Sakitkah Pelayanan Rumah Sakit di Indonesia?

Ary Hana

 

Bertahun lalu, saat menjadi jurnalis mbeling di sebuah koran di Surabaya, saya pernah didudukkan di desk kesehatan. Sekitar dua tahun. Kerja saya blusukan dari bagian unit gawat darurat yang paling depan hingga ke kamar mayat. Saya sempat akrab dan mewawancarai banyak dokter berkaitan dengan topik tertentu.

Salah seorang dokter yang cukup dekat adalah dr med Paul Tahalele. Beliau waktu itu menjabat sebagai kepala bagian bedah jantung RSUD Dr Soetomo. Dr Paul kerap memberi saya kasus, misalnya keberhasilan operasi jantung pada seorang bayi atau manula, lengkap dengan keterangan medisnya. Tak jarang sepulang dari kantornya saya disangoni beberapa majalah jurnal kedokteran JAMA.

Kedekatan ini kerap membuat orang lain iri. Sering rekan sesama jurnalis bertanya, ‘Kamu dapat berapa dari dokter Paul?’ Saya hanya tertawa. Sambil bercanda saya jawab, ‘Dapat ilmu.’ Dokter Paul sendiri sering menegur saya, ‘Kalau kamu butuh uang, ngomong saja sama saya.’ Haha.. saya terlalu culun, tak menganggapnya serius. Lagipula, dari gaji saja saya bisa membantu ibu menyekolahkan kedua adik, membayar bea listrik, air, dan telpon di rumah.

Yang paling saya ingat tentang dokter Paul adalah ramalannya akan globalisasi yang melanda dunia pelayanan medis di Indonesia. ‘Nanti akan banyak rumah sakit asing di Indonesia. Karena itu dokter Indonesia harus meningkatkan kemampuannya, misalnya kemampuan berbahasa Inggris dengan meningkatkan nilai TOEFL hingga di atas 550.’ Itu salah satu yang saya ingat medio 1990-an.

Ramalan Paul tidak salah. Beberapa waktu kemudian banyak rumah sakit asing dibangun di Indonesia, sebut saja Gleane Eagles. Rumah sakit asing boleh pindah ke Indonesia. Mereka mempekerjakan dokter, perawat, hingga petugas kebersihan lokal. Mereka lalu menggunakan standar tinggi dalam penanganan dan pelayanan medis, serta menarik ongkos berobat yang tinggi, sehingga hanya bisa dijangkau kelas atas. Sementara rumah sakit lokal berjalan dengan segala kepincangan pelayanannya.

Alhasil, banyak pasien menengah ke atas Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri. Dulu mungkin Singapura jadi tujuan utama, kini justru negeri jiran yang pada mulanya dokter-dokternya belajar ke Indonesia. Selain pelayanannya lebih baik, juga beanya lebih murah dari rumah sakit di tanah air. Sungguh ironis!

00000

Saya akan menoleh ke belakang. Ketika tinggal, bekerja, sekaligus belajar di Penang, saya mirip terkena musibah. Menderita kanker dan dioperasi di tiga rumah sakit yang berbeda. Pertama di rumah sakit kerajaan (pemerintah) Bukit Mertajam, lalu Lam Wah Ee Hospital, dan terakhir Penang Adventist Hospital. Pengalaman ini bisa dibaca di blog saya (http://othervisions.wordpress.com/2011/07/12/nikmatnya-berobat-ke-penang/) karena akan sangat panjang jika saya ceritakan di sini.

Postingan yang saya niatkan berbagi ini mendapat sambutan lumayan. Setidaknya setiap hari sekitar 100 pembaca mampir ke situ, pertanyaan pun membludak via email. Banyak hal yang ditanyakan, mulai tatacara berobat ke luar negeri, dokter yang bagus, soal bea operasi, penginapan dan sebagainya.

Ujung Juni kemarin ada lebih 2500 pembaca mengunjungi postingan tersebut. Saya tak hanya menerima pertanyaan seputar berobat, tapi juga kecaman dan masukan. Komentar dan email yang kotor saya hapus, yang melecehkan tak saya indahkan. Tujuan saya semata berbagi hal yang baik, bukan mencari musuh apalagi mengajak perang.

Naiknya jumlah pengunjung saya telusur. Rupanya berkali postingan saya disebut seseorang berinisial @triomacan2000 di twitter terkait topik buruknya pelayanan kesehatan di Indonesia. Saya tak tahu harus senang atau sedih. Sudah biasa kalau kebenaran berdasar pengalaman yang kita ungkapkan membuat banyak orang tak suka. Manusiawi!

Tak urung tingginya email yang masuk membuat saya bertanya-tanya ada apa dengan pelayanan rumah sakit di Indonesia? Apakah penanya yang berniat berobat ke negeri jiran itu memang benar orang kaya?

Akan saya tampilkan sebagian kecil email tersebut dengan nama penanya yang saya sarukan.

 

Dear Ary hana,
Kami mau berobat ke Penang untuk istri saya : “Penyempitan katup jantung”

bisa kami di beri saran :
– RS mana sebaiknya kami berobat, perlukan kami kontak sebelumnya dan minta no kontak kalo ada
– Dimana sebaiknya menginap
– Dimana tempat/sebaiknya menukar uang

Terima kasih sebelumnya

salam,
-HS

 

Ketika saya sarankan untuk berobat ke rumah sakit jantung terbaik di Jakarta (dengan menjawab pertanyaan lainnya tentunya), saudara HS menjawab:

bu Hana,
Terima kasih sudah bantu informasi. Setahun ini kami memang terapi di Harapan kita. Dan menurut dokter harus diambil tindakan balon. Kondisi terakhir sudah siap di balon. Tapi kami sudah berketetapan second opinion ke Penang, manatahu ada alternatif pengobatan tanpa tindakan, tpi bila harus tindakan, kondisi terakhir sudah siap. Kami sudah ambil tiket bu. Senin tgl. 11 Juni 2012 kami ke Penang. Tks untuk saran petunjuk ibu.

Salam.

 

Lalu ada email dari seorang gadis muda, HN, yang mesti menanggung keluarganya sebagai berikut:

Hallo mbaa, ˆˆ

Sy baru baca tulisan mba mengenai biaya berobat di RS dan Penang, pas baca pas banget ketika sy sedang kebingungan..  karna sy, ayah sy, dan adik sy sakit berbarengan..

Sediiiiihhh sekali baca tulisan mba, hehe

Sy karyawan swasta 23 tahun, dan satu satunya tulang punggung keluarga..
Dengan gaji sy yang hanya cukup u/ biaya hidup kami ber 5, sy paling sedih kalau sy atau keluarga sy sakit.. ☺ sy ngga bisa bawa ke dokter..
Sekali ke dokter, hampir setengah gaji sy habis u/ berobat.. ☺ berobat disini kan bisa sampe jutaan..

Sy, ayah sy, dan adik sy yg paling kecil sepertinya mempunyai masalah yg sama, penyakit dalam..
Maagh kami sudah akuuut sekali, sy sudah sampai harus endoskopi waktu itu, tp karna mahal, sy tunda tunda terus sampe skg semakin parah.. Sy baca artikel, katanya sakit maag sampe belasan tahun bs sembuh setelah berobat di Adventist Hospital..

Mba, biaya berobat yg mba sebutkan di penang itu, tahun berapa ya?
Sy kok langsung semangat baca tulisan mba,
Pengen nabung buat bawa adik n ayah sy ke penang, berobat.. Hehehe

Total biaya pengobatan, tiket, dan tempat tinggal selama disana kira2 brp ya mba skg? Sy belom pernah ke penang sih, jd ngga faham..

Mohon dibalas ya mba..
Thankss

 

Kebetulan ketika di flat, saya memiliki kawan yang menderita maag bertahun-tahun. Suatu ketika dia diminta kerabatnya datang ke sebuah klinik di Kuala Lumpur untuk menjalani pengobatan. Menurut Dayani, kawan tersebut, dia dimasuki semacam alat melalui mulut, lalu disedot cairan lambungnya. Saya pikir itu semacam endoskopi. Ongkosnya sekitar 600-700 ringgit, dirawat sehari, dan esoknya pulang ke Penang untuk bekerja seperti biasa. Maag Dayani tak pernah kambuh lagi.

Ada lagi penanya yang mencari dokter gigi ke Penang, padahal dokter gigi di Indonesia, khususnya kota besar di Jawa kan banyak.

 

Dear mba Ary, saya baca tulisan mba menngenai rs di penang. Ibu saya gusi nya bengkak sudah lbh dari seminggu dan sudah ke dr. Gigi tp gak reda bengkaknya dan cuma di ks antibiotik terus. Gak tega liat dia nahan nyeri dan abses terus. Saya takut berbahaya apalagi untuk usia lanjut, apakah di rs adventist bisa berobat gigi ? Dan apakah byk orang yg berobat gigi ke penang? Sebelum nya trimakasih byk info dan waktu nya ya mba.
– Thya –

 

Mulanya saya pikir masalah bengkak biasa yang bisa disembuhkan dengan minum antibiotik. Jadi saya sarankan dia ke dokter lain saja (walau saya jawab juga pertanyaannya yang lain). Dibalas oleh F:

 

Makasi mba info nya, pengalaman ke drg tuch macem2 ya. 

Pernah ke dokter gigi yg pertama, ibu saya belum ada keluhan bengkak, tp tiap nambal gigi, belum sebulan udah copot, balik lg, di tambal lg, copot lg.

Dokter gigi yg ke dua, dateng pas sudah dlm keadaan bengkak. Dikasih antibiotik minum 5 hr dan antibiotik suntik 3 hr. Setelah itu balik lg kontrol, ms bengkak, di ks antibiotik minum lg untuk 3 hari, balik kontrol lg, dokter merasa ada yg aneh krn blum kempes dan di suruh cek gula ke internist, dan drg ngasih antibiotik lg buat beberapa hari. Saya ke internist dan gula ibu saya normal 153, jd gak ada masalah, tp internist bilang antibiotik suntik dan minum yg dr drg itu sebenernya gak mempan buat ibu saya. Akhirnya kita di ks antibiotik lain dan obat nyeri untuk 5 hari. Antibiotik dari drg di suruh stop dulu. Tp ibu saya kesakitan terus dan tersiksa krn gak bisa gigit makanan yg non lunak. Saya udah gak berani nunggu lama2 lg dan nyari2 dokter gigi  lg krn sy seperti berpacu dg waktu takut abses itu jg penyakit lain. Makasi byk ya mba info nya, mudah2an ikhtiar saya ke penang di ridhoi. 

Lalu ada email lain yang berkesah tentang pengobatan di Indonesia,

Selamat Siang Ibu…

Sblmnya sy mengucapkan terima kasih atas informasinya mengenai RS di Penang yg memberikan wawasan baru ttg RS yg layak.
Karena sy sebenarnya juga kapok berobat ke RS di Indonesia.biayanya sungguh mahal.
Memang klo dihitung2 utk biaya RS jauh lbh murah di Penang..tp utk biaya transportasi kesana mahal ga ya?
Soalnya saya mau program kehamilan.tp takut mau ke dokter di Palembang..takut biayanya “dikerjain” ama dokternya..

Mohon informasinya bu..
Terima kasih sebelumnya,
E

 

Masih banyak email semacam di atas, hingga saya simpulkan ada dua alasan utama mengapa orang Indonesia berobat ke luar negeri, khususnya ke negeri jiran. Pertama, mereka sudah putus asa dengan pelayanan kesehatan di Indonesia, sudah terkuras uangnya untuk berobat, tapi tak kunjung sembuh. Akhirnya mereka merasa perlu mencari second opinion.

Kedua, mereka yang takut setelah melihat orang lain (teman, kerabat) yang habis-habisan duitnya saat berobat di dalam negeri, tapi tak kunjung membaik. Mereka lalu mencari alternatif untuk berobat ke luar negeri. Apalagi setelah mereka mendengar dari tetangga, kawan, kenalan, tentang betapa menyenangkan dan lebih murah ongkosnya berobat ke luar negeri.

Animo berobat ke luar negeri diperbesar dengan murahnya tarif promo maskapai penerbangan Air Asia dari berbagai kota di Indonesia (Surabaya, Solo, Bandung, Jakarta, Medan) ke kota-kota di Malaysia (Kuala Lumpur, Penang). Saya malah curiga kalau promo rute baru kota-kota di Indonesia ini karena jelinya manajer pemasaran AA melihat peluang bisnis di Indonesia, khususnya para pasien Indonesia yang hendak berobat ke  Malaysia. Pelayanan kesehatan yang bagus amat disadari oleh para pelaku kesehatan di Malaysia dapat menarik banyak turis negara tetangga seperti Indonesia. Jadilah pelayanan kesehatan yang diselenggarakan rumah sakit swasta mereka sebagai tujuan wisata kesehatan.

00000

Ada tudingan dari beberapa kolega di Indonesia bahwa dokter di Malaysia itu kualitasnya lebih rendah dari di Indonesia. Buktinya, banyak orang Malaysia yang belajar kedokteran di UGM atau Unpad misalnya.

Saya pernah melakukan penelitian kecil-kecilan tentang cita-cita anak Malaysia paska lulus setingkat SMU. Fakultas kedokteran jadi tujuan utama. Namun yang bisa melanjutkan belajar di Fakultas Kedokteran Universitas Kerajaan adalah mereka yang sangat pintar. Nilai A-nya 13, 14, atau 15 misalnya. Dan, umumnya mayoritas porsi kuliah di universitas milik kerajaan (semacam universitas negeri di Indonesia) diperuntukkan bagi ras Melayu.

Ketika dirawat di LWEH dan PAH, saya mendapat semacam berkas berisi nama-nama dokter beserta keahliannya. Saya lihat 90 persen lebih adalah dokter peranakan Cina atau Cina campur Eropa, dan mereka menuntaskan sekolah kedokteran beserta spesialisasinya di Eropa (bisa UK, Irlandia) atau di AS (umumnya dokter bedah), Tak saya temui lulusan Indonesia di sini.

Jadi, bisa saya simpulkan dokter-dokter ini dulunya adalah lulusan sekolah menengah yang tak mungkin masuk universitas kerajaan karena terbatasnya kuota atau yang segera melanjutkan kuliah di Eropa. Sementara ras Melayu yang gagal kuliah di universitas kerajaan akan lari ke Indonesia jika ingin menjadi dokter.

Di Malaysia ada sistem pinjaman dalam pendidikan tinggi. Artinya, seseorang bisa melanjutkan ke perguruan tinggi manapun dengan mengajukan pinjaman dana kepada  pemerintah. Setelah lulus dan bekerja, mereka mengangsur pinjaman pendidikan ini.

Saya tak mengatakan kualitas dokter di Indonesia lebih rendah dari Malaysia, karena banyak rekan dokter saya melanjutkan keahliannya di Jepang, Taiwan, Australia. Saya hanya ingin menegaskan, keahlian saja tak membuat pasien Indonesia mau berobat ke Indonesia jika tak diikuti pelayanan yang bagus dan manusiawi.

Ketika dirawat di LWEH misalnya, saya rasakan betapa ramahnya para perawat (umumnya masih murid sekolah perawat). Begitu juga saat di PAH, yang memandikan saya paska dioperasi adalah mereka. Luar biasa sabar dan ramah, memperlakukan pasien betul seperti kepada kerabat yang disayanginya. Di Indonesia? Ada yang begini, banyak yang tidak.

Itu baru perawat. Tukang bersih-bersih dan mengantar makanan pun sangat ramah. Ketika melihat saya kepayahan antri untuk mengambil obat di apotik rumah sakit misalnya, seorang tukang sapu langsung lari mengambil kursi roda. Padahal itu bukan tugas dia. Hal-hal kecil begini kerap diabaikan kalau tak bisa dibilang dicuekin di Indonesia.

Itu baru soal pelayanan, belum ongkos berobat yang jatuhnya lebih murah. Kenapa bisa lebih murah? Seorang dokter yang memberi komentar di postingan saya menjelaskan bahwa rumah sakit swasta di Malaysia bisa murah karena mendapat jatah dana kelolaan asuransi. Pertanyaan saya, apa upaya dokter-dokter di Indonesia agar mendapat jatah dana kelolaan asuransi seperti di Malaysia? Kalau Malaysia boleh, pastinya Indonesia bisa.

Sebagai mantan pasien, saya merasakan murahnya bea pengobatan terkait dengan beberapa hal. Pertama, dokter di Malaysia tak akan memberi obat yang dianggapnya tak perlu. Saya ingat paska operasi terakhir saya merintih kesakitan di malam kedua. Namun suster tak memberi saya suntikan penahan nyeri. Dia hanya memberi obat biasa. “Tak boleh Cik, tak boleh dokter,” katanya. Suntikan penahan nyeri hanya diberikannya saat keadaan darurat, katanya.

Begitu pula dengan antibiotik. Alih-alih memberi saya antibiotik paska operasi, saya justru dipaksa mandi. Bukannya dibasuh dengan handuk basah. Alasannya, mandi akan mengurangi demam dan infeksi. Tentu mandi dengan bagian perut yang ditempel plastik perekat. Kalau di Indonesia, boro-boro mandiin pasien, kalau ada apa-apa justru keluarga pasien yang harus melayani.

Ingatan saya melayang ke masa lalu kalau berbicara pasal obat. Dulu, kerap saya jumpai para detailer obat dari perusahaan farmasi tertentu mendatangi ruangan dokter di rumah sakit di Surabaya. Mereka menunggu setelah jam makan siang. Ada juga yang berburu dokter di tempat praktek. Umumnya dokter yang dikejar adalah yang sudah punya nama. Seorang detailer pernah berkisah dia harus membayar seorang dokter mulai Rp 40 juta hingga sebuah mobil agar dokter tersebut mau merekomendasikan obat tersebut kepada pasien-pasiennya. Ini berarti bahwa pasien yang datang akan diresepkan obat tersebut. Pantaslah harga obat di Indonesia selangit. Mahal di pemasaran karena mafia obat tadi.

Di rumah sakit Malaysia, tak saya jumpai agen obat berkeliaran. Suasana di dalam rumah sakit benar-benar untuk melayani orang sakit. Andai dokter tak bisa ditemui di ruang konsultasi, bisa dipastikan dia sedang mengunjungi pasiennya yang baru selesai operasi atau malah sedang di ruang operasi. Entah kalau di luar itu.

Kedua, masa rawat inap yang pendek. Untuk operasi berat seperti yang saya alami (dengan 61 jahitan di perut) hanya 3 malam saya tinggal di rumah sakit. Buat pasien yang mengalami operasi ringan, cukup semalam menginap, keesokan harinya bisa pulang.

00000

Ketika dirawat di LWEH maupun PAH, saya melihat sekitar 90 persen pasiennya berasal dari Indonesia. Jadi tak rugi jika AA kerap melakukan promo penerbangan. Hanya sedikit orang Malaysia, khususnya Melayu, yang berobat di rumas sakit swasta. Mengapa?

Selain ongkosnya mereka anggap mahal, pemerintah Malaysia sendiri menjamin pelayanan kesehatan warganya di rumah sakit pemerintah. Orang Malaysia yang sakit hanya dikenakan bea membayar karcis sebesar 1 ringgit untuk setiap kali berobat. Bahkan yang harus operasi pun, hanya bayar 1 ringgit atau Rp 3000. Kalau orang asing yang berobat ke rumah sakit kerajaan, kena tarif 60x lipat. Jadi mau periksa ke dokter bayar 60 rm. Kalau operasi? Tetap dihitung 60x dari bea normal. Biasanya tarif sedikit lebih murah dibanding RS swasta. Namun  pelayanannya mirip pelayanan rumah sakit pemerintah di Indonesia. Kadang malah mengalami sedikit pelecehan, karena dianggap ras Indon alias TKI. Berbeda sekali perlakuan yang diterima jika berobat di RS swasta.

Kondisi di atas membuat saya berpikir bisa jadi rumah sakit swasta di negeri jiran ini didirikan khusus untuk melayani orang asing, khususnya Indonesia, yang mencari pelayanan kesehatan yang bagus dan murah. Jadi bukan rumah sakitnya yang hijrah ke Indonesia, tapi pasien Indonesia yang hijrah ke Malaysia.

Kalau hal ini tak segera disadari oleh pelaku kesehatan di Indonesia, dan mereka tak segera berbenah, bisa kabur banyak pasien Indndonesia ke luar negeri. Sekarang saja ada lebih 500 orang Surabaya setiap pekan yang menuju Malaysia mencari pengobatan. Ini perhitungan kasar berdasar pesawat AA dari Surabaya yang menuju Penang dan dipenuhi pencari kesembuhan. Belum dari kota-kota lain.

Saya melihat, alih-alih memperbaiki kinerja dan pelayanan kesehatannya, pelaku kesehatan justru arogan menuduh negeri tetangga itu dengan tudingan buruk, lalu pasien-pasien mirip saya dicap tidak nasionalis. Saya rasa ini bukan soal nasionalisme, tapi masalah hidup dan mati seseorang.

Seorang kawan secara bergurau mengatakan bahwa tingginya bea kesehatan di Indonesia ada kaitannya dengan mahalnya bea kuliah di fakultas kedokteran. Saya ingat di awal tahun 90-an, sumbangan wajib mahasiswa kedokteran di Unair sekitar Rp 1-2 juta. Kebetulan beberapa kawan kuliah di sana. Sekarang? Hehe.. ada kawan lain yang anaknya masuk kedokteran UGM dan mesti menyumbang Rp 500 juta. Itu baru UGM, bagaimana dengan universitas kedokteran swasta? Tapi ada juga yang kena sumbangan beberapa juta saja karena anak tersebut sangat pintar dan dari keluarga yang tidak mampu. Sayangnya yang sangat pintar atau cerdas ini hanya segelintir.

Kalau sekolah kedokteran saja sudah sangat mahal, tak heran kalau para lulusannya pun  menjadi dokter bertarif mahal. Orang sakit akhirnya tak lagi dianggap sebagai manusia yang butuh pertolongan, tapi ladang uang. Apalagi proyek mirip PTT tak lagi wajib ditunaikan. Padahal PTT akan membuat seorang dokter baru lebih dekat dengan masyarakat yang benar-benar membutuhkan bantuan kesehatan. Program mirip PTT akan membentuk nilai kemanusiaan yang mendalam.

Ah saya jadi teringat perjalanan ke Kepulauan Banda beberapa waktu lalu. Di wilayah dengan 7 pulau berpenghuni sekitar 15.000 jiwa itu hanya dilayani seorang dokter. Itupun dokter puskesmas yang ditempatkan di Pulau Naira. Jadi, kalau orang sakit ya mesti mengantri panjang. Pernah ada kejadian seorang ibu mengalami kesulitan persalinan. Terpaksa suaminya menyewa speedboat menuju Ambon. Ongkosnya Rp 7 juta dan ditempuh selama 7 jam. Apadaya, demi  nyawa anak dan istrinya. Andai ada rumah sakit kecil di sana atau cukup dokter yang melayani penduduk, hal ini tak perlu terjadi.

 

67 Comments to "Sakitkah Pelayanan Rumah Sakit di Indonesia?"

  1. mima  5 November, 2012 at 14:43

    hai mbak…

    akhirnya ketemu juga sama blog seperti ini. Ini benar2 sangat membantu. Langsung saja ya mbak.

    Saya adalah penderita emboly paru sudah 1 tahun lebih. Saya terkena setelah saya menjalani persalinan via operasi caesar. Beberapa hari setelah operasi, saya tidak bisa aktifitas. Makan, mandi, berjalan kaki ter engah-engah. Sampai akhirnya saya dilarikan ke RS, dan didiagnosa terkena emboli paru.

    Dalam kurun satu tahun ini, saya sudah 3 kali masuk RS. Pertama RS Swasta di Jakarta, ditangani oleh dokter spesialis jantung, yang kedua di RS yang sama, dan si dokter pun menyerah.

    Akhirnya saya dirujuk ke RS Pusat Jantung di Jakarta, dilarikan ke ICU dikarenakan kadar oksigen dalam darah dibawah normal dan sesak nafas hebat. Kurang lebih 1 bulan akhirnya saya diperbolehkan pulang dengan biaya habis puluhan juta, walau tanpa tindakan apapun. Di RS Tersebut saya ditangani oleh prof yang sangat hebat katanya. Setelah pulang saya d wajibkan kontrol 1 bulan sekali.

    Yang sangat berat adalah, harga obat yang diberikan, setiap bulan saya harus menebus di angka 2.7 juta plus konsul jadi 3 juta per bulan. Itu dengan dosis paling minimal.

    Yang membuat saya sangat kecewa adalah, tyap kali saya datang untuk kontrol, saya tidak pernah bertemu dengan dokter yang menangani saya, selalu saya hanya dipertemukan oleh asisten dokter nya saja. Dan tyap bulan asisten dokter nya itu selalu berbeda. Saya sangat ingin direview oleh mereka mengenai progress saya. Namun ini tidak sama sekali. Tiap bulan saya datang kesana, hanya ditanya, ada keluhan apa?? kemudian keluhan saya dicatat di lembaran riwayat kesehatan saya. Kemudia dia tanya “kamu sakit apa sih” sambil membuka-buka kronologis riwayat saya. kemudian dia membuka resep bulan lalu, di copy dan d serahkan kesaya untuk ditebus. Begitu saja tiap bulan nya. tidak ada di suruh cek ulang untuk review atau bagaimana. Obatnya kan sangat2 tidak murah.

    Pernah saya tanya ke dokter nya “Apakah saya bisa sembuh? pengobatan ini sampai kapan? karena jujur saya tidak sanggup jika terus2an mengeluarkan uang sebanyak ini setiap bulan. Saya hanya karyawan swasta, tulang punggung keluarga” si dokter tidak bisa menjawab.. dia hanya bilang “Yaaa pokoknya obatnya jangan sampai putus. Bisa fatal”

    Kata2 yang keluar dari mulut dia membuat mental saya drop. Dengan kata lain hidup saya bergantung dengan obat itu? kalo ga minum lalu saya mati? apa begitu?

    Makin kesini rasanya badan saya tambah kebal sama obat, efeknya kemana-mana. Skrg kondisi saya masih tdk bs aktifitas banyak walau sudah di doping obat. Sepertinya harus nambah dosis obatnya. Tapi harus keluar biaya berapa lagi?

    Saya sudah googling untuk mencari teman sependeritaan alias yang punya riwayat penyakit emboly paru, namun tidak ketemu.

    Akhirnya saya ingin cari second opinion untuk berobat ke luar negeri. Karena saya pingin tau apa opini dokter di luar mengenai penyakit saya yang katanya langka.

    Mudah2an dengan saya posting disini ada yang bisa memberikan referensi jika masih ada RS yang bersahabat. Jadi saya tidak harus jauh2 ke negeri seberang.

    Mohon info jika berkenan untuk range biaya… hotel.. dan transportasi…

    Bisa japri ke [email protected]

    Terima kasih

  2. anoew  6 July, 2012 at 20:35

    Ary n Lani, kalau cuma panu sih ra masalah. Lhaaaa selain panu, kadas, kurap, jebulnya kulitku juga nglungsungi tiap malam jumat kiy piye?

  3. Lani  6 July, 2012 at 07:07

    61 KANG ANUU : hahaha…..digosok/digiles pake laos……ancen mandhi tenan……asal kudu nahan pedessssssss

  4. AH  6 July, 2012 at 06:52

    mas anoew : kalo cuma panu ya.. cukup digosok-gosok pakai laos, mesti ilang panune

  5. AH  6 July, 2012 at 06:51

    Linda : kapan-kapan tulislah, biar kita semua juga tahu ada rs yang peduli di indonesia.
    linda : kalau ada waktu tulislah, biar banyak orang yang tahu rumah sakit mana saja yang bagus di indonesia

    pak han : sekali lagi masalah lebih kepada moral ya? hehe..

    matahari, ugie : terimakasih sudah membaca

  6. anoew  5 July, 2012 at 19:46

    alih-alih memperbaiki kinerja dan pelayanan kesehatannya, pelaku kesehatan justru arogan menuduh negeri tetangga itu dengan tudingan buruk, lalu pasien-pasien mirip saya dicap tidak nasionalis.

    Nah inilah kelebihan kita..! Bukannya belajar memperbaiki diri tapi ribut kemana-mana. Buruk alu wajan dibelah.

    Beruntung saya belum pernah sakit parah.. Jadi kalau cuma panu tak perlu ke negri jiran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.