Pak Tris

Andie Makkawaru

 

Menyenangkan saat kita berjalan ke suatu tempat lalu kemudian bertemu dengan orang-orang baru yang menyenangkan, membangkitkan inspirasi, melahirkan semangat baru dan menyadarkan kepada diri kita untuk selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini.

Namanya Sutrisno, biasa dipanggil Pa’ Triss. Saya bertemu dan berkenalan dengan beliau 26 Mei 2012 di depan GPIB Immanuel, Kawasan kota tua Semarang. Saat itu saya bersama dengan teman-teman dari KFSemarang untuk street hunting.

Duduk lesu di samping becaknya persis di seberang gereja sore itu membuat saya tertarik untuk mendekati beliau. Perlahan saya coba memberanikan diri duduk bersila di samping beliau sambil memulai obrolan dan berkenalan dengannya.Pak Triss 70 tahun, kakek ini asli Surabaya. Datang ke kota Semarang 20 tahun yang lalu dengan kereta api menyusul keluarga terdekatnya di kota ini, namun apa daya…sesampainya di Semarang ternyata kerluarganya sudah pindah ke Jakarta. Isterinya meninggal dunia saat masih bermukim di Surabaya, memiliki dua orang anak, namun tidak pernah berkumpul kembali dan mendengar kabar sejak anak-anaknya menikah dan merantau ke Pulau Kalimantan.

Duduk semakin merapat dengannya … dari tadi saya sudah gatal untuk mengambil photo beliau tapi saya masih ragu apakah beliau berkenan untuk di photo atau tidak…lalu kemudian saya memilih untuk bertanya lebih dalam dan mendengarkan kisahnya…

“SAYA ORANG GAGAL” , miskin, tidak punya tempat tinggal yang tetap. Sehari-hari saya tidur di atas becak yang saya parkir di tempat yang teduh. Saya benar-benar merasa sendiri. tidak pernah bertemu dengan keluarga lagi. Saya hanya bisa berdoa untuk anak-anak saya, semoga kehidupan mereka lebih baik dari saya. Semoga anak-anak mereka bisa sekolah dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Saya tidak sanggup mendengar kalimat berikutnya, lalu saya coba mengalihkan ke pertanyaan lain, seputar pekerjaan beliau sebelum mengayuh becak. Sesaat setelah menghembuskan asap rokok dari hidungnya, beliau melanjutkan kisahnya ….

Beragam pekerjaan telah dia coba, bekerja di pabrik lalu tukang kuli bangunan hingga beliau jatuh sakit. … saat itu hidupnya di topang dari belas kasihan orang-orang yang lewat di depan BRI kota Semarang. Suatu ketika beliau pernah di tangkap dan dikasarin ama petugas satpol PP lalu kemudian berpindah-pindah dari jalan ke jalan kota Semarang mengharapkan belas kasihan pengguna jalan. Sebagian receh yang di dapat beliau tabung dalam kantung plastik hingga akhirnya terkumpul tabungan Rp. 600.000.

Dari tabungan tersebut beliau kemudian membeli sebuah Becak Tua yang dijadikan sebagai sumber penghidupan hingga sekarang. Di usia yang semakin senja beliau tetep bersemangat dengan becaknya. Terkadang sehari hanya bisa cukup makan bahkan pernah beliau dua hari berturut-turut tidak makan karena tidak mendapatkan penumpang, namu satu hal yang disyukurinya adalah …” saya tidak meminta-minta lagi di jalanan mas” , “ saya dengan tenaga meskipun usia senja mencari makan dan bersandar pada becak ini”

Seketika saya benar-benar merasa terhenyak … lalu kemudian menyadari keadaan sembari bersyukur kepada Tuhan atas karuniaNya. Terkadang kita merasa tidak beruntung dengan suatu hal hinga kita menyalahkan keadaan ataupun orang-orang sekeling kita, namun kita tidak pernah bersyukur atas apa yang kita miliki.

Pelan-pelan saya memberanikan diri untuk meminta mengabadikannya dalam photo, dan Alhamdulillah beliau dengan sangat ramah bersedia, bahkan saat saya memintanya untuk merubah posisi duduk, beliau dengan senang hati melakukannya.

Terima Kasih Pa’ Triss … Terima kasih atas waktunya…terima kasih atas persahabatannya …Terima Kasih atas ceritanya. Semoga Allah selalu memberi kesehatan yang berlimpah dan semoga Allah membuka jalannya Pa’ Triss bias berkumpul lagi dengan Anak-anak dan cucunya. Amin.

 

Credit: Bapak Sutrisno [GBU]

 

http://tikmaphotoblog.com

 

15 Comments to "Pak Tris"

  1. EA.Inakawa  6 July, 2012 at 03:31

    Mas Andie : Prihatin tentu saja…….tapi inilah hidup. Disisi lain saya pernah mengenal orang tua yang terlunta demikian,tapi saya tau masa mudanya yang penuh KELAM ( mantan penjahat sadis ) apakah perlu juga kita mengasihaninya…..salam sejuk

  2. Dewi Aichi  5 July, 2012 at 22:56

    Bang Andie seperti biasanya, foto dan tulisan yang sangat menyentuh….semoga Pak Tris selalu sehat…salam untuk beliau…

  3. anoew  5 July, 2012 at 20:50

    Baca perjuangan pak Tris bikin saya bukan mbrebes mili lagi tapi mbrebes pekalongan saking terharunya. Trims atas artikel ini.

  4. Handoko Widagdo  4 July, 2012 at 17:51

    Semoga artikel ini sampai ke anak Pak Tris dan membuat mereka berkumpul kembali. Thanks AM.

  5. Esti Yoeswoadi  4 July, 2012 at 16:10

    Duh Mas Andie, waktu membacanya sudah buat saya mbrebes mili. Thanks atas sharingnya.
    Kiranya Tuhan selalu melindungi Pak Tris. Amin

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.