Brazilian Wax

Dewi Aichi – Brazil

 

Di Brasil, pada umumnya wanita melakukan waxing atau bahasa Portuguesnya adalah depilação. Siapa yang tidak merasakan penderitaan luar biasa saat di waxing? Tapi itulah, wanita Brasil berani sakit hanya untuk sesuatu keindahan penampilan. Apalagi di saat summer, sepertinya waxing ini wajib mereka lakukan.

Bagaimana jadinya, jika summer di pantai, memakai bikini yang ukurannya aduhai kecil, bisa-bisa bulu-bulunya mengintip keluar area he he he.

Baiklah, saya akan berbagi cerita di sini, tentang waxing yang kebetulan 2 minggu lalu saya mengantar teman yang menikah pada 6 Juni kemarin. 2 hari sebelum menikah, saya mengantar teman saya itu melakukan waxing atau depilação, manicure, pedicure, dan rebonding.

Memang sih, bukan yang pertama kali saya melihat teman diwaxing, dulu waktu di Jepang, teman saya Ana (yang meninggal dunia sekitar dua minggu yang lalu), setiap 2 bulan sekali waxing di area terlarang hi hi, kalau waxing bulu ketek, bulu kaki sih biasa, tapi waxing di bagian ini baru 2 kali, tapi ngga ada yang menarik saya ceritakan.

Nah…yang menarik untuk saya ceritakan adalah yang kemarin itu. Pas nyampe di salon langganan teman saya, mereka bercakap-cakap sesuai kesepakatan yang telah mereka janjikan. Di Brasil, susah mendapatkan pelayanan jika tidak janji/tilpon dahulu.

” Mau waxing apa? Bagian apanya?”, kata petugas.

“Kaki, ketiak dan selangkangan!”, jawab teman saya.

“Baiklah, silahkan masuk!”, petugas itu mengantar teman saya sampai pintu masuk kamar waxing.

Saya tau persis bagaimana kejadian dan peristiwa di kamar waxing, persis seperti tempat untuk spa, atau facial. Client dengan posisi tidur telentang, dan memulai pencabutan bulu-bulu kaki terlebih dahulu. Pegawai, dengan peralatan lengkap, akan mengoleskan semacam cairan, teksturnya seperti madu,  kental dan dibiarkan dalam keadaan agak panas, karena harus dididihkan di atas api kecil, seperti pemanas malam pada bahan untuk membatik.

Sebelum dipanaskan, bentuknya seperti lilin atau sabun mandi, tapi warnanya coklat agak keemasan, di Brasil disebut cera. Setelah bahan ini dipanaskan, maka akan mencair, seperti madu, inilah yang dioleskan pada bagian tubuh yang tumbuh bulu-bulu. Di atas bulu-bulu dioleskan merata, dengan kuas. Setelah kira-kira 2 menit-an, cairan tadi lengket seperti lem, nah saat itulah si pegawai dengan kuatnya mencabut cairan yang sudah mengental membentuk lembaran transparan di atas bulu-bulu.

Dicabut dengan memegang pinggiran lembaran transparan tersebut,biasanya bunyinya krekkkkk….seperti bunyi plastik yang nempel pada papan atau tembok, kemudian plastik itu dikelupas. Nah bagian inilah yang membuatku ketawa-ketawa di luar kamar waxing. Teman saya itu, setiap dicabut, akan menjerit, “aawwwww”, saking sakitnya.

Sudah tau sakit, ya sudah terima saja ngga usah pakai acara menjerit, bikin nyeri aja he he…

Begitulah cerita sedikit beberapa waktu lalu, ketika mengantar teman saya melakukan pembersihan total. Maklum, mau menikah, tetapi memang bukan karena mau menikah sih, sudah jadi kebiasaannya.

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

90 Comments to "Brazilian Wax"

  1. Lani  13 July, 2012 at 23:57

    DA : aku disuruh mencoba???? apa kang Anuuuuuu? mungkin dia sdh biasa dlm dunia cabut mencabut soale pernah punya bisnis dodolan pitik hahahah

  2. Dewi Aichi  12 July, 2012 at 05:17

    Pak DJ…..untuk Anoew kayaknya harus pake traktor pencabut bulu orang hutan….

    Lani…ya dicoba dulu gimana akibatnya pikir nanti ha ha…..nyoba apa to ini….

    Anoew….takut minta lagi ya wkwkkw…

    Pak DJ ha ha ha…

    Lani di kamusnya Anoew…cabul=cabut bulu….!

  3. Lani  12 July, 2012 at 01:33

    MAS DJ, KANG ANUUU : ini yg bener yg mana yak????? dicabuti? apa dicabuli??? bedanya jauh men?????

  4. Dj.  11 July, 2012 at 23:03

    Mas anooew, takut kalau mbka DA cabut yang lainnya ya…
    Hahahahahahahaha…!!!

  5. anoew  11 July, 2012 at 23:01

    Pakdhe, saya malah takut kalau dicabuli sama Dewi..

  6. Lani  11 July, 2012 at 22:36

    DA : wakakak……Nia akan mencoba 69??????? hohoho……..iso krengkangan…….rak gelem mandeg mengegoalkan gawang itu…………

  7. Dj.  11 July, 2012 at 21:31

    Ayo mas Anooew….
    Jangan takut, kalau mbak DA yang cabut,
    garati sakit tidak ditanggung…
    Hahahahahahaha….!!!

  8. Dewi Aichi  11 July, 2012 at 21:24

    Anoew….haiyo nih…malah rebutan gawang ha ha

  9. anoew  11 July, 2012 at 21:09

    Weh, masalah cabul (cabut bulu) masih berlanjoet jebul

  10. Dewi Aichi  11 July, 2012 at 20:13

    Chiko…..apalagi saya sering sekali denger krekkkkk….pas dikelupas …bunyinya udah bikin ngilu…

    Lani waks……gilaaaaaaa mahal banget ya…

    Meita, kalau ketek kayaknya ngga seberapa sakitnya…..coba kalau bulu bulu di kaki, paha, tangan…wuihhh….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.