbitkan menjadi buku: Kesaksian Kluprut (Yayasan Sastra Merdeka: 1996). kini, saya muat lagi selain sebagai bagian dari pengarsipan tulisan, juga bisa menjadi pengingat bagi diri sendiri untuk istikamah, konsisten: belajar terus menyesuaikan kata dan perbuatan.

Serial ini saya mulai dengan kata pengantar yang ditulis Darmanto Jatman.

Gunawan Gugat

Darmanto Jatman

 

Anak-anak zaman yang slebor

Gentayangan bagi ruh penasaran

Beramai-ramai menghadang masa depan

Di setiap perempatan jalan

(Yudhistira ANM Massardi)

 

SATU lagi pemuda menggugat zaman. Menggugat sistem yang telah memakmurkan segelintir orang dan menyengsarakan sisanya. Kluprut adalah deidentifikasi para satria pengembating praja, apalagi seperti Kresna atau Arjuna. Ia bahkan bisa menjadi kontraidentifikasi bagi para wiku, sarjana sujana, begawan, atau empu. Namun ia menulis. Ia menyurat. Karena memang dalam ilmu surat tak ada “daulat juara”. Kata Rendra, dalam ilmu surat semua jawara.

The words must be crazy,” gerutu Kluprut. Dan kita susah payah mencoba membaca wacana si Kluprut ini, yang penuh retorika pemberontakan terhadap kemapanan yang menindas orang. Barangkali memang diperlukan kuliah tentang bagaimana membaca naskah ini secara tekstual, apa kontekstual, apa intertekstual, apa malah metatekstual, untuk memperoleh makna grenengan ataupisuhan si Kluprut. Juga ironi, sinisme, bahkan sarkasme yang biasa keluar dari mulut mereka yang tertindas, termasuk tentu saja “plesetan” atau “siulan”-nya. Semua itu mengingatkan kita – nah, ini intertekstual, kata Bilung – pada wacana para mahasiswa semasa Perang Vietnam; sejenak seiring dengan kemerebakan beat generation, angry young man, dan tentu saja hippies, dengan seabrek pemikir di belakanganya, seperti  Herbert Marcuse dari Kelompok New Left atau Sekolah Frankfurt dengan Jurgen Habermas-nya. Ya, tentu saja, ini bisa disebut sebagai “bilung-bilungan” untuk Gunawan Budi Susanto, yang barangkali juga belum membaca banyak-banyak literatur tentang posmo – toh apa yang telah ia lakukan mewujudkan semangat menggugat dalam lakon wayang seperti Semar Mbangun Kayangan atau Petruk Dadi Ratu, kalau Anda tak suka  menyebut lakon Wisanggeni Gugatatau Antasena Takon Bapa.

Anda juga masih bisa memuaskan diri dengan analisis psikososial Anda. Gunawan datang dari kalangan “wong cilik”. Ia juga kuliah di Fakultas  Sastra Universitas Diponegoro, yang tahun-tahun ini sempat terkenal menjadi sarang demonstran. Sangat bisa dimengerti kalau ia stres tatkala berupaya menyesuaikan diri dengan berbagai keadaan di perguruan tinggi yang sudah kadung mapan dengan normalisasi kehidupan kampus/badan koordinasi kemahasiswaan (NKK/BKK) sejak zaman Daoed Joesoef menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan.

Kalau pada awalnya ia sering bertanya tentang “darma”-nya sebagai manusia Indonesia, sebagai mahasiswa, bahkan mempertanyakan sangkan paraning dumadi, maka sekarang tidak lagi. Pelan-pelan ia telah well-adapted terhadap situasi dan kondisi kita masa kini yang amat memprihatinkan, sehingga tak kurang Majelis Ulama Indonesia pun mencemaskan keberjangkitan korupsi dan kolusi di negeri ini. Kita juga bisa memuasakan diri dengan melihat Gunawan, sebagai bukti kebenaran ramalan Alvin Toffler bahwa dalam menghadapi guncangan masa depan, orang akan bingung, cemas, lantas apatis.Cuek. Juga bila ia digeber polisi bagai Rudi Jalak:

Anak-anak zaman yang slebor

Tak gentar terhadap pelor

Petugas menembak ke atas, mereka ngeloyor

Balik lagi mengibarkan kolor.

 

Kluprut benar-benar gluprut dengan kepedulian sosial. Ia terlibat dengan nasib wong cilik yang dicintainya. Dan bila ia kecewa terhadap partai-partai (dan Golongan Karya), kemudian bertanya-tanya, “Golputkah Saya?”, sesungguhnya ia telah mewakili banyak anak nuda lain yang skeptis namun berusaha optimistis memandang masa depan bangsanya. (“Sayang sekali,” ujar Semar.)

Itulah yang tersirat pula ketika ia menulis “Nuclear is the Best”, yang   dari mengingatkan kita pada konflik antara mereka yang propembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dan mereka yang anti. “Link and match” kependidikan kita, agar cocok dengan sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk masyarakat masa depan – yakni masyarakat berteknologi tinggi ala Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) atau Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) – sudah pasti memilih teknologi nuklir supaya kita tidak kehilangan keunggulan kompetitif dari bangsa-bangsa lain. Namun risiko yang mesti dihadapi masyarakat sekeliling Gunung Muria benar-benar telah menggundahkan hati Gunawan…. Ke mana gerangan teknologi tepat guna yang dahulu kita muliakan itu?

Bagaimanapun, Gunawan secara plastis dan mudah dihayati bersama, mengajak kita untuk terlibat (bukan kognitif saja, melainkan juga afektif  behavioral) dalam berbagai isu yang melanda negeri kita. Namun, justru karena itulah, dengan memperhatikan peringatan dari Smelser and Smelser bahwa tindak kekerasan – termasuk kekerasan yang diprovokasi oleh demonstrasi – tak akan pernah terjadi bila tak ada situasi yang menekan, tak ada isu yang menggelisahkan, tak ada aktivis yang menggerakkan, tak ada picu yang boleh dijadikan alasan, apalagi bila pengawasan tetap ketat.

Karena itulah tak perlu khawatir bahwa Kesaksian Kluprut ini akan mampu menjadi penyebab revolusi sosial. Tetap tenanglah, Pak Polisi, everything is okey kok. Apalagi pada bulan Juni 1995 ada janji dari Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Soesilo Soedarman bahwa penyelenggaraan seminar di kampus tak perlu izin-izin dari polisi, cukup dari memberi tahu saja. Artinya, rektor bakal dikukuhkan bolehnya jadi “penguasa tunggal” dan otonomi kampus pun bakal ditegakkan. Seneng bangetGunawan!

Mari kita simak kesaksian si Kluprut ini. Percayalah, ia bakal memperkaya pengalaman kita. Percayalah! ()

Juli 1995

 

6 Comments to "Kesaksian Kluprut: Catatan Retrospektif (1)"

  1. J C  3 July, 2012 at 21:23

    Beberapa lembar hitam dalam sejarah negeri ini memang tidak gampang terhapus dari benak yang mengalaminya…

  2. Linda Cheang  3 July, 2012 at 19:57

    iya, begitulah.

  3. Dewi Aichi  3 July, 2012 at 19:50

    Kang Putu ..luar biasa ulasan dalam setiap tulisan ini….mengena luar dalam…….

  4. AH  3 July, 2012 at 12:26

    percaya deh

  5. [email protected]  3 July, 2012 at 10:14

    kata terakhir mirip2 acara bang napi dulu
    WASPADALAH…WASPADALAH….

  6. Lani  3 July, 2012 at 09:35

    satoe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.