Bukan Cinta yang Kudamba (8)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Sudah tiga hari sejak kejadian di taman, Miguel tidak masuk kerja. Menurut Pak Manager, ia izin karena sakit. Dari 4 orang juru masak kini hanya 3 orang yang ada, sebenarnya mereka pun ahli, namun entah kenapa aku merindukan masakan Miguel. Kini jatah makan siangku benar-benar apa adanya, tak ada lagi lauk ‘tersembunyi’ dari Miguel. Tak ada kejutan yang sederhana namun selalu membuatku merasa tersanjung.

Nomer-nya tidak aktif, aku sapa melalui situs jejaring juga tak ada jawaban. Kemana dirinya? Aku sangat merindukannya, baru kusadari dia adalah seorang yang sangat istimewa, sungguh hidupku kian sepi. Aku nekad ke mess dimana dia tinggal, sepi, kamarnya tertutup dan tak ada tanda kehidupan di dalamnya.

*****

“Nit, kenapa kamu begitu bodoh? Kenapa kamu persulit hidupmu? “, Ujar Mbak Susi malam itu. Kami duduk di halaman mess sambil menikmati secangkir kopi. “Mbak udah tahu kok kamu ada masalah sama Miguel. Dia sempat nelpon Mbak minta agar Mbak jaga kamu, dari situ Mbak tahu ada masalah di antara kalian”.

Aku diam mematung, kepalaku pusing sekali, ada saja masalah yang hinggap belakangan ini. Ku tarik nafas sejenak, lalu aku berbicara pelan, “Aku bingung Mbak, Miguel ternyata suka sama aku. Sumpah aku ndak nyangka jadi gini”.

Mbak Susi menatapku tajam, dan aku belagak sibuk meniupi kopi yang sebenarnya tidak lagi panas. “Trus jangan bilang kamu ndak suka sama dia, lha wong dari awal aku udah tau kok kalau kamu itu selalu riang tiap di dekat Miguel”.

“Mbak beneran aku ndak tau perasaanku ke dia kaya gimana, tapi aku ndak bilang aku ndak bahagia. Lagi pula aku kan pacar Mas Widi”, Aku berbicara dengan galau, aku benar-benar tidak tahu apa yang kurasakan sebenarnya.

Mbak Susi mengerutkan dahi-nya, ku dengar dia sedikit mendengus, “Nit, sorry yaa kalo kata-kata aku rodo kasar, aku sebenernya udah muak saat denger kamu bilang ke aku juga siapappun kalo yang namanya Widyanto itu pacarmu ! Sorry nih, kelakuan dia ke kamu udah kaya bukan pacaran, kamu itu ndak lebih seperti bawahan dia. Lha Manager kita aja ndak tiap saat kok marah-marah ke kita. Widi itu yaa ndak ada sekuku itemnya Miguel tauk ! Ehh masih aja Widi dibanggain !!”

Aku syok juga mendengar ucapan Mbak Susi, baru kali ini ia bicara sangat ketus dan sinis. Aku sungguh salah tingkah, semua sahabatku mulai tidak suka pada Mas Widi, bahkan mereka juga berani mengatakan bahwa aku bodoh seperti perempuan tidak laku saja, seperti tak ada harga diri. Aku tidak merasa ada yang salah saat aku berusaha menetapkan hati hanya pada satu cinta namun kenapa cinta yang ku pilih menjadi kian rumit? Aku hanya berusaha untuk berada dalam cinta, di saat suka dan duka.

Aku berusaha mengalihkan pembicaraan, aku tidak ingin terpojok. “Mbak, Miguel kemana yaa? Aku takut dia pergi jauh dan ndak kembali, aku merindukannya Mbak …. Aku ingin dia ada lagi seperti dulu”, aku bicara perlahan, rasanya ingin menangis, tapi aku tahan sebisaku.

Mbak Susi menghirup kopi, memotong cheese cake di piringnya, lalu menatapku tajam sambil berbicara serius. “Yang aku dengar Mig ingin pindah ke cabang resto yang ada di Malaka. Itu baru gossip”, Mbak Susi diam sejenak, “Kamu rindu cintanya atau hanya sekedar kebaikannya, toh pada akhirnya kamu lagi-lagi tertuju pada si Widi itu, bukannya itu mempermainkan perasaan orang? “.

Aku diam, dalam hati aku mengakui, sudah ada benih cinta untuk Miguel. Aku tidak tahu pasti apa yang kurasakan, namun aku bahagia saat bersamanya, aku suka aroma tubuhnya yang seperti roti, aku suka lesung pipitnya yang akan muncul saat dia tersenyum dan untuk itu aku ingin dia selalu tersenyum untukku, aku suka caranya saat memberiku kejutan. Apapun itu semua tentang dirinya. Apa iya aku jatuh cinta lagi? Apa benar cintaku untuk Mas Widi sudah habis? Lantas andai cintaku pada Mas Widi telah habis, mengapa aku selalu saja tak lupa merindukannya? Aku selalu inginkan saat aku di Pemalang? Aku hanya khawatir kehadiran Miguel hanya pengalihan, aku menjadi tidak lagi tertuju pada Mas Widi karena ada Miguel. Kehadiran Miguel bagaikan gerhana terhadap keberadaan Mas Widi.

*****

Hari ke 5 ku lihat Miguel telah hadir kembali, aku menyambutnya dengan antusias. “Haiiii Mig, how are you darling? I miss you”, Jeritku seraya memeluknya. Namun Miguel nampak kaku, tidak balik memeluk seperti biasa. Aku merasakan ada yang beda.

“I’m fine Nita, how are you? “, Sapa Mig, sambil mengaduk adonan dengan mixer. Ku tatap dirinya dari samping, tak ada yang beda, hanya sepertinya dia sudah dua hari tidak bercukur, kumis dan berewoknya nampak jelas sekali lebih hitam.

“Saye rindukan awak, kemana saje 4 hari ni? “, aku tatap Mig lurus lurus, diletakkannya mixer, lalu dibalikkan tubuhnya ke arahku. Baru kusadari sosok di hadapanku ini memang sangat rupawan, walau pendek tapi proposional. Di banding Mas Widi yaa jauhlah, Mas Widi tidak tampan namun tidak jelek, tinggi dan agak kurus. Pantas saja kawan-kawanku heboh saat melihat fotoku berdua Miguel. Puluhan foto bersama Mig yang aku upload selalu mendapat like berjumlah puluhan dengan komentar hampir seratusan tiap kali aku upload.

“Ohhh thanks awak berkenan merindu, saye feel un-well, so saye pegi ke Mak Cik house di Sarawak” Jawab Mig lembut, “Saye pun ada planning nak pindah di Malaka. Saye tengah menanti kabar dari owner”.

Aku terkejut, ini bukan gossip, ini nyata, aku tak ingin Miguel pergi. “Kenape awak musti pegi jauh? Adakah awak nak lari dari pada saye? , kenape awak tega pegi? Tak sesiapa pun mampu membuat saye happy selain awak”, Ujarku sedih, entahlah ini karena cinta atau bukan tapi benar-benar sedih.

Miguel tersenyum manis, “Don’t say that Nita, you know exactly, the one and only to makes you happy is Widi, right? “, Sahut Miguel santai, membuatku lemas, bagaimana caraku untuk membuang semua kesalah pahaman ini? Gelap rasanya pandanganku. Ingin ku selesaikan agar semua berjalan baik, namun waktu tak berpihak, bagai busur melepas anak panah, sekali terlontar tak dapat dibatalkan apalagi dihentikan.

“It’s not right Mig, beri saye waktu, don’t push me like this, we talk oke? “, Aku berusaha untuk merubah keputusan Mig dengan cara sebijak mungkin. Aku berada di antara 2 cinta, tanpa aku harapkan. Namun terlambat untuk menyesalinya yang belum terlambat adalah membuat semua jelas.

*****

Mas Widi jarang menelponku, harus aku yang menghubungi dirinya. Alasannya klasik, dia banyak pengeluaran hingga pulsa adalah salah satu sektor yang harus ditekan. Aku merasa hal wajar kalau aku yang menghubungi toh dia itu kekasihku. Dan siang itu aku menelpon, mengisi waktu istirahatku. Kami berbicara disertai canda tawa, hingga entah mengapa ia bertanya soal akun-ku di situs jejaring sosial.

“Oh yaa dek, kamu masih suka on-line di-internet? ?? Berapa sering yaa kamu on-line? ?”, Tanya Mas Widi tanpa disangka sangka.

“Ohh masih Mas, soal buka yaa ndak tentu, kan gimana waktu aku luang aja. Kenapa Mas? Kok tumben nih nanyain itu? Apa kamu udah buat juga? Aku kan daftar paket internet jadi sebulan fix biayanya”, Jawabku santai.

“Gitu yaa? Aku belom buat, mana sempet. Hmm eksis dong yaa kamu? Ngapain aja tuh dek? !”, Selidik Mas Widi dengan nada yang membuatku merasa dihakimi.

Aku menarik nafas, entah kenapa kali ini aku tak ingin didakwa, “Banyak Mas yang aku lakuin di sana, bagian mana yang kamu mau tahu? Tapi siap ndak dengernya? Nanti marah lagi kalau aku kasih tau”, Jawabku dingin. Cukuplah sudah aku mendapat aneka dakwaan.

Mas Widi sempat diam, mungkin syok, lalu dia mulai bicara, “Aduh yayang-ku galak banged sih kan aku cuma nanya”, Terdengar suara tawa yang dipaksakan, “Andai aja aku sempat, ingin rasanya ikutan buat”, Sambungnya lagi.

*****

Situs jejaring sosial itu telah menjadi salah satu hiburan favorite-ku. Aku kerap menuliskan kegalauan hatiku di sana, bersahutan dengan kawan dan sahabatku, hingga selalu merasa dekat, atau sekedar berbagi tips atau resep, dan tentu saja menjadi ajang eksistensi aku. Dan tiap kali ada saja yang meng-add aku sebagai kawan.

Seperti hari ini, ada 7 orang yang meng-add-ku salah satunya Budiman asal Surakarta. Sesaat setelah aku ‘terima’ sebagai teman, ia sudah aktif memberi ‘like’ di beberapa status dan foto-fotoku.

“Aduuhhh mesranya, pasti ini pacar kamu yaa” atau “Serasi banged nih” atau “banyak banged yaa foto-nya”, Dan banyak lagi komentar yang menurutku tidak penting, yang diajukan oleh orang yang tidak aku kenal. Beberapa temanku mulai bertanya siapakah ‘Budiman’, tentu saja aku jawab tidak kenal. Dalam hati penasaran juga siapakah Budiman, di profile picture hanya dipasang gambar bunga mawar. Selebihnya tak ada foto lainnya.

*****

Pagi itu aku tiba di restoran tempatku bekerja dengan suasana beda. Ada Pak Manager yang tengah berada di dapur, juga pegawai lain. Ku hampiri Mbak Susi, “Mbak ada apa? ? Tumben ada briefing kok ndak diumumkan? “, Bisikku pada Mbak Susi.

“Bukan briefing Nit, ini perpisahan sama Miguel, kan mulai besok dia udah ndak di sini, dia nanti siang berangkat”, Jawab Mbak Susi setengah berbisik. Jantungku rasanya berhenti, 3 minggu setelah kejadian di taman, antara aku dan Miguel seperti ada tembok pembatas, aku pikir itu cara dia untuk menenangkan diri, ternyata dia benar-benar memutuskan pindah. Ku paksakan diri ini bersikap tegar, walau jauh didalam relung hati ku rasakan sedih yang teramat sangat.

Tak kurang 15 menit Miguel muncul, tidak memakai seragam koki, hanya memakai kaos ketat dan celana katun. Dia membawa puding buatannya yang terkenal lezat. Di tatanya puding itu di atas nampan, dikemas dalam gelas setinggi 10 cm. Lalu dia berkeliling membagikan pada setiap orang yang ada. 3 orang koki, 5 orang bagian kebersihan dan 12 waiter termasuk diriku, ditambah Pak Manager, Puan Abdullah Nazer.

Pak Manager memberi sedikit sambutan, yang inti-nya mengatakan bahwa Miguel akan menjadi juru masak di restoran cabang di Malaka. Aku tidak mendengar apa saja yang dikatakannya, aku tenggelam dalam lamunan, kupandang gelas berisi puding buatan Mig, berisi cream keju dengan lapisan jeruk dan buah strawberry. Cantik sekali.

*****

Tak lama Mig berkeliling menyalami semua rekan-rekan kerjanya, hingga tiba giliranku, paling terakhir lantaran aku berdiri paling pojok. Dia salami aku dengan tatapan redup, aku tak kuasa untuk tidak memeluknya, ku peluk erat dirinya, tangisku membanjir, aku menangis tersenggal-senggal, entah berapa banyak beban di hati, ku tumpahkan semua. Dia juga memelukku erat dan aku tahu dia-pun menangis, rekan kerja-ku menyingkir seperti memberi ruang pada kami, sudah jadi rahasia umum ada hubungan tak biasa antara aku dan Miguel.

Miguel merenggangkan pelukannya, ditatapnya wajahku yang ‘kacau’ lantaran airmata. “Nit, saye nak pegi ke Malake, take care of yourself ya, don’t be sad, kita still jumpa di internet”, di usapnya airmata di pipi-ku dengan punggung tangannya, “So sorry Nit, saye harusnya tak boleh cintakan awak, saye teruk nak rosak hubungan awak dengan boyfriend awak”, Ujar Mig sungguh sungguh.

Aku menggeleng, “Don’t be sorry my dear, pada masa ni kita tak bersama dalam cinta, tapi i’m thinking of you, always”, Aku kembali menangis namun ku paksakan untuk berbicara, “Kenapa awak musti pegi, harusnya sayelah yang pegi, wanita teruk tak berbudi”.

“Sstttt, don’t say that, believe me, when you think of me, I’m thinking of you, c’mon my girl, stand up, be a good girl”, Miguel berbicara lembut, tersenyum memamerkan lesung pipitnya, membuatku akan terus merindukannya, ku peluk lagi dirinya, ku resapi aroma tubuhnya, sebentar lagi semua hanya tinggal kenangan, kenangan manis sekaligus menyakitkan.

*****

Aku duduk di sudut biasa, di dapur, gelas berisi puding ada di hadapanku, dengan sendok kurasakan tiap suapnnya, seolah Mig tak pernah pergi, ingin rasanya ku simpan puding karya Mig sebagai kenangan, ingin ku nikmati tiap suapan dengan sepenuh hati. Walau hatiku sedih, aku berterima kasih pada Miguel, cintanya yang tulus justru membiarkan aku tetap dengan cinta lama-ku yang terlanjur aku yakini dan aku perjuangkan. Tak ada lagi ke bimbangan antara cinta Miguel dan Widyanto.

Mulai detik ini aku berjanji tidak akan membuat Mas Widi kesal, dia laki-laki baik, sikapnya yang uring-uringan itu karena dia mencintaiku, aku wanita beruntung dicintai dengan sangat hebat, dicintai Widyanto.

 

9 Comments to "Bukan Cinta yang Kudamba (8)"

  1. EA.Inakawa  6 July, 2012 at 03:36

    untuk sampai di ujung jalan mengerti & memahaminya memang tidak mudah,butuh perjuangan…….

  2. probo  5 July, 2012 at 09:37

    gemes!

  3. Dewi Aichi  4 July, 2012 at 21:51

    Mas Enief sukses bikin pembaca ngedumel wakakakaa…….ampun deh..!

  4. HennieTriana Oberst  4 July, 2012 at 21:23

    Komentarnya lucu-lucu

  5. J C  4 July, 2012 at 15:31

    Haduuuuhhhhh kok ada yang kayak gini ya…

  6. chandra sasadara  4 July, 2012 at 14:46

    tidak menemukan pejuang

  7. Sasayu  4 July, 2012 at 14:09

    Amsyong tralAlalala, sumpeh deh otak di dengkul ya Mba….ckckckckckck…

  8. [email protected]  4 July, 2012 at 10:50

    hihihihihi…. pantesan orang indo dibodohi terus ya….
    LANJUT!!!!!!!!!!!!

  9. Linda Cheang  4 July, 2012 at 10:05

    belum kena batunya, ya? hehehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.