Wednesday, 4 July 2012
Handoko Widagdo – Solo
“Itu panduan (bagi semua) kader-kader Partai Demokrat,” kata Anas Urbaningrum menanggapi himbauan Pak SBY tentang kader-kader Demokrat yang terjerat masalah korupsi supaya mundur. Dalam tulisan ini saya tidak hendak mengomentari masalah Partai Demokrat, melainkan akan memakai cara komunikasi SBY untuk menjelaskan komunikasi gaya Jawa.
Sebagai seorang Jawa yang dibesarkan dalam lingkungan orang-orang Jawa, SBY tentu menyerap kuat budaya Jawa, termasuk dalam cara berkomunikasi. Orang Jawa itu pantang gawe wirange liyan (mempermalukan orang lain). Oleh sebab itu, jika melihat orang lain salah, mereka akan memakai bahasa sikap, bahasa mata baru kemudian pasemon.
Untuk menunjukkan kesalahan atau kekurang sukaan kepada pihak lain, orang Jawa menggunakan mata. Orang Jawa akan memandang dengan sorot mata tajam, bibir terkatup rapat dan mimik muka serius kepada teman/bawahan/pasangan yang dianggap ada kesalahan. Biasanya, dengan pandangan mata semacam ini seseorang (Jawa) sudah akan tahu bahwa dirinya tidak di-perkenan-i. Biasanya dia akan segera memeriksa diri dan memperbaiki tindakan-tindakan/sikap/ucapan yang tidak diperkenan tersebut.
Bahasa sikap yang saya maksudkan di sini adalah sikap mengambil jarak, mendiamkan, mengacuhkan seseorang yang dianggap memiliki salah. Orang Jawa akan merasa ada yang kurang beres apabila tiba-tiba teman akrabnya atau atasannya, atau pasangannya mengubah sikap dalam berkomunikasi. Biasanya orang Jawa akan langsung bereaksi untuk mulat sarisa hangrasa wani (memeriksa diri) kalau-kalau ada yang kurang pada dirinya. Namun ada kalanya, orang tidak mengerti akan bahasa sikap ini.
Jika didiamkan, diacuhkan tetap tidak bisa rumangsa (merasa ada yang salah), maka orang Jawa akan menggunakan pasemon. Pasemon adalah ucapan yang disampaikan secara tidak langsung kepada seseorang yang dianggap kurang trapsila (kurang bisa menempatkan diri). Pasemon tidak pernah ’tunjuk hidung.’ Dalam Bahasa Indonesia, pasemon bisa diterjemahkan sebagai sindiran. Bedanya, pasemon disampaikan tidak dengan cara yang nyinyir atau sinis. Seorang Jawa yang merasa dirinya sudah diberi pasemon, biasanya akan segera bertindak untuk memperbaiki diri. Jika dia merasa tidak bersalah, dia akan mundur –surut, karena dianggap dirinya sudah tidak diperkenan. Namun, sering juga ada orang-orang yang tetap mbeguguk nguta waton (ngeyel, tak bergeming), meski sudah diberi pasemon.
Sikap seorang Jawa dalam menghadapi orang yang mbeguguk nguta waton adalah dengan cara memanggilnya dan bicara empat mata untuk menunjukkan kesalahan/ketidak sepahaman secara langsung. Cara ini konon banyak dipakai oleh Pak Harto, jika beliau sudah tidak suka dengan menterinya.
Cara berkomunikasi gaya Jawa ini memang halus adi luhung dan penuh keindahan. Namun bagi orang yang bukan Jawa dan bagi orang Jawa yang ora njawani, cara berkomunikasi seperti ini dianggap kurang tegas dan tidak efektif. Dulu, di jaman Pak Harto komunikasi cara Jawa ini berhasil dipakai dengan efektif. Kini, di era reformasi sepertinya cara ini tidak jalan.
Positifnya, kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia sudah ’tidak lagi Jawa besar.’ Sudah saatnya cara berkomunikasi yang penuh kesopanan yang adi luhung bisa digabungkan dengan komunikasi yang lebih langsung seperti yang digunakan oleh suku-suku lain di luar Jawa.
July 9th, 2012 at 08:41
Maksud saya penggunaannya secara umum Mas Bagong, tidak spesifik pada kasus yang saya jadikan contoh disini.
July 9th, 2012 at 07:31
Masih tetap bisa Mas! Mungkin saja ada sesuatu kartu truf yang masih dipegang oleh yang Rumongso Biso…..